Saturday, May 23, 2009

Konser 25 Tahun Paragita

Setelah menonton Duo Akordeon yang fantastik, saya bergegas ke Usmar Ismail yang terletak tidak begitu jauh dari Erasmus Huis. Paragita (Paduan Suara Mahasiswa Universitas Indonesia) menggelar “Silver Birthday Concert” yang nampaknya sayang untuk dilewatkan.
Saya sendiri selalu menyempatkan untuk menonton Paragita karena paduan suara tersebut telah memberikan begitu banyak pengalaman dan pelajaran dalam kegiatan bermusik saya. Mbak Aning Katamsi selaku konduktor Paragita telah memberikan banyak masukan mengenai cara mengiringi paduan suara yang ternyata lebih sulit daripada mengiringi solo vokal atau biola. Dalam paduan suara perlu ada interaksi antara pianis, konduktor, dan paduan suaranya sendiri sehingga konsentrasi harus dipecah-belah. Kadang ada kalanya paduan suara kurang pas dengan aba-aba konduktor – atau sebaliknya (namanya juga paduan suara, kita pasti berurusan dengan puluhan penyanyi) – sehingga pianis harus pintar-pintar mencari akal agar suatu performance dapat berlangsung tanpa ada pihak yang dirugikan. Tentu beda dengan mengiringi solo vokal – dimana interaksi hanya terjadi antar pianis dan vokalis – mengiringi paduan suara (apalagi sekelas Paragita) butuh latihan serta trial and error.

Babak I
Pada babak pertama, paduan suara yang terdiri atas para mahasiswa yang masih aktif kuliah itu langsung meluncur dengan All Things Bright and Beautiful (John Rutter). Konduktor Agus Yuwono alias Nyonyon membawa lagu tersebut dalam tempo diatas rata-rata, diiringi jemari lincah pianis Bali Susilo. Tempo yang flowing dan luwes mengangkat lagu tersebut menjadi cerah dan indah, sesuai judulnya. Setelah itu, masih dengan iringan piano Bali Susilo, Nyonyon mengarahkan lagu Home is a Special Kind of Feeling (Rutter) dengan sedikit relaksasi, membawa nuansa nostalgia dan menarik untuk terus didengar.
Sejenak konduktor berganti menjadi Adji Kasyono memimpin lagu Dashing Away with a Smoothing Iron dan O Waly, Waly (Rutter) dengan keluwesan dan perhatian akan detail seperti dinamik dan perubahan tempo. Gaya conducting Mas Adji cenderung luwes dan elegan, sedangkan Nyonyon lebih berapi-api dan penuh passion. Meskipun demikian, pada The Girl I Left Behind Me (Rutter) yang merupakan lagu terakhir pada seksi “John Rutter Collections”, Nyonyon bisa memimpin paduan suara dengan khidmat.

Seksi kedua adalah “The Beatles Collections” yang dimulai dengan Here, There, and Everywhere dan Beatles in Revue (a Medley). Terus terang highlight konser di babak pertama adalah The Beatles ini. Medley-nya menampilkan rangkaian lagu-lagu hits The Beatles yang asik banget, membuat para penonton tak kuasa menahan badannya untuk bergoyang mengikuti irama. Saya bukan penggemar berat The Beatles, tapi setelah mendengarkan mereka membawakan lagu ini dengan sedemikian menariknya, sepertinya saya merasa harus memiliki beberapa album The Beatles (paling tidak yang lagu-lagunya mereka nyanyikan). Iringan piano Bali Susilo yang penuh nuansa jazz menambah semarak suasana.

The Beatles Collections dibawah pimpinan Nyonyon

Seksi ketiga adalah "Birthday Madrigal" yang keseluruhannya karya John Rutter. Sebenarnya Madrigal adalah jenis komposisi vokal profan dari zaman Renaissance (berbeda dengan komposisi vokal zaman itu yang notabene bersifat religius). Di abad 20 lantas komponis John Rutter mengadopsi style madrigal itu dan membuat Birthday Madrigal (yang terdiri atas It was a lover and his lass; Come live with me; When daisies pied) dengan nuansa jazz yang kental. Elemen vokal “fa-la-la” yang merupakan ciri khas English Madrigal (yang membedakannya dengan Italian Madrigal) diadopsi oleh Rutter, menjadi sangat menarik untuk didengar. Kali ini iringan pianonya adalah Haris Pranowo (kebetulan teman satu angkatan saya di YPM, tapi setelah lulus Haris lebih memilih untuk memperdalam jazz) sangat kentara sekali jazz-nya. Dengan tone concert yang besar, Haris bisa mengiringi nada-nada jazz seolah-olah hal itu terjadi dengan spontan (padahal baca partitur). Menyenangkan sekali untuk didengar.

Babak II
Keseluruhan Babak Kedua merupakan Tribute to Lilik Sugiarto. Pak Lilik yang terkenal sebagai arranger lagu-lagu paduan suara, merupakan pelatih pertama Paragita. Lebih spesialnya lagi, di babak kedua ini anggota paduan suaranya merupakan gabungan alumni Paragita yang sudah menjadi anggota sedjak 1983 (saya sadja beloem lahir). Meskipun demikian, kualitas penampilan yang prima masih terlihat dengan jelas, antara lain berkat latihan intensif yang dipimpin oleh Mbak Aning Katamsi sejak bulan Maret.

Dengan tongkat komando Mbak Aning, babak kedua dibuka dengan Doa yang syahdu, dilanjutkan dengan Bumiku Indonesia yang sangat terkenal itu. Dengan kekompakan yang solid, tante-tante dan om-om itu bisa membawakan lagu yang begitu sulit dengan gradasi dinamik dan kecermatan tempo yang terjaga, blending suaranya pun terdengar menyatu. Ditambah dengan penampilan layar display mengenai Bencana Situ Gintung, memang nyata benar bahwa Bumiku Indonesia kini kian sengsara.

Paduan Suara Alumni Paragita dibawah pimpinan Aning Katamsi


Program dilanjutkan dengan penampilan lagu daerah seperti Dayuang Palinggam, Jali-Jali, dan Cik Cik Periuk. Nampaknya lagu-lagu daerah ini merupakan "lagu kojo" Paragita ketika di era 80 dan 90-an sering mengikuti kompetisi ke luar negeri. Memang salut melihat penampilan tante-tante dan om-om itu, setelah sekian lama (mungkin) meninggalkan dunia paduan suara, berkeluarga dan bekerja, masih bisa kembali pada suatu kualitas yang patut diacungkan jempol.

Selamat dan sukses selalu bagi Paragita!

No comments: