Friday, August 22, 2008

Aning Katamsi: Memanusiakan Manusia

Refleksi Konser Musik “Tiga Komposer”

Bentara Budaya – 20 Agustus 2008

Saya sebetulnya bingung mau membuat tulisan seperti apa untuk mengenang konsernya Mbak Aning ini. Sepertinya susah sekali untuk menjelaskannya dengan kata-kata karena kalau tidak mengalami dan datang sendiri ke konsernya, tidak akan memperoleh santapan spiritual yang begitu mendalam dari setiap lagu yang disajikan.

Saya speechless malam itu...


Akhirnya saya pikir ada bagusnya kalau lebih baik mengulas memoar tiga komposer yang karyanya disajikan malam itu, soalnya kalau membahas performancenya, wah saya jadi merinding!

Ibu Iravati Sudiarso, Ibu Catharina Leimena, Mbak Aning Katamsi, saya






Kebetulan ada salah seorang musisi senior yang malam itu pulangnya nebeng sama saya (karena kita bertetangga). Oiya, untuk alasan etika, lebih baik saya pakai istilah “informan” saja. Sepanjang perjalanan, informan memuji-muji konser Mbak Aning, juga menyampaikan bahwa semua lagu yang dibawakan malam itu kembali menghadirkan sosok komposer penciptanya yang notabene merupakan kawan lama informan. Informan pada akhirnya bercerita panjang lebar mengenai mereka.


Binsar Sitompul

Misalnya sosok Binsar Sitompul, lagu-lagunya terkenal digubah dengan format triplet-triplet diatas duplet (biasanya tiga lawan dua), terkadang nuansa perenungan dan kerohaniannya sangat terasa. Katakanlah lagu Awan yang merupakan favorit informan, sebenarnya iringannya terdiri atas repetisi-repetisi not yang sama. Namun justru dari kesederhanaan itu, membuat suasana kontemplatif-meditatif sangat terasa – seperti awan-awan yang melayang perlahan, serasa bermimpi, serasa berangan... Bertambah lama lupa di diri, bertambah halus, akhirnya seri... Demikian jiwaku lenyap sekarang, dalam hidup teduh tenang.

Begitu pula dengan lagu Doa yang dibawakan Mbak Aning sebagai lagu pertama. Sejak lirik pertama dinyanyikan, Mbak Aning langsung terjun ke kedalaman jiwa yang amat sangat. Tidak ada tedeng aling-aling, mau tidak mau saya jadi tidak bisa bernafas. Saya ingin berusaha keluar dari jeratan Doa Mbak Aning, tapi rupanya tidak bisa. Magnetnya terlalu kuat sehingga saya HARUS berada di dalam auditorium itu untuk terus menyaksikan kekuatan aura musik yang disajikan. Mungkin itu yang oleh Theodor Adorno disebut sebagai musik yang memiliki aura. Beda moment, akan beda juga pengalaman spiritualnya. Sungguh mengerikan kekuatan Doa Mbak Aning!

*Saya rasa apa yang saya alami tidak berlebihan. Ternyata keesokan harinya ada sms dari soprano Sri Muji Rakhmawati yang mengabarkan bahwa ia baru bisa tidur pukul 4 pagi karena energi konser Mbak Aning sedemikian hebat, masih terngiang hingga membuat orang insomnia!*


Mochtar Embut

Kemudian informan mengenang akan sosok Mochtar Embut yang begitu bersahaja. Dulu pernah sekali waktu ada pengusaha asing yang datang ke Indonesia untuk melakukan dinner lobi bisnis di restoran Oasis (Jl. Raden Saleh). Kebetulan informan diminta jadi penerjemah (karena dulu informan memang pernah lama belajar di negara asal businessman tersebut), sementara Mochtar Embut diminta untuk memainkan piano mengiringi acara dinner itu. Ketika dinner telah selesai, Mochtar Embut menyatakan kekecewaannya pada informan, “Agak gimana ya rasanya kalau habis main nggak ada yang kasih tepuk tangan,” Memang sungguh ironis – seorang komposer yang kini karyanya dinyanyikan oleh soprano-soprano papan atas Indonesia, pada masa mudanya ternyata begitu sederhana dan tidak punya uang. Sampai-sampai informan menyatakan penyesalannya, “Saya tuh dulu kaget sekali loh, kan waktu itu Mochtar Embut meninggalnya di Bandung. Nggak ada yang tahu loh, padahal saya waktu itu juga lagi di Bandung! Dia kasihan sekali, kan kena sakit liver ya, tapi pas mau berobat selalu nggak ada uang. Akhirnya dia bikin lagu-lagu dan dijual untuk biaya pengobatannya!”

Juga mengenai kisah cinta Mochtar Embut yang tak tersampaikan (sudah dibahas di blog ini sebelumnya) sehingga karakter lagu-lagunya selalu romantis. Simple, sederhana, nggak aneh-aneh, tapi justru dari kesederhanaan itu terletak keanggunannya. Coba saja dengar Setitik Embun! Malam itu Christopher Abimanyu membawakannya dengan interpretasi memukau, selain dari dentingan piano Mbak Ratna yang juga sangat menggugah. Kemudian ketika Mbak Aning membawakan tiga lagu dari kumpulan sajak Usmar Ismail “Puntung Berasap”, romantisme itu kembali hadir dalam warna yang lebih gelap, yaitu pada dua lagu pertama (Hidup dan Jika Kau Tahu), sementara di lagu ketiga (Cita-cita) melodinya lebih lincah dan cerah.


F.X. Soetopo

Terakhir adalah F.X. Soetopo. Informan mengenal beliau sebagai seseorang yang arogan, memiliki harga diri sangat tinggi, sehingga “Dulu aja saya kan pernah sampe berantem segala sama Pak Topo,” kata informan. “Makanya karena dia sifatnya arogan, lagu-lagunya selalu bernuansa agresif, penuh gejolak, dan syair-syairnya selalu bersifat sentralistik, banyak ‘aku’-nya,”

Informan tidak bermaksud menjelekkan Pak Topo, melainkan menjelaskan latar belakang yang membentuk bahasa musiknya. “Dan dia itu sangat memegang teguh budaya Jawa ya. Kental sekali,” tambah informan. Selain itu informan juga memuji Pak Topo mengenai kiprahnya sebagai konduktor hebat dan seseorang yang memiliki dedikasi tinggi terhadap musik.

Saya jadi ingat ketika dulu mengambil mata kuliah Antropologi mengenai kebudayaan Jawa. Dalam budaya Jawa, sebenarnya dikenal konsep ingsun sejati. Suatu konsep yang mendalam, bahwa “aku” adalah pengejawantahan dari jagad cilik (mikrokosmos), dimana segala sesuatu itu telah memiliki tatanan dari jagad yang lebih gedhe (makrokosmos). Konsep ke-“aku”-an kemudian menjadi pribadi Jawa. Orang Jawa tidak mengenal sesuatu secara hitam dan putih, melainkan “samar”. Sebagaimana sosok Semar sebagai dhanyang-nya Wong Jowo, dia itu perlambang falsafah: Sebenarnya dia ada, tapi dia tiada. Dalam ketiadaan dia ada; dalam ada, ia tiada. Makanya Semar itu kalau dilihat sebenarnya memiliki garis muka orang tua, tapi rambutnya memiliki kuncung seperti anak kecil. Matanya selalu berurai air mata tanda kesedihan, tapi bibirnya selalu tersenyum. Tidak ada yang tahu semar itu laki-laki atau perempuan, karena disebut laki-laki pun ia memiliki payudara dan bokong seperti perempuan. Dalam pewayangan pun, Semar sebenarnya adalah perwujudan Batara Ismaya (Dewa Tertinggi, melebihi Batara Guru) yang mengejawantah ke bumi menjadi rakyat jelata untuk kemudian menjadi abdi setia bagi Pandawa Lima. Dan Semar selalu berwarna hitam karena dalam kepercayaan Jawa, hitam melambangkan sesuatu yang sunya, sesuatu yang menjadi kesatuan mistis antara pribadi dengan Tuhannya – Manunggaling kawula Gusti.

Oleh karena itu, dalam ingsun sejati, tidaklah ada yang benar dan tidaklah ada yang salah. Semua menjadi suatu kesatuan dalam pribadi Jawa. Oleh karena itu dalam kacamata Jawa, Ken Arok tidaklah salah merebut kekuasaan Tumapel dengan mengorbankan banyak nyawa, toh ia juga memimpin Singhasari dengan adil dan bijaksana. Pak Topo mungkin di satu sisi arogan, tapi mungkin itu terjadi akibat kondisi lingkungan yang membentuknya, toh kiprahnya sebagai musisi besar masih patut diperhitungkan hingga saat ini.

Tidak heran, justru puncak konser malam itu terjadi ketika Mbak Aning menyanyikan lagu Elegi. Pada frase “... Indahnya tiada berarti, indahnya tiada arti,” tiba-tiba Mbak Aning dengan spontan menghentikan suaranya. Rupanya air mata sudah tak tertahankan lagi, ia pun menangis di atas panggung sambil menyelesaikan lagu tersebut. Kenangan akan almarhumah Ibu Pranawengrum kembali hadir melalui lagu tersebut.

Di akhir acara, Mbak Aning sempat mengucapkan permintaan maaf pada penonton atas insiden kecil tersebut. Menurut pendapat saya pribadi, insiden itu justru menjadi titik puncak penghayatan seorang artis besar terhadap apa yang diyakininya. Dalam seni, selalu terkandung nilai humanitarianisme yang tinggi. Seni itu selalu humanis, membutuhkan pengalaman bertahun-tahun untuk bisa mematangkan dan memahami sebuah mahakarya, dimana komposer penciptanya bukanlah orang sembarang, melainkan telah diberi talenta oleh Yang Mahakuasa. Ketika mengartikan sebuah karya seni sama dengan mengartikan suatu makna akan nilai-nilai kehidupan, maka seni itu telah berhasil menjalankan fungsinya untuk memanusiakan manusia.

Proviciat bagi Mbak Aning, Mas Abimanyu, Mbak Ratna atas persembahan musik yang begitu indah!



1 comment:

shei said...

Hai kaka....ne yang nginterview kemaren loooh, inget kahn?? kunjung ke rumah saia ya n_n