Saturday, May 31, 2008

Romantisme Ibu Roem

In Memoriam: Pranawengrum Katamsi

Sore tadi saya baru saja mengiringi soprano berbakat Sri Muji Rakhmawati membawakan Lieder dan Tembang Puitik Indonesia dalam rangka lecture kelas Sejarah Musik di YPM. Kebetulan materi yang dibahas adalah Lieder dan Art Songs zaman Romantik. Dalam kesempatan itu, Ibu Ratna Katamsi selaku pembina kelas Sejarah Musik membebaskan saya untuk memilih lagu-lagu yang akan ditampilkan.
Malam sebelumnya saya dan Wati telah sempat latihan dan sepakat akan membawakan 4 lagu: Die Lotusblumen karya Schumann, Die Forelle karya Schubert, Elegie karya F.X. Soetopo, dan Setitik Embun karya Mochtar Embut.
Tadinya Wati berencana menyanyikan juga lagu O liebliche Wangen karya Brahms, namun saya mengusulkan agar sebaiknya diganti saja dengan dua lagu seriosa Indonesia. Maksudnya agar para peserta kelas sejarah musik bisa juga mengapresiasi karya-karya komponis Indonesia. Namun bagi saya pribadi, lagu Elegie dan Setitik Embun memiliki makna yang lebih dalam dan pribadi.



















Berbicara mengenai Tembang Puitik Indonesia, pikiran saya selalu tertuju pada sesosok musisi besar Indonesia yang kini telah meninggalkan kita semua. Beliau adalah almarhumah Pranawengrum Katamsi, soprano kelahiran 28 Maret 1943 yang pada tahun 2006 silam telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya.

Sejujurnya saya sendiri tidak mengenal beliau secara pribadi. Tapi dari putri-putri beliau – Aning Katamsi dan Ratna Ansyari Katamsi – saya bisa melihat jejak artistik yang diwariskan oleh almarhumah. Saya ingat betul dulu tahun 2001 Ibu Roem mengadakan konser Seriosa Indonesia bertajuk “40 Tahun Mengabdi”, dimana seminggu sebelumnya saya tidak sengaja bertemu beliau di Erasmus Huis (kalau tidak salah setelah konsernya Bu Binu) dan dengan polosnya bertanya “Tante mau nyanyi di konser minggu depan?” (ya iyalah, pertanyaan bodoh! :p) Kemudian beliau menjawab “Iya. Kamu mau beli tiketnya? Saya kebetulan bawa”. Dan dengan bodohnya saya meminta beliau menunggu sebentar di depan Erasmus, sementara saya berlari ke mobil yang diparkir agak jauh untuk mengambil uang (saya waktu itu lupa bawa uang karena ketinggalan di mobil). Kemudian saya buru-buru nyamperin Ibu Roem (yang mungkin sudah menunggu saya dengan kesal di depan Erasmus) dan segera melakukan transaksi jual-beli tiket! Ya ampun... kalau diingat-ingat rasanya kok malu banget ya hahahaha... Tapi nggak apa-apa lah, namanya juga masih kecil (16 tahun ketika itu) :p

By the way, konser “40 Tahun Mengabdi” itu adalah konser pertama dan terakhir dimana saya melihat beliau menyanyi secara live! Kenangan akan konser itu begitu membekas dalam benak saya, sampai pada saat peringatan 40 hari meninggalnya beliau tiba-tiba pihak Keluarga Katamsi menerbitkan CD berisi lagu-lagu Seriosa Indonesia Ibu Roem yang dibagikan bagi kalangan terbatas, yaitu bagi mereka yang senang mengapresiasi lagu-lagu seriosa saja. Toh kalau dibagikan sembarangan malah akan mubazir.
Saya tentu senang sekali mendapat CD itu. Bukan saja karena langka (memperoleh dokumentasi lagu-lagu seriosa Indonesia yang hampir punah) tapi juga karena di CD itu memuat rekaman-rekaman Ibu Roem dari tahun 1978! Saya yang selama ini hanya sesekali melihat penampilan Ibu Roem di TV dan konser “40 Tahun Mengabdi” tentu penasaran sekali, seperti apa suara Ibu Roem waktu masih muda.

Mendengar suara Pranawengrum muda, saya jadi ingat cerita Mas Tommy Prabowo (konduktor) ketika dulu di Jogja ia menjadi salah satu instrumentalis dalam orkestra (saya lupa nama orkestranya) yang mengiringi Messiah Handel, dimana Ibu Roem adalah salah satu soloisnya. Mas Tommy ingat ketika itu gedung pertunjukannya memiliki akustik sangat jelek. Hampir tidak mungkin untuk bisa menghasilkan suara yang bagus, sampai pada bagian solo soprano “I know that my Redeemer liveth” tiba-tiba seluruh ruangan berakustik jelek itu dipenuhi oleh suara sopran Ibu Roem! Katanya, “The voice was soaring through the entire hall.” Hampir seluruh anggota orkes (dan juga penonton tentunya) terpukau menyaksikan Ibu Roem menyanyikan aria itu dengan kekuatan sonoritas yang luar biasa sehingga bisa mengalahkan akustik gedung yang jelek.

Setelah mendengar rekaman tahun 1978 itu, terus terang saya merinding. Bukan saja karena kebeningan suara sopran seorang Pranawengrum muda, melainkan seluruh romantisme masa lalu tersirat pada setiap untaian nada yang dibawakan dengan sempurna. Misalnya dalam lagu Gadis Bernyanyi di Cerah Hari dan Setitik Embun (dua-duanya karya Mochtar Embut), suara sopran yang begitu cemerlang memenuhi setiap ruang pendengaran saya. Terutama untuk lagu Setitik Embun yang adalah favorit saya, itu merupakan sebuah “ungkapan cinta yang tak tersampaikan” Mochtar Embut pada Soenarti yang belakangan akhirnya diperistri oleh W.S. Rendra. Mochtar Embut yang begitu tergila-gila pada Soenarti, tidak kunjung berani untuk menyatakan maksud cintanya hingga akhir hayatnya ia meninggal dalam kesendirian. Dalam frase “...karena aku ‘dah tahu” Ibu Roem bisa membuat pianissimo dalam nada fis tinggi dengan gradasi dinamik yang begitu dramatik, sehingga mengingatkan saya pada soprano kenamaan Montserrat Caballe ketika ia menyanyikan frase “...il labro mio non รจ” dalam rekaman opera Cavalleria Rusticana (EMI).

Beralih pada lagu Kisah Mawar di Malam Hari karya Iskandar, kembali melarutkan suasana pada romantisme Indonesia era 60-an, dimana cahaya-cahaya suram mewarnai kegetiran hidup kala itu. Lagu ini sempat dipakai juga dalam soundtrack opening film Telegram karya sutradara Slamet Rahardjo Djarot. Film ini genre-nya Noir, jadi pas lah pakai lagu Kisah Mawar. Kemudian lagu yang memiliki mood kurang lebih sama adalah Elegie karya F.X. Soetopo. Elegie yang kira-kira artinya adalah lagu untuk mengenang seseorang yang telah tiada, dibawakan oleh Ibu Roem dengan penghayatan yang sangat mendalam. Saya sendiri baru mengerti bagaimana lagu ini seharusnya dibawakan: baru ‘ngeh’ setelah mendengarkan rekaman Ibu Roem ini. Dulu saya pernah mengiringi Tania (muridnya Mbak Aning) ketika ujian, menyanyikan Elegie ini juga. Tapi waktu itu Mbak Aning beberapa kali memberikan couch pada saya cara memainkan pianonya, juga pada Tania tentang pembawaan lagunya, karena memang lagunya agak terasa ‘aneh’ kalau baru sekali-dua kali dibawakan.

Di CD itu selain rekaman tahun 1978 disertakan pula rekaman konser Ibu Roem yang “40 Tahun Mengabdi” (tahun 2001). Antara lain adalah Segala Puji, Srikandi, dan Lagu Rinduku (tiga-tiganya karya Mochtar Embut). Pada Srikandi dan Lagu Rinduku, Ibu Roem bisa memberikan interpretasi dan penghayatan yang mencerminkan kehangatan suara seorang Ibu. Dengan register bawah yang lebih full-bodied, lagu Srikandi terdengar begitu sendu, disertai dengan idiom nada-nada pentatonik pada iringan pianonya. Tidak lupa ada juga lagu Gugur Bunga yang merupakan trademark Ibu Roem karena dipakai sebagai soundtrack film Pemberontakan G-30S/PKI, dimana ketika itu Amoroso Katamsi (suami Ibu Roem) turut berperan sebagai Soeharto muda.
Ibu Roem sendiri ketika muda memiliki suara sopran yang gemilang, didukung oleh chest register yang penuh. Misalnya pada lagu Embun ciptaan GRW Sinsoe (ini beda dengan Setitik Embun-nya Mochtar Embut), dimana frase “...dahaga” dinyanyikan dengan tone rendah yang sangat empuk dan bulat. Disini saya sedikit bingung menentukan kira-kira jenis suara sopran apa yang tepat untuk mengategorikan Ibu Roem. Mungkin yang paling tepat adalah soprano-spinto, namun who cares? Apapun jenis suaranya, Ibu Roem bisa membuat semua lagu menjadi suatu kesatuan artistik yang otonom.

Mendengarkan kompilasi lagu-lagu seriosa yang dikemas dalam CD “Mengenang 40 Hari Ibu Roem” sungguh menjadi suatu pengalaman batin tersendiri. Memang pantas apabila beliau dijuluki sebagai Ibu Seriosa Indonesia, sekaligus sebagai Pejuang Seni Indonesia. Biarkanlah beliau menjadi icon dalam perkembangan sejarah musik di Indonesia, bersama dengan musisi-musisi besar lainnya.

Selamat jalan Ibu Roem!

3 comments:

Anonymous said...

what an excellent review as a tribute to one of Indonesia's greatest soprano, ever..

Pianistaholic said...

Thank you :D sebenernya dari dulu mau bikin review ttg CD ini, tapi ngga sempet2 aja.. Semoga recording2 beliau yang terdahulu direlease kembali utk umum. Amin

Frans Thomas Anthony said...

Adit bagi dong lagu2 dari CD-nya pingin denger, elo mesti gantiin Ninok Leksono nih nulis di kolom kompas buat musik klasik, nice and deep review as always

Kanti