Sunday, June 11, 2006

Dari Doa Bach Hingga Gamelan Debussy

Berikut ini adalah ulasan karya-karya yang saya mainkan pada konser Young Artist Series di Kedutaan Belanda (Erasmus Huis, 10 Mei 2004).
Setiap karya musik memiliki latar belakang komposisi yang khas dan berbeda-beda. Tujuan dari setiap performer adalah menampilkannya sesuai dengan artistry yang dituntut oleh komposer yang menciptakan.


ULASAN KARYA
Oleh: Aditya Pradana Setiadi


Frederic Chopin (1810-1849)
Chopin lahir di Zelazowa Wola, dekat Warszawa, pada tanggal 1 Maret 1810. Ibunya adalah seorang Polandia dan ayahnya dari Perancis. Schumann mengatakan bahwa Chopin adalah seorang jenius. Komentar lain pun mengatakan, “Jika Liszt adalah public’s pianist, maka Chopin adalah pianist’s pianist”. Kemahirannya dalam bidang sastra juga membuatnya dijuluki sebagai penyair piano. Ia meninggal karena penyakit TBC pada usia 39 tahun.
Semasa hidupnya Chopin menciptakan 2 set Etude, yaitu 12 Etude opus 10 dan 12 Etude opus 25. Setelah itu ada 3 Etude yang dipublikasikan setelah ia wafat (opus posthumous). Seluruh Etude Chopin memiliki problem pianistik khusus, apakah itu pada teknik ataupun musikalitas. Sepertinya Chopin adalah orang yang pertama kali menulis Etude yang memiliki musikalitas, untuk ditampilkan di muka publik, tanpa harus menampilkan kegunaan Etude yang mendasar, yaitu ‘mendidik’. Jadi lebih terdengar seperti sebuah lagu, padahal itu adalah Etude.

Etude op. 25 no. 12
Banyak orang yang menamakan Etude ini sebagai Ocean Etude, karena jangkauan nada- nadanya yang luas dan besar, naik dan turun seperti layaknya ombak-ombak di laut. Di sisi lain, seorang ahli musik James Huneker, menyatakan bahwa Etude op. 25 no. 12 memiliki makna yang lebih dalam daripada sekedar ‘latihan akord untuk dua tangan’. Etude ini adalah megah dan besar, dalam dalam setiap gelombangnya muncul jiwa yang kuat dari seorang Chopin. Suatu musik yang penuh perasaan tetapi juga memiliki watak yang keras. Ini adalah sebuah epik untuk piano. Chopin yang ada disini adalah Chopin Sang Penakluk (Chopin the Conqueror).






Alexander Scriabin (1872-1915)
Pianis dan komposer bernama lengkap Alexander Nikolayevich Scriabin ini dilahirkan di Moscow, 6 Januari 1872. Ia berasal dari keluarga aristokratis berlatar belakang militer. Oleh karena itu pada awalnya ia bersekolah di sekolah pendidikan kemiliteran. Namun keinginan untuk mempelajari musik yang lebih besar membuatnya masuk ke Moscow Conservatory. Salah satu gurunya adalah pianis dan komposer terkenal Anton Arensky. Pada tahun 1892 ia lulus dengan mendapat 2nd gold medal (1st gold medal diraih oleh Rachmaninoff). Kemudian ia memulai karirnya sebagai concert pianist. Namun demikian ia termasuk murid yang buruk untuk pelajaran teori, bahkan ia pernah gagal dalam salah satu ujian teori. Namun demikian pada usia muda ia sudah dapat membuat karya dengan style Chopin, komposer yang amat berpengaruh pada karya-karyanya.
Pada tahun 1900 ia terjun ke sebuah aliran Teosofi yang percaya kepada hal-hal berbau mistis, dan itu sangat berpengaruh pada karya-karyanya, antara lain filosofinya tentang harmoni yang disebut dengan “mystic chord”. Oleh karena itu, pada masa itu orang tidak pernah memainkan karya Scriabin karena dianggap sebagai pemujaan kepada setan. Namun sejak pianis Vladimir Horowitz memperkenalkan sonata-sonata Scriabin melalui sebuah konsernya di Carnegie Hall New York, pandangan masyarakat mengenai musik Scriabin telah berubah drastis. Karya-karya Scriabin telah menjadi standar repertoar internasional dan banyak pianis yang memainkannya hingga sekarang.

Etude op. 8 no. 2
Scriabin menguras banyak tenaga dan melakukan beberapa revisi terhadap 12 Etude opus 8 (diselesaikan tahun 1894). Etude-etude ini memuat berbagai teknik virtuositas yang melelahkan dan variasi-variasi yang menghasilkan warna serta bahasa musik yang beraneka ragam, mengingatkan kembali kepada khasanah musik zaman Romantik akhir.
Etude op. 8 no. 2 memiliki karakter Oriental yang eksotik, mistik, dengan ritme yang kaya serta pembawaan suasana ‘a capriccio’ (tidak dapat diduga), membuat Etude ini menjadi salah satu contoh dari tipikal watak musik Scriabin yang rata-rata kompleks dan membutuhkan konsentrasi tinggi untuk dapat memainkannya.





Johann Sebastian Bach (1685-1750)
Bach adalah komposer era barok yang amat penting. Selain karena musiknya mempunyai alur polifoni dan struktur harmoni yang kompleks, komposer asal Jerman ini juga mendedikasikan musiknya hanya untuk Tuhan. Oleh karena itu musiknya selalu terdengar khusuk dan hormat, seperti sebuah doa pada Yang Maha Kuasa. Walaupun sederhana, musik Bach selalu penuh dengan harmoni-harmoni yang indah dan tema-tema yang berkesinambungan.
Bach membuat 2 set buku WTK, masing-masing berisi 24 prelude dan fuga dari semua tangga nada. WTK memang dibuat untuk mempopulerkan sistem tuning, dimana pada 1 oktaf terdiri dari 12 nada, termasuk nada kromatik.

Wohltemperiertes Klavier I no. 11
Tempo yang akurat serta melodi yang mengalir menjadi kekuatan dalam karakteristik WTK I no. 11. Bila Prelude yang banyak dihiasi oleh trill dapat diasumsikan sebagai sifat feminin, maka Fuga yang memiliki garis melodi lebih tegas serta tema-tema yang jelas, dapat dinyatakan sebagai sifat maskulin dari satu kesatuan WTK I no. 11 ini.






Willem Pijper (1894-1947)
Pijper lahir di Zeist, dekat Utrecht, Belanda pada tanggal 8 September 1894. Ia berguru pada Johan Wagenaar di Utrecht Academy of Music, kemudian belajar di Amsterdam Conservatoire dan Rotterdam Conservatoire. Walaupun dibesarkan dalam keluarga penganut Calvinist, ia cepat menyerap pelajaran musiknya dengan baik. Di dalam komposisinya ia mengekspresikan ritme yang menggairahkan dalam keserasian menarik.

Sonatina no. 3 (1925)

Diciptakan pada tahun 1925. Walaupun bernuansa kalem dan misterius, kelincahan sempat hadir di bagian tengah. Banyaknya perubahan tempo, ritme, serta harmoni pada karya ini mempertebal ciri khas musik modern.






Franz Liszt (1811-1886)
Komponis Hongaria yang lahir pada tanggal 22 Oktober 1811 ini adalah komponis dan pianis yang paling produktif pada masanya. Ia mulai belajar piano pada usia 7 tahun di bawah bimbingan ayahnya sendiri. Kemudian pada usia 10 tahun ia pindah ke Vienna, dimana ia meneruskan pelajaran piano pada Carl Czerny dan komposisi pada Salieri, yang juga adalah guru dari Beethoven. Pada usia 12 tahun ia sudah dikagumi dunia dengan julukan the virtuoso pianist.
Dalam perjalan hidupnya, Liszt membuat sekumpulan lagu yang disatukan dalam buku Années de Pèlerinage (atau Tahun-tahun Berziarah, terdiri dari dua jilid utama, bertajuk Swiss dan Itali) sebagai sebuah refleksi terhadap kehidupannya yang sangat duniawi, dimana pada akhirnya ia menyerahkan dirinya demi kemuliaan Tuhan dengan menjadi seorang biarawan.

Sonetto 104 del Petrarca (Années de Pèlerinage : Italie)
Karya ini adalah sebuah puisi yang sangat indah. Liszt terispirasi oleh Soneta karya pujangga besar Francesco Petrarca, yaitu mengenai perang batin yang berkecamuk dalam hati seorang Petrarca yang jatuh cinta kepada kekasihnya, Laura. Kegundahan hati Petrarca akan cinta tampak dalam Soneta tersebut,

Tidak kutemukan kedamaian dalam peperangan ini,
Takut dan harapan, terbakar dan membeku kembali,
Gunung mencoba untuk meraih langit, lalu wajahku menunduk mencium bumi,
Walaupun seluruh dunia kugenggam, tak suatu apa yang kudapat

Cinta tidak membiarkanku lepas, tidak juga menahan
Dalam kebingungan, ia tidak menahanku tidak pula akan melepaskan
Ia tak membebaskanku, namun takkan merantai kebebasanku
Kebahagian tak terizinkan, maupun membiarkan kepedihanku sirna

Dalam kebutaan kulihat keindahan, walaupun bisu aku meratap,
Kuhujat keberadaanku, namun ia tetap ada
Kubenci diriku untuk cinta yang lain

Aku dibesarkan dengan kesedihan, dan dengan air mata aku bergembira,
Bagiku hidup dan mati sama saja
Demikianlah, Nona, pengakuan ini kupersembahkan untukmu.

Sonetto 104 del Petrarca merupakan salah satu mahakarya diantara karya-karya Liszt karena sifatnya yang sangat artistik dan puitis. Sonetto ini juga membangkitkan ciri khas suasana zaman Romantik yang sangat kental sehingga para ahli menggolongkan karya ini sebagai Romantic keyboard tone-poem. Di lain sisi, banyak yang menganggap karya ini sebagai ungkapan terdalam dari seorang Liszt yang rindu akan kehadirat Tuhan dalam hatinya.






Claude Debussy
Debussy lahir di Saint-German-en Laye pada 22 Agustus 1862. Pada usia 11 tahun ia masuk ke Paris Conservatoire, dimana ia belajar harmoni dengan Durand dan Lavignac, komposisi dengan Guiraud, dan piano dengan Marmontel. Persahabatannya dengan Claude Monet, pelukis impresionis, membuat Debussy memasukkan warna dan nuansa lukisan impresionis tersebut dalam musiknya, sehingga ia dijuluki “The Father of Impressionist”. Kendati demikian ia lebih suka dijuluki ‘simbolis’ daripada ‘impresionis’.
Pada tahun 1899, Debussy untuk pertama kalinya mendengarkan musik gamelan pada International Exposition di Paris, yang kemudian berpengaruh pada beberapa komposisinya, menggunakan unsur-unsur gamelan. Ia meninggal karena kanker pada 25 Maret 1918.

Prelude (Pour le Piano)
Prelude yang diambil dari Suite berjudul ‘Pour le Piano’ (1901) merupakan reaksi pertama Debussy terhadap musik gamelan. Selain itu, kejeniusan Debussy dalam memadukan antara dua format musik yang berbeda, yaitu musik gamelan dan gaya komposisi Barok ala Bach tampak dalam karya ini. Format musik yang pertama adalah gaya Barok, yaitu terdapat pada cadenza yang biasa digunakan sebagai penutup sebuah Prelude, serta format organ toccata sebagai warisan agung era Bach yang menjiwai hampir seluruh karya ini.
Format kedua adalah gamelan. Penggunaan tangganada penuh (whole-tone scale) yang menjiwai hampir seluruh Prelude merupakan pendekatan Debussy terhadap jenis tangganada pentatonik slendro. Lagu ini dimulai dengan ritme yang keras serta memiliki siklus yang berkali-kali diulang dengan perantaraan bunyi gong, layaknya sebuah orkestra gamelan. Walaupun begitu, di bagian tengah sempat terdengar motif Tari Pendet dengan para penarinya yang menaburkan bunga nan misterius.

No comments: