Wednesday, July 18, 2007

Sebuah Tulisan tentang Eksistensi Musik Klasik di Indonesia

KOMODIFIKASI PERGELARAN MUSIK KLASIK
DI INDONESIA


Disusun Sebagai Tugas Akhir
Mata Kuliah Antropologi Kesenian


ADITYA PRADANA SETIADI
0903057017




Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Indonesia
2005



---------------------------------------------------------------






Selayang Pandang:
Pergelaran Musik Klasik di Indonesia




Vissi d’arte, vissi d’amore... (I lived for art, I lived for love)
Tosca, karya Giacomo Puccini (1858-1924)





Sebuah fenomena unik telah terjadi di dunia musik Indonesia. Fenomena ini adalah maraknya pergelaran musik klasik, dan ternyata maraknya pergelaran tersebut disambut dengan meningkatnya animo masyarakat untuk menyaksikan pergelaran musik klasik tersebut. Hal ini tentu saja merupakan sebuah fenomena yang unik, karena perkembangan pergelaran musik klasik yang cukup pesat ini terjadi di tengah berkembang dan maraknya musik-musik populer.
Beberapa di antara pergelaran musik klasik yang bermunculan saat ini ternyata memiliki misi, tujuan, serta idealisme yang beragam. Di sinilah awal dari timbulnya beberapa pertanyaan untuk menguak apa yang sebenarnya terjadi pada fenomena musik klasik di Indonesia. Di satu sisi, bisa jadi kemunculan beberapa pergelaran musik klasik serta banyaknya event musik klasik yang semakin banyak peminatnya, murni disebabkan idealisme musisi-musisinya dalam melakukan sosialisasi musik klasik. Beberapa pergelaran musik klasik memang memiliki misi dan tujuan untuk memperkenalkan musik klasik pada masyarakat. Namun di sisi lain, fenomena ini dapat juga hanyalah bagian dari budaya massa yang menjadi ciri globalisasi di bidang musik. Hal ini terjadi jika pada kenyataannya musik klasik hanya digunakan sebagai bahan komoditas industri hiburan yang bersifat ekslusif.
Sebagai contoh, Twilite Orchestra di Indonesia tidak menunjukkan arah orientasi musiknya secara jelas. Dalam beberapa pergelarannya, Twilite Orchestra membawakan lagu-lagu dari genre klasik dan popular. Hal ini menimbulkan suatu ambiguitas, karena jika tujuan awal dari Twilite Orchestra adalah ingin memasyarakatkan musik klasik dalam format orkestra secara benar pada khalayak umum, namun di sisi lain orkestra tersebut juga menampilkan musik-musik di luar aliran klasik, maka pada saat itu juga telah terjadi suatu “pemiskinan” musik orkestra. Begitu pula dengan konser-konser musik klasik bertajuk “The Bel Canto Vocal Music Series” yang diadakan oleh Bel Canto Society pada tahun 2000 dan 2001, dalam beberapa konsernya membawakan lagu-lagu popular seperti lagu karangan grup musik ABBA dan The Carpenters. Selain itu pergelarannya diadakan secara rutin di Hotel Dharmawangsa, salah satu hotel eksklusif di Jakarta, dengan mematok harga tiket yang sangat tinggi, sehingga pergelarannya hanya dihadiri oleh kalangan tertentu saja.
Berdasarkan gambaran diatas timbul suatu pertanyaan, apakah pergelaran musik klasik di Indonesia kini telah mengalami proses komodifikasi? Bagaimana dengan pendapat Adorno bahwa sosialisasi musik klasik dengan cara seperti itu merupakan suatu bentuk degradasi, sementara di sisi lain Benjamin menyatakan bahwa justru sosialisasi seperti itu yang dapat membuat musik klasik dapat dikenal oleh masyarakat luas? Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka tulisan ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam lagi mengenai fenomena pergelaran musik klasik di Indonesia. Dengan menggunakan kerangka pemikiran Theodor W. Adorno dan Walter Benjamin, maka diharapkan tulisan ini dapat memaparkan permasalahan komodifikasi yang terjadi seputar pergelaran musik klasik di Indonesia.



Tinjauan Teoritis


Komodifikasi pergelaran musik klasik merupakan sebuah degradasi terhadap nilai-nilai estetis yang terkandung di dalamnya. Jika ditinjau pada hakikatnya, karya-karya seni, entah apa aliran dan gayanya, merupakan ungkapan hati dan keprihatinan si seniman berdasarkan pengalamannya sendiri dalam konteks sejarahnya.[1] Dalam karyanya, seniman mau mengkomunikasikan perasaan dan keprihatinannya pada penikmat seni. Dalam hal ini, filsuf dan musikolog Jerman dari Mazhab Frankfurt, Theodor W. Adorno memandang bahwa seni dan estetika sangat berkaitan dengan pandangan filsafat dan kedudukannya dalam Mazhab Frankfurt dengan teori kritisnya. Estetikanya bercirikan analisis teknis (interpretasi sangat kuat), apologetis (antitesis terhadap industrialisasi), dan kritis (melihat kelayakan karya seni)[2]; dapat diduga berkaitan dengan masalah pengungkapan kedok-kedok ideologis, seni yang dimanipulasi, dan seni yang mengangkat kontradiksi-kontradiksi sosial (menunjuk pada realitas sosial) yang bisa memancing proses penyadaran masyarakat.
Adorno menganggap bahwa seni mengandung dua muatan sekaligus, yaitu unsur pengalaman estetis dan mimesis, atau keindahan dan kebenaran.[3] Unsur estetis atau keindahan tampak dalam kehendak seniman untuk mengangkat pengalaman estetisnya yang mendalam ke dalam karya seninya, hingga dapat ditangkap oleh penikmat seni. Sedang unsur mimesis tampak dalam usaha seniman untuk mengangkat nilai kebenaran, yaitu realitas masyarakat yang ada. Adorno menekankan bahwa unsur mimesis ini haruslah bersifat transformatif. Maka Adorno memproklamasikan “seni untuk masyarakat”, dalam arti seni yang bersifat sosial material. Hal ini seseuai dengan kutipan berikut:

“Karena dalam seni kita tidak semata-mata berhadapan dengan permainan-permainan (playthings) betapapun permainan-permainan itu menyenangkan dan berguna, tapi... dengan pewahyuan kebenaran.”[4]

Adapun tugas seniman menurut Adorno adalah untuk secara dialektis mentransformasikan perkembangan teknis dalam profesinya (sebahai seniman), membalikkan fungsi seni dari alat-alat ideologis menjadi alat-alat kritis pembebasan manusia. Berdasarkan penjelasannya ini, maka pemahaman Adorno mengenai musik lebih bersifat Messianistik, yaitu bersifat pembebasan dari segala belenggu ideologis yang meliputinya.



Debat Estetika Adorno dan Walter Benjamin[5]

Debat antara Adorno dan Walter Benjamin ini berhubungan dengan sifat Benjamin yang dijuluki Janus Face[6], yaitu sifatnya yang selalu “bermuka dua” (tidak konsisten) dalam filsafatnya. Hal ini mengundang reaksi dari Adorno yang menimbulkan debat berkepanjangan. Pokok-pokok debat tersebut adalah:

1. Tentang Zaman Prasejarah Modernitas[7]

Dalam tanggapannya, Adorno mengatakan bahwa zaman prasejarah modernitas bukanlah suatu zaman emas seperti dikatakan Benjamin, namun merupakan “neraka”. Ia mengkritik Benjamin yang menganut surealisme dalam melihat realitas sosial. Menurutnya, Benjamin membayangkan realitas sosial sebagai “ketidaksadaran dan mimpi kolektif”, seakan realitas sosial yang obyektif itu hanyalah hasil mimpi subyek kolektif masyarakat.
Menurutnya, “teori citra dialektis” Benjamin tak bisa membedakan antara realitas obyektif dan realitas subyektif. Ketidakadilan, keterasingan, penindasan, dan hubungan-hubungan kekuasaan yang ada bukanlah mimpi, melainkan realitas yang nyata dan lahirlah yang terwujud dalam bentuk fetisisme komoditas. Fetisisme komoditas ini bukanlah sekadar mimpi yang merupakan fakta kesadaran, melainkan fakta dialektis yang seharusnya justru menghasilkan kesadaran.
Menurut Adorno, Benjamin gagal menangkap fakta ganda, yaitu emansipasi sosial dan regresi sosial. Benjamin hanya melihat unsur emansipasinya saja tanpa mengenal fakta negatif realitas sosial. Akibatnya, Benjamin menganggap zaman prasejarah modernitas sebagai “zaman emas” (prafigurasi atau mimpi tentang masyarakat tanpa kelas). Menurutnya, zaman prasejarah modernitas itu bersifat negatif sebagaimana rencana awal Benjamin.

2. Hancurnya “Aura” (Pamor) Seni

“Aura” seni adalah fungsi kultus dan ritual karya seni, atau yang sering disebut juga pamor seni. Contohnya adalah suatu tarian sakral dalam suatu upacara keagamaan atau suku (zaman yang menekankan irasionalitas) dimana setiap orang ikut berperan dalam upacara tersebut.[8] Benjamin berusaha meneliti sejarah seni dengan konsep kunci “aura”. Dalam esainya Kuntswerk, ia melihat bahwa seni tradisional memiliki pamor atau aura seni yang berfungsi sebaai legitimasi kultural. Maka seni dan orientasinya tak pernah terlepas dari tradisi.
Namun dengan munculnya Renaissance, unsur rasio mendapatkan tekanan dan seolah menggeser kedudukan dunia irasional. Maka sejak itu dunia mengalami sekularisasi. Musik pun tak luput dari proses sekularisasi itu. Basis-basis kultis dan ritual musik terpangkas. Aura seni pun hilang. Sementara itu industri seni pada zaman modern semakin gencar. Banyak barang seni yang direproduksi secara massal hingga seni semakin kehilangan nilai kesakralannya dan jatuh menjadi sarana hiburan saja.
Namun demikian, menurut Benjamin pada zaman modern muncul gerakan-gerakan yang mau memandirikan seni, yaitu gerakan l’art pour l’art.[9] Ia juga yakin bahwa seni itu tetap membutuhkan basis, dan pada saat itu basis tersebut adalah politik. Setelah kehilangan auranya dalam ritual dan kultus, seni memiliki fungsi politik, yaitu sebagai sarana komunikasi politik.
Adorno sangat setuju dengan analisis Benjamin tentang hilangnya aura seni. Aura seni pada zaman modernitas[10] yang didukung dengan adanya industri budaya memang telah hilang. Namun hal yang tak disetujuinya adalah anggapan bahwa usaha membangun otonomi seni merupakan usaha kontra revolusi terhadap zaman modern. Menurut Adorno, Benjamin gagal melihat akibat ganda, yaitu rasionalisasi dalam teknik produksi seni dan rasionalisasi dalam gerakan l’art pour l’art. Memang rasionalisasi l’art pour l’art telah membebaskan seni dari sifat afirmatifnya terhadap tradisi. Namun seni yang kritis haruslah membebaskan diri dari politik.
Adorno juga mengatakan bahwa Benjamin tak melihat akibat negatif dalam seni pasca-auratik yang telah kehilangan auranya. Maka Benjamin masih optimis bahwa seni bisa menjadi sarana komunikasi politik. Menurut Adorno, seni pasca-auratik itu justru telah dimanipulasi untuk tujuan-tujuan ekonomis dan komersial, propaganda ideologis, serta memapankan penindasan-penindasan. Seni pasca-auratik telah menjadi komoditas dalam kebudayaan massa. Maka seni tidak lagi merupakan hasil pengalaman estetis, melainkan justru menjadi obyek manipulasi mekanisme pasar. Musik pun terkena fetisisme komoditas, dimana “nilai gunanya” dilepaskan dan diganti dengan “nilai tukar”. Adorno melihat fakta ini terutama dalam seni musik, baik dalam musik “serius” maupun musik “ringan”.[11] Musik menjadi barang yang bisa dipertukarkan.
Dengan membanjirnya hasil-hasil seni murahan itu, maka daya apresiasi masyarakat terhadap seni pun tumpul. Adorno memberikan contoh bahwa dengan membanjirnya musik pop dan hits, daya kritis pendengaran menurun. Mereka semakin terbiasa dengan lirik-lirik vulgar dan rumusan yang serba mekanis dan pasif. Para pendengar tidak lagi childlike, namun justru menjadi childish dengan daya apresiasi yang rendah.


Kemerosotan dalam Pendengaran

Menurut Adorno, dengan terjadinya monopoli peredaran musik oleh kaum borjuis, masyarakat menjadi korban dari perdagangan budaya ini. masyarakat dibanjiri dengan jenis-jenis musik keras, tak punya nilai seni, musik barbar, yaitu musik pop, hits, jazz dan sebagainya, yang oleh Adorno disebut sampah. Tentang hal ini Adono menulis:

“Masalah ini bukan hanya bahwa pendengaran masyarakat dibanjiri oleh musik-musik keras dan pop sehingga bentuk-bentuk ekspresi musik lain tak diterima, dan digolongkannya sebagai ‘musik Klasik’ (kuno dan tradisional) berdasarkan katgori yang sewenang-wenang. Dengan membanjirnya musik keras dan pop itu yang hadir di manapun dan kapanpun, perspektif dan sikap kritis masyarakat menjadi tumpul.”[12]

Semua proses produksi diawasi ketat oleh kaum borjuis dan harus melewati prosedur mereka. Hal ini selain semakin mengukuhkan manipulasi kaum borjuis, juga membuat telinga pendengar menjadi tumpul dan cenderung menikmati musik secara hedonis. Pendengar membiarkan dirinya didikte oleh lirik-lirik vulgar yang mekanistik, diulang-ulang dan membuat pasif. Akibatnya telinga pendengar selalu menjadi tidak kritis dan afirmatif saja. Hal ini ditunjukkan dengan respon pendengar yang stereotip terhadap semua jenis musik. Adorno bahkan mengatakan bahwa pendengar tak bisa membedakan lagi antara bagaimana memberi reaksi terhadap Simfoni Ketujuh karya Beethoven dengan reaksinya terhadap sepotong bikini. Bahkan lebih parah lagi, masyarakat tak bisa membedakan cara apresiasi antara musik-musik yang menurut Adorno “musik ringan” dan “musik serius”[13] yang diberi label “klasik”.[14]


Musik Ideal Menurut Adorno

Secara filosofis Adorno mengungkapkan musik yang ideal dan tak mengakui arus masyarakat begitu saja. Kriteria musik yang ideal baginya tentu saja yang berlawanan dengan musik yang dikritiknya seperti yang telah dibahas diatas. Ia mengharapkan musik yang otonom yang tidak dimanipulasi oleh kelompok manapun. Ia juga mensyaratkan idealisme musik yang tak hanya mengikuti selera pasar yang dibuat untuk hanya untuk dikonsumsi dan mengikuti selera orang banyak agar mendatangkan untung secara ekonomis.[15] Dalam hal ini ia menolak musik populer yang menurutnya tidak kreatif dan mendangkalkan daya apresiasi telinga pendengar.
Adorno juga tak begitu antusias dengan musik konser yang secara besar-besaran ditampilkan di gedung pertunjukkan musik dengan bnyak pendengar yang bersifat hedonis. Ia justru memuji musik kamar (chamber music) yang ditunjukkan hanya untuk beberapa pendengar, dan hanya didukung tiga atau empat pemain dengan masing-masing jenis alat musiknya. Menurut Adorno, di sinilah nilai estetis sebuah musik sangat diperhatikan tanpa mempertimbangkan selera pasar. Menurutnya, musik harus mempunyai nilai pendidikan dan kekritisan dengan mengungkapkan kontradiksi-kontradiksi yang ada dalam masyarakat. Adorno juga mengatakan:

“Musik yang ingin mendapatkan haknya untuk tetap ada (exist) saat ini, dalam arti tertentu harus mempunyai ciri pengetahuan (character knowledge). Musik secara murni harus mengungkapkan masalah-masalah yang ada dalam materinya, yaitu kenyataan bahwa materi itu tak pernah bersifat alami, melainkan dihasilkan oleh perjalanan sosio-historis. Kesimpulan yang ditemukan musik adalah seperti sebuah teori: postulat-postulat sosial diterapkan dalam musik, yang hubungannya dengan tindakan praksis mungkin susah untuk dimediasikan, dan yang tak mudah direalisasikan.”[16]




Pergelaran Musik Klasik: Sebuah Komodifikasi



Pergelaran musik klasik telah ada di Indonesia sejak awal zaman kemerdekaan. Pada saat itu, pergelaran-pergelaran musik klasik tersebut diadakan secara sederhana tetapi dengan tidak mengurangi makna dan hakikatnya sebagai sebuah pertunjukkan seni. Sumber daya musisi-musisi yang berkiprah saat itu pun memiliki kualitas yang sangat baik, bahkan luar biasa. Misalnya pada sekitar tahun 1960 sampai 1970, pergelaran musik klasik di Indonesia diramaikan dengan resital atau konser dari musisi klasik Indonesia bereputasi internasional, seperti pianis Iravati M. Sudiarso[17], atau mezzosoprano Catharina W. Leimena[18].
Kendati pergelaran musik saat itu masih dapat dikatakan langka, namun pada setiap pertunjukkan, terdapat konsistensi dari para musisinya untuk menampilkan karya-karya klasik tersebut sesuai dengan literatur dan standarisasi yang ada.[19] Misalnya untuk tidak menggunakan sound-system atau pengeras suara yang terkadang malah akan merusak warna bunyi dari alat-alat musik yang dimainkan. Selain itu repertoar yang dibawakan dalam setiap pementasan adalah musik yang bersifat fine art, seperti karya-karya dari Beethoven, Mozart, Schumann, Liszt, atau Chopin. Ada juga yang membawakan karya-karya kontemporer komponis Indonesia seperti Trisutji Kamal, Slamet Abdul Syukur, atau Jazeed Djamin. Ketika itu pementasannya biasa dilakukan di gedung-gedung kesenian, seperti Graha Bhakti Budaya, Gedung Kesenian Jakarta, maupun auditorium pusat kebudayaan asing seperti Erasmus Haus dan auditorium CCF. Gedung-gedung tersebut memiliki akustik yang sangat baik sehingga untuk pementasan musik klasik yang bersifat akustik tidak diperlukan sound-system. Harga tiket pertunjukkan pada saat itu tidak terlalu mahal.[20]
Kini pergelaran musik klasik sudah mendapat apresiasi yang lebih luas dalam masyarakat. Hal ini dapat terlihat dari sering diadakannya pergelaran musik klasik, baik di pusat-pusat kebudayaan, gedung kesenian, ballroom hotel, sampai pada mal-mal.



Pergelaran Musik Orkestra di Indonesia

Musik orkestra pada awalnya sangat identik dengan musik klasik. Dikatakan identik mengingat banyak sekali komposisi musik klasik karya komposer-komposer dunia dibuat menggunakan format musik orkestra. Para komposer klasik tersebut dalam membuat komposisi menggunakan format musik orkestra bukanlah sekadar membuat komposisi tanpa makna. Banyak sekali makna yang terkandung dari berbagai komposisi karya komposer tersebut, yang merupakan representasi dari inspirasi dan ekspresi seorang komposer. Dengan menggunakan orkestra sebagai wahana atau medium berekspresi inilah yang sebenarnya merupakan spirit dari orkestra dan musik orkestra.
Berkaitan dengan ekspresi dan kreasi beberapa orkestra yang banyak bermunculan akhir-akhir ini menjadi ekspresi dan kreasi sebagai bagian dari tujuan serta misi sebuah orkestra. Selain digunakan sebagai medium berkespresi dan berkreasi, beberapa orkestra di tanah air juga memiliki misi dan tujuan lain. Seperti reproduksi karya seni ke masyarakat sehingga diharapkan masyarakat dapat berperan terhadap perkembangan karya seni. Selain itu ada pula musisi orkes yang hanya ingin menggunakan orkesnya sebagai media berkreasi. Nampaknya orkes yang hanya menampilkan musik-musik populer yang diaransemen ke dalam format musik orkestra yang sekarang ini menarik banyak penonton untuk menikmati pergelaran musik orkestra. Dalam masyarakat yang terkonstruksi budaya populer variasi yang unik dalam sebuah lagu, lagu yang diaransemen menggunakan orkestra merupakan sisi menarik tersendiri. Maka tidaklah heran bila masyarakat tertarik untuk menikmati berbagai pergelaran musik orkestra.
Pada kenyataannya dibalik maraknya pergelaran musik orkestra di Indonesia, juga menunjukkan ketidakkonsistenan orkestra terhadap misi dan tujuan orkes. Faktor utama yang menyebabkan hal tersebut adalah keterbatasan dana dan ketiadaan dukungan permanen dari pemerintah yang sebenarnya sangat dibutuhkan bagi eksistensi sebuah orkes. Kendala inilah yang memaksa musisi orkes menempuh berbagai strategi guna merealisasikan tujuan dan misi orkes disamping mencari tambahan finansial. Strategi ini diantaranya mencari dukungan dari sponsor ataupun berusaha mereproduksi materi sekaligus karya seni melalui sosialisasi ke masyarakat. Oleh karena itu, para musisi terpaksa berkompromi dengan selera musik populer agar dapat lebih mudah mendapat dukungan untuk merealisasikan misinya tersebut. Akibat dari kompromi ini maka kecenderungan musik yang ditampilkan dalam berbagai orkestra adalah musik kreasi meskipun masih ada beberapa usaha untuk menampilkan komposisi klasik dalam beberapa pergelaran musik tersebut.
Dari gambaran diatas, terlihat bahwa orkestra terpaksa untuk mengikuti strategi komodifikasi dalam pergelaran musik klasik. Hal ini terjadi karena adanya tuntutan dari pihak sponsor sehingga orkestra maupun musisinya tidak bisa bebas untuk mengekspresikan bahasa musik mereka pada masyarakat karena dibatasi oleh adanya struktur komoditas dari pihak sponsor. Akibat dari hal tersebut, tidak hanya berdampak terhadap terbatasnya reproduksi karya klasik yang memiliki makna ke masyarakat, namun juga berdampak pada musisinya dan individu yang terlibat dalam orkestra. Dampak yang menimpa orkestra adalah minimnya kesempatan untuk mengaktualisasikan visi dan misinya. Minimnya kesempatan itu dikarenakan kecenderungan format musik yang digunakan dalam orkes tersebut. Selain itu kecenderungan format musik orkestra yang menampilkan lebih banyak musik non-klasik, berakibat pada penurunan kualitas musisi, mengingat musik non-klasik tidak membutuhkan teknik dan kualitas permainan yang tinggi.
Analisis diatas memperlihatkan bahwa ternyata komodifikasi pergelaran musik klasik dapat menyebabkan penurunan mutu dan kualitas dari musik klasik yang ditampilkan, sekaligus mereduksi makna yang terkandung dalam musik tersebut. Oleh karena itu, teori Adorno mengenai musik pasca-auratik sudah mulai terjadi pada pergelaran musik klasik di Indonesia. Sementara, itu jika dikaji melalui teori Walter Benjamin, bentuk sosialisasi musik klasik seperti yang dilakukan oleh beberapa orkestra di Indonesia justru merupakan bentuk sosialisasi yang baik karena dapat “menurunkan musik klasik dari menara gading” seperti yang selama ini terjadi.


Kesimpulan

Berdasarkan analisis pada halaman sebelumnya, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pergelaran musik klasik di Indonesia sudah mulai mengalami proses komodifikasi. Jika ditinjau dari pandangan teori Adorno, komodifikasi pergelaran musik klasik tersebut dapat mereduksi makna dan esensi dari musik klasik yang ditampilkan.[21] Tidak ada kebebasan untuk mengekspresikan diri dalam menampilkan musik klasik, melainkan harus mengikuti skenario dari pemegang modal (sponsor) dan sistem yang sudah mereifikasi.[22]
Sementara itu, Walter Benjamin menganggap bahwa komodifikasi pergelaran musik klasik ada salah satu cara untuk mensosialisasikan musik klasik pada masyarakat. Bagaimanapun juga, perdebatan antara Adorno dan Benjamin dapat dijadikan suatu refleksi mengenai kondisi pergelaran musik klasik di Indonesia, dimana posisi musisi-musisi klasik yang masih berpegang teguh pada prinsip-prinsip pertunjukkan fine art, terhimpit oleh adanya komodifikasi pada realisasinya.










DAFTAR PUSTAKA

Buku

Adorno, Theodor W., Philosophy of Modern Music, New York: Continuum International Publishing Group, 2003.

Barker, Chris, Cultural Studies: Teori dan Praktik. Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2004.

Baudrillard, Jean P., Masyarakat Konsumsi, Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2004.

Budiarto, C. Teguh, Musik Modern dan Ideologi Pasar, Yogyakarta: Tarawang Press, 2001.

Hardjana, Suka, Esai dan Kritik Musik, Yogyakarta: Galang Press, 2004.

____________, Musik, Antara Kritik dan Apresiasi, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2004.

Wardhani, Mira Oktaviana Whisnu, Melacak Aliran Musik Orkestra di Indonesia. Skripsi Sarjana S-1 Sosiologi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Tidak diterbitkan.

Widyanta, A.B., Problem Modernitas dalam Kerangka Sosiologi Kebudayaan Georg Simmel. Yogyakarta: Penerbit Cindelaras Pustaka, 2002.

Artikel

Hardiman, F. Budi, Budi Hardiman, “Antara Estetika Penyelamatan dan Demistifikasi”, dalam Jurnal Kebudayaan Kalam, edisi 2 April 1994, hal 115-128.

“Adi MS, Optimisme di Awal Tahun” dalam Majalah Senior No. 28/5-11, Januari 2001.

“Indonesia Raya versi Jos Cleber” artikel dalam Kompas, 17 Agustus 2001.

“Orkes Remaja itu Kini Telah Hadir” artikel dalam Kompas, 6 Maret 2003.

“Twilite Orchestra di Mal: Apresiasi Musik Plus Hiburan” artikel dalam Kompas, 11 Desember 2001.

“Dari Bali Memorial Concert” artikel dalam Kompas, 13 Oktober 2002.




Catatan kaki


[1] Theodor Adorno. Philosophy of Modern Music. New York: Continuum International Publishing Group. 2002. Hal xii.
[2] Ibid., hal. 26.
[3] C. Teguh Budiarto. Musik Modern dan Ideologi Pasar. Yogyakarta: Tarawang Press. 2001. hal 35.
[4] Theodor Adorno. op.cit., hal 3. Kutipan ini adalah pandangan Hegel dalam “The Philosophy of Fine Art” yang dikutip Adorno pada bukunya tersebut.
[5] Uraian ini didasarkan pada tulisan F. Budi Hardiman, “Antara Estetika Penyelamatan dan Demistifikasi”, dalam Jurnal Kebudayaan Kalam, edisi 2 April 1994, hal 115-128.
[6] Sebutan ini mengacu pada Dewa Janus yang bermuka dua.
[7] Zaman prasejarah modernitas adalah zaman dimana masyarakat masih dilingkupi dengan unsur-unsur mitos dan sifat mistisnya. Unsur rasio belum disadari oleh masyarakat.
[8] Misalnya adalah pementasan sendratari Ramayana di Candi Prambanan setiap malam bulan purnama.
[9] Gerakan yang berpandangan bahwa seni adalah untuk seni itu sendiri, dan menolak seni fungsional.
[10] Zaman yang telah menekankan rasio.
[11] Musik “serius” dan musik “ringan” adalah penggolongan musik menurut Adorno, yaitu musik yang bernilai seni dan musik populer.
[12] Adorno, op.cit., hal 10-11.
[13] Munculnya Twilite Orchestra di Jakarta yang juga digunakan untuk bisnis bisa menjadi contoh untuk jenis musik ini. (C. Teguh Budiarto. op.cit., hal 63)
[14] F. Budi Hardiman. op.cit., hal 123.
[15] Disini Adorno menyatakan bahwa seni (termasuk musik) harus melawan industri budaya.
[16] Adorno. op.cit., hal 113.
[17] Iravati M. Sudiarso, pianis Asia pertama yang menjadi solois bersama New York Philharmonic Orchestra.
[18] Catharina W. Leimena, satu-satunya penyanyi opera di Indonesia. Lulus dengan nilai tertinggi di Conservatorio Giuseppe Verdi di Milan. Kemampuan menyanyi dan aktingnya telah membawanya untuk tampil di panggung-panggung dunia, seperti Vienna Opera House, La Scala Milan, dan Teatro Lugano.
[19] Suka Hardjana. Musik, Antara Kritik dan Apresiasi. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. 2004. Hal 103-110.
[20] Suka Hardjana. Esai dan Kritik Musik. Yogyakarta: Galang Press, 2004. Hal 169.
[21] Terutama pada konsep musik pasca-auratik.
[22] Menurut Adorno, reifikasi berarti suatu sistem yang sudah membatu dan semakin kita ingin mengubahnya, semakin kita terreifikasi oleh sistem tersebut.

1 comment:

Roy Thaniago said...

Mantap sekali ulasannya! Boleh tuh dipinjem buku2nya.. hehehe.. Salam kenal!