Friday, February 08, 2008

Catharina Leimena dibalik opera La Boheme

Mungkin saya agak sedikit terlambat menulis ulasan mengenai pementasan opera La Boheme karya Puccini yang dipentaskan tanggal 4-5 Desember 2007 oleh Susvara Opera Company di Gedung Kesenian Jakarta. Sebagai salah seorang tim produksi (menjabat sebagai repetiteur) adalah suatu pekerjaan yang sangat berat, karena harus setiap saat mengiringi latihan yang rutin diadakan hari Senin, Selasa, dan Kamis, kurang lebih 9 bulan. Mungkin kalau saya hamil, bayinya sudah lahir hahaha...

Saya tidak akan berbicara banyak mengenai pementasan opera ini. Berhubung saya adalah salah satu tim produksi, maka biarlah pihak lain yang memberi penilaian. Selain di media massa, ada Michael Budiman yang mengulas mengenai keseluruhan konser di blognya:
http://mikebm.wordpress.com/2007/12/06/la-boheme-perdana-bangkitnya-seni-operatik/

Yang ingin saya bahas disini lebih kepada seseorang yang menjadi spirit dari Susvara Opera Company (SOC), tidak lain adalah Madame Catharina Leimena yang merupakan pendiri SOC dan menjadi ibu bagi para musisi sebagai tempat bertanya, curhat, maupun berkarya. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, Ibu Catharine masih tetap memberikan arahan artistik kepada para musisi demi tujuan bersama, yaitu menyuguhkan seni opera yang merupakan pencapaian tertinggi dalam Performing Arts.


Catharina Leimena

Ibu Catharine sendiri merupakan sosok yang sangat hebat. Mungkin dapat dikatakan sebagai satu-satunya penyanyi opera sungguhan di Indonesia. Dalam arti bahwa pencapaian artistiknya telah meninggalkan suatu jejak langkah bagi para musisi muda dalam meniti jalan melalui seni opera. Murid-muridnya sudah tidak terhitung lagi, mulai dari ranah klasik seperti Binu Sukaman, Aning Katamsi, Avip Priatna, hingga jajaran musik pop seperti 3 Diva (baca: KD, Uthe, Titi DJ).

Dalam suatu obrolan santai di sela-sela latihan, Ibu Catharine sempat bercerita banyak mengenai perjalanan karirnya dulu ketika ia mendapat sponsor dari Presiden Soekarno untuk meneruskan studi musik ke Italia. Dulu penyanyi yang mendalami ilmu vokal klasik tidak banyak, antara lain yang sudah lebih dulu berangkat ke Italia adalah Rukmini Sukmavati (atas sponsor Bung Karno juga). Ibu Catharine sempat mengingat-ingat dulu, “Suaranya Rukmini soprano dramatik, dia bisa membuat satu hall dipenuhi oleh suara-suara indah dari petikan aria-aria opera,”
Tak lama kemudian, sekitar awal tahun 1960 Ibu Catharine berangkat ke Italia dengan kapal laut yang memakan waktu berminggu-minggu. Setibanya disana, ia diterima sebagai mahasiswa Accademia di Santa Cecilia di Roma, dibawah bimbingan Professor Anzeloti Zurlo. Setelah sekitar setahun belajar vokal dengan sang profesor, nasib mempertemukan Ibu Catherine dengan Rukmini Sukmavati yang ketika itu sudah menjadi penyanyi opera di teater-teater utama di Italia. Saat mendengar Ibu Catharine menyanyi, Rukmini melihat beberapa placement resonansi vokal yang agak sedikit berbeda dengan yang dipelajarinya di Milan. Ketika tahu bahwa Ibu Catharine berada dibawah bimbingan Professore Zurlo, Rukmini menyarankan, “Mungkin akan lebih baik jika kamu belajar di tempat saya, di Milan. Saya akan menulis surat rekomendasi ke konsulat RI disana.” Yang dimaksud oleh Rukmini adalah Conservatorio Giuseppe Verdi, konservatorium paling bergengsi di Italia yang menelurkan penyanyi-penyanyi opera kelas dunia.

Akhirnya Ibu Catharine berangkat ke Milan. Setelah diurus keperluan administrasinya oleh kedutaan, tiba-tiba Ibu Catharine dibawa ke Teatro alla Scala, teater paling agung dimana para diva opera akan saling membunuh untuk bisa tampil disana. Dengan berbekal surat dari kedutaan, Ibu Catharine masuk ke kantor official La Scala untuk bertemu dengan Antonio Ghiringhelli! Beliau adalah sovrintendente atau orang tertinggi dan memiliki kuasa penuh atas panggung La Scala. Beliau lah yang antara lain mengorbitkan Maria Callas dan Renata Tebaldi di La Scala. Sekali beliau bilang tidak, maka Maria Callas tidak bisa tampil di panggung itu. Dan Ibu Catharine akan diaudisi oleh Ghiringhelli.

Antonio Ghiringhelli bersama Maria Callas (6 Februari 1960)

Dengan gugup dan gemeteran, Ibu Catharine mengetuk pintu kantor. Setelah masuk, ternyata “Wujudnya aki-aki (kakek, bahasa Sunda). Kulitnya pucat dan halus sekali. Perilakunya juga sangat halus dan tidak banyak omong. Lebih cenderung ke feminin,” kenang Ibu Catharine. Setelah membaca surat rekomendasi, akhirnya Ghiringhelli memutuskan bahwa Ibu Catharine akan mengikuti audisi.
Audisi diadakan di atas panggung La Scala! Ibu Catharine masih mengingat-ingat kemegahan auditorium La Scala, dimana saat itu ia berdiri di tepat di atas panggungnya. Di sana pula ia menonton Maria Callas dalam opera Medea karya Cherubini setahun setelahnya. Setelah beberapa vokalisi dan lagu, akhirnya Maestro Ghiringhelli menulis surat rekomendasi yang kelak akan berguna bagi Ibu Catharine dalam mengikuti audisi selanjutnya di Conservatorio Giuseppe Verdi.



Renata Tebaldi dalam opera Tosca babak II

Kemudian Ibu Catharine mengingat saat-saat audisi di Conservatorio yang sangat menegangkan. Ketika itu ia masuk dalam sebuah ruangan yang gelap gulita. Tidak ada cahaya kecuali lampu sorot yang tepat berada di tengah panggung di sebelah piano. Diiringi oleh Maestro Giorgio Federico Ghedini (kemudian Ibu Catharine baru tahu bahwa Ghedini adalah komposer terkenal Italia), Ibu Catharine menyanyikan aria Ombra mai fu dari opera Xerxes karya Handel. Setelah sukses membawakan lagu itu, tiba-tiba lampu menyala. Ternyata Ibu Catharine tengah berada di atas panggung dimana di hadapannya ada sekitar tujuh orang juri! Salah satu juri itu adalah Ettore Campogalliani, yang merupakan guru vokal dari Renata Tebaldi, Mirella Freni, Renata Scotto, Luciano Pavarotti, dan sejumlah nama besar opera lainnya. Setelah para juri was-wis-wus ngobrol dalam bahasa Italia, akhirnya Ibu Catharine diambil sebagai murid oleh Prof. Clotilde Ronchi pada Canto Didattica dan Prof. Carla Castellani pada seni opera.

Banyak sekali kejadian-kejadian yang di luar dugaan selama Ibu Catharine belajar vokal di Italia. Antara lain ketika Bung Karno berkunjung ke Vienna, beliau “memaksa” Ibu Catharine untuk bergegas dari Milan ke Vienna untuk bersama-sama menonton opera Aida karya Verdi yang dibintangi oleh soprano Leontyne Price. Ketika itu Ibu Catharine yang pada dasarnya sedikit malas karena sedang kurang enak badan, akhirnya pergi juga ke Vienna. Tak diduga, kedatangannya ke Vienna Opera House membuahkan keberuntungan, pada saat intermission antar babak, ia bersama Bung Karno dijamu makan malam semeja bersama dengan Leontyne Price!

Ada juga kejadian yang jenaka, yaitu ketika di sebuah restoran di Vienna. Saat itu hiburannya adalah musik klasik yang ditampilkan oleh sekelompok ansamble strings. Kejadiannya menimpa istri Bung Karno, Ratna Sari Dewi yang duduk terlalu dekat dengan pemain ansamble. Ketika sedang menggesek bow violin, tanpa sengaja ujung bow itu tersangkut di sanggul Ibu Dewi! Alhasil copotlah sanggul itu dan tergantung di ujung bow violin!
Ibu Catharine juga mengingat, di restoran itu Bung Karno memintanya untuk membawakan petikan aria Last Rose of Summer (Letzte Rose) dari opera Martha karya Friedrich von Flotow, tapi dalam bahasa Indonesia! Untungnya, Bung Karno di balik kertas menu sempat menerjemahkan lirik-lirik lagu tersebut dalam bahasa Indonesia dengan sangat artistik. “Sayang deh, nggak tau tuh kertasnya hilang kemana! Padahal sudah saya simpan baik-baik loh di dalam kotak, tapi tetap aja bisa hilang,” kata Ibu Catharine menyesal.


The Great American Contralto, Marian Anderson

Mungkin itu adalah sekelumit anekdot dari kisah perjuangan Ibu Catharine dalam menimba ilmu di Italia. Pada tahun 1965 Ibu Catharine menerima Diploma per il canto artistico dengan hasil yang memuaskan. Beliau juga sempat bercerita bahwa menurut penuturan gurunya, nilainya semestinya 100. Namun karena para juri masih sangat diskriminatif dan rasis, akhirnya nilainya menjadi 99, dengan alasan “Bahasa Italianya masih kurang perfect,” Ya, itu adalah salah satu realitas zaman baheula. Mungkin ceritanya sama dengan the great American Contralto Marian Anderson yang pada 1936 ditolak menyanyi di Constitution Hall oleh organisasi Daughters of American Revolution (DAR) hanya gara-gara Marian Anderson adalah seorang negro. Sedemikian hebohnya kasus ini sehingga sebagai bentuk protes, First Lady Eleanor Roosevelt mengundurkan diri dari organisasi tersebut.

Mungkin sedikit insidental, namun berpuluh tahun kemudian Ibu Catharine menerima sebuah buku lagu-lagu spiritual dan sepucuk surat dari Marian Anderson, dimana dalam surat tersebut Miss Anderson mengatakan bahwa musik adalah salah satu anugerah terindah dari Yang Mahakuasa, sehingga jadikanlah itu sebagai semangat untuk terus berkarya!

Semangat untuk terus berkarya dalam musik membuat Ibu Catharine tampil di hadapan Sri Paus Paulus VI di Vatikan, membawakan karya-karya Monteverdi dibawah dirigen Riccardo Muti. Selain itu dalam dunia opera ia telah tampil dalam berbagai macam peran di gedung-gedung opera terkemuka. Sayangnya, pemberontakan G30S/PKI memaksa Ibu Catharine untuk kembali ke Indonesia. Tapi mungkin justru disanalah letak anugerahnya, Ibu Catharine akhirnya bisa membawa spirit seni opera Italia melalui Susvara Opera Company yang didirikannya di Bandung pada 1971.

Selepas pertunjukan La Boheme di GKJ, saya rasa pendapat pianis Iravati Sudiarso dan Aisha Pletscher bahwa “Spiritnya Tante Catharine benar-benar terasa dalam opera tersebut” memang demikian adanya. Melalui para generasi muda yang terlibat dalam pementasan opera La Boheme, perjuangan dan idealisme seorang Catharina Leimena dalam membangkitkan seni opera di Indonesia memang patut diacungi jempol.

4 comments:

mikebm said...

waaa... keren tulisan tentang tante,,, dimensi2 yang gak pernah diketahui orang lain...

Pianistaholic said...

Hehe.. soalnya gue pikir kalo nulis ttg opera La Boheme-nya, semua media jg udah nulis.. nah mungkin akan lebih menarik kalo gue mengangkat sosok dibalik pementasan opera tsb hehe :p

mikebm said...

http://trik-tips.blogspot.com/2008/03/cara-membuat-kotak-blogroll-dan-marquee.html

bang, di link atas lo bisa bikin blogroll yang isinya link2 kayak di tempat gw... blh nemu tuh

Anonymous said...

punya lirik terjemahan The last rose of summer yg diterjemahin oleh bung karno..? thanks