Sunday, April 26, 2009

Midori Goto & Friends

Persembahan Musik Strings Kelas Dunia

Pada tanggal 22 Desember 2008 yang lalu saya dan rekan-rekan pengajar Sekolah Musik YPM mendapat kehormatan untuk menyaksikan pergelaran musik violist kelas dunia Midori Goto dalam sebuah enchanted evening yang diadakan di Kediaman Duta Besar Jepang di Jl. Daksa V, Senopati.

Malam itu rumah kediaman Dubes Jepang nampak meriah oleh para tamu yang sebagian besar berasal dari kalangan diplomatik dan violis-violis muda berbakat YPM. Konser privat yang diadakan dalam rangka memperingati 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Jepang tersebut mengusung tema “Music Sharing Concert”, dimana Midori Goto selaku penggagas organisasi internasional “Music Sharing” hadir di Indonesia untuk memperkenalkan musik klasik sebagai sarana pendidikan, terutama bagi komunitas yang kurang beruntung mendapatkan akses menuju pembelajaran musik klasik. Di antara kesibukannya di Indonesia, pada malam itu Midori mengajak ketiga rekannya: Carmen Flores (Viola), Martin Smith (Cello), dan Tee Khon Tang (Violin) untuk membawakan karya-karya dalam format kuartet gesek (String Quartet).

Etika Jepang yang tinggi & Penampilan konser yang memukau
Konser diadakan di sebuah ruangan yang cukup besar, yang nampaknya sering dipakai untuk acara perjamuan kedutaan. Sebelum konser dimulai, suasana terasa sedikit tegang karena aura tata krama Jepang yang konservatif benar-benar kental sekali. Saya perhatikan, orang Jepang nampaknya sangat disiplin sekali soal waktu dan memiliki etika yang sangat tinggi, bahkan menurut saya tergolong agak kaku. Sebagai contoh, di deretan depan saya duduk para petinggi Jepang yang sejak duduk hingga konser dimulai sama sekali tidak menggerakkan kepalanya sedikitpun. Saya membandingkannya jika sedang menghadiri konser-konser di Erasmus Huis, Goethe Haus, atau Gedung Kesenian Jakarta, dimana para penonton yang sudah datang dan duduk pasti akan mengobrol sambil menunggu pertunjukan dimulai. Di konser malam itu, bahkan ada seorang ibu-ibu jepang yang anggun, duduk terpaku dengan tegak dan sama sekali tidak menggerakkan kepalanya, kecuali saat ada penonton lain yang baru tiba (orang Jepang juga) dan kebetulan mereka saling mengenali, terjadilah sapa-menyapa ala Jepang dengan saling membungkukkan badan. Setelah itu si ibu kembali duduk tenang dengan anggun. Saya perhatikan rata-rata tamu yang berkebangsaan Jepang melakukan hal yang sama, sehingga meskipun konser belum dimulai, suasana sudah sunyi mencekam.
Di tengah kesunyian tersebut, tiba-tiba muncul rombongan diplomat asing (bule) dengan ribut dan setelah duduk langsung ber-haha-hihi dengan suara keras. Dari sana saya belajar, mungkin memang demikian perbedaan kebudayaan Timur dan Barat. Mungkin orang Timur lebih introvert, sedangkan Barat ekstrovert. Walaupun tidak semuanya demikian, namun perhatian saya pada mereka buyar setelah Midori & Friends memasuki ruangan dan konser pun segera dimulai.

Lagu pertama adalah String Quartet No. 42 in C Major (Op. 54 No. 2) karya Joseph Haydn. Dengan kepiawaian jemarinya, Midori berhasil membawakan karya klasik tersebut dengan format sonata yang kokoh. Para musisi yang lain pun nampak bisa mengimbangi permainan Midori dengan teknik yang tinggi. Presisi dan keakuratan nada, pitch, termasuk ornamentasi bisa dimainkan dengan jernih.

Lagu kedua merupakan karya komponis Indonesia Ananda Sukarlan berjudul Lontano. Dilihat dari judulnya – Lontano – yang berarti “Dari Kejauhan” nampaknya bercerita mengenai kenangan akan seseorang yang sedang berada nun jauh disana. Karya yang memiliki harmoni modern tersebut dibawakan oleh Midori & Friends dengan mood melankolik cenderung lamentoso – mengeluh. Melodi-melodi yang saling bergantian antar-instrumen bisa dikeluarkan dengan cermat dan terbentuk dengan baik.

Lagu ketiga adalah String Quartet in G minor karya Claude Debussy yang menurut saya merupakan the best shot dari kelompok ini. Sejak permulaan Midori & Friends langsung terjun membawa mood penonton bercampur-aduk. Kekuatan kelompok Midori memang terletak pada penyuguhan format karya yang kokoh, dapat diasumsikan bahwa mereka pasti telah bekerja keras untuk bisa membina kekompakan kelompok tersebut. Melodi-melodi Debussy mengalir indah, dengan harmoni-harmoni yang memukau, dan permainan gradasi dinamik yang sangat luar biasa. Dalam keakuratan yang amat sangat, mereka bisa membangun sebuah garis melodi dengan dinamik dari pianissimo hingga fortissimo dalam kesatuan gerak yang utuh, tanpa cela! Benar-benar sebuah pertunjukan yang memukau sehingga semua penonton standing ovation.















Setelah konser berlangsung, Midori & Friends membuka sesi tanya-jawab untuk penonton, terutama diperuntukkan bagi para musisi cilik YPM yang turut hadir disana. Diantaranya ada yang bertanya: Bagaimana caranya membina kekompakan yang sangat erat, padahal Midori & Friends itu baru dibentuk selama beberapa bulan. Midori menjawab bahwa rekan-rekannya malam itu dipilih melalui seleksi yang sangat ketat. Selain dari segi penguasaan teknik dan musikalitas (yang sudah pasti jadi syarat utama), dilihat pula personality dari masing-masing individu. Bahkan tahap seleksinya hingga wawancara terhadap teman-teman atau sahabat dari para nominee yang akan masuk audisi, mengenai bagaimana keseharian mereka. Jadi selain dari ability di bidang musik, mereka yang tergabung dalam Midori & Friends (organisasi “Music Sharing”) sudah pasti memiliki attitude dan komitmen yang kuat terhadap musik. Selain itu, tentu saja: “Practice makes perfect”, tambah Tee Khon Tang.

Resepsi
Setelah konser berlangsung, ada resepsi berupa makan malam bersama. Saat itu saya dan beberapa rekan, termasuk pengajar violin Bu Inge Karyadi, sempat ngobrol-ngobrol dengan Midori & Friends. Mungkin karena jadwalnya yang sangat padat, Midori tidak bisa terlalu lama berada disana sehingga segera kembali ke hotel. Beruntunglah saya dan beberapa rekan yang sempat mengambil foto bersama Midori.

Bersama Midori Goto


Kami juga sempat berkenalan dengan Duta Besar Jepang (His Excellency Kojiro Shiojiri) yang ternyata ramah sekali. Beliau bercerita bahwa apresiasi musik klasik di Indonesia cukup baik, hal tersebut terlihat ketika Midori mengadakan pertunjukan charity di sebuah SD, rupanya para siswanya sangat antusias untuk bisa menyaksikan pertunjukan dalam format String Quartet. Di Jepang sendiri anak-anak kecil sudah diperkenalkan dengan musik sejak dini, termasuk Bapak Dubes yang dulu sempat memainkan akordeon.

Malam itu kami juga dijamu oleh Ibu Dubes (Her Excellency Nobuko Shiojiri) yang sangat anggun dan soft-spoken. Dengan sangat halus dan penuh tata krama beliau menyampaikan rasa terima kasih yang sangat mendalam atas partisipasi kami pada konser malam itu. Kemudian beliau bertanya, siapa lagi musisi Jepang yang kami ketahui selain Midori? Saya jawab saja: Mitsuko Uchida. Kemudian beliau mengangguk-angguk sambil tersenyum :)

















Meeting dengan Tee Khon Tang
Sungguh beruntung, keesokan harinya salah seorang anggota Midori & Friends (Tee Khon Tang) menghubungi Bu Inge jika sekiranya kami bisa bertemu dengannya untuk sekadar ngobrol-ngobrol. Bu Inge kemudian menelpon saya untuk segera membuat janji bertemu di Hotel Intercontinental bersama Tee Khon Tang.
Malam itu seusai konser di Yayasan Musik Jakarta (YMJ), Tee Khon Tang menemui kami di Citywalk Sudirman. Ia adalah seorang musisi muda yang antusias dan memiliki kecintaan pada musik yang sangat mendalam. Ia membagi pengalamannya pada kami bahwa jalan menuju musik tidaklah segampang yang dipikirkan orang-orang, apalagi di zaman serba instan seperti saat ini. Prosesnya sangat panjang dan membutuhkan komitmen 100%. Oleh karena itu, selain harus memiliki kecintaan terhadap musik, ia menekankan bahwa setidaknya setiap musisi harus bisa menemukan jatidirinya dulu sebelum benar-benar terjun ke musik.

“Who am I?” katanya. Sebelum bisa menemukan jawabannya, sebaiknya tidak mengambil musik karena di tengah jalan pasti banyak godaan. Ia memberi contoh mengenai teman asramanya (ketika dulu masih sekolah di New England Conservatory) yang menjadi gila dan nekat bunuh diri karena tahap pencariannya akan hakiki kehidupan tidak bisa terpenuhi. Saya kok jadi ingat potongan aria opera Tosca karya Puccini “Vissi d’arte, vissi d’amore” yang artinya kira-kira “Saya hidup untuk seni, saya hidup untuk cinta”. Memang jika ingin melakukan suatu komitmen, harus dengan cinta. Menikah pun harus berdasarkan cinta kan?
Akhirnya pertemuan malam itu berakhir di lobby Hotel Intercontinental dengan pengalaman yang tak terlupakan. Terima kasih untuk Midori & Friends yang telah membagi pengalaman musiknya, sungguh suatu kenangan manis.


Bersama Tee Khon Tang












PS: Untuk Bu Inge yang jika kebetulan membaca tulisan ini, pasti tertawa terbahak-bahak.

No comments: