Monday, October 08, 2012

Pesona Seorang Catharina Leimena

“Api yang menyeringai! Orang-orang berlari riang menuju perapian! Sementara seorang wanita, dipasung, dilemparkan dalam kobaran api itu,”

Demikianlah Azucena menceritakan kengerian yang terjadi dua puluh tahun lalu, saat ibunya – yang oleh Count di Luna dituduh telah menyebarkan guna-guna – dibakar hidup-hidup, disaksikan oleh mata Azucena sendiri, serta kerumunan massa yang menghujatnya penuh sukacita. Azucena bersumpah untuk menuntut balas. Kengerian itu, kekal membakar hatinya.




Saat itulah Catharina Leimena menyihir penonton yang memadati Gedung Kesenian Jakarta pada malam 29 September 2012 yang lalu, dalam konser bertajuk “Verdi’s Il Trovatore in Concert”. Sebagai seorang penyanyi opera, malam itu Catharina berada di atas panggung bukanlah dalam wujud seorang penyanyi nan jelita yang berkilauan lampu sorot panggung, namun sebagai Azucena – seorang gipsy udik nan jelek dari perkampungan kumuh di pegunungan Biscay Spanyol, namun memiliki kharisma layaknya seorang pendeta perempuan (priestess) yang dengan segenap sabdanya mampu menghasilkan kekuatan magnet untuk menyerap getaran energi di atas panggung – baik bagi lawan mainnya, maupun penonton.



Pesona yang sangat kuat memancar dari pribadi Catharina, terutama disebabkan oleh kemampuannya mendalami karakter Azucena sedemikian rupa, sehingga dalam posisi duduk-diam pun, suasana tegang terus menggelora di atas panggung yang gelap. Kekuatan aktingnya tidak terletak pada gestur ragawi atau aksi-aksi dramatik yang hiperbolis, melainkan pada kesederhanaan dan kejujuran ekspresi yang terpancar dari mimik wajahnya, yang justru telah menjadi drama itu sendiri. Dengan kata lain, Catharina telah membawa sebuah realitas ke atas panggung, yang hadir sebagai sebuah akumulasi dari pengalaman hidup terdalamnya selama puluhan tahun bergelut dengan seni opera.



Fokus
“Fokus” merupakan sebuah istilah yang tepat untuk mendeskripsikan proses transformasi yang terjadi di atas panggung – sebagai sebuah usaha penginternalisasian karakter Azucena dalam diri Catharina – dimana seseorang dapat menembus batasan-batasan yang diberikan oleh eksistensinya dan masuk dalam kepribadian yang baru, sebagai alter-ego dari dirinya sendiri, bahkan menuju realitas yang berbeda. Dalam hal ini, Catharina seolah-olah telah lupa akan ke-diri-annya dan mewujud menjadi sebuah fenomena yang hanya dapat disaksikan oleh penonton pada malam itu.

Secara historis, pendekatan teatrikal yang bersifat Dionysian ini mengingatkan komentar George Bernard Shaw ketika membandingkan dua aktor legendaris: Sarah Bernhardt yang asal Prancis, dengan Eleonora Duse yang seorang Italia. Shaw melukiskan bahwa Bernhardt selalu siap dengan senyuman yang menembus awan. Aktingnya merupakan persembahan yang megah dan spektakuler bagi teater, sehingga tidak mungkin dianggap sebagai sebuah pertunjukan yang tidak pantas dinikmati. Sebaliknya, Eleonora Duse memenuhi seluruh prasyarat kemanusiaan yang langsung tertera pada aktingnya. Duse baru lima menit berada di atas panggung, tetapi dia sudah menunjukkan pendekatan akting dua puluh lima tahun lebih maju daripada pendekatan akting Sarah Bernhardt. Duse sendiri ketika ditanya mengenai keaktorannya, menjawab bahwa menafsirkan naskah dengan kreatif adalan tanda pertumbuhan, dimana pengetahuan tersebut harus diperoleh melalui penderitaan – guru yang terhebat!

Penderitaan memang dapat menjadi titik pangkal perubahan karakter seseorang. Pengalaman Catharina Leimena selama menimba ilmu di konservatorium musik Milan bukanlah sebuah perjalanan yang mudah, terutama pada masa-masa dimana rasisme masih menjadi isu yang penting. Dalam beberapa wawancara sebelumnya, Catharina bercerita bahwa di kala itu, kelas Letteratura poetica drammatica (Literatur poetik-dramatik) merupakan salah satu prasyarat tersulit untuk lulus. Para mahasiswa digembleng dengan sangat keras: Dituntut untuk belajar menangis sambil bernyanyi, serta internalisasi watak yang menekankan kepercayaan aktor pada naskah. “Saya pernah diteriaki ‘Dasar orang Asia, tidak bisa apa-apa!’ oleh profesor teater saya, saat saya tidak bisa melakukan apa yang dimintanya. Saya kemudian menangis. Tapi justru si profesor memuji saya, katanya itulah ekspresi menangis penuh kejujuran seperti yang dimintanya. Rupanya dia sengaja membentak agar saya dapat fokus terhadap pewatakan yang ada dalam naskah,”



Berangkat dari kejujuran ekspresi dan penggalian karakter, seorang aktor harus mengenal dirinya sendiri sebelum mengenal karakter hidup orang lain (dalam hal ini: tuntutan naskah). Proses pemusatan fokus Catharina terhadap karakter Azucena yang diperankannya memang merupakan sebuah hasil meditasi yang panjang, reflektif, dan apa adanya. Realitas yang ditampilkannya di atas panggung dapat dibandingkan dengan kemampuan Anna Magnani memerankan seorang wanita depresif nan kelam di film “La voix humaine” (1948) arahan sutradara Roberto Rossellini (berdasarkan drama karya Jean Cocteau), serta seorang mantan mucikari yang berusaha untuk menghidupi anaknya dalam kehidupan kaum buruh di film “Mamma Roma” (1962) arahan sutradara Pier Paolo Pasolini. Dan di atas panggung malam itu, Catharina Leimena adalah Azucena, wanita gipsy tertindas yang hendak menuntut balas atas kelaliman Sang Penguasa, Count di Luna.



Tidak dapat dielakkan bahwa pemusatan fokus yang sedemikian intensif pada akhirnya menyublim dalam sosok Catharina Leimena dengan segala pesona dan kharismanya. Di atas panggung, ia adalah seorang legenda hidup yang bertanggung jawab atas pembentukan watak serta situasi yang dihadapinya, dengan tidak pernah kehilangan jatidiri di atas panggung (yang oleh Konstantin Stanislavsky dianggap dapat menyebabkan ekspresi palsu dan berlebih-lebihan). Catharina adalan Azucena yang hidup dalam kejujuran: Ia tahu bahwa dendam terhadap Count di Luna memiliki konsekuensi yang sangat pahit. Namun demikian, Catharina Leimena adalah Azucena yang memilih tindakannya sendiri. Ia adalah apa yang dialami dan apa yang dilakukannya. Dan Gedung Kesenian Jakarta menjadi saksi bisu atas pesona yang tak kunjung pudar itu.

Sunday, October 07, 2012

Giuseppe Verdi dan Opera Il Trovatore

Giuseppe Verdi (1813-1901) yang kerap kali dijuluki sebagai “Bapak Opera Italia” merupakan figur yang sangat fenomenal dalam runutan sejarah musik Barat. Selain dari karya-karya ciptanya yang masih mendominasi gedung-gedung opera hingga saat ini, banyak musikolog yang menganggap bahwa Verdi turut memiliki andil besar dalam gerakan Risorgimento (Kebangkitan) rakyat Italia dalam melawan dominasi kekuasaan Kekaisaran Austria serta penyatuan seluruh Semenanjung Italia pada abad ke-19. Musik Verdi dianggap memiliki agenda tersembunyi sebagai api pemicu semangat patriotisme, terutama pada opera Nabucco (1844) – dimana bagian koor-nya yang terkenal “Va, pensiero” dijadikan semacam himne sakral bagi para patriot yang berjuang pada saat itu.

Sembilan tahun setelah kesuksesan opera Nabucco, Teatro Apollo di Roma menjadi saksi berhasilnya pementasan perdana opera Il trovatore, sebuah momentum penting dimana para musikolog mengenangnya sebagai saat-saat keemasan bagi dunia opera. Il trovatore sendiri merupakan opera kedua dalam “Trilogia popolare” (tiga rangkai opera favorit karya Verdi) yang masih sering dipentaskan hingga saat ini, selain dari Rigoletto dan La traviata. Dalam menggubah musiknya, Verdi mengambil plot dari drama El Trobador, karya penulis drama Spanyol Antonio Garcia Gutierrez (1813-1844). Struktur musiknya terbagi atas empat babak yang masing-masing diberi judul menggugah, yaitu “Duel”, “Sang Gipsy”, “Putra Sang Gipsi”, dan “Eksekusi Mati” dengan pembagian karakter utama yang merupakan ciri khas Verdi: tenor, soprano, bariton. Namun demikian, Verdi memasukkan sebuah kejutan di tengah plot dengan menambahkan karakter Azucena (mezzosopran), yang pada kenyataannya merupakan karakter utama dari Il trovatore.


Sesuai dengan manuskrip awal yang ditulisnya, Verdi ingin memberi judul La zingara (Sang Gipsy) atau La vendetta (Dendam) dengan pembalasan dendam Azucena sebagai intisari dari keseluruhan cerita. Verdi sendiri memberikan kebebasan kepada penulis libretto-nya: Salvatore Cammarano dan Emanuele Bardare – untuk mematangkan naskah opera, termasuk meminta Bardare memasukkan syair aria baru untuk Azucena di babak kedua, yang kini dikenal dengan aria “Stride la vampa”.

Kisah Il trovatore sendiri menceritakan tentang masa lampau, dimana adegan-adegan yang ada di dalamnya merupakan fragmen-fragmen dari serpihan sentimen yang belum tersapu oleh waktu. Banyak dari adegan yang tidak ditampilkan di atas panggung dan hanya disugestikan melalui deskripsi dari narator (diperankan oleh Ferrando), termasuk adegan yang seharusnya ditampilkan di panggung (seperti Pertempuran Castellor atau Kematian Manrico) namun hanya disugestikan melalui cerita. Minimnya adegan nyata pada akhirnya menciptakan sebuah suasana surealis, dimana setiap karakter terlihat memiliki peran yang ambigu.



Sebagai contoh, pada narasi Ferrando – aria “Abbietta zingara” dan “Buon Conte di Luna” – seluruh karakter utama tampak memiliki dunia paralel dengan masa lalunya: Azucena dengan ibunya, Count di Luna dengan ayahnya, Manrico dengan bayi yang dibakar. Dengan kata lain, karakter yang sedang berada di atas panggung merupakan gema dari bayang-bayang masa lalu – reinkarnasi dari pembalasan dendam “mereka yang telah tiada”. Namun Verdi yang penuh dengan kejutan, memasukkan karakter Leonora sebagai katarsis dari dunia paralel tersebut. Leonora digambarkan sebagai seseorang yang tidak memiliki “dunia paralel” dengan masa lalu. Ia seperti muncul tiba-tiba di atas panggung, seorang diri, jatuh cinta, dan menyingkirkan dirinya sendiri pada babak terakhir.


Meskipun dianggap absurd dan terdapat ambiguitas dalam penokohannya, keseluruhan plot opera dapat disatukan berkat pewarnaan timbre orkestra yang cukup sublim serta ditampilkannya simbol-simbol partikular secara berulang kali (nuansa malam, api unggun, rangka-rangka baja dan rantai di perkemahan kaum gipsy) yang mendeskripsikan tentang “nasib yang tak terelakkan”. Bukan “nasib yang tak terduga” seperti yang menimpa para tokoh di opera La forza del destino (Kekuatan Takdir), namun suatu “nasib” yang secara tidak sadar telah “disusun” sebagai akibat dari perbuatan para leluhur dari Count di Luna, Azucena, dan Manrico.

Sebagai catatan: Trovatore atau troubadour adalah penyair merangkap musisi yang besar dalam tradisi ksatria, dimana mereka biasanya menyanyikan lagu-lagu cinta untuk menarik perhatian para putri istana. Sebuah tradisi yang berkembang pada abad ke-11 akhir di Prancis, dan menyebar hampir ke seluruh daratan Eropa pada masanya.


Tulisan ini dirangkum dari berbagai sumber dan dimuat dalam buku program konser Schouwburg Festival X "The Legend" & 25th Anniversary of Gedung Kesenian Jakarta yang menampilkan "Catharina & Friends in Verdi's Opera "IL TROVATORE", Sabtu 29 September 2012.

Wednesday, October 03, 2012

BARA API YANG TAK PERNAH PUDAR

Schouwburg Festival X "The Legend" & 25th Anniversary Gedung Kesenian Jakarta
Catharina Leimena & Friends in Verdi's Opera "IL TROVATORE" in Concert
Sabtu, 29 September 2012

KATA PENGANTAR

Seseorang layak disebut sebagai maestro (atau maestra) apabila telah sampai pada titik pencapaian tertinggi pada bidang seni yang ditekuninya. Namun tidak semua maestro dapat dianggap sebagai living legend (legenda hidup) apabila daya artistiknya belum mampu menjadi patokan nilai dan menjadi sebuah sistem bagi lingkungan seninya untuk berkarya. Seorang legenda hidup dituntut untuk memiliki visi dan idealisme yang teguh, sehingga integritas yang dimilikinya dapat menjadi inspirasi bagi sebuah perubahan. Secara otomatis, seorang legenda hidup memiliki pengaruh yang besar, dimana kebijaksanaannya akan selalu dikenang dan dihormati.

Setengah abad yang lalu, kantor Antonio Ghiringhelli (sovrintendente gedung opera La Scala Milan, sekaligus figur nomor satu dalam percaturan opera di Eropa yang mengorbitkan Renata Tebaldi dan memecat Maria Callas) diketuk oleh seorang gadis berkebangsaan Indonesia yang hendak meminta rekomendasi untuk mendaftar ke konservatorium “Giuseppe Verdi”. Tanpa banyak bicara, Ghiringhelli mengajak gadis tersebut untuk dites menyanyi langsung di atas panggung La Scala, diiringi sang sovrintendente sendiri dengan piano yang biasa digunakan untuk gladiresik. Sepucuk surat pengantar ditandatangani dan gadis tersebut dapat mengikuti audisi di konservatorium paling bergengsi di seluruh Italia tersebut.


Saat audisi di konservatorium “Giuseppe Verdi” berlangsung, komposer avant-garde Italia Giorgio Ghedini sendiri yang mengiringi gadis tersebut menyanyikan aria “Ombra mai fu” dari opera Xerxes karya Handel. Juri audisinya: Ettore Campogalliani, guru vokal Renata Tebaldi, Renata Scotto, Mirella Freni, dan Luciano Pavarotti. Hasil audisi menyatakan bahwa gadis tersebut diterima sebagai mahasiswa vokal dan ditempatkan di bawah asuhan Prof. Clotilde Ronchi pada seni bernyanyi dan Prof. Carla Castellani pada seni opera, dengan beasiswa penuh dari pemerintah Italia.

Beberapa tahun kemudian, Presiden Sukarno meminta gadis tersebut untuk turut menemaninya menyaksikan opera Aida, lengkap dengan jamuan makan malam bersama soprano Leontyne Price. Keesokan harinya, presiden Republik Indonesia pertama itu memintanya menyanyikan “Last Rose of Summer” dari opera Martha karya von Flotow dalam bahasa Indonesia. Bung Karno sendiri yang menuliskan syair terjemahan bahasa Indonesianya pada secarik kertas. Tidak berhenti hingga di sana, semangat akan pencapaian yang tinggi membawa gadis tersebut bernyanyi di berbagai gedung opera dengan memerankan beragam karakter, hingga suara emasnya dapat mengalir merdu di hadapan Sri Paus Paulus VI, sebagai solis dibawah baton dirigen Riccardo Muti.
Namun hidup adalah pilihan. Tahun 1965, gadis berdarah Ambon-Sunda itu memilih untuk kembali ke tanah airnya dan berniat untuk memperkenalkan keindahan opera Italia pada saudara-saudara sebangsanya. Baginya, selain bermuatan estetik, seni harus menjadi media perubahan karakter bangsa menjadi lebih beradab, jujur, dan bertoleransi, sebagaimana dimensi pembentuk opera yang merupakan gabungan dari berbagai elemen seni (teknik vokal, seni musik, seni peran, penataan cahaya, dekorasi, kostum, dan literatur) sifatnya cair, bersatu untuk menciptakan harmoni.

Dengan visi dan misi sedemikian teguh, pada awal tahun 1970 gadis bertekad baja tersebut mendirikan Sanggar Susvara di Jakarta dan Bandung. Tujuannya adalah untuk membentuk sebuah komunitas yang haus akan apresiasi terhadap musik, khususnya seni vokal dan opera. Berkat dedikasi yang luar biasa, sanggar tersebut berkembang pesat hingga dapat mementaskan beragam opera karya Mozart, Beethoven, Bellini, Verdi, Ponchielli, Mascagni, Puccini, serta menelurkan seniman-seniman yang saat ini dikenal sebagai nama-nama papan atas di ranah seni vokal Indonesia.

Dengan segenap pencapaiannya, kini gadis tersebut telah bermetamorfosis menjadi seorang legenda hidup bernama Catharina Leimena. Seorang maestra yang senantiasa konsisten menjalankan kejujuran dalam musik dengan segala kebersahajaannya. Ia tidak menjadikan opera sebagai kuil pemujaan terhadap kesempurnaan seni selayaknya semboyan l’art pour l’art, namun sebagai pembangun karakter manusia menjadi seseorang yang utuh, sebagaimana figurnya yang dianggap sebagai “Ibu dari semua musisi”.

Melalui Sanggar Susvara yang kini tumbuh menjadi Susvara Opera Company, Maestra Catharina Leimena membuktikan bahwa api yang ada dalam dirinya masih berkobar dengan kuat, sebagaimana jiwa patriotik pada opera-opera karya Verdi dikumandangkan dengan penuh hasrat dan gagah berani: Jangan pernah sekali pun mencoba untuk memadamkan api itu, karena seorang Catharina Leimena akan terus berkarya selama musik masih berkumandang dalam sukma.

Proviciat Maestra Catharina Leimena!

Jakarta, 26 September 2012
Aditya Pradana Setiadi





Kata Pengantar ini dimuat pada buku program acara, yang merupakan penutup dari serangkaian Festival Schouwburg X Gedung Kesenian Jakarta.

Friday, September 28, 2012

Warna Nada Dalam Dekonstruksi

Salihara dan Semangat Avant-Garde
Dalam konsistensinya, Komunitas Salihara bersukacita dalam merayakan festival seni yang keempat, dimana pada 25-26 September 2012 yang lalu menampilkan format resital duo piano oleh pianis Belanda Laura Sandee dan Anna van Nieukerken dengan mengusung tema “Spectral Music and Changes, Dances and More”. Secara jelas dicantumkan dalam program bahwa piano duo ini merupakan perkawinan dari produksi warna spektral yang beraneka ragam dengan perubahan-perubahan (estetika?) yang terstruktur.


Menanggapi “perubahan-perubahan yang terstruktur”, dapat dikatakan bahwa program yang ditampilkan justru merupakan dekonstruksi terhadap (apa yang berlaku umum disebut dengan) kemapanan struktur yang sudah menjadi pakem resital musik seni selama ini, sebagaimana umumnya menampilkan karya-karya dari era Barok, Klasik, Romantik, dan Modern. Keberanian kurator musik Salihara untuk menampilkan Duo Piano Laura dan Anna dengan mementaskan program era Modern dan avant-garde (garda depan) selama dua hari berturut-turut merupakan sebuah tantangan tersendiri. Ibarat mengejawantahkan estetika seni yang memiliki dua sisi, maka langkah yang dilakukan oleh Salihara dapat dikatakan sangat bersifat Dionysian, dibanding Apollonian.

Bila ditinjau dari sudut pandang Theodor Adorno, dekonstruksi akan musik avant-garde (yang sudah jelas lepas dari kemapanan tonalitas) merupakan sebuah pembebasan, sebagaimana pendapatnya akan musik komposer pencetus musik dodekafoni Arnold Schoenberg, bahwa “...disonansi semata-mata adalah konsonansi yang hubungan antarnadanya lebih bebas dalam rangkaian nada-nada tambahan (overtones). Walaupun kemiripan nada-nada tambahan yang jaraknya lebih jauh dari nada-nada dasar semakin dikurangi, konsonansi dan disonansi dapat dipahami (comprehensible). Maka bagi “telinga modern”, efek yang membingungkan dan yang tak dapat ditangkap, lenyap” (Dalam C. Teguh Budiarto “Musik Modern dan Ideologi Pasar”, 2001).

Penampilan karya-karya avant-garde tersebut bisa dianggap sebagai suatu dialektika yang dapat menghasilkan pemikiran baru terhadap apa yang disebut dengan “persepsi terhadap bunyi”. Adorno melihat bahwa karena sifatnya yang temporal, musik diikat oleh bentuk atau ruang (yang ditentukan oleh teknik komposisi sebagai mediasi) dan oleh waktu sebagai medium. Karena sistem tonalitas bukanlah hukum yang kekal (natural law), maka perkembangan seni selalu berdasarkan pada karya-karya seni yang muncul dalam sejarah. Dengan situasi seperti itu, Adorno menekankan situasi kebenaran yang obyektif pada saat ini (the present objective situation of truth). Sejarah sendiri hanya bermakna apabila menyatakan diri sebagai inner history (kaitan sebuah komposisi musik dengan waktu dan masyarakat tertentu) dalam fenomena masa kini, karena bukan sejarah yang memberikan makna pada masa kini (the present), namun justru kekinian yang memberikan makna pada sejarah. (C. Teguh Budiarto, op. cit)

Dekonstruksi terhadap kemapanan tonalitas ini, pada akhirnya menyentuh elemen salah satu unsur pembentuk musik, yaitu suara-nada-melodi. Charles Koechlin berpendapat, “Apa itu melodi? Apakah mengacu pada “bel canto” Italia abad ke-19? Atau mengacu pada Bach, atau Frescobaldi, dan Monteverdi? Apakah sebuah melodi itu adalah “phrase à effet” (kalimat yang memiliki efek tertentu) dari sebuah drama verismo dengan C tinggi sebagai klimaks? Ataukah, melodi ala Massenet? Sebagaimana para komposer memiliki banyak format melodi, untuk menentukan bahwa sebuah melodi memiliki aturan tertentu, hal tersebut sudah jelas merupakan sebuah dogma,”

Dekonstruksi berusaha untuk memahami sebuah fenomena dengan melayang di atas struktur, lepas dari konstruksi sosial. Dengan menunjukkan sebuah kesungguhan untuk melepaskan diri dari ikatan estetika Apollonian, tonalitas, serta segala sesuatu yang bersifat dogmatik, maka Salihara dapat dikatakan telah memiliki jiwa avant-garde itu sendiri. Resital Duo Piano Anna van Nieukerken dan Laura Sandee, merupakan salah satu wujud propaganda semangat tersebut.

Warna yang Menyuarakan Perubahan
Resital hari pertama dibuka dan ditutup oleh karya Olivier Messiaen (1908-1992) “Visions de l’amen”, sementara itu di tengahnya diselipkan karya-karya Guus Janssen (1951) “Veranderingen”, Hugues Dufourt “Soleil de proie”, serta Morton Feldman (1926-1987) “Work for two pianists”.

Guus Janssen yang merupakan komposer dan pianis berkebangsaan Belanda, menggubah “Veranderingen” (Perubahan-perubahan) pada tahun 1990 dalam format “Variations on a theme” – yang temanya sendiri tidak ditampilkan. Musiknya terpengaruh akan gaya komposisi Louis Andriessen, Pierre Boulez, Stravinsky, serta Messiaen. Sementara itu Hugues Dufourt adalah komposer dan filsuf Prancis yang karya-karyanya dekat dengan aliran Spektral. Komposer aliran ini (termasuk Messiaen) membuat idiom musik berdasarkan representasi sonografik dan analisis matematika dari spektrum-spektrum warna yang timbul. “Soleil de proie” (Mangsa Sang Surya) merupakan gambaran padang pasir luas, dimana matahari dengan bias-bias cahayanya secara perlahan menyengsarakan setiap makhluk yang di sana. Lalu Morton Feldman, “Work for two pianists” belum pernah dipublikasikan sebelumnya. Karyanya berupa repetisi motif-motif kecil (hampir menyerupai aliran minimalisme Philip Glass) dengan karakter nada yang sangat transparan.

Seperti pelukis Wassily Kandinsky yang berkilah bahwa “Lukisan abstrak saya adalah representasi dari mood, dan bukan obyek visual,” maka di tangan Duo Piano Anna-Laura, mood tersebut disalurkan secara perlahan namun pasti, melalui kontrol terhadap warna nada yang seksama. Setiap not dari masing-masing piano seolah berbunyi seperti saling teralienasi, tak mengenal, dan meneriakkan sesuatu yang bisu. Notifikasi secara khusus pada karya Dufourt “Soleil de proie”, konsistensi dalam produksi warna spektral dapat menciptakan sebuah suasana ketegangan antara manusia dan jiwanya (human psyche) – terbunuh perlahan, lenyap, dan terkubur oleh tiupan angin.


Visi Ketuhanan dan Kekuatan Destruktif
Menafsirkan Messiaen “Visions de l’Amen” (Visi-visi dari Amin), Duo Piano Anna-Laura menunjukkan kecakapannya baik dalam teknik pianistik maupun kedalaman interpretasi. Kekuatan musik Messiaen yang “Messianistik” dapat diibaratkan seperti Shiva Nataraja yang menari di atas sebuah kekacauan untuk menghasilkan sebuah tatanan dunia yang baru, kendati memang Messiaen sendiri terinspirasi dari ritme-ritme musik Hindu dalam sebagian besar karyanya.


Messiaen menggubah salah satu karya terbaiknya ini ketika ia baru saja dibebaskan dari penjara rezim Hitler Jerman dan mendapati istrinya, Claire, tengah sekarat di Paris. Pada pementasan perdana "Visions de l’amen", Messiaen menyertakan catatan kecil yang menjelaskan mengenai empat makna dari “Amen” itu sendiri: (1) Dia Sang Pencipta yang bersabda “terjadilah”, (2) Menerima apa yang telah ditetapkan oleh-Nya, (3) Menerima kehadiran-Nya dalam diri, dan (4) Menyadari bahwa apa yang telah ditetapkan-Nya, berlaku abadi.

Meskipun hanya membawakan dua dari keseluruhan tujuh nomor, namun pada bagian “Amen de la consommation” (nomor terakhir dalam susunan Visions de l’amen), nampak dengan jelas kekuatan Duo Laura-Anna dalam menerjemahkan tema “cahaya kehidupan abadi” akan warna-warna safir, zamrud, topaz, jacinth, kecubung, sardonyx (rona pelangi batu permata) seperti yang tercantum dalam Kitab Wahyu – mengutip analisis musikolog Paul Griffiths. Lebih jauh, dialog antara kedua piano dapat diibaratkan sebagai sebuah dialektika tesis dan antitesis yang menghasilkan sintesis berupa visi harmoni baru: Laura (piano 1) memainkan motif-motif gerejawi dalam idiom Gregorian, sementara Anna (piano 2) memainkan figurasi-figurasi destruktif yang bertujuan untuk memecahkan pakem kelembaman harmoni tradisional, demi menggambarkan kemegahan surgawi. Bukan kemegahan surgawi ala Monteverdi, Handel, atau Mozart, tapi kemegahan surgawi bersifat “intrinsik” yang merupakan proses ekstase penyatuan manusia dan spiritualitas tertinggi, seperti yang disimbolkan secara visual oleh patung “Ekstase Santa Teresa” karya Bernini.



Stravinsky dan Ritualnya
Tiga program yang ditampilkan pada pementasan hari kedua, terpusat pada karya Stravinsky “Le Sacre du Printemps” (Ritual Musim Semi) yang memiliki durasi kurang lebih 40 menit. Dalam runutan sejarah, karya ini mendapat banyak reaksi pro-kontra saat pementasan perdananya pada tahun 1913. Selain diakibatkan oleh idiom musik yang diangkap terlalu modern dan dekonstruktif pada masanya, Stravinsky ingin menafsirkan “musim semi” dalam artian mikroskopis: Bukan romantisme musim semi selayaknya bunga-bunga bermekaran dan burung-burung bernyanyi, namun “musim semi” dimana sel-sel dan kehidupan mikro berada dalam keadaan stres dan cemas untuk mempersiapkan dirinya lepas dari hibernasi dan bersiap untuk membelah diri.

Stravinsky menangkap kecemasan dan ketegangan tersebut melalui politonalitas, penggunaan ritme kompleks, aksen, dan harmoni disonan. Sementara itu dalam ranah makrokosmos, “Le Sacre du Printemps” menceritakan mengenai ritual pagan masyarakat Rusia purba, dimana seorang gadis harus dikorbankan sebagai tumbal lenyapnya musim dingin (yang mematikan) menuju musim semi (yang menghidupkan). Oleh karena itu, karya ini secara lengkap ditujukan untuk orkestra dan ballet sebagai sebuah manifestasi seni yang utuh.

Sebuah pementasan yang patut mendapatkan penghargaan, Duo Piano Anne-Laura menunjukkan ketahanan stamina mereka dalam mendayagunakan konsentrasi selama bermain. Suasana menegangkan dari sebuah tarian prasejarah dapat dibangun hingga klimaks, dengan tidak meninggalkan bangunan arsitektur musik yang sedemikian pelik. Jika ditampilkan pula balletnya, mungkin akan meninggalkan kesan secara visual, kendati tarian-tarian yang ada telah berhasilkan disajikan secara imajinatif melalui permainan duo piano lulusan konservatorium Den Haag tersebut.

Makna Historis dalam Kekinian
Usaha Salihara untuk menampilkan program resital duo piano musik avant-garde selama dua hari berturut-turut merupakan sebuah perspektif untuk meraba sejarah melalui kekinian. Rangkaian program yang menunjukkan benang merah antara Stravinsky yang menginspirasi Messiaen, serta Messiaen yang menginspirasi komposer-komposer avant-garde setelahnya merupakan sebuah bentuk manifestasi yang dialektis.

Meskipun berusaha untuk tidak terpaku pada ideologi tertentu, diharapkan program Komunitas Salihara dapat terus mengusung sisi kritis dalam masyarakat dengan pementasan-pementasan musik yang inovatif, lepas dari konformitas, serta revolusioner. Duo Piano Anna-Laura dapat diibaratkan sebagai kesinambungan pengusung obor pembaharuan bagi garda depan seni pertunjukan piano di Indonesia, dengan tidak mengesampingkan usaha dari musisi-musisi Indonesia sendiri yang dengan penuh hasrat menyampaikan pesan-pesan transformatif dalam maraknya khazanah berkesenian dewasa ini.


Sunday, September 23, 2012

Sudiarso Piano Duo: Menyuarakan Transformasi

Menghadiri sebuah konser adalah menghadiri sebuah pameran lukisan. Merupakan kepiawaian seorang pelukis untuk menyapukan kuasnya di atas kanvas menjadi kombinasi warna yang mengekspresikan pengalaman batin tertentu. Selayaknya seorang pelukis, kehidupan batiniah seorang pianis pun tercorak dari kemahirannya menciptakan warna melalui bilah-bilah hitam putih yang sejatinya tidak bernyawa. Apabila sebuah karya musik dicantumkan oleh komposernya melalui ribuan not dalam sehelai kertas, maka seorang pianis menghembuskan daya ekspresinya pada bilah-bilah dua belas titinada sehingga menjadi bernyawa. Proses sakral tersebut merupakan transfer batiniah antara komposer (yang telah meninggal berpuluh tahun lalu) kepada para pianis penafsirnya. Seperti sebuah mantra yang baru berkhasiat jika diucapkan oleh orang-orang tertentu, tidak semua pianis memiliki kemampuan untuk menafsirkan “energi” tersebut.

Pada penampilan Sudiarso Piano Duo (Gedung Kesenian Jakarta, 23 September 2012) yang mengetengahkan penampilan ibu-anak Iravati Sudiarso dan Aisha Sudiarso-Pletscher, transfer energi tersebut terjadi sedemikian intens sehingga seluruh warna-warni kehidupan langsung terjadi di atas panggung pada saat itu juga, ibarat Affandi yang sedang memuncratkan berbagai warna tube cat minyak pada selembar kanvas yang kosong. Apabila Affandi sedang memuntahkan ekstase vitalitasnya, maka Duo Sudiarso mengejawantahkan segenap warna: keceriaan Mozart, kenakalan Lutoslawski, romantisme Rachmaninoff, serta metamorfosis Debussy. Inilah proses yang oleh filsuf Theodor Adorno disebut memiliki dua sisi, yaitu estetik (kemampuan seniman dalam menafsirkan sebuah karya seni secara mendalam), serta mimesis (usaha seniman untuk mengangkat kebenaran yang bersifat transformatif).

Program konser yang diusung memiliki kombinasi terang-gelap – seperti lukisan dengan teknik chiaroscuro – untuk menimbulkan kontras dan nuansa dramatik. Baik babak pertama dan kedua dimulai dengan karya yang bersifat terang dan jenaka, diikuti dengan karya naratif yang berharmoni gelap dan serius. Meminjam istilah Wagner “Gesamtkunstwerk” (Total Work of Art), dapat dikatakan bahwa pergelaran malam itu merupakan gabungan dari berbagai macam jenis seni karena turut melibatkan aktor Jajang C. Noer (sebagai pendeklamasi puisi) serta pujangga tari Sardono W. Kusumo.




Mozart dan Lutoslawski
Sebagai pembuka babak pertama, Duo Sudiarso memilih Mozart Sonata KV 545 dengan Iravati memainkan versi orisinalnya, serta Aisha pada piano dua yang ditambahkan oleh Edvard Grieg. Karya yang membentuk sebuah dialektika ini merupakan simbol dialog antara Mozart (yang berasal dari era Klasik) dengan Grieg (era Romantik), sekaligus melambangkan dua generasi penafsirnya (generasi senior dan generasi penerus). Kendati karya ini seperti lahir kembali menjadi sebuah seni yang baru, namun artistry kedua pianis terlalu memukau, sehingga apabila Anda ingin mendengar versi orisinal dengan format sonata klasik yang utuh, tersaji dengan terang pada jemari Iravati. Apabila Anda ingin mendengar harmoni yang kaya akan nuansa era Romantik, sudah ada pada sapuan tuts piano Aisha. Apabila Anda ingin menikmati karyanya secara utuh ala Mozart-Grieg, maka semuanya telah ada di sana dan disuguhkan dengan sangat apik.

Pembuka babak dua adalah Lutoslawski “Variations on a theme by Paganini” yang belakangan dipopulerkan oleh duo piano Martha Argerich dan Nelson Freire dalam rekaman berlabel Philips. Pada karya ini, Duo Sudiarso bersinergi dengan presisi yang luar biasa, virtuoso, dan sangat artikulatif. Setiap kalimat tergarap dengan prima, terutama pada bagian tengah yang sedikit lambat dan melodius. Coda di bagian akhir sangat menonjolkan unsur virtuositas, dengan penekanan penuh energi baik pada bagian Iravati yang chordal dan sarat akan glissando maupun Aisha sebagai pengusung melodi, seakan-akan Paganini turut hadir di atas panggung memainkan biola keramatnya.

Rachmaninoff dan Romantisme Masa Silam
Bagian oscuro (gelap) pada babak pertama dimulai dengan Rachmaninoff Suite No 1 Opus 5. Karya yang didedikasikan oleh Rachmaninoff untuk Tschaikovsky ini diperdanakan oleh Rachmaninoff sendiri bersama sahabatnya, pianis Pavel Pabst. Sayang, Tschaikovsky sendiri telah satu bulan berada dalam istirahat abadi pada saat momen tersebut berlangsung. Sebuah karya Rachmaninoff muda yang kental akan romantisme, rangkaian lagu-lagu di dalam Suite ini merupakan sebuah lukisan fantasi (Fantaisie Tableaux) dari epigraf puisi karya Lermontov, Lord Byron, Tyutchev, dan Khomyakov yang dideklamasikan oleh Jajang C. Noer seperti seorang pencerita yang selalu membuat penasaran pendengarnya.

Pada “Barkarolla”, Duo Sudiarso langsung menyihir suasana menjadi sublim dan mencekam dengan geliat gelombang senja yang riuh menerjang dayung gondola. Dari kejauhan ada duka dan suka, menyuarakan nyanyian barkarolla yang diusung oleh Iravati pada nada-nada sotto voce layaknya suara cello yang hangat dan manusiawi, diimbangi oleh Aisha pada figurasi-figurasi cantik nan lincah di nada-nada tinggi. Daya magis Duo Sudiarso dalam membuat denting suara piano menjadi bernyawa membuat setiap not bermakna dan berbicara liris: Tentang romantisme masa silam yang belum tersapu oleh waktu.

Dilanjutkan dengan “Malam, Cinta”, bayang dahan yang memudar hadir dalam artikulasi arpeggio Iravati yang sangat jernih. Aisha mengicaukan suara burung bul-bul (Nightingale) yang berkembang menjadi gemuruh angin dan getaran cinta menggelora. Dialog semakin terbangun menuju klimaks dalam not-not agung dan tone besar, mengingatkan akan megahnya cinta.

Dalam “Air Mata”, Rachmaninoff mengambil motif melodi sederhana (Bb – A – G – Eb) yang didengarnya dari suara dentang bel biara Novgorod pada saat berlangsungnya upacara pemakaman. Namun Rachmaninoff mengambil puisi Tyutchev akan “Air mata manusia... Meneteslah seperti derai tetes air hujan, di alam sepi musim gugur yang sunyi dan mati” – yang malam itu dibawakan oleh Duo Sudiarso selayaknya meditasi reflektif akan matinya kemanusiaan di negeri ini. Cipta pun hening.

Ditutup oleh “Paskah”, merupakan rangkaian not-not besar yang mengambil tema dari dentang lonceng-lonceng besar di gereja-gereja Novgorod saat perayaan Paskah. Sebuah finale yang agung, Duo Sudiarso membawa seluruh warna lukisan fantasi yang diistilahkan Adorno sebagai ars inveniendi, yaitu fantasi yang bukan subyektif namun tetap berkorespondensi dengan obyek. Dalam hal ini, terjadi proses dialektis yang terus menerus antara Duo Sudiarso terhadap obyek musiknya dengan menyusun kembali secara interpretatif sebuah karya menjadi imanen dan transendental.

Penutup: Sebuah Dansa dari Masa Nan Indah
Mengenang kembali masa-masa keemasan La Belle Époque (Masa Nan Indah) dengan segala optimisme dan keelokan ornamen-ornamen Art Nouveau, kehidupan nampak begitu indah bersandingan dengan semangat joie de vivre di Paris. Pada masa inilah perusahaan pembuat instrumen Pleyel mendekati Debussy untuk membuat sebuah karya sebagai uji coba bagi harpa kromatik ciptaan mereka yang terbaru. Maka terciptalah “Danse Sacrée et Profane” (Dansa Sakral dan Dansa Duniawi, 1904) yang belakangan diaransemen oleh sang komposer sendiri untuk dua piano.


Dibuka oleh chord streams pada tangganada modal, Debussy mengangkat sebuah tema khidmat akan upacara sakral dewa-dewi Yunani Kuno dan berkembang menjadi melodi cantik yang mengingatkan akan Sarabande (dari Suite Pour le piano, 1901), dengan iringan waltz ala Gymnopédies-nya Erik Satie. Danse berakhir dengan figurasi-figurasi anggun yang mengalir laksana harpa, melambangkan sukacita duniawi yang penuh mimpi.

Sebagai penutup dari program resital Duo Sudiarso, pemilihan “Danse Sacrée et Profane” merupakan bentuk transformasi seni yang sakral, suci, keramat, menjadi cair dan memasyarakat tanpa kehilangan unsur kritisnya. Didukung oleh penampilan pujangga tari Sardono W. Kusumo yang mengekspresikan fase metamorfosis melalui gerak ragawi, Duo Sudiarso nampak menyuarakan bahwa seni tidaklah harus bersifat eksklusif l’art pour l’art (sebagaimana yang ditentang oleh Adorno), namun juga cair dan memiliki unsur mimesis, yaitu usaha seniman untuk mengangkat nilai kebenaran – dalam hal ini realitas masyarakat yang ada: Bahwa seni tidaklah berada di menara gading, namun hidup dalam masyarakat dan menyuarakan keadilan.

Terima kasih Duo Sudiarso atas sajian musik yang begitu menggugah!