Sunday, June 11, 2006

Beim Schlafengehen by Richard Strauss

Berikut ini adalah makalah akhir Psikologi di YPM ketika masih menyelesaikan jenjang pendidikan Persiapan Konservatorium tingkat 3.
Richard Strauss (1864 – 1949)
“Beim Schlafengehen”

proses kreatif dan dampak psikologis bagi saya







Makalah Akhir Psikologi PK 3 SM YPM
(Pengajar: Prof. Dr. Soeprapti S. Markam)

Disusun Oleh :

ADITYA PRADANA SETIADI






Richard Strauss (1864 – 1949)
“Beim Schlafengehen”


Beim Schlafengehen merupakan sebuah petikan lagu dari kumpulan siklus lagu Vier Letzte Lieder (Four Last Songs) yang diciptakan oleh komponis berkebangsaan Jerman, Richard Strauss pada tahun 1948, setahun sebelum ia meninggal. Beim Schlafengehen (Di Saat Tidur) sendiri merupakan lagu ketiga dalam kumpulan siklus lagu yang terdiri dari empat lagu tersebut, sementara ketiga lagu lainnya adalah Frühling (Musim Semi), September, dan Im Abendrot (Cahaya Masa Senja). Keempat lagu dalam kumpulan siklus lagu tersebut menggambarkan retrospeksi Richard Strauss di saat-saat akhir hidupnya. Lagu-lagu tersebut berbicara mengenai penghayatan makna kehidupan, kematian, dan transisi menuju “lingkaran ajaib di saat malam hari tiba”.
Sebagaimana layaknya art songs, maka lirik dalam kumpulan siklus lagu Vier Letzte Lieder adalah berdasarkan pada karya-karya puisi beberapa pujangga Jerman pilihan Richard Strauss. Di antaranya adalah Joseph Eichendorff (1788-1857) dalam lagu Im Abendrot, dan Hermann Hesse (1877-1962) dalam tiga lagu lainnya, termasuk Beim Schlafengehen.

A. Perkiraan Proses Kreatif Komposer Ketika Membuat Komposisi

Lirik dalam kumpulan siklus lagu tersebut berkaitan erat dengan proses kreatif penciptaannya. Pada tahun 1946, Strauss menemukan puisi Im Abendrot karangan Joseph Eichendorff. Nampaknya puisi ini menjadi inspirasi awal bagi Strauss untuk menciptakan sebuah lagu sebagai persiapan kematiannya. Namun setelah seorang teman memberikan kado berupa kumpulan puisi-puisi karya Hermann Hesse, Strauss memiliki keinginan untuk menambah empat lagu lagi selain Im Abendrot sehingga terbentuklah suatu kumpulan siklus lagu yang memiliki atmosfir yang sama, yaitu perpisahan terhadap kehidupan. Sayangnya, selain Im Abendrot, Strauss hanya sempat menyelesaikan tiga lagu dari kumpulan puisi Hesse. Ia telah meninggal ketika world premier dari Vier Letzte Lieder dipergelarkan pada 22 Mei 1950 oleh Philharmonia Orchestra bersama soprano Kirsten Flagstad dan konduktor Wilhelm Furtwängler.
Keunikan yang terletak pada siklus lagu ini, terutama pada lagu Beim Schlafengehen adalah kemampuan Strauss untuk membangkitkan suasana dan perasaan yang mendalam akan penghayatan tema-tema “perpisahan abadi terhadap kehidupan”. Misalnya dalam Beim Schlafengehen, pada bagian permainan solo biola yang sangat manis dan mendalam, membangkitkan suasana “prosesi lepasnya roh dari jasad dan terbang bersama sayap-sayap bebas di udara”, sebagaimana Strauss dalam komentarnya, “Saat kematian mulai mendekat, roh mulai meninggalkan jasadnya menuju suatu kehidupan yang indah dan abadi”.

B. Perasaan Saya Ketika Mendengar Lagu Tersebut

Mendengarkan Beim Schlafengehen adalah suatu pengalaman unik tersendiri karena emosi saya sangat terbawa dalam setiap lirik yang dinyanyikan oleh soprano yang membawakannya. Begitu pula kejeniusan Strauss dalam membuat komposisi orkestra lagu ini adalah tidak tertandingi. Antara soprano dan orkestra seperti terjadi suatu dialog yang sangat indah, yang memang sangat menggambarkan suasana perpisahan terhadap kehidupan.
Kekuatan lagu ini antara lain terletak pada kedalaman liriknya :

Nun der Tag mich müd gemacht,
soll mein sehnliches Verlangen
freundlich die gestirnte Nacht
wie ein müdes Kind empfangen.
Hände, laßt von allem Tun,
Stirn, vergiß du alles Denken,
alle meine Sinne nun
wollen sich in Schlummer senken.
Und die Seele unbewacht
will in freien Flügen schweben,
um im Zauberkreis der Nacht
tief und tausendfach zu leben.


C. Perubahan Faali Pada Tubuh

Pada saat mendengarkan lagu Beim Schlafengehen, tidak ada perubahan faali yang terjadi secara drastis. Semuanya terjadi secara bertahap, dimulai ketika orkestra memulai intro lagu pada register nada bass, memiliki garis melodi yang gelap membuat mood saya berubah menjadi sedikit khusuk dan konsentrasi. Kemudian pada saat bagian solo biola memainkan garis melodi yang sangat liris dan mendalam, membuat perasaan saya menjadi tenang tetapi sedikit sedih. Klimaksnya adalah pada saat soprano menyanyikan bait terakhir dari puisi lagu tersebut (Und die Seele unbewacht ...), terkadang saya suka merasa merinding dan hawa dingin terasa menjalar di sepanjang leher belakang saya.
Biasanya setelah saya mendengar lagu ini, perasaan saya menjadi tenang dan cerah, seperti yang biasa dirasakan ketika orang-orang selesai menangis. Lagu ini dapat dikatakan telah berhasil menyentuh kedalaman jiwa saya.

D. Imajinasi yang Timbul Ketika Menyanyikan Karya Tersebut

Meskipun saya seorang pianis, tetapi dua tahun lalu saya sempat mengambil kelas vokal di YPM dibawah bimbingan mezzosoprano Catharina Leimena, sehingga saya mengetahui teknik dasar vokal klasik. Oleh karena itu kadang-kadang saya suka menyanyikan lagu ini dengan iringan piano meskipun ada beberapa register nada yang terlalu tinggi untuk saya.
Dalam menyanyikan lagu ini, imajinasi yang timbul dalam benak saya adalah mengenai retrospeksi di saat-saat akhir kehidupan. Tentang seseorang berusia lanjut yang merasa bahwa sebentar lagi kematian akan segera menghampirinya dan kemudian ia berkontemplasi mengenai kehidupan setelah kematiannya, ketika Sang Pencipta mengambil rohnya dan terbang bebas dari segala kepenatan dan rasa lelah akan kehidupan, kemudian roh itu akan menyatu menuju keabadian selamanya.


Now that I feel the tiredness of the day,
my dearest longing shall
be accepted kindly by the starry night
as weary child does

Hands, cease your toiling
Head, forget all of your thoughts,
for all my senses now
are longing to sink themselves in slumber

and the unguarded spirit
will float about on untrammeled wings,
in the enchanted Circle of the Night
it may live deeply and a thousand fold

“While going to sleep”
Hermann Hesse (1877 – 1962)









DAFTAR PUSTAKA


Machlis, Joseph. The Enjoyment of Music: An Introduction to Perceptive Listening. New York: Norton & Company Inc., 1963.

McNeill, Rhoderick J., Sejarah Musik jilid 2: Musik 1760 Sampai dengan Akhir Abad ke-20. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998.

Montello, Louise. Essential Musical Intelligence. Batam: Lucky Publishers, 2004.

http://www.google.com/
http://www.aria-database.com/


Compact Disc acuan:
Richard Strauss “Vier Letzte Lieder”
Kiri Te Kanawa, soprano
Sir Georg Solti, conductor
Wiener Philharmoniker (DECCA)

No comments: