Monday, November 09, 2009

Oase Spiritual Musik Jayasuprana

Di tengah goro-goro yang sedang melanda bangsa ini, rupanya Semar datang mengejawantah dalam wujud Jayasuprana yang mengajak kita semua berkontemplasi dalam sebuah pergelaran ultra-sublim pada tanggal 24 Oktober yang lalu di Gedung Kesenian Jakarta. Pergelaran tersebut melibatkan empat pianis kawakan Indonesia dan para penari handal yang berkolaborasi dalam suatu kesatuan yang solid.

Dibuka dengan permainan maestra pianis Iravati Sudiarso, suasana introspeksi Sangkan Paraning Dumadi langsung hadir dalam bentuk Uri-uri yang meditatif. Bau dupa semerbak memenuhi auditorium GKJ, rupanya tata laku meditasi diwakilkan oleh dua gesture manusia yang sedang beribadah dalam bentuk siluet. Yang satu adalah penari Soepri Soehodo memeragakan gerakan sholat, sementara di sisi yang berlainan adalah Aylawati Sarwono memeragakan gerakan adorasi pada Tian, tiga kali menghormat dengan tiga batang dupa.

Uri-uri yang hanya ditulis dalam satu single movement tanpa iringan tangan kiri, merupakan mocopat. Berisi petuah suluk, yaitu bagaimana seorang pribadi dapat mengenal Tuhan dalam Rasa. Pencarian esensi Kehidupan yang merupakan proses sampai akhir hayat dapat dituturkan melalui jemari Iravati Sudiarso, kendati hanya berupa alunan monofoni seperti nembang, namun sarat akan makna secara spiritual dan magis.

Sementara pasangannya, Uro-uro merupakan nembang Jawa dengan titinada pentatonis juga, namun sifatnya ekstrovert. Disini penari Maria Darmaningsih dan Nungki Kusumastuti bisa membawakan lakon tari yang sangat harmonis, mulai dari suasana awal yang liris, kemudian berkembang menuju virtuositas ala gamelan Bali yang diterjemahkan dengan sangat powerful dan evocative oleh jemari sang maestra pianis Indonesia tersebut.



Kemudian adalah duet maut antara dua maestro, yaitu Iravati Sudiarso dan begawan tari Indonesia: Sardono W. Kusumo. Dalam Interludium yang mengalir mulus tanpa cela, Sardono mengejawantahkan kegetiran terselubung yang pasti ada dalam setiap hati umat manusia. Dengan pakaian serba putih, Sardono seperti menyimbolkan kemanusiaan yang kini sedang diterpa oleh goro-goro, dimana hal tersebut diciptakan oleh nafsu dan angkara murka manusia itu sendiri (direpresentasikan dengan spotlight berwarna merah tua, perlambang Batara Kala). Suasana gelisah terlihat dari gerak tari Sardono yang restless, penuh ambiguitas antara senang dan sedih, hingga pada akhirnya manusia hanya bisa pasrah menerima takdir Yang Kuasa. Tanpa ragu Sardono menyelesaikan tariannya sambil duduk bersebelahan dengan sang pianis yang terus berkonsentrasi pada musik, hingga denting not terakhir.






Kemudian adalah Fantasi Arum Dalu, masih diterjemahkan oleh Iravati Sudiarso. Jayasuprana sendiri mengungkapkan, bahwa karya ini disusun dalam titinada pentatonik 13467 musik Sunda yang menurutnya mirip sekali dengan pentatonik musik rakyat Jepang. Setelah berargumentasi, rupanya Jayasuprana menemukan bahwa 13467 merupakan pasangan minor dari titinada 13457. Sebagai lagu terakhir penampilan Iravati Sudiarso pada sesi pertama, lagu ini disambangi oleh penampilan tari Elly D. Lutan.


Pesona Sang Ibu kini dilanjutkan oleh putrinda, Aisha Sudiarso. Dengan gerak yang efektif dan langsung tepat pada sasaran, mengalirlah Sonata Sekar Setaman dalam suasana kasurupan (trance). Clarity dan kejernihan setiap nada terukur prima, tidak ada satu not pun yang bersuara tanpa makna. Suasana liris terasa pada movement kedua yang mengadopsi idiom musik Sunda, sementara pada bagian ketiga yang memiliki aroma tembang "Gundul-gundul pacul" menyatu harmonis dengan iringan tangan kiri dalam gerak ostinato kromatik, memberikan aroma segar dan fresh persis seperti bunga-bunga yang bermekaran di Taman Sari.

Sonata Sekar Setaman diejawantahkan dalam tarian ala Punakawan: Gareng, Petruk, Bagong oleh Eko Supriyanto (koreografer yang pernah menari bersama Madonna), Havid Ponk Zakaria, dan Luluk Ari Prasetyo. Punakawan yang merupakan representasi dari rakyat jelata, memang benar-benar menari hanya menggunakan cawat saja. Seperti halnya Punakawan yang setia melayani menjadi abdi dalem: bukannya tidak memiliki kesaktian, melainkan terwujud pada formasi tari mencengangkan yang membuat penonton berdecak kagum.




Kemudian mengalir lagi Variasi Gethuk berdasarkan sebuah lagu gubahan musisi campursari, Manthous. Kali ini Aisha Sudiarso berduet bersama pemain perkusi Junaedi Musliman yang memainkan kendang bongo dengan sangat asyik. Inilah dangdut, musik produk asli Indonesia yang merupakan gabungan dari berbagai unsur musik yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Dimulai dengan tema yang sangat sederhana namun menarik, Jayasuprana dengan cekatan dapat menggubah berbagai macam variasi yang sangat asyik untuk mengiringi pinggul bergoyang. Dengan pembawaan yang jenaka pula, Aisha dan Junaedi membuat lagu Gethuk terasa begitu hidup, diiringi oleh tarian komedi asuhan koreografer Afif Syakur.


Penghormatan untuk leluhur tercinta tercermin dari Tri Reminiskenza yang didedikasikan Jaya pada almarhum ayahanda tercinta: Lambang Suprana. Tiga karya pada masa awal karier musik Jayasuprana ini sarat akan idiom musik Barat: Chopinesque! Dengan virtuositas “Franz Liszt-nya Indonesia” Levi Gunardi, karya ini nampak sangat apik dan melodius. Dengan tarian buah karya koreografer Chichi Kadijono dan penari pendukung dari EKI Dance Company, tersirat simbolisasi Tri melalui tiga kerangkeng besi putih besar yang menaungi mereka.


Tiba-tiba ada Dedemit! Jayasuprana mengatakan bahwa karya musik yang problematis, enigmatis, sekaligus chaos ini sangat ruwet, baik dari segi interpretasi maupun teknis-pianistik. Tanpa disadari, karya yang mirip dengan bagian terakhir Sonata Chopin dalam bes minor ini kerap ditafsirkan sebagai angin menderu di kawasan kuburan. Nampaknya memang demikian, di tangan pianis Hendrata Prasetia, semua setan keluar dari balik panggung. Setan-setan tersebut adalah Martinus Miroto, salah satu koreografer terkenal Indonesia. Ia tampil dengan seorang perempuan yang nampak kesurupan dan bergetar terus sejak awal hingga dentingan not terakhir. Hiii... seram!

Setelah Dedemit yang penuh dengan goro-goro, akhirnya giliran Sang Semar yang menginterpretasikan karyanya sendiri, yaitu Untuk Ayla. Karya yang (dari judulnya saja kita sudah bisa menebak) dipersembahkan untuk Aylawati Sarwono ini bernuansa romantis dan melankolis. Mungkin dapat diibaratkan, Jayasuprana pada malam hari memainkan lagu ini di bawah balkon istana putri Ayla, dan meluncurlah Sang Putri menari dansa dengan penari Henry Zheng. Aylawati Sarwono yang adalah juara Indonesian Dance Competition, berdansa mengikuti lantunan melodi dari jemari sang kekasih yang menunggu di bawah balkon. Seperti kisah cinta Romeo dan Juliet, atau mungkin dalam terminologi yang lebih tepat: Jaka Tarub dan Dewi Nawangwulan.


Penampilan terakhir sebagai pamungkas adalah penafsiran maestra Iravati Sudiarso pada Tembang Alit. Sebagai karya pertama Jayasuprana yang dinotasikan (atas paksaan Iravati menjelang resital di Taman Ismail Marzuki, 1984) tentunya memberikan kesan tersendiri bagi penggubahnya. Untuk menghormati penafsiran sang maestra pianis terhadap Tembang Alit, di buku acara ditulis bahwa Jayasuprana sendiri yang akan menari!


Rupanya disanalah letak kejeniusan Sang Semar. Alih-alih akan menari, rupanya beliau malah duduk terpaku menghadap pianis (dan membelakangi penonton) sepanjang lagu ditembangkan! Fenomena ini menimbulkan suatu perasaan spiritual dan sublim yang membuat penonton membisu. Dengan spotlight biru dan asap mengepul samar, pergelaran malam itu selesai dalam Sangkan Paraning Dumadi bilah-bilah hitam putih sang maestra pianis Indonesia, Iravati Sudiarso.

2 comments:

jaya said...

Terima kasih mas Aditya atas tulisan anda yang membuktikan anda memiliki selera estetika dan kemampuan menulis yang adiluhung dan adiluhur.
Terima kasih pula apabila anda berkenan mengirimkan alamat email anda agar saya dapat mengundang anda untuk menghadiri berbagai pergelaran kesenian yang akan saya selenggarakan.
Wasalam dari jaya suprana

Aditya P Setiadi said...

Terima kasih juga atas kunjungan Pak Jaya ke blog saya. Kebetulan saya tahu sedikit mengenai kearifan budaya Jawa, dulu ketika kuliah kebetulan saya sering mengambil kebudayaan Jawa sebagai tema penelitian. Saya berterima kasih sekali jika Pak Jaya berkenan dengan tulisan saya.
Berikut adalah alamat e-mail saya:

pradanasetiadi@yahoo.com

Saya mengajar di YPM (saya murid Ibu Iravati). Beliau yang banyak memperkenalkan musik Bapak pada kami.

Terima kasih, wassalam
Aditya P Setiadi