Tuesday, July 22, 2008

Hubungan antara Vitaly Pisarenko dan Kiri Te Kanawa


Massa membludak di auditorium Erasmus Huis

Sabtu 19 Juli yang lalu saya berkesempatan untuk menonton resital piano Vitaly Pisarenko di Erasmus Huis. Pianis berkebangsaan Ukraina yang lahir tahun 1987 tersebut merupakan juara pertama The 8th International Franz Liszt Piano Competition. Makanya tidak heran jika auditorium Erasmus Huis yang biasanya cukup untuk menampung sekitar 300 penonton, malam itu sangat sesak dipenuhi lautan manusia sejak pk 18.30 (padahal resital dimulai pk 19.30). Untung saya datang sejam sebelumnya, jadi bisa dapat tempat duduk. Saking padatnya orang berdatangan hingga auditorium itu tidak kuasa menampung seluruh penonton, sehingga puluhan orang terpaksa duduk bersila di lantai, bahkan pihak Erasmus akhirnya mengizinkan sebagian penonton untuk duduk di panggung!
Meskipun suasana auditorium penuh sesak, rupanya hal itu tidak mempengaruhi permainan sang pianis. Mengenakan pakaian serba hitam, Vitaly Pisarenko membuka resital all-Liszt program malam itu dengan Valse Impromptu. Melihat permainannya di lagu pertama, sudah mulai nampak sedikit clue mengapa Pisarenko yang masih sangat muda itu bisa menjadi juara pertama di Liszt Competition. Disusul oleh lagu kedua (Polonaise no. 2) membuat seluruh hadirin terpukau. Passage dan cadenza yang begitu sulit dapat dimainkan dengan mudah. Effortless! Bahkan figurasi-figurasi presto dalam susunan oktaf dapat dimainkan dengan sangat cepat, jeli, bersih, seakan-akan not-not tersebut hanya terdiri atas single note, bukan oktaf! Belum lagi penggunaan pedal yang sangat efisien, mendukung setiap passage menjadi bagian yang hidup dan bukan hanya not-not hias bravura semata. Keistimewaan Pisarenko yang lain adalah tone production-nya. Di piano Yamaha Erasmus Huis yang register treble-nya sedemikian “kering”, ia mampu menciptakan pianissimo yang gila banget! Pokoknya yang nggak nonton konser malam itu rugi besar.


Vitaly Pisarenko

Ketika saya masih terkesima dengan permainan Polonaise-nya, Pisarenko membawakan lagu ketiga, yaitu Sonetto 104 del Petrarca. Terus terang, saya banyak sekali mendengar Sonetto 104 tersebut dimainkan oleh pianis-pianis hebat, baik secara live maupun di recording. Masing-masing pianis tentu memiliki versinya sendiri-sendiri, namun di atas jemari Pisarenko sonetto tersebut dimainkan dengan pendekatan sangat liris, pristine, tapi juga tidak melupakan unsur puitisnya. Tone yang digunakannya sangat lembut, berbeda dengan kebanyakan pianis yang cenderung mengambil pendekatan dramatis. Permainannya mengingatkan saya akan salah satu maestro romantik, Jorge Bolet.


Pengalaman pribadi dengan Sonetto no 104 del Petrarca


Saya sendiri memiliki pengalaman tersendiri dengan Sonetto 104 tersebut. Antara lain karena dulu saya menemukan kaset soprano Kiri Te Kanawa bertajuk “Kiri in recital” (sekarang sepertinya kaset atau CD-nya sudah tidak dijual lagi, karena saya sudah cari dimana-mana tapi tidak ketemu) yang berisi sekumpulan Art Songs karya Liszt, Ravel, Rachmaninoff, Granados, dan Obradors. Di kaset itu Kiri menyanyikan beberapa Art Songs karya Liszt, antara lain: Die Lorelei, Comment disaient-ils, Oh quand je dors, dan Pace non trovo. Dari sana saya mengetahui betapa jeniusnya Liszt dalam menciptakan setiap karyanya karena ia menggunakan style komposisi yang berbeda-beda, disesuaikan dengan darimana teks puisi Art Songs itu berasal.

Dame Kiri Te Kanawa

Misalnya Die Lorelei yang teksnya diambil dari puisi karya pujangga Jerman Heinrich Heine, lagunya sangat bernuansa lieder. Nyanyiannya sangat melodius persis seperti lieder karya Mendelssohn dan Schumann, namun di bagian tengahnya yang sedikit dramatik (...Der Schiffer im kleinen Schiffe) mengingatkan akan Erlkönig karya Schubert yang tersohor itu.
Kemudian pada lagu Comment disaient-ils dan Oh quand je dors yang teksnya diambil dari puisi karya pujangga Prancis termasyhur Victor Hugo, terlihat keintiman ala Parisienne yang amat sangat. Nuansanya sangat sublim! Persis seperti gaya chansons Prancis, katakanlah seperti Apres un rêve karya Faure atau Beau soir karya Debussy.
Lagu terakhir dalam rangkaian Liszt Art Songs di kasetnya Kiri Te Kanawa itu adalah Pace non trovo yang teksnya diambil dari sonnet (puisi berima 4-4-3-3) karya pujangga Italia legendaris, Francesco Petrarca (1304-1374). Pace non trovo sendiri adalah Sonetto no. 104 yang diciptakan Petrarca! Liszt kemudian mengambil Sonetto no. 47, 104, dan 123 untuk diangkat sebagai rangkaian karyanya (Tre sonetti del Petrarca) dalam Annees de Pelerinage (Tahun-tahun berziarah) jilid "Italie". Annees de Pelerinage sendiri terdiri atas 3 jilid, dimana 2 jilid pertama bertajuk “Suisse” dan “Italie” yang menggambarkan kematangan Liszt – baik dari aspek komposisi maupun spiritual – dalam karya pianonya. Saya sendiri baru tahu bahwa Liszt juga membuat versi Art Song-nya setelah mendengarkan kaset “Kiri in recital” itu.
Sonetto no. 104 karya Petrarca tersebut menceritakan kegalauan cinta Petrarca terhadap Laura, wanita yang diam-diam dicintainya. Ceritanya: Dulu ketika Petrarca sudah mengabdikan hidupnya sebagai priest, imannya menjadi “goyah” ketika ia melihat seorang wanita bernama Laura de Noves yang kebetulan sedang berkunjung ke gereja tempat Petrarca bertugas. Kemudian sepanjang akhir hidupnya Petrarca menyimpan hasrat terpendamnya terhadap Laura dan diwujudkan dalam karya sonnet-sonnetnya yang terkenal. Dalam versi Art Song-nya, Liszt menggunakan pendekatan idiom Italia yang sangat kental akan unsur dramatis. Melodi-melodinya persis seperti aria opera Italia yang kadang ‘agak’ hiperbola (coba saja dengar petikan aria-aria dari opera Verdi), dibuat persis menggambarkan puisinya yang juga ‘agak’ hiperbola (maksudnya menggebu-gebu) seperti layaknya stereotipe karakter orang Itali yang ‘meledak-ledak’. Mari kita lihat teksnya:


Sonetto no. 104

Pace non trovo, e non ho da far guerra
Aku tidak menemukan kedamaian dari pertempuran ini (pertempuran dapat diartikan sebagai jiwa yang resah karena cinta yang tak tersampaikan)
E temo e spero, ed ardo, e son un ghiaccio
Aku takut, tapi juga berharap, aku terbakar dan membeku menjadi es
E volo sopra ’l cielo e giaccio in terra
Walaupun terbang ke langit tertingi dan menghujam ke bumi
E nulla stringgo e tutto il mondo abbraccio
Tiada satupun yang kuperoleh walaupun seluruh dunia telah kurengkuh

Tal m’ha in prigion, che non m’apre, ne serra;
Cinta menjadikanku tahanan yang tidak ditahan maupun dibebaskan
Ne per suo mi ritien, ne scioglie il laccio
Ia tidak menggenggam, juga tidak membiarkanku pergi
E non m’ancide Amor, e non mi sferra
Ia tidak membunuhku, tidak juga membiarkanku hidup
Ne mi vuol vivo, ne mi trahe d’impaccio
Ia tidak membiarkanku hidup, malah meninggalkanku dengan penuh penderitaan

Veggio senz’occhi, e non ho lingua e grido,
Melalui kebutaan aku melihat keindahan, melalui kebisuan aku menangis
E bramo di perir, e chieggio aita
Aku akan menghilang dari kehidupan ini, tapi akan selalu meminta pertolongan
Ed ho in odio me stesso, ed amo altrui
Aku benci terhadap diriku, tapi mencintai diri yang lain

Pascomi di dolor, piangendo io rido
Aku dibesarkan dalam kesedihan dan melalui air mata aku tertawa
Equalmente mi spiace morte e vita
Bagiku kehidupan dan kematian adalah sama saja
In questo stato son, Donna, per voi
Pengakuan ini, Nona, kutujukan untukmu (untuk Laura)

Kira-kira begitu terjemahannya. Dapat terlihat bahwa perbandingan ekstrem antara “hidup dan mati”, “langit tertinggi dan menghujam ke bumi”, dapat menciptakan efek dramatis. Begitu pula style Kiri Te Kanawa dalam menyanyikan lagu ini pendekatannya sangat opera Italia sekali. Berbeda dengan lagu-lagu sebelumnya yang bernuansa Prancis dan Jerman, Liszt menjadikan Sonetto ini sangat berbeda. Hal ini mengingatkan saya pada masterclass Maria Callas, dimana diva opera tersebut berkata bahwa “One of the great differences between the French and the Italian school of singing lies in how one phrases. In Italian, individual words must be very clear, and certain key words are stressed to give a line shape. In French, the line moves smoothly and without accents.”


Perlu dicatat juga bahwa pendekatan dramatik Liszt terhadap Sonetto no. 104 sepertinya tidak berlaku untuk Sonetto no. 47 dan 123 mengingat kedua karya terakhir tersebut sifatnya liris, mengikuti analogi dari puisinya, meskipun idiom Italia masih terasa dalam tekstur musiknya yang sangat didominasi oleh melodi yang menonjol.

Epilog

Kembali pada resital Vitaly Pisarenko, Sonetto 104 yang dibawakannya begitu liris, berbeda dengan bayangan saya sebelumnya mengenai segala macam unsur dramatik yang melekat pada musiknya. Di beberapa bagian (misalnya di bagian setelah introduksi yang oleh Liszt diberi keterangan "cantabile con passione senza slentare"), tertulis dengan jelas bahwa seluruh bagian harus dimainkan forte - keras, dengan melodi yang sangat menonjol. Namun justru di bagian itu Pisarenko memberikan subyektifitasnya sebagai seorang artis: Ia memainkan seluruh bagian forte dengan sangat pianissimo, didukung oleh sensitifitas yang luar biasa. Meski demikian, kelirisan tersebut nampaknya justru menjadi kekuatan permainan Pisarenko pada karya ini, apalagi dengan permainan tone-nya yang begitu terkontrol. Ia bisa tahu dimana saja bagian-bagian yang mesti pianissimo dan forte, semuanya dikemas dalam kontrol yang luar biasa. Jelas saja unsur puitisnya terasa sekali, konsepnya sangat jelas.
Seorang sahabat yang malam itu juga menonton bersama saya – Gita Bayuratri (ia sedang menyelesaikan studi pianonya di St. Petersburg Conservatory Rusia), berkata pada saya bahwa perbedaan antara St. Petersburg dan Moscow Conservatory (Pisarenko berasal dari Moscow Conservatory): Moscow lebih menciptakan pianis yang subyektif, sedangkan St. Petersburg cenderung lebih konservatif - urtext. Dari situ saya akhirnya mengerti mengapa permainan Pisarenko berhasil menggali interpretasi yang berbeda dari para pianis kebanyakan. Akhirnya saya meninggalkan Erasmus Huis dengan pengalaman yang sangat berkesan, semoga tahun depan Pisarenko kembali lagi main di Jakarta.

6 comments:

Roy Thaniago said...

Halo.. Saya juga ntn resital itu. Keren bgt ya! Ngiri rasanya dgn Pisarenko. Salam kenal, Mas!

Pianistaholic said...

Salam kenal juga. Iya, keren banget resitalnya! Penasaran deh pengen tau dia main karya2 komponis lain seperti apa hehehe... Smoga taun dpn ke Jkt lagi :D

mikebm said...

hahaha... ternyata bung rothan dan bung adit menonton pertunjukan ini...

nyesel juga gak bisa nonton waktu itu, apalagi tampaknya banyak orang yang menikmati konser ini. Apa tanggapan bung adit dengan gaya pemenang kompetisi yang sama tahun lalu?

btw tulisannya panjang juga ya..

Pianistaholic said...

Kalo menurut gw sih lebih bagus Vitaly drpd Christiaan Kuyvenhoven.. hmm tergantung drmn dulu melihatnya ya.. kalo Vitaly konsepnya jelas, tekniknya juga matang sekali, kalo Kuyvenhoven di bbrp tempat masih sedikit kurang mendalam ya.. tapi yg gw inget, dia bisa preserve energi utk main Liszt Funerailles, yg bagian passage2 oktaf bassnya bisa bener2 forte dan bulat.. Kalo Vitaly orangnya kecil, kira2 se-gw lah, tapi powernya juga oke.. di bbrp aspek artistry Vitaly lebih oke drpd Kuyvenhoven.

mikebm said...

kalo sama sun ying di yang menang 3 taon lalu gimana? yang konsernya di GKJ?

Pianistaholic said...

Waktu Sun Yingdi main gw nggak nonton!! Gara2 waktu itu lg ada penelitian dr kampus di Klaten! Grrrr......
Cuma waktu ngobrol2 sm Ka Levi sih katanya bagusan Yingdi.