Sunday, August 23, 2009

Resital Piano Oerip Santoso

Pak Oerip adalah pemain lama di ranah musik klasik Indonesia. Beliau sejak dahulu kala merintis karir piano dan akademisnya (dengan berbagai macam gelar akademik yang lintas batas), menunjukkan akar kulturalnya yang sangat kuat.

Pak Oerip mulai belajar piano pada usia 6 tahun di Sekolah Musik YPM pada Tine Droop, Franz Szabo, Anwar Soenario, hingga lulus tingkat Persiapan Konservatorium III dibawah bimbingan pianis Soetarno Soetikno pada tahun 1965. Pak Oerip sendiri adalah dokter, tapi ia melanjutkan gelar Master of Science in Computer di University of Wisconsin-Madison, universitas yang sama dimana ia juga mengambil studi piano dibawah bimbingan Prof. Gunnar Johansen. Lebih mengagumkan lagi, Pak Oerip melanjutkan studi pianonya dibawah bimbingan maestra pianis Madame Magda Tagliaferro di Paris, bersamaan dengan menyelesaikan Doktor Informatika di Universitas Paris VI. Bersamaan dengan karirnya yang gemilang itu, ia juga kerap kali mengadakan resital piano tunggal di Jakarta, Bandung, Paris, Hamburg, dan Berlin.
Pada tahun 1991, Pak Oerip menerima bintang tanda jasa Chevalier des Arts et des Lettres dari pemerintah Prancis atas prestasinya di bidang musik. Sebuah penghargaan prestisius, dimana penerimanya antara lain melibatkan nama-nama besar seperti Rudolf Nureyev, Philip Glass, Ned Rorem, Sherrill Milnes, hingga Yohji Yamamoto, Jude Law, dan George Clooney.
Saat ini, Pak Oerip menjabat sebagai Ketua Program Studi Magister Informatika ITB.

Melihat riwayat pendidikannya yang sangat "intimidating", rasanya berkaitan erat dengan keluarganya, dimana ayah Pak Oerip adalah Bapak Psikologi Indonesia: Prof. Dr. Slamet Iman Santoso yang mendirikan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Salah satu kakak Pak Oerip, Dr. Boen Sri Oemarjati adalah pengajar di dua fakultas di UI: MIPA (Biologi) dan Sastra! Sementara kakaknya yang lain, Prof. Dr. Soeprapti Soemarmo Markam adalah profesor di Fakultas Psikologi (Klinis) UI. Kebetulan Bu Prapti adalah juga pianis handal, dan beliau hingga saat ini mengajar Psikologi Musik di YPM. Saya selama dua tahun pernah menjadi muridnya. Maka, tidak heran apabila Pak Oerip berkiprah di berbagai bidang karena ia berasal dari keluarga pendidik yang berdedikasi.


Bersama Pak Dedi Panigoro, Pak Oerip, dan soprano Sri Muji Rakhmawati
setelah resital di Griya Jenggala, Januari 2009.

Saya sendiri beberapa kali pernah menonton Pak Oerip bermain piano. Pertama kali jika tidak salah, ketika acara konser komponis Trisutji Kamal. Waktu itu Pak Oerip berduet dengan Iswargia Sudarno memainkan "Suite Gunung Agung" yang penuh dengan idiom musik gamelan Bali. Penampilan yang kedua adalah pada 17 Januari 2009 di Griya Jenggala milik Pak Arifin Panigoro, dimana program malam itu adalah:

J.S. Bach/Myra Hess – Jesu, Joy of man’s desiring
Ludwig van Beethoven – Sonata op 27 no 2 “Moonlight” (3 bagian)
Amir Pasaribu – Variasi Sriwijaya
F. Chopin – Fantasy Impromptu op 66
F. Chopin – Polonaise in g# minor
C. Debussy – Danse

Kesempatan ketiga saya menyaksikan resital Pak Oerip adalah 19 Agustus 2009 yang lalu di Goethe Haus. Programnya adalah:

J. Haydn – Sonata As Mayor Hob XVI/43 (3 bagian lengkap)
Felix Mendelssohn – Variation sérieuses op 54
Krisantini Markam – Mother’s Day, Dance, Bali Music
M. Ravel – Sonatine (3 bagian lengkap)

Secara umum, gaya permainan Pak Oerip sangat tenang. Tidak banyak gerakan yang tidak perlu, semua not terukur dengan rapi dan ada kontrol yang hebat. Shaping dan phrasing dikerjakan dengan teliti sekali, terutama ketika ia memainkan karya-karya dalam format sonata. Seperti pada Sonata Haydn, selain dari pembentukan kalimat yang baik, Pak Oerip bisa memainkan dinamik forte dan piano dengan sangat mudah. Untuk bisa bermain seperti itu, tentu dibutuhkan perangkat jari yang kuat. Dan saya penasaran, di tengah kesibukan Pak Oerip sebagai akademisi dan pejabat di ITB, kapan kiranya beliau ada waktu untuk mempelajari semua repertoire dengan detail seperti itu? Kok bisa ya? Kapan latihannya?

Di karya kedua (Mendelssohn – Variation sérieuses) lebih terlihat lagi ke-“seriusan” Pak Oerip dalam menggarap karya sulit nan penuh dengan polifonik dan kromatik itu. Variation yang merupakan salah satu karya terpenting Mendelssohn tersebut memperlihatkan pengaruh komposisi counterpoint komposer favorit pendahulunya: J.S. Bach. Saya membayangkan, bagaimana cara Pak Oerip melatih not-not di Variation itu. Yang dibutuhkan tentu saja Mental Practice, dalam arti: Penguasaan harmoni dan analisis teori haruslah kuat!
*Saya tidak tahu ya, ini hanya asumsi saya saja, karena jika belajar lagunya benar-benar cuma memainkan not satu persatu dari awal, kemudian dihafalkan, rasanya mustahil bisa selesai. Yang ada malah frustrasi.

Resital Goethe Haus, Agustus 2009.

Kemudian ada komposisi miniatures karya Krisantini Markam, komponis muda yang menetap di Australia. Krisantini ini adalah putri Bu Prapti, yang berarti keponakannya Pak Oerip. Mendengar miniatures karya Krisantini ini, saya jadi teringat komposer Alexandre Tansman yang juga membuat miniatures sebagai impresinya ketika mengelilingi dunia, yaitu "Le Tour du Monde en Miniature", dimana di dalamnya ada judul-judul yang menarik seperti “La Flute de Bambou dans la forêt de Bandoeng" (Suara seruling bambu di tengah hutan Bandung), dan "La Gamelang de Bali (Wayang-theatre d'ombres)".

Dengan impresi mengenai “Ibu yang duduk sendiri di teras depan rumah” (Mother’s Day), “Tarian Sunda dan Bali dalam ritme yang dinamis” (Dance), dan “Kenangan akan tari Bali dalam sebuah sanggar di Ubud” (Bali Music), Krisantini Markam menghadirkan suasana manis melalui dentingan jemari Pak Oerip.

Setelah karya terakhir (Ravel – Sonatine) yang dihadirkan dengan suasana sublim khas Prancis, penonton bertepuk tangan meriah dan Pak Oerip pun kembali lagi ke panggung membawakan encore dari Manuel de Falla “Ritual Fire Dance”. Disinilah klimaks konser terjadi. Ketika sedang bermain di tengah-tengah lagu (Pak Oerip memainkannya dengan hafal, tapi saya rasa di sekitar halaman 3), Pak Oerip tiba-tiba lupa, berhenti, dan JRENG! Tuts piano di-jreng (bagaikan pianis yang memainkan tone-cluster) dan Pak Oerip segera bergegas meninggalkan piano sambil menggerutu, “Lupa!”.

Kontan semua penonton tertawa.

Memang benar-benar TOP konser malam itu. Saya pun yakin penonton bukan menertawakan Pak Oerip yang lupa, melainkan karena Pak Oerip berhasil menggebrak sesuatu yang “pakem” dengan sekali tebas! Excitement saya malam itu, mungkin bisa disamakan ketika berpuluh tahun yang lalu penonton melihat premiere John Cage 4’33”, dimana pianis duduk diam saja di depan piano selama 4 menit 33 detik, tidak memainkan apa-apa.
Ibarat memainkan komposisi avant-garde, Pak Oerip benar-benar mengaduk suasana malam itu, antara perasaan geli, bercampur kagum dan terkesima!

A truly memorable encore! Congratulations Pak Oerip!

No comments: