Thursday, July 19, 2007

Mengenang Sutradara Njoo Han Siang

Kiri-kanan: Bpk. Amoroso Katamsi, Mbak Aning Katamsi Asmoro, Mas Slamet Rahardjo Djarot, Aditya P. Setiadi






"Njoo Han Siang, Pertemuan Dua Arus" adalah tema dari perayaan pertemuan untuk memperingati 21 tahun meninggalnya sutradara besar Njoo Han Siang yang diselenggarakan oleh CSIS (Centre for Strategic and International Studies) bersama dengan PT. Inter Pratama Studio Laboratorium (Interstudio).


Kamis, 18 Januari 2007.

Dalam acara mengenang sutradara besar Njoo Han Siang di gedung CSIS, saya berkesempatan untuk mengiringi Mbak Aning Katamsi membawakan beberapa lagu seriosa Indonesia. Rupanya acara itu diprakarsai oleh Mas Slamet Rahardjo Djarot yang juga merangkap sebagai ketua panitia. Beliau ternyata sangat menyukai genre lagu seriosa Indonesia (yang kini telah semakin jarang peminatnya) karena tantenya yang juga adalah penyanyi seriosa. Oleh karena itu, pada saat saya sedang coba piano di gedung CSIS itu, beliau sempat cerita pada saya bahwa ia sengaja menghubungi Mbak Aning untuk membawakan beberapa lagu seriosa di antara kata-kata sambutan saat acara berlangsung nanti. Ia ingin agar dalam kesempatan itu, lagu-lagu yang dibawakan juga dapat mewakili nasionalisme alm. Njoo Han Siang yang selama ini dikenal sebagai seseorang yang sangat cinta pada tanah air Indonesia. Selain itu, ayahanda Mbak Aning (Bapak Amoroso Katamsi – bintang film, pernah memerankan tokoh Soeharto pada film G 30S/PKI) juga merupakan salah satu undangan yang akan hadir. Jadi dalam satu acara, ada ayah-anak yang mewakili masing-masing genre artistik yang mereka dalami.

Lagu-lagu seriosa yang dibawakan antara lain adalah Kisah Mawar di Malam Hari, Embun, dan Semangat. Sejak kompetisi vokal Bintang Radio telah lama vacum, mungkin lagu-lagu itu sudah jarang diperdengarkan di khalayak ramai. Namun interpretasi Mbak Aning sore itu mampu membuat para penonton terpukau dan bergeleng-geleng kepala.

Kisah Mawar di Malam Hari yang diciptakan oleh Iskandar, syairnya digubah oleh HME Zaenuddin. Diantara semua lagu, mungkin lagu ini adalah yang paling familiar di telinga para penonton. Melodinya yang liris dikemas dalam suatu iringan piano yang dramatis. Frase-frase dalam lagu ini sangat panjang, menuntut suatu konsentrasi dan kontrol nafas yang ketat. Menurut saya, baru alm. Ibu Pranawengrum Katamsi dan Mbak Aning sendiri yang bisa menjadikan lagu ini menjadi sedemikian pathos – patetico.

Embun yang diciptakan oleh GRW Sinsoe juga memiliki melodi liris dan dramatis walaupun nuansanya berbeda dari Kisah Mawar. Lagu ini diawali oleh introduksi minor, namun berakhir pada mayor. Warna suara Mbak Aning yang bening menjadikan lagu ini begitu dekat dengan syairnya, "Engkaulah embun, turun dinihari, di kala rumput kering, melayu,".

Lagu terakhir adalah Semangat. Lagu ini dikarang oleh RAJ Soedjasmin, sedangkan syairnya adalah puisi Chairil Anwar, yaitu "Aku ingin hidup seribu tahun lagi". Diantara ketiga lagu yang dimainkan, lagu ini merupakan yang tersulit dalam segi interpretasi. Banyak sekali perubahan tempo dan mood secara mendadak. Pada awalnya (sebelum berlatih dengan Mbak Aning) saya sempat tidak mengerti bentuk lagunya, namun setelah mendengarkan Mbak Aning menyanyi, ternyata lagunya tidak seaneh yang saya kira. Itulah "Semangat".

Acara berakhir sekitar pukul delapan malam dan dilanjutkan dengan gala dinner. Semoga sutradara Njoo Han Siang dapat terus dikenang oleh para pecinta perfilman Indonesia. Ia adalah salah satu icon bangkitnya nasionalisme dalam perfilman kita.


Kiri-kanan: Mas Slamet Rahardjo, Aditya P Setiadi, Om Henky Solaiman

2 comments:

LiLa LaLa e-StoRe said...

Ditya, saya boleh tau CPnya mbak Aning Katamsi ga? suami saya ada project lagu2 bernuansa islami.
Trims ya, Ibu ella @ Jakarta.

Pianistaholic said...

Bu Ella, mungkin Ibu bisa menghubungi saya melalui email di: pradanasetiadi@yahoo.com agar dapat lebih leluasa memberikan informasi. Terima kasih.