Tuesday, August 28, 2007

Sebuah oleh-oleh dari Rusia

From the History of Performing Arts:
Issues of Interpretation

Hari Sabtu 25 Agustus yang lalu saya menghadiri lecture yang diadakan oleh musikolog Pavel Sedov di Pusat Kebudayaan Rusia, bertajuk "From the History of Performing Arts: Issues of Interpretation".
Kebetulan saya malam sebelumnya di-sms oleh Alex alias Dodo (salah satu anggota Susvara Opera Company) bahwa akan diadakan lecture itu besok pagi pk 10. Saya tertarik sekali dengan judulnya – saya sudah membayangkan bahwa si Pavel Sedov itu pasti akan membandingkan interpretasi-interpretasi dari para musisi terkenal – sehingga saya merasa wajib untuk datang. Kapan lagi seminar seperti itu akan diadakan lagi? Gratis pula. Akhirnya saya segera memberi kabar pada Gita Bayuratri (kawan saya yang sedang meneruskan studi piano di St. Petersburg Conservatory, kebetulan sedang liburan summer disini) untuk datang ke seminar tersebut.
Hari H-nya, saya datang sedikit telat ke Pusat Kebudayaan Rusia di Jalan Imam Bonjol. Saya agak ragu, mengapa mobil yang parkir di halamannya kok sedikit? Suasananya pun sepi. Ternyata benar saja, yang datang menonton seminarnya hanya sepuluh orang! Itu pun termasuk Dubes Rusia dan istrinya, Atase, Manager Pusat Kebudayaan Rusia, dan sisanya yang orang Indonesia hanyalah Gita, Happy, Mbak Mita (dari Resonanz Studio), seorang bapak-bapak dari Deplu, dan saya sendiri. Sungguh sayang sekali, seminar yang sangat bagus seperti itu peminatnya sedikit sekali. Saya rasa salah di bagian publikasinya, karena jika memang publikasinya bagus, pasti banyak sekali musisi-musisi klasik yang datang kesana. Tante Catharine pun ketika saya sms, kaget dan menyesal karena baru tahu kalau hari itu ada seminar.
Ternyata Pavel Sedov yang membawakan lecture-nya dalam bahasa Rusia. Bagi Gita yang sudah 3 tahun di Rusia, pastilah langsung mengerti. Untungnya di sebelah saya ada seorang ibu-ibu bule yang berfungsi sebagai translator, langsung menerjemahkan kata-kata dari Pavel. Ternyata isi lecture-nya sangat menarik! Pavel mengungkapkan bahwa terhadap satu karya yang sama, tentu akan terjadi berbagai tafsir dan interpretasi yang berbeda. Hal ini berkaitan dengan latar belakang dan kultur setiap musisi yang pasti berbeda pula.

Polonaise
Untuk contoh yang pertama, Pavel memasang video Chopin Polonaise op 53 yang dimainkan oleh Arthur Rubinstein dan Vladimir Horowitz.
Arthur Rubinstein (1887-1982)

Seperti yang telah diketahui, Polonaise adalah musik tarian rakyat Polandia. Disini Pavel mengatakan bahwa dalam permainan Arthur Rubinstein, polonaise-nya terdengar benar-benar seperti musik tarian, benar-benar "that was the Polonaise". Hal ini terjadi karena Rubinstein tahu benar mengenai tarian Polonaise itu; mengenai elemen-elemen folk music-nya, ritme, serta spontanitasnya benar-benar menghadirkan sebuah "Polonaise" secara utuh.
Sementara itu Horowitz dengan latar belakang musik yang berbeda dengan Rubinstein, menghadirkan Polonaise yang penuh dengan nuansa dan suasana. Seolah-olah dalam permainannya kita dapat turut mencium aroma parfum wanita-wanita yang hadir dalam tarian Polonaise itu, gerak-canda-tawa para penarinya, dan nuansa sebuah pagelaran tarian Polonaise yang dihadiri oleh muda-mudi yang saling menggoda. Jadi Horowitz lebih menitikberatkan pada penghadiran "suasana", dibandingkan dengan teknis tarian Polonaise itu sendiri.

Vladimir Horowitz (1903-1989)

Pavel kemudian membandingkan lagi dengan Polonaise karya Wienawsky, yang dibawakan oleh violis Jascha Heifetz dan pianis Sviatoslav Richter. Disini Pavel mengemukakan bahwa artistry dari Heifetz menggambarkan pola kehidupan abad 20, dan segi kedalaman interpretasinya begitu hebat sehingga tidak bisa dibandingkan dengan musisi-musisi lain. Jadi ada bagian-bagian yang cepat dan lincah sebagaimana layaknya sebuah tarian Polonaise, tapi ada juga bagian liris dan melodis yang dibawakannya dengan romantic style dan kehangatan menyeluruh.


Callas vs Caballe
Kemudian Pavel mengambil contoh lain dari ranah vokal. Dalam hal ini ia mengambil potongan aria "Casta diva" dari opera Norma karya Vincenzo Bellini. Contoh pertama, ia memutar CD yang memuat Casta diva versi Montserrat Caballe. Seperti biasa, Caballe yang terkenal dengan pianissimo-nya yang luar biasa, membawakan aria itu dengan memainkan dinamik-dinamik serta not-not hias ala Bel canto style.

Montserrat Caballe (born 1933)

Menurut Pavel, interpretasi Caballe menggambarkan suasana Casta diva yang hangat, seperti suara-suara yang hadir dari surga. Sementara itu, setelah pemutaran CD kedua versi Maria Callas, Pavel mengatakan bahwa interpretasi Callas lebih menggambarkan sosok Norma sebagai seorang priestess yang dingin, berwibawa, dan memiliki great presence. Callas membawakan Casta diva dengan lebih tegas, dramatik, dengan tension yang terus memuncak hingga klimaks.
Ketika saya cerita tentang ini pada Tante Catharine, beliau menambahkan bahwa Callas memang memiliki integritas yang sangat kuat. Dalam dirinya ada sebuah sacred fire yang diwariskan tanah leluhurnya, Yunani. Seperti yang diketahui, Yunani merupakan tanah kelahiran seni drama dan tragedie. Sementara itu Caballe lebih lekat dengan seni menyanyi ala Spanyol (Zarzuela), dimana matahari bersinar cerah dan festival musik rakyat yang meriah selalu diadakan tiap tahun.

Maria Callas (1923-1977)

Sekadar catatan, dulu sekitar tahun 1960-an Tante Catharine pernah menonton secara langsung opera yang dibintangi oleh Maria Callas di Teatro alla Scala, Milano. Kalau tidak salah beliau menonton 2 opera dengan judul yang berbeda, dimana salah satunya Callas memerankan Medea (seorang penyihir dari mitologi Yunani). Kata Tante Catharine, sedemikian hebatnya karisma Callas sehingga begitu ia muncul ke atas panggung (baru masuk, belum menyanyi) sosoknya langsung bisa membuat setiap orang merinding. Kekuatan magnet (Magnetic Personality) yang begitu kuat dalam diri Maria Callas, bisa membuat setiap orang keep watching on her 'till the end of the performance.

Dalam diri Callas, setiap gerakan yang dibuatnya dan setiap ekspresi wajahnya, pasti mengandung makna dan dramaturgi yang sangat penting. Pernah sekali waktu ketika sedang gladiresik untuk suatu opera, suasana begitu riuh dan ributnya (antara pemain, anggota orkestra) sampai ketika sosok Maria Callas naik ke atas podium, semua orang terdiam dan semua mata tertuju ke arahnya. That's Callas.

German School vs Russian School
Selanjutnya adalah Sonata Schubert untuk cello dan piano. Contoh yang pertama adalah Fermann dan Rubinstein, sedangkan contoh yang kedua adalah Mstislav Rostropovich dan Sviatoslav Richter.
Dalam permainan Fermann-Rubinstein, sangat jelas terdengar bahwa cello dan pianonya hanya bergerak mengikuti musik saja. Seolah-olah tidak ada hal-hal diluar musik yang dapat mengganggu interpretasi mereka. Interpretasi mereka sangat steril, murni, tanpa ada suffering atau lamentation, padahal melodi Sonata Schubert yang dimainkan sangatlah gelap dan penuh keluh-kesah.

Sviatoslav Richter (1915-1997)

Lain ladang, lain belalang. Interpretasi Rostropovich-Richter jelas sangat bertolak belakang dengan Fermann-Rubinstein. Introduksi piano yang mengawali sonata dibawakan dengan dramatik oleh Richter, sementara ketika cello mulai masuk terdengar suara-suara keluh-kesah dengan temperamen ala Russian School yang membuat sonata ini sangat terdengar hidup, passionate, penuh spontanitas, tapi tetap dalam form yang utuh.
Menurut Pavel, susah untuk menentukan siapa yang paling benar dalam memainkan sonata ini. Interpretasi Fermann-Rubinstein sangat mencerminkan style German yang efisien dalam gerak, logis, dan tidak berlebihan. Sementara Rostropovich-Richter sangat dipengaruhi oleh kultur Russian School yang penuh temperamen.
Kedua "School" ini memiliki pendekatan yang berbeda. Tapi tidak ada yang bisa mengetahui mana yang salah, mana yang benar. Toh kita tidak bisa pergi ke kuburannya Schubert dan bertanya padanya: mana interpretasi yang paling benar.

Toscanini vs Furtwangler
Berikutnya adalah Overture dari Beethoven. Kali ini yang dibandingkan adalah konduktor legendaris Arturo Toscanini dan Wilhelm Furtwangler. Pavel ingin menitikberatkan pada introduksi overtur yang dramatis. Menurutnya overtur yang dibawakan oleh Toscanini lebih dramatik dibandingkan dengan Furtwangler yang dimainkan oleh Berlin Philharmonic.
Membandingkan kedua konduktor ini, sama dengan membandingkan konduktor Berlin Philharmonic generasi penerus Furtwangler, yakni Herbert von Karajan dengan Sir Georg Solti (konduktor London Philharmonic Orchestra), dimana Karajan selalu mengambil tempo yang lebih lambat daripada yang tertulis di partitur, sementara Solti kebalikannya: selalu lebih cepat.
Hal ini sama seperti ketika kemarin saya ngobrol-ngobrol bersama Kak Levi Gunardi setelah acara pertemuan orangtua murid di YPM. Kebetulan kami memperbincangkan mengenai Rachmaninoff Piano Concerto no. 3 yang dimainkan oleh Martha Argerich. Persoalannya, mengapa Argerich selalu mengambil tempo yang lebih cepat dibandingkan dengan pianis-pianis lain? Rupanya Argerich melihat suatu karya secara keseluruhan, yakni keutuhan form yang ingin dibawakannya dalam satu nafas panjang. Jadi ia mengambil tempo lebih cepat dari umumnya agar karya yang dibawakannya memiliki bentuk yang kokoh, tegas, serta utuh menjadi satu kesatuan artistik yang terus berkelanjutan dari not pertama hinggal not terakhir.

Rachmaninoff's Third (Cadenza)
Pavel kemudian membawa kita pada alam Rachmaninoff, yaitu Piano Concerto no. 3 yang dikenal sebagai concerto piano paling sulit dalam sejarah perpianoan. Kebetulan ia ingin membahas pada bagian cadenza di movement pertama yang dikenal sangat sulit.
CD pertama (dimainkan oleh pianis yang saya lupa namanya) memainkan cadenza versi Ossia (versi chordal – pastinya lebih susah). Pavel mengatakan bahwa siapapun pianisnya, pasti yang memainkan cadenza ini adalah seorang profesional. Menurutnya cadenza ini terlalu sulit untuk dimainkan pianis-pianis yang bukan profesional.
Sementara itu, CD kedua adalah cadenza versi original yang dimainkan oleh Rachmaninoff sendiri. Kali ini Pavel ingin menitikberatkan pada persamaan style dari kedua pianis, yaitu frase-frase yang dihadirkan sangat Rusia sekali. Apalagi permainan cadenza oleh Rachmaninoff yang seakan-akan tanpa jeda untuk nafas, sehingga terkesan terburu-buru. Mungkin itu adalah salah satu temperamen ala Rusia, atau malah justru hal itu yang diinginkan oleh Rachmaninoff kepada para pianis yang ingin memainkan karyanya?

Hofmann vs Rachmaninoff
Contoh terakhir yang dipasang adalah interpretasi pianis Josef Hofmann dan Rachmaninoff dalam memainkan Beethoven Turkish March (ini lain dari Rondo alla Turca-nya Mozart loh!)
Josef Hofmann adalah salah satu pianis yang dikagumi oleh Rachmaninoff. Bahkan Rachmaninoff sendiri mendedikasikan Piano Concerto no. 3 ciptaannya pada Josef Hoffman, yang tidak pernah Hofmann mainkan karena keterbatasan fisiknya – tangannya terlalu kecil untuk memainkan akord-akord besar dalam concert Rachmaninoff.
Hal yang lucu muncul ketika saya mendengarkan Turkish March ini dimainkan oleh kedua pianis tersebut. Hofmann memainkan karya ini dengan tempo yang sangat cepat, sementara Rachmaninoff mengambil tempo yang extremely lambat! Ibaratnya, mungkin Hofmann mengambil tempo Presto, sementara Rachmaninoff tempo Andante! Ini sempat membuat para hadirin yang mendengarkan spontan tertawa.
Lagi-lagi Pavel menjelaskan, Hofmann dalam memainkan karya ini mengikuti gaya tradisi salon-salon Vienna abad 19. Salon disini adalah hall yang juga merangkap sebagai cafe, seperti halnya Liszt dulu sering memainkan karya-karyanya disana, menampilkan virtuositasnya sebagai pianis handal. Sementara itu Rachmaninoff mengambil tempo yang lebih lambat, tetapi setiap detail dan ritme Turkish March menjadi terdengar lebih jelas! Seakan-akan kita bisa mendengar ada serdadu-serdadu yang sedang berbaris dalam sebuah festival.

Overall, lecture yang diadakan oleh Pavel Sedov itu sangat membuka wawasan dari segi interpretasi musisi-musisi legendaris. Tidak ada yang salah, tidak ada yang paling benar pula. Semuanya kembali lagi pada latar belakang dan kultur dimana musisi-musisi tersebut dibesarkan. Asalkan jangan Sonata Mozart dimainkan dengan style Chopin hehehe...

1 comment:

Anonymous said...

isi blog anda ada yg berguna buat tugas sekolah adik saya, trimakasih, Tuhan berkati.