Saturday, November 15, 2008

Traveling bersama resital piano Raphael Lustchevsky

Selasa lalu (11 November 2008) saya diundang oleh Kedutaan Polandia untuk menghadiri resital piano Raphael Lustchevsky di Hotel Gran Melia. Resital tersebut diadakan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan ke-90 Republik Polandia dan memiliki format lecture recital, jadi pianisnya akan bercerita mengenai latar belakang suatu lagu sebelum ia memainkannya. Saya sendiri terkesan pada pembawaan sang pianis yang nampak hangat dan bersahabat, juga pada kemampuannya menghadirkan karya-karya komposer sesuai dengan idiom negara asal mereka.

Bersama Raphael Lustchevsky












Tanpa basa-basi, Raphael langsung terjun bebas menuju medan perang dengan Chopin Polonaise op 40 (Military). Seperti layaknya para serdadu yang sedang berbaris, jari-jari lincah Raphael mampu menghangatkan suasana ballroom hotel yang saat itu dingin sekali (saya saja yang pakai jas masih menggigil). Apa mungkin karena pianisnya orang Polandia, rasanya Polonaise op 40 itu pas sekali dibawakan olehnya, meskipun suara piano Petrof nine-feet nampaknya kurang bersahabat dengan akustik ballroom yang memang bukan gedung konser. Sejujurnya saya mengharapkan Raphael memainkan Polonaise op 53 (Heroique) yang gombrang-gombrang itu, tapi ternyata March Militaire cukup asyik untuk didengarkan sebagai kata sambutan.

Lagu kedua adalah Chopin Scherzo op 31. Kali ini sang pianis nampaknya mulai unjuk gigi. Introduksi yang misterius bisa dimainkan dengan pianissimo luar biasa, sangat terkontrol! Ada kontras antara pianissimo dan fortissimo, membuat efek dramatik yang dikemas dalam guyonan Chopinesque. Saya pribadi sangat terkesan pada Scherzi (yang berarti “joke”) karya Chopin, terutama op 31 dan op 39. Jika melihat sisi historisnya, karakter dua Scherzo tersebut bertentangan dengan pribadi Chopin yang kalem dan lembut. Pada kenyataannya banyak karya-karya Chopin yang menggabungkan dua unsur yang bertolak belakang; seperti bagian pertama Fantaisie-Impromptu yang agitato, tetapi bagian duanya lambat dan melodius. Seakan-akan setelah kita berlari tunggang-langgang, selalu ada oase untuk menarik nafas dan instirahat, sebelum kembali lagi berlari-lari. Namun karakter tersebut berbeda dengan Scherzi ciptaannya! Sepertinya humor yang ingin disampaikan Chopin adalah dark joke, selalu ada sedikit sentuhan diabolik yang misterius, kemudian diselingi lelucon-lelucon ringan yang lincah dan riang. Saya membandingkan nuansa diabolikal Scherzo op 31 & 39 dengan dual personality-nya Schumann (Eusebius dan Florestan) atau Liszt (dengan Faust dan Mephistopheles). Habisnya aneh, masa Scherzo yang semestinya lucu, lincah, menyenangkan, ini kok malah penuh unsur dramatik, misterius, dan diabolik: disitulah letak kejeniusan Chopin. Apapun itu, Raphael Lustchevsky telah menghadirkan Scherzo op 31 dengan presisi nada yang akurat, semuanya terukur dan well-played, termasuk pada passage-passage virtuosik yang membutuhkan penguasaan teknik tingkat tinggi.

Dalam suasana yang masih terpukau pada permainan Chopin, Raphael mengajak seluruh penonton untuk berkunjung ke Spanyol. Tidaklah berlebihan jika saya katakan bahwa ajakan tersebut berhasil dengan sukses. Malah saya ingin berada lebih lama lagi di Spanyol untuk sekadar mendengar canciones dari Albeniz Sevilla yang dibawakan dengan begitu indah dan spiritual. Bagian introduksi dari Sevilla memang menggambarkan suasana keriuhan karnaval dan fiesta ala kota-kota mediteranean. Namun ketika bagian dua (canciones) muncul, saya baru melihat betapa mendalamnya penghayatan seorang Raphael terhadap spiritualitas dari setiap tone yang dibunyikan dengan sangat melodius, seakan-akan saya mendengarkan arwah soprano Victoria de Los Angeles hadir di tengah-tengah hadirin.

Tiba-tiba ada Piazzolla Tango! Saya masih di Spanyol tapi sudah dipaksa ke Argentina. Dalam sekejap Raphael pun langsung mengganti suasana menjadi Tango ala Piazzolla yang pasti bernuansa jazz dan melankolis. Tidak usah dijelaskan lagi mainnya seperti apa: Pokoknya bagus! Saya kurang tahu Raphael memainkan Tango Piazzolla aransemennya siapa, karena pada umumnya Piazzolla jarang menuliskan notasi musiknya untuk piano solo. Hal serupa diungkapkan pianis Aisha Pletscher yang malam itu juga hadir, menurutnya musik-musik Piazzolla kebanyakan ditulis untuk format ensemble (dengan alat musik bandoneon) dan banyak sekali aransemen yang dibuat dalam berbagai versi. Jika malam itu Raphael memainkan Tango dengan aransemennya sendiri, berarti aransemennya sukses.

Lagu terakhir adalah Gershwin Rhapsody in Blue. Karya Gershwin yang terkenal ini tentunya memakan stamina yang melelahkan. Justru disitu kehebatan Raphael, ia bisa memainkan karya yang begitu panjang ini dengan passage-passage bravura dan antusiasme tak berkesudahan, sehingga seakan-akan di panggung terdapat satu set orkestra lengkap yang dimainkan oleh sepuluh jari. Penguasaan teknik yang tinggi membuat Raphael tidak memiliki kesulitan memainkan karya ini, seakan-akan effortless. Tentunya nada-nada blues mengalir kesana-kemari, mengakhiri wisata musik saya di tanah Amerika.

Sebagai encore, Raphael mempersembahkan Chopin Fantaisie-Impromptu yang dimainkannya dengan sangat legato dan tanpa banyak pemakaian pedal. Nada-nada terdengar cemerlang meski dalam nuansa agitato. Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa ketika memainkan encore tersebut Raphael sudah hampir kehabisan seluruh tenaganya (tidak heran jika melihat kesulitan lagu-lagu yang sebelumnya ia mainkan).

Sungguh pengalaman yang sangat menyenangkan. Akhirnya setelah puas menyaksikan resital, giliran memuaskan perut karena acara dilanjutkan dengan gala dinner :-D

2 comments:

Admin said...

Haloo kak adit, salam kenal. Ak seneg bgt baca blog na kakak. Kebetulan ak kerja disebuah kurus piano. Dan saat ini jg sedang mencoba belajar mengenal piano (lgi belajar marriage d'amor tp bru bisa 2bar hehehehe). . . Nice blog =). And amazing experience. . .

Pianistaholic said...

Thank you! Udah lama ngga update blognya juga nih hehe..