Monday, October 12, 2009

Il viaggio dell’opera

Pada Sabtu 10 Oktober yang lalu, saya kembali mendapat kehormatan untuk mengiringi pementasan Susvara Opera Company dalam konser yang bertajuk “Il viaggio dell’opera” di Gedung Kesenian Jakarta. Pementasan yang (menurut kritikus musik Michael Budiman) dijuluki “Sebuah perjalanan bertabur bintang” ini menampilkan penyanyi-penyanyi seriosa terbaik di Tanah Air. Diantaranya ada yang masih dalam proses untuk menuju ranah artistik yang lebih tinggi, namun ada pula yang sudah berdedikasi menyelami musik klasik selama berpuluh tahun. Mereka adalah guest star malam itu, yaitu soprano Aning Katamsi, Binu Sukaman, dan pianis Adelaide Simbolon.


Il viaggio dell'opera, Gedung Kesenian Jakarta 2009


Hal yang menarik adalah, kendati pementasan Susvara Opera Company malam itu melibatkan berbagai musisi dari komunitas musik yang berbeda, namun ada satu persamaan di dalamnya: Semua disatukan oleh The Great Catharina Leimena, penyanyi opera sungguhan didikan Italia yang dengan penuh pengabdian telah mendidik dan menelurkan musisi-musisi top selama puluhan tahun. Konsistensi itulah yang kemudian memicu diadakannya pertunjukan musik “Il viaggio” yang berarti “Perjalanan”.

Behind the scene

Dalam suatu obrolan malam mengenai pra-produksi konser ini, Ibu Catherine bilang pada saya, “Sebenarnya mengapa dinamakan ‘Il viaggio’ itu ada falsafahnya. ‘Il viaggio’ memang berarti ‘Perjalanan’. Itu bisa macam-macam artinya, antara lain adalah perjalanan seni opera sejak era Mozart hingga Puccini yang akan kita bawakan.
Kemudian perjalanan Susvara Opera Company, yang sejak berdiri dengan nama Sanggar Susvara pada 1970 telah membawakan berbagai macam opera untuk menumbuhkan apresiasi masyarakat terhadap seni yang tinggi tersebut, dimana lagu-lagu yang akan dibawakan nanti merupakan cuplikan dari opera-opera yang selama ini pernah Susvara bawakan.
Dan yang terakhir adalah wujud konsistensi dari musisi yang mendalami opera. Saya membuat ‘Il viaggio’ ini kan dengan maksud bahwa selain generasi tua, ada juga generasi muda yang sedang dalam proses pengembaraan untuk mencari jatidiri mereka dalam musik klasik. Ada yang di tengah jalan lantas pindah ke jalur pop, ada juga seperti Harry Manulang – tenor kita dulu yang bagus sekali, akhirnya meninggal. Ada yang suaranya bagus dari ISI Jogja, sekarang hilang entah kemana. Ada Fawrita Pane yang suaranya persis seperti Callas, sekarang sudah berhenti nyanyi. Namun dari mereka-mereka itu, ada murid saya yang dari dulu hingga sekarang tetap konsisten di jalur seriosa ini, yaitu Aning dan Binu. Itu yang ingin saya tampilkan, bahwa dalam suatu Perjalanan, pasti ada proses yang semakin mendewasakan musisi-musisi itu. Mereka harus kita tumbuhkan apresiasinya seperti layaknya Binu dan Aning. Makanya, saya bikin konser ‘Il viaggio’ ini dengan maksud seperti itu,”

Konser “Il viaggio” ini selain menampilkan vokalis-vokalis berkualitas prima, juga melibatkan banyak pianis. Saya adalah salah satunya yang bertanggungjawab terhadap opera Norma, La Boheme, dan La Gioconda. Sementara itu Teodore Minaroy, pianis yang sangat saya kagumi karena permainannya yang sangat artistik dan puitik, memainkan cuplikan-cuplikan dari Il Trovatore karya Verdi dengan sangat memikat!
Celine Meirani dengan tone-touch yang kokoh dan power yang prima, senantiasa memainkan cuplikan dari Fidelio (Beethoven), La Gioconda (Ponchielli), dan Cavalleria Rusticana (Mascagni).
Not-not Mozart yang membutuhkan keterampilan jari, dimainkan dengan baik oleh Priska Budihardjo dan Sharon Hartanto.
Pianis ulung Adelaide Simbolon sendiri mengiringi cuplikan opera Suor Angelica (Puccini), Norma (Bellini), dan Cavalleria Rusticana.

Highlights

Beberapa highlight yang merupakan favorit saya adalah cuplikan dari opera Suor Angelica yang dinyanyikan dengan ethereal beauty oleh Aning Katamsi. Memang benar seperti review konser dari Michael Budiman, bahwa penampilan Mbak Aning malam itu memiliki medan magnet yang sangat kuat, sehingga membuat saya terpaku menonton dari backstage. Dengan akting yang sangat jujur, Mbak Aning memulai frase aria "Senza Mamma" dengan resonansi vokal sedemikian rupa, sehingga suara yang keluar tidak seperti keluar dari mulut, melainkan dari sebuah rongga resonansi yang ada di atas kepala. Suaranya seperti pelangi. Mungkin ini yang dinamakan dengan istilah “squillo” (ringing sound) oleh kritikus musik Norman Lebrecht. Apabila konduktor-diktator Arturo Toscanini pernah memberi pujian “Voce d’angelo” (suara malaikat) pada Renata Tebaldi, malam itu saya rasa "Voce d’angelo" terjadi juga pada Mbak Aning.
Dengan pengucapan diksi yang sangat memikat, Mbak Aning terus “menarik” aria "Senza Mamma" hingga klimaks seperti tanpa jeda. Kalimat-kalimat dibentuk dalam konsep yang sangat indah, sehingga dari awal hingga akhir menyatu utuh. Saya rasa untuk menjelaskan magnetism Mbak Aning dalam aria ini, seseorang harus mendengar langsung, tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Yang jelas, frase “Se qui... se qui” membuat saya merinding!
Mbak Ade pada piano pun mengiringi dengan seksama, penuh perhatian terhadap detail dinamik dan kedalaman. Ia bisa membuat suara piano menyerupai pipe-organ, sebagaimana versi asli orkestra pada introduksi lagu.


Renata Tebaldi sebagai Suor Angelica

Highlight kedua adalah Christine Lubis yang menyanyikan aria “D’amor sull’ali rosee” dari opera Il Trovatore karya Verdi. Dengan intensitas suara yang sangat lebar dan perhatian pada detail, Christine bisa menaklukkan salah satu aria Verdi paling sulit tersebut. Dalam recitative “Timor di me...” sebelum aria, Christine bisa membawakannya dengan idiom diksi Italia, dengan penekanan aksen yang pas. Dalam arianya sendiri, ornamen-ornamen dan dinamik lembut pada nada tinggi bisa dikuasai dengan kecermatan dan presisi yang tinggi.
Pianis Teo Minaroy dengan bahasa musiknya yang puitik, mengiringi keseluruhan cuplikan opera Verdi sebanyak lima lagu dengan memukau. Siapapun yang mendengar permainan piano Teo akan langsung dapat menangkap artistry yang ada dalam dirinya secara natural.

Highlight ketiga adalah Binu Sukaman. Dengan suara sopran yang cemerlang, Mbak Binu membawakan dua duet. Yang pertama adalah duet “Mira, O Norma,” dari opera Norma bersama Mbak Aning dan “Ah, il Signore vi manda” dari opera Cavalleria bersama Ferry Chandra. Tidak dapat disangsikan lagi bahwa Mbak Binu merupakan soprano papan atas Indonesia. Dengan kemampuan akting yang passionate dan berapi-api, duet Norma diselesaikan dengan presisi dan kontrol suara ala Bel canto yang prima, tentunya dengan bumbu coloratura yang membuat duet ini semakin seru dan menarik. Duet seru yang pada tahun 1965 pernah menjadi pemicu pertengkaran soprano Maria Callas dengan mezzosoprano Fiorenza Cossotto.
Apabila duet Norma dibawakan dengan keindahan format menyanyi Bel canto, maka duet “Ah il Signore vi manda” bercerita mengenai realisme, karena Cavalleria Rusticana adalah perintis berkembangnya aliran verismo (realisme) dalam repertoire opera Italia di akhir abad 19. Mbak Binu yang penuh dengan passion dan temperamen, bisa memerankan Santuzza yang sedang putus asa seperti nyata. Dengan Ferry Chandra sebagai Alfio yang berkarakter kuat, duet penuh ketegangan tersebut didukung oleh permainan piano Mbak Ade yang penuh tension, sangat dramatis!


Maria Callas dalam opera Norma, Paris 1955

Highlight terakhir adalah soprano Sri Muji Rakhmawati yang membawakan aria “Casta diva” dari opera Norma dengan penuh kesyahduan dan keagungan. Dengan gaun ala Callas yang dirancang khusus, Wati menyanyikan salah satu aria tersulit dalam repertoire Bel canto tersebut dalam tata ritual prosesional, sebagaimana ia menghayati perannya menjadi Norma, Druid priestess yang jatuh cinta pada perwira Romawi. Dari balik panggung, koor menyanyikan bagian-bagian syahdu yang diikuti dengan figurasi-figurasi ornamen coloratura oleh Wati dengan presisi dan konsentrasi yang kuat, dibalik suaranya yang cemerlang.

Demikianlah konser “Il viaggio dell’opera” malam itu benar-benar menghadirkan bunga rampai dari sekian banyak opera yang pernah ditampilkan oleh Susvara. Sebagai agenda ke depan, mari kita saksikan pementasan opera lengkap “La Gioconda” karya Amilcare Ponchielli yang rencananya akan ditampilkan tahun 2010.

Semoga sukses!

3 comments:

angganabunawan said...

sayang gw ga nonton.. denger ulasannya aja gw sudah merinding sendiri...

ada rekamannya ga ya dari SoC?

Aditya P Setiadi said...

Ada, nanti ya kalo udah dikasih gw kasih tau. Thanks Anggana :)

Dia rosa said...

Maaf, arti dari "Casta Diva" sendiri itu apa ya? triakasih :)