Monday, October 05, 2009

Prokofiev 3 dan Aryo Wicaksono

Balai Sarbini, Senin 5 Oktober 2009

Nusantara Symphony Orchestra (NSO) mempersembahkan program yang sangat menarik:

Quartettino – Susumu Yoshida (1947)
Piano Concerto No. 3 Op. 26 – Sergei Prokofiev (1891-1953)
Symphony No. 5 Op. 64 – Peter Ilyich Tchaikovsky (1840-1893)


Saya malam itu datang dengan berharap akan mendapat pengalaman “tidak biasa”. Memang benar, di bumi Indonesia yang kerap dilanda musibah ini, sangat jarang kita dapat mendengarkan karya-karya besar seperti Piano Concerto Prokofiev atau Symphony Tchaikovsky. Selain karena tingkat kesulitannya yang sangat tinggi, saya rasa publik Indonesia sedang dalam proses untuk menerima suatu tingkat estetika musik seni yang “selangkah lebih maju”. Buktinya, beberapa orang mengeluh pada saya, “Prokofiev itu siapa ya?”, “Lagunya yang terkenal apa ya?”, “Kok musiknya aneh ya?”.

Saya tidak menyalahkan mereka-mereka yang mengeluh itu. Toh saya juga bukan ahli Prokofiev. Jujur saja, saya tidak terlalu familiar dengan piano concerto Prokofiev. Musik pianonya pun belum pernah ada yang saya mainkan. Frekuensi saya mendengar dan menonton piano concerto-nya tidak sebanyak frekuensi menonton piano concerto komponis Rusia lain, seperti Rachmaninov katakanlah.
Selain itu, keseluruhan sistem yang ada di Indonesia (seperti media TV, radio, pementasan konser, sampai pada peran pemerintah) memang kurang mendukung sosialisasi musik klasik.
Meskipun demikian, saya senang sekali malam itu mendapat kesempatan untuk menyaksikan secara langsung Prokofiev Piano Concerto secara live!

Sebelum keseluruhan program dimulai, rupanya sang konduktor Hikotaro Yazaki ingin memberikan ungkapan doa untuk para korban gempa bumi Padang melalui “Air on the G String” karya J.S. Bach. Beliau sudah mewanti-wanti agar setelah acara “mengheningkan cipta” tersebut selesai, jangan ada yang tepuk tangan.

Kemudian mengalirlah Quartettino karya komponis Jepang, Susumu Yoshida. Menurut saya, sebenarnya suasana “mourning” sendiri telah ada dalam karya ini. Karya modern tersebut mungkin kurang terdengar “nyaman” di telinga para penonton. Penuh dengan dissonan chords, namun ada bagian yang sendu dan melankolis. Ada ketegangan yang tercipta, namun segera diantisipasi oleh antiklimaks. Tidak heran apabila melihat komposernya yang berguru pada Olivier Messiaen. Bahasa musik yang ada dalam karya ini, seperti mendengarkan "Vingt Regards sur l'Enfant-Jésus" karya Messiaen, antara movement "Regard des Anges" yang tegang dan "Le baiser de l'enfant-Jésus" yang kalem.

Kemudian tibalah saat yang ditunggu-tunggu: Prokofiev Piano Concerto No. 3. Pianisnya adalah Aryo Wicaksono, kelahiran Surabaya yang lama menetap di Arizona, USA. Bagi para pecinta musik seni di ranah Indonesia, namanya mungkin belum sering terdengar karena ia memang hidup, belajar, berkiprah, dan tenar di negeri Paman Sam itu.
Seperti biasa, jika ada artis-artis Indonesia yang sukses berkiprah di luar negeri, gaungnya jarang dimuat di media negeri sendiri. Contohnya seperti Paduan Suara Paragita UI yang bulan Agustus lalu menang juara 1 di International Choir Competition di Spittal, Austria – saya tidak melihat ada penghargaan apa-apa dari pemerintah. Mana? Padahal mereka jelas mengharumkan nama negeri ini di kancah internasional, berhubung setiap paduan suara yang ikut dalam kompetisi itu berasal dari negara yang berbeda-beda.

Baiklah, kembali lagi. Aryo Wicaksono tampil dengan Yamaha Grand Piano nine-feet dan jari-jarinya meluncur yakin setelah beberapa birama orkestra memberikan introduksi. Prokofiev Piano Concerto No. 3 merupakan salah satu favorit para pianis, termasuk Martha Argerich yang saya ulang sampai puluhan kali movement 3-nya di Youtube. Secara teknik, nampaknya Aryo telah menguasai benar bahasa musik Prokofiev. Saya tidak begitu mendalami musik Prokofiev, namun saya benar-benar menikmati tension yang berhasil dibuat Aryo dalam musik yang sangat ritmikal itu.



Aryo memainkan Liebestod (Wagner/Liszt) sebagai encore

Seorang pianis mumpuni Indonesia pernah berkata pada saya, “Prokofiev itu komposer era Modern. Dia lahir, hidup, dan tumbuh bersamaan dengan berkembangnya teknologi mesin-mesin, pabrik-pabrik, maka tidak heran apabila dia sangat terobsesi dengan ritme. Ritme yang kuat merupakan ciri khas musik Prokofiev. Seperti kalau kita mendengar mesin cuci berputar, gobrak-gobrak-gobrak-gobrak, bunyinya konstan. Mekanik! Itulah yang cocok menggambarkan kerumitan musik Prokofiev,”

Memang betul. Coba saja kita dengarkan Toccata, salah satu karya Prokofiev untuk piano yang sulitnya setengah mati. Persis seperti mendengar bunyi mesin pembuat kaleng sardin yang berbunyi gobrak-gobrak-gobrak-gobrak.
Bagi saya sendiri, ritme dalam musik Prokofiev dapat menjadi suatu kekuatan untuk membuat tension dan klimaks. Prokofiev memang jenius, dalam “kekejaman” ritme dan garis metrum, ia bisa menciptakan sebuah klimaks yang dibangun dari kejenakaan tema-tema sederhana. Pada movement 3 favorit saya, terlihat “pertempuran” sengit (tour de force – sebagaimana dijelaskan pada buku program konser) antara piano dan orkestra. Jenaka, playful, penuh spirit, dan diakhiri dengan glissando dan oktaf-oktaf besar dalam tempo supercepat. Semua berhasil dibawakan oleh Aryo dan NSO tanpa mengecewakan. Congratulations!

Rasa penasaran saya sirna sudah. Sambutan penonton pun sangat meriah, bahkan sampai standing ovation dan curtain-call hingga berulang kali. Seorang tante-tante kenalan saya (kebetulan duduknya di depan saya persis) pun sampai terkagum-kagum akan permainan Aryo malam itu. Padahal saya tahu benar, tante itu awam sekali pada musik klasik. Hal itu berarti, musik telah berbicara pada kita semua. Aryo telah berhasil mengomunikasikan musik Prokofiev pada khalayak melalui interpretasinya yang patut diacungi jempol.

Karena curtain-call yang tidak henti-hentinya, Aryo memberikan encore berupa Liebestod! Ya ampun, saya kaget sekali karena – terus terang – setiap kali menghadiri konser NSO di Balai Sarbini, entah mengapa saya selalu membayangkan kalau di tengah-tengah panggung ada seorang diva yang membawakan aria Liebestod diiringi oleh NSO.

Liebestod sendiri merupakan salah satu aria opera favorit saya. Aria tersebut merupakan penutup dari opera Tristan und Isolde karya Richard Wagner, kemudian Franz Liszt membuat versi transkripsinya untuk dimainkan di piano, dan malam itu dimainkan oleh Aryo dengan perfect!
Liebestod (Love and Death) adalah ungkapan ekstase Isolde di atas jasad Tristan yang terbunuh. Isolde seperti mendapatkan vision bahwa Tristan akan hidup kembali, tetapi dalam ekstase yang sangat tinggi, pada akhirnya kedua insan bersatu kembali di alam setelah kehidupan. Filosofi aria ini tinggi sekali, sehingga Jessye Norman pernah mengungkapkan bahwa untuk dapat memahami falsafah Verklärung dalam Liebestod, “I always distinguish between LONELIness and ALONEness”.


Bersama Aryo Wicaksono

Di tengah intermission, saya kaget sekaligus gembira karena bertemu dengan Her Excellency Madame Nobuko Shiojiri, istri duta besar Jepang untuk Indonesia. Dulu ketika diundang dalam acara Midori Goto, saya pernah ngobrol-ngobrol panjang dengan beliau, antara lain tentang kontribusi musisi Jepang dalam kancah musik klasik dunia. Beliau adalah seorang lady yang sangat elegan, dengan tata krama yang sempurna dan keramahan yang luar biasa. Ketika saya sapa, saya kaget karena beliau masih ingat pada saya. Setelah ngobrol-ngobrol mengenai program konser malam itu, beliau berkata pada saya “Come on, next time you have to play with the orchestra, you must!” (Saya dalam hati hanya bilang “Amin,” sambil terharu).

Anyway, thanks so much for your wishes, dear Madame. Also, thanks to Aryo Wicaksono, Hikotaro Yazaki, and NSO for a memorable performance last night. God bless you all!

*Terima kasih juga untuk Pak Dedi dan Mbak Lucy atas tiket-tiketnya :)

No comments: