Wednesday, May 07, 2008

Seven Last Words of Christ

Ini merupakan konser Susvara Opera Company (SOC) yang kesekian kalinya, dan seperti biasa saya baru membuat tulisannya sekarang – atau tepatnya sebulan setelah konser berlangsung hehehe...
Konser ini diadakan di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) hari Minggu 13 April 2007. Sebenarnya dalam rangka pasca-Paskah, oleh karena itu temanya religius. Seven Last Words of Christ (Le Sept Paroles du Christ) adalah sebuah Kantata karya Theodore Dubois (1837-1924), komposer Prancis yang pada 1894 menggantikan kedudukan Ambroise Thomas sebagai direktur di Paris Conservatoire.
Konser Seven Last Words ini dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama adalah penampilan solis-solis dalam konsep resital vokal-piano, membawakan petikan-petikan lagu dari beberapa oratorio karya Handel, Mendelssohn, dan Rossini. Babak kedua adalah giliran koor SOC untuk unjuk gigi dalam Seven Last Words karya Dubois.
Untuk melihat review dari konser tersebut, silahkan kunjungi blog teman saya di:



Bagian I
Bagian pertama konser ini dimeriahkan oleh sejumlah solis, antara lain adalah soprano Novanda Bulu, Christine Lubis, tenor Indra Listyanto, bariton Joseph Kristanto (Akis), dan tentu saja ‘dedengkot’ SOC siapa lagi kalau bukan Madame Catharina Leimena. Pianis yang mengiringi adalah Teo Minaroy dan saya sendiri.

Saya sendiri ingin sharing betapa sulitnya mengiringi Om Akis dalam lagu ‘Why do the great nations’ yang diambil dari Messiah karangan Handel. Lagunya sangat ‘tricky’ sekali, membutuhkan keakuratan nada, terutama dalam repetisi not yang terus menerus terjadi sepanjang lagu dalam tempo yang sangat cepat. Di session I ini lagu ‘Why do the great nations’ adalah lagu pertama saya... it means saya harus langsung main lagu dalam tempo yang cepat ala musik Barok, sementara jari-jari belum sempat ‘pemanasan’ dengan lagu-lagu bertempo lambat. Begitu pula lagu kedua saya mengiringi Om Indra, yaitu ‘Thou shalt break them’ (juga dari Messiah Handel), saya harus bisa meniru suara-suara violin dalam tempo yang strict (karena aslinya Messiah ini mesti diiringi oleh orkestra).
Biasanya dalam suatu konser, pianis akan memulai lagu pertama mereka dengan sesuatu yang tenang dan tidak bertempo terlalu cepat supaya jari-jari sempat merasakan touch di piano (plus perasaan gugup – karena biasanya saat pertama muncul di panggung adalah saat yang paling grogi). Teo beruntung, karena lagu pertamanya bertempo lambat dan melodius, sementara saya begitu muncul di panggung harus langsung main sesuatu yang ‘mengerikan’.
Mengiringi Om Indra Listyanto
Ngomong-ngomong soal Teo, saya sebenarnya sudah mengagumi permainannya sejak lama. Umur kita memang beda jauh (saya lebih tua 4 tahun), tapi dulu ketika sama-sama menimba ilmu dengan Ibu Ira, ia 2 tahun lebih advance. Sebenarnya yang saya kagumi adalah tone production-nya yang sangat spesial, tidak bisa ditiru oleh siapapun. Makanya musik yang dimainkannya bagus sekali – very precious. Precious dalam arti langka. Keindahan dan artistry-nya benar-benar spesial sekali, sehingga orang-orang yang bisa menonton resitalnya bisa dikatakan beruntung.
Misalnya dalam lagu ‘Jerusalem’ (dari oratorio ‘Elijah’ karya Mendelssohn), Teo benar-benar bisa membuat chord-chord poliritmik menjadi seperti titik-titik salju lembut, tone-nya bisa melebur dengan vokal Christine Lubis yang juga memang outstanding performer. Suasana yang sangat manis, dolce, sangat sukar dijelaskan jika tidak mendengar sendiri. Intro piano dan frase pertama “Jerusalem, dir du todtest die Propheten...” terdengar begitu memikat dan syahdu.
Kemudian dalam lagu Sei stille dem Herrn (juga dari oratorio Elijah) yang dibawakan oleh Madame Catharina, suasana lembut itu terjadi lagi, walaupun kali ini dalam suasana yang lebih mendalam. Jalinan chord-chord dan counterpoint (saya rasa di musik Mendelssohn banyak counterpoint, karena kalau tidak salah Mendelssohn-lah yang membawa kembali karya-karya polifonik Johann Sebastian Bach yang saat itu sudah lama dilupakan) terdengar luwes, sebagaimana juga suara mezzosoprano Madame Catharina yang hangat dan penuh penjiwaan.Konser bagian I ditutup oleh lagu andalan Teo dan Christine Lubis, yaitu ‘Inflamatus’, sebuah petikan Stabat Mater karya Gioacchino Rossini yang sangat operatik. Tidak heran jika melihat komposernya yang memang seorang ‘bapak opera’ di masa keemasan Bel Canto dan Coloratura dahulu. Teo berhasil membawakan karya ini menjadi suatu epik dramatis, dengan tremolo di nada-nada register bass dan repetisi chord yang melelahkan. Begitu pula Christine yang menerjemahkan lagu ini melalui pendekatan operatik, sehingga Bagian I konser malam itu ditutup dengan nada-nada tinggi cemerlang khas soprano-soprano Italia.


Bagian II
Disinilah pementasan Kantata “Seven Last Words of Christ” ditampilkan. Dengan setting panggung dan koreografi yang sangat bagus arahan sutradara Om Hengky Solaiman, keseluruhan Kantata ini diiringi oleh permainan orgel Christine Mandang. Semestinya diiringi oleh piano (itu pun semestinya diiringi oleh orkestra. Berhubung partiturnya adalah reduction versi piano, maka tadinya mau diiringi oleh piano. Tapi mempertimbangkan suasana pra-Paskah, maka akhirnya pihak SOC merasa lebih baik diiringi orgel supaya suasana gerejawinya terasa).Saya pribadi sebenarnya lebih prefer pada versi piano. Menurut saya iringan versi piano lebih bernuansa zaman Romantik dan sangat French School sekali, mengingatkan pada romantisme Charles Gounod dengan “Divine Redeemer” (Parce Domine) atau “Ave Maria” (yang dari Prelude no 1-nya JS Bach) karena memang Dubois dan Gounod berasal dari era yang sama. Tapi banyak juga penonton yang merasa lebih cocok memakai iringan orgel, katanya suasana spiritualnya lebih terasa.

Well, pendapat apapun ada di muka bumi ini hehe...

6 comments:

Gardagami said...

See Please Here

Althea said...

Thanks for writing this.

hastomi said...

mas Adit belajar piano dari umur berapa?

hastomi said...

mas Adit belajar piano dari umur berapa?

Aditya P Setiadi said...

Halo, saya belajar piano dari usia 6 tahun :)

Panji Ramadhan said...

mas Adit boleh minta partitur lagu seriosa nya?