Thursday, December 13, 2007

70 Tahun Mbah Titiek

Jakarta, 4 Desember 2007

Hari senin pagi tepat ketika saya sedang bergegas dari kampus UI menuju ke Jakarta, tiba-tiba HP berdering. Saya kira siapa, ternyata dari Mbak Lusi (sekretarisnya Pak Dedi). Rupanya pagi itu Pak Dedi mengundang saya agar besok (selasa malam) dapat hadir di acara syukuran 70 tahun Titiek Puspa. Sesuai dengan modus operandi Pak Dedi yang serba dadakan, saya iyakan saya undangannya sambil berpikir kira-kira besok mau ‘ditodong’ main lagu apa hehehe. Untung malamnya saya sempat bertemu dengan Tante Catherine dan meminjam beberapa buku lagu karangan Titiek Puspa. Salah satunya adalah lagu seriosa Pantang Mundur yang biasa dibawakan duet oleh soprano Aning Katamsi dan ibundanya, almarhumah Ibu Pranawengrum Katamsi. Lagu-lagu lain mungkin seperti Kupu-kupu Malam dan Tiada Bing yang lebih populer.

Esok sore (Selasa, 4 Desember 2007) saya datang lebih awal ke tempat acara akan dilangsungkan, yaitu Financial Club di Graha Niaga Sudirman. Rupanya saya datang kepagian, belum ada siapa-siapa. Setelah beberapa lama, muncul seorang ibu-ibu yang mirip Titiek Puspa (belakangan saya ketahui bahwa ia memang anaknya Mbah Titiek, yakni Tante Petty Tunjungsari), namun karena belum kenal akhirnya saya menunggu kedatangan Pak Dedi sekitar 15 menit kemudian.

Seperti biasa, Pak Dedi datang menjamu kami yang sudah hadir dengan keramahannya, dan beberapa orang turut hadir pula, yaitu Mbak Lusi dan Fauzi Wiriadisastra (komposer pemenang Yazeed Djamin Award 2007 atas lagunya Variasi Selendang Sutra), dan ada seorang lagi wartawan bule yang saya lupa namanya. Tidak lama, muncul Mbah Titiek dengan pakaian merah menyala, tetap terlihat fresh dan awet muda di usianya yang baru menginjak 70 tahun.

Rupanya acara malam itu adalah gathering party yang diadakan Pak Dedi sebagai host dalam rangka syukuran 70 tahun Titiek Puspa. Jika beberapa minggu sebelumnya para sahabatnya Mbah Titiek yang merancang Konser 70 Tahun Titiek Puspa di Hall PRJ Kemayoran, maka sekarang adalah giliran Pak Dedi yang juga adalah salah satu sahabat lama dan pengagum beliau. Saya sendiri baru tahu bahwa malam itu ternyata Pak Dedi lah yang menyediakan tempat dan menjadi host, juga mempersilahkan Mbah Titiek untuk mengundang siapapun yang ingin diundang. Jadilah yang datang para sahabat terdekat Mbah Titiek, antara lain yang terlibat pelaksanaan Konser 70 Tahun, seperti Inggrid Widjanarko, Mario Lawalata (bersama dengan ibunya), Marini, Inul, dan juga para sahabat lama seperti Rima Melati, serta rombongan penyanyi Mamamia dan penyanyi cilik Bilkis yang sempat duet bersama Mbah Titiek di albumnya yang terbaru.

Setelah ngobrol-ngobrol dengan Mbah Titiek – antara lain beliau bercerita tentang kegetiran hidup seniman zaman dulu, dimana kerapkali ditipu oleh pihak penyelenggara konser karena belum mengenal yang namanya Kontrak Kerja – Pak Dedi meminta saya untuk membawakan sebuah lagu karya Mbah Titiek sendiri. Untung sudah siap dengan Pantang Mundur, akhirnya saya benar-benar “pantang mundur” dan maju ke piano untuk main lagu itu. Saya kira Pak Dedi mau nyanyi, setelah intro pertama kok Pak Dedinya malah pergi dari piano dan duduk di sisi sebelah sana, akhirnya saya jadi benar-benar main solo deh.


Bersama Mbah Titiek dan Mbah Dedi

Hari semakin malam, tapi ruas jalan Sudirman terlihat masih padat dari lantai 27 Graha Niaga. Di dalam ruangan yang nyaman, acara berlangsung dengan sangat hangat dan kekeluargaan. Antara lain adalah Tante Inggrid yang beberapa kali minta diiringi menyanyi, padahal ia awalnya menjelaskan bahwa, “Aku nggak bisa nyanyi, bisanya ciptain lagu. Banyak orang yang kira aku bisa nyanyi, padahal aku sebenernya nggak bisa nyanyi, tapi ciptain lagu. Beneran deh, suer,” Toh kenyataannya bibir tak kuasa menahan hasrat untuk bersenandung, akhirnya nyanyi juga. On the lighter side, setelah mengobrol dengan Fauzi yang tinggal di Bandung, baru ketahuan bahwa ternyata kami awalnya menimba ilmu pada guru yang sama! Yaitu Kak Shirleen Siskania, guru pertama saya yang mengajarkan main musik dan membaca not balok di Yamaha Bandung. Waktu itu sekolah musiknya masih di Jl. Raden Patah, dekat sekali dengan rumah saya sehingga jika mau les cukup jalan kaki.

Saya kagum sekali dengan Fauzi, dengan latar pendidikannya yang insinyur jebolan University of Illinois, ternyata bisa dengan jenius membuat Variasi berdasarkan lagu Selendang Sutera karya Ismail Marzuki. Lagu ini memenangkan Yazeed Djamin Award 2007, dan dimainkan oleh pianis Ananda Sukarlan. Kembali ke akar, Fauzi bercerita bahwa akhirnya ia memilih untuk mengajar musik di Sekolah Musik Georama Bandung dan mem-postpone-kan gelar insinyurnya. Hebat!

Bersama Fauzi dan Tante Inggrid

Setelah dinner, acara ditutup dengan ungkapan syukur dan terima kasih Titiek Puspa pada Pak Dedi yang telah berbaik hati mengadakan acara syukuran 70 tahun, sekaligus beliau juga berpesan kepada generasi muda agar tetap kembali kepada akar budaya Indonesia karena bangsa ini memiliki kekayaan kultural yang tak ternilai dan merupakan kewajiban setiap generasi muda untuk melestarikannya.

Mungkin Mbah Titiek akan tersenyum seandainya diberi kesempatan mendengarkan Variasi Selendang Sutera karya Fauzi, suatu persembahan anak bangsa untuk bangsanya sendiri.

Proviciat Titiek Puspa!







Sesuai pesanan, saya sertakan sekalian foto bersama Mbak Lusi hehehe...




.

4 comments:

michael said...

oo.. jadi itu caranya pianis yang ditembak bisa langsung maen... hehehe... jadi siapin diri dulu di rumahnya ya?

Pianistaholic said...

gile loe... gue mesti siap2 lah, jangan sampe pas disuruh maen ujug2 malah main dangdutan kan nggak lucu hahaha..

Roy Thaniago said...

Titiek Puspa dah tua ya? hehehe..

Salam kenal!

fauzie said...

Google memang sakti, ketemu lagi ;) Koq bisa ada foto gue di sini?