Thursday, December 10, 2009

Malam opera ala Istituto Italiano di Culturale

Kamis, 10 Desember 2009

Istituto Italiano di Cultura mengadakan konser bertajuk "Italian Night Opera", yang menampilkan pianis Gaia Palesati dan soprano berkebangsaan Jepang, Chinatsu Hirayama. Konser tersebut merupakan penutup dari serangkaian workshop mengenai opera Italia yang dimotori oleh Gaia. Dalam workshop yang berlangsung selama satu bulan itu, kami belajar banyak mengenai opera-opera karya Puccini (opera Verdi tidak dibahas karena waktunya sangat sempit, berhubung Gaia akan kembali ke Italia pada bulan Desember ini). Tidak hanya menonton cuplikan-cuplikan adegan yang penting via DVD, tapi Gaia memberikan pengetahuan lebih luas mengenai perbandingan antara satu penyanyi dan penyanyi lain dalam membawakan aria yang sama, atau membahas satu aria dari segi artistik penampilan ala Italia (misalnya dalam penempatan aksen yang tepat atau bagaimana membentuk kalimat nyanyian agar sesuai dengan idiom Italia).

Sebagai gambaran, pertemuan terakhir sebelum konser ini, membahas aria Un bel dì vedremo (Pada suatu hari yang indah kami bertemu) dari opera Madama Butterfly. Kisah tragis mengenai nasib geisha Jepang yang dinikahi oleh seorang bajingan Amerika bernama Letnan Pinkerton, membawa suasana haru biru. Aria tersebut diputar selama empat kali dengan empat soprano yang berbeda, yaitu Renée Fleming, Mirella Freni, Renata Tebaldi, dan Maria Callas. Gaia sendiri berpendapat bahwa interpretasi Maria Callas merupakan ekspresi paling jujur dari hati seorang manusia. Nampaknya, kisah tragis Madama Butterfly memiliki persamaan dengan Callas yang akhirnya ditinggalkan oleh Onassis demi menikahi janda mendiang Presiden Kennedy. Memang sempat ada perdebatan dari beberapa peserta, mengapa sepertinya versi Renata Tebaldi lebih enak didengar. Gaia sendiri berpendapat bahwa secara keseluruhan Renata Tebaldi memang bagus, tanpa cela, namun ada sesuatu dalam diri Callas (ia menyebutnya dengan istilah l’anima – jiwa) yang membuat karakter Butterfly menjadi suatu kesatuan artistik yang tidak bisa diganggu-gugat.

Teringat akan Madama Butterfly, maka (kebetulan) malam penutup workshop opera tersebut diisi oleh soprano Chinatsu Hirayama, yang akrab disapa China. Sebenarnya menarik sekali: seorang Jepang, bernama China, berbicara dalam bahasa Italia (ia selalu bicara dalam bahasa Italia, walaupun bisa juga bahasa Inggris), menyanyi lagu-lagu opera Italia, dan tinggal di Jakarta. Wow!

Maka keduanya tampil dengan sangat memukau mengenakan gaun warna merah menyala. Gaia yang memiliki kecantikan klasik Eropa, tipikal pembawaan bangsawan (kata teman saya) dan China yang juga tidak kalah cantik, dengan tata krama ningrat ala Jepang. Keduanya berkolaborasi membawakan cuplikan melodi-melodi indah dari sejumlah opera terkenal, dimulai dengan Lascia ch’io pianga (dari opera “Rinaldo” karya Handel) serta karya Mozart seperti Voi che sapete (dari “Le Nozze di Figaro”) dan Vedrai carino (dari “Don Giovanni”), para penonton sudah dibuat takjub dengan suara soprano China yang meskipun berwarna liris terang, namun memiliki volume yang besar, berisi, serta register bawah yang cukup gelap.

Setelah membawakan aria-aria favorit karya Puccini seperti O mio babbino caro (dari “Gianni Schicchi”), Quando m’en vo (dari “La Boheme”), dan Un bel dì (dari “Madama Butterfly”), suasana semakin memanas ketika China mempertunjukkan kebolehannya menyanyikan aria coloratura dari opera-opera karya Verdi, yaitu Caro nome (dari “Rigoletto”) dan Ah, fors’é lui... Sempre liberà (dari “La Traviata”). Dua aria terakhir merupakan salah satu repertoire tersulit dalam dunia opera, dimana penyanyi harus bisa menyanyikan ornamen-ornamen, running scales, dan pewarnaan nada dalam kecepatan dan kecermatan yang luar biasa pada nada-nada register tinggi.

Gaia sendiri mempertunjukkan kebolehannya bermain piano dalam dua kali kesempatan, yaitu Sonata L.428 karya Domenico Scarlatti yang dimainkannya dengan efisiensi dan pewarnaan gaya Barok, serta Valse Poetico karya Enrique Granados. Saya baru pertama kali mendengar Valse Poetico tersebut dan tersihir oleh keindahan melodi-melodinya yang melankolis. Langsung terbersit dalam benak akan nasib Granados yang malang, dimana ia meninggal akibat kapal yang dinaikinya tenggelam karena di-bom oleh kapal selam Jerman selama masa perang Dunia I, tahun 1916. Gaia sendiri membawakan Valse Poetico itu dengan temperamen Italia yang berapi-api dan penuh passion, tapi liris dan cantando di bagian-bagian terindahnya.


Bersama Gaia Palesati dan Chinatsu Hirayama


Saya sendiri diminta tolong untuk menjadi page-turner bagi Gaia. Hal esensial yang menjadi pembelajaran adalah: Penting sekali untuk mengetahui musik yang akan Anda balikkan halamannya, paling tidak lihatlah dulu partiturnya!

Kisahnya: Ketika konser akan dimulai, tiba-tiba seorang teman memanggil-manggil saya. Dia bilang bahwa saya dipanggil Gaia ke backstage. Rupanya ia minta tolong saya untuk menjadi pembalik halamannya, dan berhubung itu tinggal 5 menit sebelum tampil, saya segera ambil kursi untuk duduk di sebelah piano. Masuklah Gaia dan China ke panggung; konser pun dimulai.

Ketika tiba saat Gaia memainkan Valse Poetico, saya bingung setengah mati. Rupanya karya tersebut terdiri atas beberapa bagian; ada yang diulang, ada yang tidak. Gaia sendiri hanya memainkan nomor 1, 2, 4, 6, dan final. No. 1 memang saya balikkan halamannya, tetapi menjelang No. 2 dan seterusnya, saya ragu-ragu apakah Gaia ingin dibalikkan juga atau tidak, berhubung per bagian hanya terdiri atas tepat satu halaman. Biasanya, para pianis akan membalik sendiri halamannya. Meskipun demikian, saya tetap gugup karena siapa tahu Gaia ingin agar saya membalikkan halamannya. Jika iya, tentu konsentrasinya akan terganggu seandainya saya tidak membalik, atau bisa juga malah jadi terganggu apabila saya membaliknya. Akhirnya saya memutuskan untuk diam (tentu sambil deg-deg-an). Pada akhirnya ia membalik sendiri dan untunglah semua berjalan lancar. Saya benar-benar tegang saat itu!

Terima kasih atas malam operatik yang begitu indah dan berkesan. Saya berharap akan ada workshop opera part 2, mungkin bisa membahas tentang opera-opera karya Verdi, Bellini, atau Donizetti. Saya yakin akan banyak yang tertarik karena menurut penuturan teman saya, dari sekian banyak workshop (teater, film, musik, literatur) yang ditawarkan oleh Istituto, yang paling banyak peminatnya adalah workshop opera ini.

Siete bravissimi! A voi tutti saluti!

1 comment:

kireina kiki said...

ya ampun!! ternyata chinatsu sensei emang terkenal yaa.. hebat. baru hari ini aku nonton concertnya, padahal udah setahun kenalnya, hehehe. emang keren banget suaranya, meskipun ngga ngerti sm sekali musik opera begini. salam kenal ya mas ^^