Tuesday, November 10, 2009

Indonesia Membaca Rendra

Pada tanggal 29 Oktober yang lalu di Gedung Kesenian Jakarta, saya mendapat kesempatan untuk mempergelar-perdanakan Choral Fantasy – Belavita bersama soprano Aning Katamsi dan Paduan Suara Paragita UI. Karya yang merupakan pembuka dari Malam Aksi Seni dan Renungan Kebudayaan “Indonesia Membaca Rendra” tersebut merupakan karya kolaboratif antara musisi Jockie Suryoprayogo dan Ananda Sukarlan. Belavita sendiri merupakan sebuah lagu dari album Kantata Revolvere yang dimotori oleh grup Kantata Takwa, dimana beberapa tahun silam Aning Katamsi pernah membawakannya bersama dengan seniman Sawung Jabo. Kini karya tersebut dimodifikasi: Jockie Suryoprayogo yang malam itu berperan sebagai penata musik meminta komponis Ananda Sukarlan untuk menginterpretasikan ulang dalam bentuk komposisi yang baru.



Suasana panggung ketika gladiresik

Lahirlah Choral Fantasy – Belavita, dimana lirik lagunya merupakan ciptaan Rendra, ide musik dari Jockie Suryoprayogo, sementara aransemen yang baru diciptakan oleh Ananda Sukarlan. Dimulai dengan bagian choral acapella yang berdasarkan pada motif ritme Symphony no. 5 Beethoven. Simfoni “Nasib” demikian orang biasa menyebut mahakarya tersebut, karena motif ritme pembukanya mirip dengan ketukan pintu yang misterius, seperti Malaikat Maut yang siap datang untuk mencabut nyawa pemilik rumah.
Lantas bagian acapella tersebut dilanjutkan dengan dua halaman bridge, dimana saya memainkan introduksi piano pada tema “Oh, bencana dari kekuasaan insan,” (dinyanyikan oleh Aning Katamsi) sebelum beralih pada Belavita yang menyuarakan kemenangan dan perdamaian universal, dengan seruan “Salam ya salam, Haleluya, dan Shanti Om Shanti”


Mufakat Budaya
Dalam preambule buku program, pada dasarnya ide dari pementasan malam itu memang dikemas sebagai pertunjukan yang berlangsung dalam irama tertata dan tempo yang terjaga, tanpa ada jeda atau pause agar bisa secara utuh menciptakan aura personal dan atmosfir pertunjukan yang mewakili kehadiran Rendra di dalamnya. Untuk itu diperlukan pencapaian artistik dan totalitas para pendukung pergelaran, termasuk para artis terkemuka yang tampil, sutradara, penata musik, penata panggung, penata cahaya, penata suara, penata busana, dan bahkan penataan produksi yang profesional.

Acara yang diadakan atas kerjasama dengan TV One tersebut merupakan bentuk apresiasi dan dedikasi untuk mengenang seluruh pencapaian hidup “Si Burung Merak” Rendra. Isinya sarat akan nuansa berkesenian, mulai dari gerak tari, musikalisasi puisi, dan lakon teater yang diasuh oleh berbagai kalangan, mulai dari politisi, ilmuwan, entertainer, dan pejabat. Sebutlah Sys Ns. sebagai sutradara yang memotori setiap detail di atas panggung, atau Samuel Watimena sebagai juru kunci yang bertanggung jawab atas kostum para penampil malam itu. Juga ada seniman Radhar Panca Dahana sebagai produser eksekutif dan Jockie Suryoprayogo yang berkuasa penuh terhadap penataan musik selama pergelaran berlangsung.


Mengenang Perjuangan Rendra
Dalam Impresi Tiga Sudut Pandang, ditampilkan monolog singkat berupa kesaksian dan kenangan akan tiga orang yang memiliki hubungan sangat khusus dengan Rendra. Ada Adi Kurdi yang memberikan kesaksian sebagai murid ideologis, seniman, sekaligus adik bagi Rendra. Lantas hadir Clara Sinta sebagai anak biologis yang di hari-hari terakhir almarhum sangat dekat dan selalu berada di samping beliau, dan Laksamana (Purn) Sudomo yang merupakan rekan sekaligus rival politik Rendra, yang semasa berkuasa kerap berselisih dengan Si Burung Merak.

Ungkapan rasa cinta dan romantisme Rendra yang khas tertuang dalam sajak indah berjudul Sajak Surat Cinta. Disajikan secara kolaboratif oleh Marcella Zalianty, Poppy Dharsono, Sys Ns. dan Edo Kondologit yang ikut menembangkan penggalan cinta itu dengan pesonanya. Kisah cinta Rendra dan Sri Sunarti memang unik, antara lain komponis Mochtar Embut pernah juga jatuh cinta pada Dik Narti, namun karena sungkan untuk mengungkapkan akhirnya perasaan rindu yang mendalam tersebut tertuang dalam sebuah lagu seriosa berjudul Setitik Embun.

Dari pihak musisi, Rendra banyak menginspirasi rekan-rekannya dalam berkarya. Demikian pula untuk Jockie Suryoprayogo yang terinspirasi membuat aransemen lagu Rajawali berdasarkan sajak Rendra, pada malam yang sama saat Sang Pujangga wafat. Lagu yang melibatkan seniman Sawung Jabo dan rocker Doddy Katamsi (kakak kandung Aning Katamsi) ini penuh dengan gejolak energi dan spontanitas!

Backstage bersama kakak-adik: Doddy dan Aning Katamsi

Kemudian adalah penggalan karya monumental BipBop, atau drama MINIKATA yang sempat melambungkan Bengkel Teater Rendra sebagai kelompok teater avant-garde di negeri ini, dilakonkan kembali oleh anggota Bengkel Teater, sebelum berlanjut pada Sajak Anugerah Gusti Allah. Disajikan secara kreatif oleh rapper Iwa K. dan Denada, sajak religius ini nampak begitu apik dipadu-padankan dengan akting Ray Sahetapy.

Pada Sajak Sebatang Lisong yang dibacakan Rendra di ITB, 17 Agustus 1977, diaransemen ulang dan dipersembahkan dalam sebuah kolaborasi ekspresif dengan balutan gerak dramatik, disampaikan dengan teramat lugas, tegas, dan bernas oleh Sys Ns, Tamara Bleszynski, Wulan Guritno, dan Ray Sahetapy.

Pada akhirnya: Pemikiran, proses kreatif, sikap kesenimanan, serta perjuangan seorang Rendra sungguh perlu mendapat penghormatan setinggi-tingginya. Radhar Panca Dahana kemudian menyampaikan Renungan Kebudayaan untuk memberi aksentuasi tema acara “Indonesia Membaca Rendra ini” sebelum akhirnya ditutup oleh lagu Kesaksian yang merupakan salah satu sajak terbaik Rendra yang digubah menjadi sebuah lagu.


kemarin dan esok
adalah hari ini
bencana dan keberuntungan
sama saja
langit di luar langit di badan
bersatu dalam jiwa”


Dikutip dengan penyesuaian dari buku program “Indonesia Membaca Rendra”

Monday, November 09, 2009

Oase Spiritual Musik Jayasuprana

Di tengah goro-goro yang sedang melanda bangsa ini, rupanya Semar datang mengejawantah dalam wujud Jayasuprana yang mengajak kita semua berkontemplasi dalam sebuah pergelaran ultra-sublim pada tanggal 24 Oktober yang lalu di Gedung Kesenian Jakarta. Pergelaran tersebut melibatkan empat pianis kawakan Indonesia dan para penari handal yang berkolaborasi dalam suatu kesatuan yang solid.

Dibuka dengan permainan maestra pianis Iravati Sudiarso, suasana introspeksi Sangkan Paraning Dumadi langsung hadir dalam bentuk Uri-uri yang meditatif. Bau dupa semerbak memenuhi auditorium GKJ, rupanya tata laku meditasi diwakilkan oleh dua gesture manusia yang sedang beribadah dalam bentuk siluet. Yang satu adalah penari Soepri Soehodo memeragakan gerakan sholat, sementara di sisi yang berlainan adalah Aylawati Sarwono memeragakan gerakan adorasi pada Tian, tiga kali menghormat dengan tiga batang dupa.

Uri-uri yang hanya ditulis dalam satu single movement tanpa iringan tangan kiri, merupakan mocopat. Berisi petuah suluk, yaitu bagaimana seorang pribadi dapat mengenal Tuhan dalam Rasa. Pencarian esensi Kehidupan yang merupakan proses sampai akhir hayat dapat dituturkan melalui jemari Iravati Sudiarso, kendati hanya berupa alunan monofoni seperti nembang, namun sarat akan makna secara spiritual dan magis.

Sementara pasangannya, Uro-uro merupakan nembang Jawa dengan titinada pentatonis juga, namun sifatnya ekstrovert. Disini penari Maria Darmaningsih dan Nungki Kusumastuti bisa membawakan lakon tari yang sangat harmonis, mulai dari suasana awal yang liris, kemudian berkembang menuju virtuositas ala gamelan Bali yang diterjemahkan dengan sangat powerful dan evocative oleh jemari sang maestra pianis Indonesia tersebut.



Kemudian adalah duet maut antara dua maestro, yaitu Iravati Sudiarso dan begawan tari Indonesia: Sardono W. Kusumo. Dalam Interludium yang mengalir mulus tanpa cela, Sardono mengejawantahkan kegetiran terselubung yang pasti ada dalam setiap hati umat manusia. Dengan pakaian serba putih, Sardono seperti menyimbolkan kemanusiaan yang kini sedang diterpa oleh goro-goro, dimana hal tersebut diciptakan oleh nafsu dan angkara murka manusia itu sendiri (direpresentasikan dengan spotlight berwarna merah tua, perlambang Batara Kala). Suasana gelisah terlihat dari gerak tari Sardono yang restless, penuh ambiguitas antara senang dan sedih, hingga pada akhirnya manusia hanya bisa pasrah menerima takdir Yang Kuasa. Tanpa ragu Sardono menyelesaikan tariannya sambil duduk bersebelahan dengan sang pianis yang terus berkonsentrasi pada musik, hingga denting not terakhir.






Kemudian adalah Fantasi Arum Dalu, masih diterjemahkan oleh Iravati Sudiarso. Jayasuprana sendiri mengungkapkan, bahwa karya ini disusun dalam titinada pentatonik 13467 musik Sunda yang menurutnya mirip sekali dengan pentatonik musik rakyat Jepang. Setelah berargumentasi, rupanya Jayasuprana menemukan bahwa 13467 merupakan pasangan minor dari titinada 13457. Sebagai lagu terakhir penampilan Iravati Sudiarso pada sesi pertama, lagu ini disambangi oleh penampilan tari Elly D. Lutan.


Pesona Sang Ibu kini dilanjutkan oleh putrinda, Aisha Sudiarso. Dengan gerak yang efektif dan langsung tepat pada sasaran, mengalirlah Sonata Sekar Setaman dalam suasana kasurupan (trance). Clarity dan kejernihan setiap nada terukur prima, tidak ada satu not pun yang bersuara tanpa makna. Suasana liris terasa pada movement kedua yang mengadopsi idiom musik Sunda, sementara pada bagian ketiga yang memiliki aroma tembang "Gundul-gundul pacul" menyatu harmonis dengan iringan tangan kiri dalam gerak ostinato kromatik, memberikan aroma segar dan fresh persis seperti bunga-bunga yang bermekaran di Taman Sari.

Sonata Sekar Setaman diejawantahkan dalam tarian ala Punakawan: Gareng, Petruk, Bagong oleh Eko Supriyanto (koreografer yang pernah menari bersama Madonna), Havid Ponk Zakaria, dan Luluk Ari Prasetyo. Punakawan yang merupakan representasi dari rakyat jelata, memang benar-benar menari hanya menggunakan cawat saja. Seperti halnya Punakawan yang setia melayani menjadi abdi dalem: bukannya tidak memiliki kesaktian, melainkan terwujud pada formasi tari mencengangkan yang membuat penonton berdecak kagum.




Kemudian mengalir lagi Variasi Gethuk berdasarkan sebuah lagu gubahan musisi campursari, Manthous. Kali ini Aisha Sudiarso berduet bersama pemain perkusi Junaedi Musliman yang memainkan kendang bongo dengan sangat asyik. Inilah dangdut, musik produk asli Indonesia yang merupakan gabungan dari berbagai unsur musik yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Dimulai dengan tema yang sangat sederhana namun menarik, Jayasuprana dengan cekatan dapat menggubah berbagai macam variasi yang sangat asyik untuk mengiringi pinggul bergoyang. Dengan pembawaan yang jenaka pula, Aisha dan Junaedi membuat lagu Gethuk terasa begitu hidup, diiringi oleh tarian komedi asuhan koreografer Afif Syakur.


Penghormatan untuk leluhur tercinta tercermin dari Tri Reminiskenza yang didedikasikan Jaya pada almarhum ayahanda tercinta: Lambang Suprana. Tiga karya pada masa awal karier musik Jayasuprana ini sarat akan idiom musik Barat: Chopinesque! Dengan virtuositas “Franz Liszt-nya Indonesia” Levi Gunardi, karya ini nampak sangat apik dan melodius. Dengan tarian buah karya koreografer Chichi Kadijono dan penari pendukung dari EKI Dance Company, tersirat simbolisasi Tri melalui tiga kerangkeng besi putih besar yang menaungi mereka.


Tiba-tiba ada Dedemit! Jayasuprana mengatakan bahwa karya musik yang problematis, enigmatis, sekaligus chaos ini sangat ruwet, baik dari segi interpretasi maupun teknis-pianistik. Tanpa disadari, karya yang mirip dengan bagian terakhir Sonata Chopin dalam bes minor ini kerap ditafsirkan sebagai angin menderu di kawasan kuburan. Nampaknya memang demikian, di tangan pianis Hendrata Prasetia, semua setan keluar dari balik panggung. Setan-setan tersebut adalah Martinus Miroto, salah satu koreografer terkenal Indonesia. Ia tampil dengan seorang perempuan yang nampak kesurupan dan bergetar terus sejak awal hingga dentingan not terakhir. Hiii... seram!

Setelah Dedemit yang penuh dengan goro-goro, akhirnya giliran Sang Semar yang menginterpretasikan karyanya sendiri, yaitu Untuk Ayla. Karya yang (dari judulnya saja kita sudah bisa menebak) dipersembahkan untuk Aylawati Sarwono ini bernuansa romantis dan melankolis. Mungkin dapat diibaratkan, Jayasuprana pada malam hari memainkan lagu ini di bawah balkon istana putri Ayla, dan meluncurlah Sang Putri menari dansa dengan penari Henry Zheng. Aylawati Sarwono yang adalah juara Indonesian Dance Competition, berdansa mengikuti lantunan melodi dari jemari sang kekasih yang menunggu di bawah balkon. Seperti kisah cinta Romeo dan Juliet, atau mungkin dalam terminologi yang lebih tepat: Jaka Tarub dan Dewi Nawangwulan.


Penampilan terakhir sebagai pamungkas adalah penafsiran maestra Iravati Sudiarso pada Tembang Alit. Sebagai karya pertama Jayasuprana yang dinotasikan (atas paksaan Iravati menjelang resital di Taman Ismail Marzuki, 1984) tentunya memberikan kesan tersendiri bagi penggubahnya. Untuk menghormati penafsiran sang maestra pianis terhadap Tembang Alit, di buku acara ditulis bahwa Jayasuprana sendiri yang akan menari!


Rupanya disanalah letak kejeniusan Sang Semar. Alih-alih akan menari, rupanya beliau malah duduk terpaku menghadap pianis (dan membelakangi penonton) sepanjang lagu ditembangkan! Fenomena ini menimbulkan suatu perasaan spiritual dan sublim yang membuat penonton membisu. Dengan spotlight biru dan asap mengepul samar, pergelaran malam itu selesai dalam Sangkan Paraning Dumadi bilah-bilah hitam putih sang maestra pianis Indonesia, Iravati Sudiarso.

Sunday, November 08, 2009

Musik adalah bahasa universal

Pertemanan saya dengan Hideko Takahashi dimulai ketika kami belajar bahasa Italia bersama di Istituto Italiano di Culturale, pusat kebudayaan Italia yang terletak di daerah Menteng. Anggapan “the world is so narrow” memang benar adanya, karena sebelumnya saya pernah berjumpa dengan beliau pada acara konser violin Midori Goto di kediaman duta besar Jepang beberapa bulan sebelumnya. Sebagai istri salah seorang diplomat yang bekerja di Kedutaan Jepang, tentu beliau diundang pada acara tersebut. Oleh karena itu, ketika pertama kali melihatnya hadir pada kuliah pertama di Istituto, saya yakin sekali, “Ibu ini pasti yang waktu itu ada di konsernya Midori,”

Ternyata memang benar, itu adalah Hideko. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk akrab dengan Hideko-san karena ia memang orang yang sangat supel dan terbuka. Bahkan ia seringkali ikut serta apabila teman-teman di kelas mengadakan acara wisata kuliner ke tempat-tempat makan unik. Ia bahkan tidak segan untuk ikut makan di warung soto mie Jl. Bandung (yang berupa warung kaki lima di pinggir jalan), datang dengan mobil Toyota Fortuner berplat CD sehingga mengundang perhatian setiap orang yang ada di warung tersebut. *Yang was-was malah kami yang mengajak, takutnya sakit perut*

Waktu pun berlalu, ternyata Hideko-san tidak melanjutkan kuliah bahasa Italia di Istituto karena suaminya dimutasi ke Roma. Akhirnya kelas “makan-makan” Istituto sepakat mengadakan farewell party untuk Hideko-san di restoran Anatolia Kemang. Kebetulan malam itu Jakarta macet total sehingga saya adalah orang kedua yang tiba disana setelah Hideko (untuk disiplin soal waktu, orang Jepang memang nomor satu). Sambil menunggu teman-teman yang lain, kami mengobrol panjang, terutama mengenai musik dan kebudayaan.

Hideko mengemukakan bahwa saat ini Jepang sedang mengalami masalah ekonomi. Iklim finansial yang tidak begitu bagus belakangan ini membuat kehidupan semakin sulit. Menurutnya, anak-anak muda di Jepang saat ini tidak berorientasi untuk berkeluarga karena untuk menanggung penghidupan sendiri saja sudah sulit, apalagi untuk menghidupi anggota keluarga apabila menikah kelak. Mencari pekerjaan di Jepang saat ini sulit sekali, sementara biaya hidup sangat tinggi. Hideko mencontohkan, di Tokyo (yang termasuk dalam daftar kota termahal di dunia), secangkir kopi di sebuah kedai dapat mencapai 80 ribu rupiah!

Ngomong-ngomong, teringat pada cerita Hideko-san, saya sedikit merinding ketika kemarin ini membaca artikel wawancara majalah Prisma (Juni 2009) dengan Menkeu Sri Mulyani Indrawati. Ketika membahas masalah “hutang luar negeri Indonesia yang tidak akan pernah terbayar sampai kapan pun,” Ibu Ani menjawab: “Ini masuk ke dalam filosofi mengenai suatu negara apakah dia berutang terus sampai keabadian? Jepang, contohnya. Demografinya mulai mengecil, generasi tuanya sudah mencapai 60 persen. Karena makin tua berarti makin banyak kebutuhan untuk kesehatan, jasa-jasa, karena sudah tidak bekerja lagi maka “makan” dari tabungannya. Siapa yang akan menyediakan semua kebutuhan mereka ini? Generasi yang lebih muda, yang makin mengecil, yang harus menanggungnya, plus beban utang masa lalunya yang lebih dari seratus persen. Jadi negara itu akan terus masuk ke dalam lilitan utang. Terus terang, kalau saya jadi menteri keuangan Jepang barangkali akan frustrasi dan tidak tahu akan berakhir seperti apa,”

Farewell party di Anatolia, Kemang

Hidup memang penuh ketidakpastian, tapi paling tidak masih ada seni yang mempersatukan umat manusia. Rupanya Hideko-san adalah seorang pianis juga. Ia belajar piano sejak kecil, namun ketika harus menemani suaminya dinas di berbagai negara, terpaksa kontinuitas permainan pianonya harus menyesuaikan dengan ritme kehidupan ibu-ibu diplomat (merangkap ibu rumah tangga dengan dua anak laki-laki). Beliau sangat antusias ketika membicarakan masalah makanan dan seni yang menurutnya mempersatukan manusia dari berbagai negara yang memiliki perbedaan kultur dan budaya. Sebagai contoh, sebelum ditugaskan di Indonesia, Hideko sempat tinggal selama beberapa tahun di Teheran, Iran. Disana anak-anaknya les piano dengan guru berkebangsaan Spanyol dan memainkan lagu-lagu komponis Barat dan karya komponis Iran. Begitu pula Hideko kagum ketika tahu bahwa saya bisa menyanyikan lagu opening dorama “Tokyo Love Story” dalam bahasa Jepang, dan ia bertanya pada saya, “You sing that song, but do you know what’s the meaning of the words?”. Saya jawab, tidak. Kemudian ia hanya menggeleng-gelengkan kepala.

Kemudian, dua hari sebelum Hideko-san berangkat ke Roma (berangkat tanggal 26 Oktober), ia mengundang saya ke apartemennya untuk memberikan tanda mata perpisahan. Saya datang dengan Lilis Ho, salah seorang kawan dari Istituto. Ketika berjumpa dengannya, rupanya ia memberikan sejumlah buku musik, bermacam-macam partitur yang sangat menarik. Yang paling menyita perhatian saya adalah buku musik terbitan Iran, yaitu Etude op 599 Carl Czerny dan dua buku karya komponis Iran, Fariborz Lachini.

Etude Czerny op 599 merupakan “makanan pokok” bagi para pelajar piano. Rupanya di Iran, tulisannya menggunakan bahasa Arab untuk judul, sedangkan tanda tempo masih ditulis dalam huruf latin. Ketika sedang terkesima melihat buku-bukunya, Hideko-san bilang, “You can read it right? You’re a moslem and I think you can read all of those Arabian characters,” Saya bilang, bisa, sambil berpikir kira-kira bacaannya apa, karena huruf Arab yang digunakan untuk bahasa sehari-hari biasanya adalah Arab “gundul” (tanpa penanda vokal ‘a’, ‘i’, atau ‘u’) dan sedikit berbeda dengan yang terdapat dalam Al-Qur’an.

Etude op 599 (Carl Czerny)

Tapi coba kita lihat, di pojok kanan atas adalah (dari kanan ke kiri) aksara modifikasi ta + sin = che, disusul ra, dan nun dengan penunjuk huruf ya sebagai vokal 'i'. Karena huruf pertamanya diberi penanda vokal ‘i’, maka bacaannya kira-kira “Chir-nii” (Czerny). Sedangkan huruf kecil yang “terbang” diatas “Chir-nii” adalah kaf, alif (untuk menandakan vokal ‘a’), ra, dan lam, maka bacaannya kira-kira “Karl”. Menarik sekali!

Judul menggunakan aksara Arab, tapi tanda tempo tetap alfabet Latin

Selain Etude Karl Czerny, Hideko-san juga memberikan dua buah buku komposisi piano karya komponis Iran, Fariborz Lachini. Sang komposer yang lahir pada 1950, belajar komposisi di Eropa dan merupakan anggota Masyarakat Komposer Prancis (Société des Auteurs-Compositeurs – SACEM). Setelah kembali ke Iran, ia aktif membuat musik untuk pendidikan anak-anak dan komposisi musik film. Berikut ini adalah kumpulan impresi akan musim gugur yang tersusun dalam album “Golden Autumn”.


"Golden Autumn" karya Fariborz Lachini, volume 1


Salah satu lagu dalam "Golden Autumn"

Ternyata memang benar, musik dan seni adalah suatu produk kebudayaan yang menembus batas – transendental. Musik menyatukan perbedaan dan latar belakang dalam sebuah perdamaian universal. Semoga Hideko-san bisa tetap membawa kebaikan dimana pun ia berada.

Have a good life in Rome!

The last photograph with Hideko and Lilis Ho

Thursday, October 15, 2009

To Smoke or Not To Smoke (?)

Who said that an opera singer shouldn’t smoke?


History has it that a legendary opera singer of all time, Enrico Caruso (1873-1921), smoked two packages of Egyptian cigarettes a day. He was a heavy smoker!

Enrico Caruso with his Egyptian cigarette


Lisa della Casa (born 1919) just turned 90 on February 2009. She’s one of The Last Prima Donnas (a book written by Lanfranco Rasponi). Some people could still remember her beautiful rendition of works by Mozart and Strauss. She still smokes until today.


Lisa della Casa: Singing is more dangerous than Smoking.

90 years old Lisa della Casa and her beloved husband:
And her beloved cigarettes



And here we come, four of the famous Metropolitan Opera’s roster: Risë Stevens, Robert Merrill, Nadine Conner, and Patrice Munsel. They appeared in a vintage advertisement of Camel cigarette. I don’t know if they really smoke, but the ad proved that.



This is Elvira de Hidalgo (1892-1980). Does anyone know her? Yes, she was Maria Callas’ teacher. A famous Spanish coloratura soprano and singing teacher, she almost smoked a pack of cigarette during this interview session.


Elvira de Hidalgo with almost one pack of cigarettes:
Locomotive

In the summer of August 1957, Maria Callas was scheduled to sing at the open-air Herodes Atticus amphitheater, Greece. Both of teacher and student met at the rehearsal. And LOOK at their facial expression! Maria Callas was a genuine icon of Greek tragédie, with melancholy and languorous eyes, while her teacher – with Spanish passion for fiesta and fireworks – seemed very happy and enjoyed the very night with cigarettes.

de Hidalgo: "Dear Maria, just sit and relax. Let me smoke this bloody cigarette,"


Like teacher, like student: Maria Callas herself was a smoker. I got two pictures of her. One with her colleague, tenor Giuseppe di Stefano who smoked cigar. Another one is a miscellaneous snapshot, taken from the filming session of Pier-Paolo Pasolini's Medea (1970).


Maria Callas and Giuseppe di Stefano:
Draught beer and cigarettes

Maria Callas during the filming session of Medea


The rivalry between Maria Callas and Renata Tebaldi seems too pretentious. Some people said that Callas had a diabolical voice compared to Tebaldi, who owned a voice of an angel, like Toscanini said. And here The Angel with a cigarette.

Renata Tebaldi: it's a pleasure to burn!


Last but not least: Luciano Pavaroti, King of the high Cs, and King of big cigars.


Pavarotti, was a cigar aficionado

Monday, October 12, 2009

Il viaggio dell’opera

Pada Sabtu 10 Oktober yang lalu, saya kembali mendapat kehormatan untuk mengiringi pementasan Susvara Opera Company dalam konser yang bertajuk “Il viaggio dell’opera” di Gedung Kesenian Jakarta. Pementasan yang (menurut kritikus musik Michael Budiman) dijuluki “Sebuah perjalanan bertabur bintang” ini menampilkan penyanyi-penyanyi seriosa terbaik di Tanah Air. Diantaranya ada yang masih dalam proses untuk menuju ranah artistik yang lebih tinggi, namun ada pula yang sudah berdedikasi menyelami musik klasik selama berpuluh tahun. Mereka adalah guest star malam itu, yaitu soprano Aning Katamsi, Binu Sukaman, dan pianis Adelaide Simbolon.


Il viaggio dell'opera, Gedung Kesenian Jakarta 2009


Hal yang menarik adalah, kendati pementasan Susvara Opera Company malam itu melibatkan berbagai musisi dari komunitas musik yang berbeda, namun ada satu persamaan di dalamnya: Semua disatukan oleh The Great Catharina Leimena, penyanyi opera sungguhan didikan Italia yang dengan penuh pengabdian telah mendidik dan menelurkan musisi-musisi top selama puluhan tahun. Konsistensi itulah yang kemudian memicu diadakannya pertunjukan musik “Il viaggio” yang berarti “Perjalanan”.

Behind the scene

Dalam suatu obrolan malam mengenai pra-produksi konser ini, Ibu Catherine bilang pada saya, “Sebenarnya mengapa dinamakan ‘Il viaggio’ itu ada falsafahnya. ‘Il viaggio’ memang berarti ‘Perjalanan’. Itu bisa macam-macam artinya, antara lain adalah perjalanan seni opera sejak era Mozart hingga Puccini yang akan kita bawakan.
Kemudian perjalanan Susvara Opera Company, yang sejak berdiri dengan nama Sanggar Susvara pada 1970 telah membawakan berbagai macam opera untuk menumbuhkan apresiasi masyarakat terhadap seni yang tinggi tersebut, dimana lagu-lagu yang akan dibawakan nanti merupakan cuplikan dari opera-opera yang selama ini pernah Susvara bawakan.
Dan yang terakhir adalah wujud konsistensi dari musisi yang mendalami opera. Saya membuat ‘Il viaggio’ ini kan dengan maksud bahwa selain generasi tua, ada juga generasi muda yang sedang dalam proses pengembaraan untuk mencari jatidiri mereka dalam musik klasik. Ada yang di tengah jalan lantas pindah ke jalur pop, ada juga seperti Harry Manulang – tenor kita dulu yang bagus sekali, akhirnya meninggal. Ada yang suaranya bagus dari ISI Jogja, sekarang hilang entah kemana. Ada Fawrita Pane yang suaranya persis seperti Callas, sekarang sudah berhenti nyanyi. Namun dari mereka-mereka itu, ada murid saya yang dari dulu hingga sekarang tetap konsisten di jalur seriosa ini, yaitu Aning dan Binu. Itu yang ingin saya tampilkan, bahwa dalam suatu Perjalanan, pasti ada proses yang semakin mendewasakan musisi-musisi itu. Mereka harus kita tumbuhkan apresiasinya seperti layaknya Binu dan Aning. Makanya, saya bikin konser ‘Il viaggio’ ini dengan maksud seperti itu,”

Konser “Il viaggio” ini selain menampilkan vokalis-vokalis berkualitas prima, juga melibatkan banyak pianis. Saya adalah salah satunya yang bertanggungjawab terhadap opera Norma, La Boheme, dan La Gioconda. Sementara itu Teodore Minaroy, pianis yang sangat saya kagumi karena permainannya yang sangat artistik dan puitik, memainkan cuplikan-cuplikan dari Il Trovatore karya Verdi dengan sangat memikat!
Celine Meirani dengan tone-touch yang kokoh dan power yang prima, senantiasa memainkan cuplikan dari Fidelio (Beethoven), La Gioconda (Ponchielli), dan Cavalleria Rusticana (Mascagni).
Not-not Mozart yang membutuhkan keterampilan jari, dimainkan dengan baik oleh Priska Budihardjo dan Sharon Hartanto.
Pianis ulung Adelaide Simbolon sendiri mengiringi cuplikan opera Suor Angelica (Puccini), Norma (Bellini), dan Cavalleria Rusticana.

Highlights

Beberapa highlight yang merupakan favorit saya adalah cuplikan dari opera Suor Angelica yang dinyanyikan dengan ethereal beauty oleh Aning Katamsi. Memang benar seperti review konser dari Michael Budiman, bahwa penampilan Mbak Aning malam itu memiliki medan magnet yang sangat kuat, sehingga membuat saya terpaku menonton dari backstage. Dengan akting yang sangat jujur, Mbak Aning memulai frase aria "Senza Mamma" dengan resonansi vokal sedemikian rupa, sehingga suara yang keluar tidak seperti keluar dari mulut, melainkan dari sebuah rongga resonansi yang ada di atas kepala. Suaranya seperti pelangi. Mungkin ini yang dinamakan dengan istilah “squillo” (ringing sound) oleh kritikus musik Norman Lebrecht. Apabila konduktor-diktator Arturo Toscanini pernah memberi pujian “Voce d’angelo” (suara malaikat) pada Renata Tebaldi, malam itu saya rasa "Voce d’angelo" terjadi juga pada Mbak Aning.
Dengan pengucapan diksi yang sangat memikat, Mbak Aning terus “menarik” aria "Senza Mamma" hingga klimaks seperti tanpa jeda. Kalimat-kalimat dibentuk dalam konsep yang sangat indah, sehingga dari awal hingga akhir menyatu utuh. Saya rasa untuk menjelaskan magnetism Mbak Aning dalam aria ini, seseorang harus mendengar langsung, tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Yang jelas, frase “Se qui... se qui” membuat saya merinding!
Mbak Ade pada piano pun mengiringi dengan seksama, penuh perhatian terhadap detail dinamik dan kedalaman. Ia bisa membuat suara piano menyerupai pipe-organ, sebagaimana versi asli orkestra pada introduksi lagu.


Renata Tebaldi sebagai Suor Angelica

Highlight kedua adalah Christine Lubis yang menyanyikan aria “D’amor sull’ali rosee” dari opera Il Trovatore karya Verdi. Dengan intensitas suara yang sangat lebar dan perhatian pada detail, Christine bisa menaklukkan salah satu aria Verdi paling sulit tersebut. Dalam recitative “Timor di me...” sebelum aria, Christine bisa membawakannya dengan idiom diksi Italia, dengan penekanan aksen yang pas. Dalam arianya sendiri, ornamen-ornamen dan dinamik lembut pada nada tinggi bisa dikuasai dengan kecermatan dan presisi yang tinggi.
Pianis Teo Minaroy dengan bahasa musiknya yang puitik, mengiringi keseluruhan cuplikan opera Verdi sebanyak lima lagu dengan memukau. Siapapun yang mendengar permainan piano Teo akan langsung dapat menangkap artistry yang ada dalam dirinya secara natural.

Highlight ketiga adalah Binu Sukaman. Dengan suara sopran yang cemerlang, Mbak Binu membawakan dua duet. Yang pertama adalah duet “Mira, O Norma,” dari opera Norma bersama Mbak Aning dan “Ah, il Signore vi manda” dari opera Cavalleria bersama Ferry Chandra. Tidak dapat disangsikan lagi bahwa Mbak Binu merupakan soprano papan atas Indonesia. Dengan kemampuan akting yang passionate dan berapi-api, duet Norma diselesaikan dengan presisi dan kontrol suara ala Bel canto yang prima, tentunya dengan bumbu coloratura yang membuat duet ini semakin seru dan menarik. Duet seru yang pada tahun 1965 pernah menjadi pemicu pertengkaran soprano Maria Callas dengan mezzosoprano Fiorenza Cossotto.
Apabila duet Norma dibawakan dengan keindahan format menyanyi Bel canto, maka duet “Ah il Signore vi manda” bercerita mengenai realisme, karena Cavalleria Rusticana adalah perintis berkembangnya aliran verismo (realisme) dalam repertoire opera Italia di akhir abad 19. Mbak Binu yang penuh dengan passion dan temperamen, bisa memerankan Santuzza yang sedang putus asa seperti nyata. Dengan Ferry Chandra sebagai Alfio yang berkarakter kuat, duet penuh ketegangan tersebut didukung oleh permainan piano Mbak Ade yang penuh tension, sangat dramatis!


Maria Callas dalam opera Norma, Paris 1955

Highlight terakhir adalah soprano Sri Muji Rakhmawati yang membawakan aria “Casta diva” dari opera Norma dengan penuh kesyahduan dan keagungan. Dengan gaun ala Callas yang dirancang khusus, Wati menyanyikan salah satu aria tersulit dalam repertoire Bel canto tersebut dalam tata ritual prosesional, sebagaimana ia menghayati perannya menjadi Norma, Druid priestess yang jatuh cinta pada perwira Romawi. Dari balik panggung, koor menyanyikan bagian-bagian syahdu yang diikuti dengan figurasi-figurasi ornamen coloratura oleh Wati dengan presisi dan konsentrasi yang kuat, dibalik suaranya yang cemerlang.

Demikianlah konser “Il viaggio dell’opera” malam itu benar-benar menghadirkan bunga rampai dari sekian banyak opera yang pernah ditampilkan oleh Susvara. Sebagai agenda ke depan, mari kita saksikan pementasan opera lengkap “La Gioconda” karya Amilcare Ponchielli yang rencananya akan ditampilkan tahun 2010.

Semoga sukses!