Monday, January 11, 2010

Harimada Kusuma, Conversation Nocturne

Prelude
Judul tulisan ini diambil dari judul film “Martha Argerich, Conversation Nocturne”, sebuah film dokumenter mengenai life and art dari pianis legendaris kelahiran Argentina, Martha Argerich. Bukanlah suatu kebetulan tulisan ini diawali dengan bahasan “Martha Argerich”, karena baik saya maupun Harimada Kusuma merupakan fans beratnya. Begitu pula dalam acara “Harimada and Friends” yang digelar di Goethe Haus pada tanggal 9 Januari 2010 lalu, sang empunya acara memang terinspirasi dari tajuk konser-konser pianis Argentina tersebut, yang kerap kali dinamakan “Martha Argerich and Friends”.

Ya kalau nggak gitu, namanya apalagi donk Dit? Sepertinya susah sekali mencari nama yang lain, yang paling pas dan praktis ya Harimada and Friends,” kata Harimada seusai konser. Dalam konser tersebut, Harimada Kusuma (yang merupakan salah satu pianis kebanggaan Indonesia dan sejak lama berkiprah di Belanda) mengajak tiga orang musisi sahabatnya untuk berkolaborasi. Ada pianis Menur Karen Kamarullah yang membawakan duet dari Franz Schubert Fantasy in F minor, kemudian flutist Marini Widyastari dengan Sonata for Flute and Piano op 94 karya Prokofieff, dan violis Inge Karyadi yang membawakan dua bagian dari Sonata for Violin and Piano in A Major karya Cesar Franck. Harimada sendiri unjuk kebolehan bermain solo dengan Partita no 2 karya Johann Sebastian Bach.

Harimada and Friends (foto diambil dari facebook)

Para penonton yang memenuhi hampir seluruh auditorium Goethe Haus malam itu nampaknya puas dengan suguhan bermutu dari keempat musisi tersebut. Konser berakhir dengan sukses dan Harimada memberikan sepotong encore manis, berupa Nocturne karya Faure. Seusai konser, Harimada rupanya mengundang saya untuk berbincang-bincang sejenak dan bertanya mengenai kesan saya akan konser tersebut. Saat itu terus terang saya sedang kurang mood untuk membahas permainan secara detail karena masih berada dalam suasana terpukau akan permainan para musisi yang luar biasa, juga karena rasa senang bisa melihat Harimada bermain dalam konser lagi di Jakarta, setelah sekian lama ia meninggalkan Indonesia untuk meneruskan program Master di bidang piano, Amsterdam Conservatory. Berhubung saat itu Harimada sedikit mendesak saya, maka saya terlibat dalam percakapan malam (conversation nocturne) yang berlanjut dengan makan-makan tengah malam di sebuah restoran 24 jam kawasan Sarinah bersama para musisi yang lain.

Interlude
Pertama-tama, saya menekankan bahwa artistry musisi yang tampil di atas panggung merupakan sebuah proses panjang, penuh perjuangan jiwa raga, sehingga bisa menampilkan sebuah karya seni adiluhung yang tidak semua orang bisa membawakannya. Oleh karena itu, saya tidak berhak untuk mengkritik atau menjelek-jelekkan permainan seseorang karena output setiap musisi atas proses perjalanan pencarian artistik yang panjang tersebut belum tentu sama.
Harimada sendiri mengungkapkan bahwa misi dari diadakannya konser “Harimada and Friends” tersebut adalah untuk mengajak dan memberi kesempatan bagi para musisi berbakat untuk bermusik bersama, melakukan dialog (lagi-lagi conversation) simbolis dalam bentuk musik. Ada ungkapan bahwa di dalam musik, ribuan kata yang tak terungkapkan dapat tersampaikan dalam bentuk rasa. Memang demikian, Harimada nampaknya ingin menumpahkan rasa kangennya terhadap sahabat-sahabatnya dalam bentuk musik. Dalam proses itu pula, masing-masing musisi berusaha untuk mempersembahkan segenap kemampuan terbaik mereka agar dapat tampil bersama di atas panggung dengan cemerlang.

Seperti Menur yang diantara kesibukannya mengajar dan ngantor di Medco, masih sempat latihan piano dan hasilnya dapat terlihat dari duet Fantasy in F minor. Kelincahan jari dan penggalangan kalimat menuju klimaks dapat berlangsung dengan mulus. Arsitektur karya berhasil dibangun dengan kokoh dan cermat, mengantisipasi tema minor yang terus-menerus diulang kapanpun dan dimana saja oleh sang komponis, Franz Schubert. Kerjasama yang baik antara Harimada (di not bass) dan Menur (di not treble) membuahkan spontanitas yang enerjik dan kompak.
Pada Sonata for Flute and Piano op 94 karya Prokofieff, terlihat jelas dialog yang sangat dinamis diantara Harimada dan flutist Marini Widyastari. Sang pemain seruling yang lulusan Royal Northern College of Music di Inggris tersebut mengerahkan segala energinya untuk menyelesaikan sonata modern itu dengan prima, sebagaimana ia dapat mengatur nafasnya agar kalimat-kalimat unik ala Prokofieff dapat terbentuk dengan kokoh dan mengimbangi permainan piano Harimada yang penuh virtuositas.
Sementara permainan violis Inge Karjadi menutup konser malam itu dengan nada-nada agitato yang berselingan dengan lirisisme Cesar Franck, dalam dua bagian dari Sonata for Violin and Piano in A Major.

Harimada sendiri mengajak penonton untuk merenung sesaat dengan Partita no 2 BWV 826 karya Bach yang dimainkan setelah intermission. Karya ini memang tricky sekali karena terdiri atas beberapa bagian (Sinfonia, Allemande, Courante, Sarabande, Rondeaux, Capriccio) yang harus berada dalam satu nafas dan kekokohan format Suite (irama tarian) ala zaman Barok. Menurut saya pribadi, dalam Partita tersebut Harimada masih berada dalam proses pencarian artistik yang lebih tinggi. Ada beberapa bagian yang masih bisa dieksplorasi, seperti kalimat-kalimat yang bisa dibentuk dengan penggabungan art of fugue dan arioso, penentuan tempo yang sesuai, kejernihan dan clarity dari beberapa passage, atau penggabungan bagian-bagian Partita menjadi suatu arsitektur Barok yang kokoh dan terstruktur. Namun demikian, bagian Sarabande dapat dibawakan dengan anggun dan khidmat, sementara Capriccio terasa sangat hidup dan memiliki bounce yang membuat penonton tidak bosan menyaksikan hingga akhir karya selesai dibawakan.

Intinya, dalam Bach ini kamu harus bisa menikmati permainanmu sendiri,” kata saya pada Harimada (seolah-olah saya adalah gurunya). Harimada sendiri mengemukakan bahwa Partita Bach tersebut sebelumnya belum pernah ia mainkan di hadapan orang. Di konser Goethe tersebut, itu adalah pertama kalinya ia memainkan di depan khalayak ramai. Ternyata sudah enam bulan ini profesor piano Harimada (Prof. Mila Baslawskaja) tidak mengajar karena sedang dalam proses pemulihan akibat sebuah kecelakaan mobil. Harimada pun tidak mendapatkan profesor pengganti, sehingga ia harus belajar semuanya sendirian, termasuk Partita Bach tersebut. Tapi justru dari keadaan itulah, Harimada benar-benar belajar bagaimana rasanya jika kelak ia sudah lulus dari program Master, dimana ia akan berdiri di atas kakinya sendiri sebagai seorang artis yang independen. Sebuah proses yang tidak mudah karena pada umumnya khalayak hanya melihat output-nya saja, apakah seorang musisi dikategorikan sebagai pianis bagus atau tidak. Bagaimana pun juga, apabila telah berada di atas panggung, the show must go on.

Masih membahas Bach tersebut, saya menyarankan Harimada untuk mendengarkan rekaman Bach versi Martha Argerich (diterbitkan oleh Deutsche Grammophon). Saya tidak menyarankannya untuk mendengarkan versi Glenn Gould atau Rosalyn Tureck karena dua artis tersebut memang selalu menjadi acuan untuk Bach. Pada Bach versi Martha Argerich, ada suatu “sentuhan” yang berbeda. Harimada bilang, Argerich membuat tempo yang lebih cepat dari biasanya dan memiliki bounce (seperti irama tarian itu tadi) yang sangat hidup, seperti spontan, sehingga orang tidak bosan untuk mendengar. Kebetulan Harimada hanya punya rekaman Argerich yang memainkan Partita, sementara untuk referensi lebih lanjut bisa coba dengarkan Toccata in C minor BWV 911, dan lihat betapa kokoh struktur dan penggalangan arsitektur karya Bach tersebut yang dibangun dari awal hingga akhir oleh Argerich.

CD Martha Argerich plays Johann Sebastian Bach

Harimada juga sempat menanyakan apakah permainan Partita-nya tidak ortodoks, karena menggunakan pedal di beberapa tempat. Mengacu pada pedal yang (biasanya) tabu dipergunakan pada musik-musik era Barok, saya mengemukakan bahwa pedal bukanlah suatu hal yang esensial. Pianis Iravati Sudiarso (yang merupakan guru saya dan Harimada) pernah mengatakan bahwa pedal bisa saja digunakan pada saat main Bach di pentas atau resital, di bagian-bagian yang sekiranya perlu. Penggunaan pedal pada karya Bach memiliki fungsi dan maksud yang berbeda dengan komposisi di era setelahnya, seperti Klasik atau Romantik. Hanya saja dalam ujian, biasanya penggunaan pedal dihindari karena para juri ingin mengetahui apakah pianis yang sedang diuji dapat memainkan fuga dan kalimat-kalimat Bach yang rumit secara legato. Tentunya pedal dapat digunakan saat pentas, karena pianis ahli Bach seperti Rosalyn Tureck pun menggunakan pedal di beberapa tempat yang perlu, seperti pada sustain chords besar atau untuk memperlancar legato apabila finger-legato sudah mencapai limitnya, atau mungkin untuk alasan artistik lain.

Pada akhirnya, semuanya kembali lagi kepada proses. Musik bukanlah sesuatu yang instan dan dapat ditampilkan hanya dalam latihan “sistem kebut semalam”. Dalam sebuah wawancara Elyse Mach dengan pianis Stephen Hough (dalam buku Great Contemporary Pianists Speak for Themselves), dijelaskan, “There is a whole Romantic aesthetic which seems to be missing from many areas of life today. We’ve become extremely harsh somehow, and we just do not seem to have time to appreciate certain beauties. Everything is very fast, very frenetic. If you had, for instance, to travel on a horse from Ravinia to this hotel, the Moraine, which is a ten-minute car ride, your sense of distance would be more perceptive, more sensitive. But for us, it is just nothing; we hop in a car, and move on, passing gas stations on every corner. It is reflected in life and in art. We don’t have any time for people; we don’t have have any time to think, to absorb,”
Harimada telah membuktikan pada konser malam itu bahwa dengan kerja keras yang gigih dan mandiri, mungkin Prof. Mila Baslawskaja akan tersenyum saat melihat hasilnya. Pendewasaan estetika suatu karya musik memang akan terus bermetamorfosis dan saya yakin Harimada sedang berada dalam proses itu.

Postlude
Nampaknya obrolan malam itu dipersatukan oleh bahasan tentang Martha Argerich. Entah suatu kebetulan atau bukan, dua karya yang ditampilkan malam itu merupakan salah satu repertoire Argerich, yaitu Partita Bach dan Sonata Cesar Franck. Kebetulan di Goethe pada saat jeda intermission berlangsung, saya sempat mengobrol dengan pianis Levi Gunardi yang bercerita bahwa ia baru saja membeli DVD "Martha Argerich, Conversation Nocturne". Mungkin memang itu suatu pertanda bahwa passion dan musicianship Martha Argerich turut hadir pada hati para musisi di Negara Dunia Ketiga ini. Semoga Harimada dapat menyelesaikan persiapannya untuk tour keliling Indonesia awal April ini bersama beberapa musisi kontemporer Belanda.

Selamat dan sukses!

2 comments:

Nino said...

Btw, recording Toccata in C minor versi Argerich ini paling keren yang pernah saya dengar. She DOES know how to play toccata!

Aditya P Setiadi said...

Exactly! Form-nya sangat kokoh, tetapi Argerich masih dapat memberi nafas2 di setiap kalimatnya. Superb!