Wednesday, May 20, 2009

Renungan dibalik konser “Seuntai Melati bagi Kartini Indonesia”

Tak terasa sudah sebulan lewat saya dan kawan-kawan tampil dalam konser seriosa dan aria opera di Griya Jenggala, dalam rangka memperingati Hari Kartini 21 April 2009.Terima kasih kepada Bapak Arifin Panigoro yang telah menyediakan tempat berupa concert hall yang memadai, juga pada Bapak Dedi Panigoro selaku pemrakarsa konser yang telah memberikan kebebasan bagi saya dan kawan-kawan untuk merancang keseluruhan program. Konser tersebut telah diulas dalam blog Pak Dedi di:

http://dedipanigoro.blogspot.com/2009/05/seuntai-melati-bagi-kartini-indonesia.html




Kendati telah sebulan berlalu, namun hingga saat ini saya masih berhutang budi pada Madame Catharina Leimena yang dengan segala dedikasinya telah membantu kami para musisi muda ini untuk memberikan masukan artistik yang tak ternilai. Oleh karena itu, sebenarnya konser tanggal 21 April tersebut memang benar didedikasikan pada “Para Kartini Indonesia”, salah satunya adalah Madame Catharina sendiri yang hadir malam itu.

Proses menuju suatu rangkaian resital yang benar-benar solid memang tidak gampang. Saya sendiri beberapa kali sering terlibat perselisihan dengan para solis, terutama dengan tenor Imanuel Bimo dan soprano Sri Muji Rakhmawati.

Mengenai Seriosa Indonesia
Beberapa pertanyaan sampai saat ini masih terus berada dalam benak saya, antara lain mengenai interpretasi terhadap musik seriosa Indonesia (yang kini makin jarang diperdengarkan itu). Bimo berkeinginan untuk membawakan lagu-lagu seriosa dengan pendekatan opera: Ia ingin menggunakan teknik menyanyi opera chiaro-oscuro (terang-gelap) yang merupakan classic Italian schooling, sehingga memberikan efek dramatik terhadap lagu-lagu seriosa yang biasanya dibawakan dengan liris oleh Pranawengrum Katamsi.
Yang saya permasalahkan adalah mengenai “bagaimana seharusnya lagu tersebut dibawakan”. Dengan tidak melakukan copy-paste terhadap interpretasi Pranawengrum Katamsi, menurut saya lagu-lagu seriosa Indonesia bisa dibawakan dengan mannerism yang tidak terlalu bergelora dan tidak terlalu “operatik”. Ibu Catharina sendiri beberapa kali berdiskusi dengan saya; lagu-lagu seriosa Indonesia memang seharusnya dibawakan dengan liris dan clear. Ketika saya berdebat dengan Bimo, ia bersikukuh bahwa jika dibawakan dengan style liris, unsur emosi dan drama kurang terasa, sementara itu Bimo yang besar dalam tradisi opera Italia bersikukuh untuk membawakan lagu-lagu seriosa Indonesia dengan style operatik.

Mengapa saya selalu kembali kepada interpretasi Pranawengrum? Karena almarhumah merupakan “Ibu Seriosa Indonesia”. Beliau memiliki keeratan hubungan dengan para komponis lagu-lagu seriosa, beliau tahu bagaimana seharusnya lagu-lagu para komponis itu dinyanyikan.

Saya sadar bahwa Bimo sebagai solis memiliki otoritas yang lebih besar daripada pianis pengiringinya, tapi saya memiliki keyakinan bahwa tugas seorang musisi adalah menyampaikan apa yang ditulis oleh komposernya pada khalayak. Jika tidak, percuma saja donk komposer-komposer meletakkan tanda dinamik, tanda tempo, tanda ekspresi... atau bahkan percuma saja kita belajar sejarah musik atau musikologi. Silahkan saja membawakan musiknya sesuka Anda!

Apa lantas mau seperti itu? Menurut saya usaha manusia selama ini untuk mempelajari background penciptaan suatu musik, belajar sejarah musik, musikologi, analisis karya, tujuannya tidak lain adalah agar dapat menyajikan musik tersebut sesuai dengan tuntutannya. Jika kita tidak belajar hal-hal seperti itu, bukannya tidak mungkin Wohltemperiertes Klavier Bach akan dimainkan dengan style Chopin, atau mungkin Sonata No. 2 Rachmaninoff akan dimainkan persis seperti kita memainkan Facile KV 545 Mozart.

Logikanya, apabila bagi komposer-komposer yang sudah beratus tahun meninggal saja kita masih mau mencari hakikatnya, semestinya hal tersebut bisa lebih digali lagi bagi lagu-lagu seriosa Indonesia yang jejak artistiknya masih dapat kita dengar dari cerita-cerita Aning Katamsi, Catharina Leimena, atau sekadar mendengarkan CD lagu-lagu seriosa Pranawengrum Katamsi.

Sekali lagi saya tidak ingin siapapun meniru interpretasi Pranawengrum, namun alangkah baiknya jika jejak artistik dari musisi-musisi terdahulu dapat kita cerna dengan bijaksana sebelum memutuskan untuk membuat interpretasi sendiri. Bukannya tidak boleh (membawakan lagu-lagu seriosa Indonesia dengan style operatik) namun sebaiknya kita hormati dulu keinginan para komposer: bagaimana mereka menginginkan karya mereka dibawakan.
Intinya: Alangkah baiknya jika kita dahulukan artistical demands dari para komposer, diatas ego pribadi kita.

Mengenai Aria opera
Hal berikutnya yang membuat saya sedikit geram adalah ketika berdiskusi dengan Sri Muji Rakhmawati, soprano berbakat dengan suara cemerlang. Saat itu kita sedang latihan aria Vissi d’arte dari opera Tosca (Giacomo Puccini). Sebuah aria yang sangat demanding, baik dari segi teknik dan interpretasi. Saya sendiri sudah nonton berbagai DVD Tosca, berpuluh soprano menyanyikan aria itu, juga sudah ikut workshop Ibu Catharina mengenai pemutaran video "Il Bacio di Tosca", film dokumenter arahan sutradara Daniel Schmid yang mengisahkan tentang interpretasi opera Tosca dari zaman ke zaman, very interesting!

Tentunya saya ingin membagi pengalaman tersebut dengan Wati. Saya cerita bahwa “Kiri Te Kanawa di bagian perchè me ne rimuneri cosi diberi gradasi dinamik yang besar sekali,” atau “Caballé bagian klimaks perchè Signore disambung terus hingga pause, nafasnya panjang sekali,” atau “Renata Tebaldi di bagian akhirnya tidak singhiozza (seperti yang ditulis oleh Puccini), tapi lebih ke tenerezza,” atau “Betapa Callas bisa membawakan Vissi d’arte dengan ekspresi yang sangat jujur,”...

Tiba-tiba Wati memotong, “Adit, boleh tidak Wati membawakannya ala Wati saja?”

For God’s sake! Saya tidak pernah menyuruh Wati untuk meniru soprano manapun! Yang saya lakukan hanyalah: Membagi cerita, membagi pengalaman terhadap apa yang telah saya dengar, apa yang saya rasakan. Untuk apresiasi saja, tidak lebih! Sangat disayangkan, mengapa setelah saya bercerita panjang lebar tentang enjoyment mengenai Tosca, kok tanggapannya begitu amat. Agak tidak nyambung malah menurut saya.

Maksud saya berdiskusi mengenai Vissi d’arte pun supaya dapat tercipta wawasan yang luas mengenai opera tersebut. Tosca adalah opera favorit saya, mungkin itu sebabnya saya tahu banyak dan senang sekali jika bisa membagi kecintaan tersebut pada orang lain.
Saya tidak pernah mempengaruhi orang untuk melakukan interpretasi ini atau itu. Saya pribadi berpendapat; apabila seorang musisi menemui kesulitan dalam hal-hal teknis seperti hitungan atau baca not, itu masih bisa dimaklumi. Namun apabila ia sudah mulai ignorance atau lack of knowledge terhadap karya yang dibawakannya itu, wah bahaya. Bisa-bisa opera dari era verismo dibawakan dengan gaya menyanyi opera Mozart!

Tentang Diri Saya Sendiri
Hal ketiga adalah mengenai stamina ketika konser sedang berlangsung. Ini menjadi sebuah pembelajaran bagi saya bahwa mengiringi keseluruhan konser seorang diri ternyata melelahkan sekali. Dari 18 karya yang dibawakan, acara terbagi menjadi 2 bagian (tanpa intermission), yaitu 12 karya seriosa Indonesia dan 6 petikan aria opera.
Ternyata mulai memasuki bagian 2, stamina saya mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan, antara lain konsentrasi terasa menurun sekali. Oleh sebab itu, sangatlah penting mempersiapkan diri 200% (seperti yang dikatakan Ibu Iravati Sudiarso) sebelum tampil, sehingga pada saat konser kualitas permainan kita masih 100% (dari 200% dikurangi hal-hal yang bisa mempengaruhi penampilan, seperti rasa gugup, kelelahan, atau berkurangnya stamina).
Tidak heran, seusai konser, saya dikritik Ibu Catharina: Semestinya iringan untuk opera bisa lebih “vulgar” dan “ekstrovert” dengan energi yang meluap-luap, persis seperti menghadirkan orkestra besar dengan tuts piano. Malah, kap piano bisa dibuka full, tidak half seperti yang biasa untuk mengiringi lieder.

Untunglah konser berlangsung dengan selamat dan mendapat sambutan yang meriah dari penonton. Ketiga solis (Bimo, Wati, Christine) telah menunjukkan kemampuan musikalnya yang luar biasa, benar-benar all out dan tidak mengecewakan. Terima kasih atas kerja keras yang penuh dengan dedikasi!

Saya ingin menekankan, tulisan di blog ini tidak bermaksud untuk mendiskreditkan siapapun, melainkan sebagai suatu pengalaman dan pembelajaran atas usaha pencarian artistik yang lebih baik. Akhirnya saya berkesimpulan, perbedaan pandangan bisa terjadi karena adanya perbedaan schooling. Saya jadi ingat ungkapan pianis Gita Bayuratri yang sedang menyelesaikan studinya di St. Petersburg, ketika itu saya bertanya mengenai perbedaan schooling antara Moscow dan St. Petersburg Conservatory, dimana yang satu lebih menekankan kebebasan interpretasi performer, sementara yang lain menekankan keutuhan interpretasi berdasarkan urtext. Yang mana yang lebih bisa disebut sebagai The True Artist?

Gita menjawab, “Ya kita harus kembali lagi, sebenarnya Artist itu sendiri apa?”

Memang benar, kendati saya dan para solis berbeda schooling, pada kenyataannya Bimo bisa membawakan seriosa Indonesia dengan molto appasionato, begitupun dengan Wati yang ketika membawakan Vissi d’arte sampai nangis beneran. Jangan tanya Christine, yang memang salah satu soprano papan atas Indonesia. That’s the miracle :)

Congratulations!


Aditya Pradana Setiadi, Sri Muji Rakhmawati, Imanuel Bimo, Christine Lubis

No comments: