Sunday, January 03, 2010

Semester Pertama Mengajar di UI

Puji syukur kehadirat Tuhan, kami selaku tim dosen MPK Seni Musik Universitas Indonesia (Aditya Setiadi, Mira Wardhani, Sri Muji Rakhmawati) berhasil membawa mahasiswa angkatan 2009 dengan hasil yang cukup memuaskan. Sebagai mata kuliah yang baru (diperdanakan pada semester gasal 2009), kami menempuhnya dengan proses yang tidak mudah, dan hal tersebut tidak hanya dari segi pelaksanaan mata kuliahnya, namun dari segi pengurusan administrasi UI yang cukup birokratis.

Pada Awalnya
Kisah awal kami mengajar MPK Seni cukup panjang, dan dimulai ketika saya selesai diwisuda tahun lalu. Setelah selesai wisuda, saya beserta Wati dipanggil oleh Bapak AG. Sudibyo (salah satu pejabat rektorat dan konduktor musik saat wisuda) untuk menghadap. Ternyata beliau menyampaikan kabar bahwa Rektor UI sedang menyiapkan UI Arts Center (rencananya rampung 2012) yang diharapkan dapat memayungi kegiatan-kegiatan berkesenian yang ada di lingkungan UI, termasuk sedang membuat proposal untuk mendirikan fakultas seni. Salah satu bibit yang sedang dibenih (semacam proyek percobaan) untuk menuju ke fakultas seni tersebut adalah mata kuliah MPK Seni yang memayungi berbagai macam kuliah seni, seperti membatik, seni lukis, pewayangan, dll. Saat itu Pak Dibyo menawarkan saya dan Wati untuk menjadi salah satu tim dosen mata kuliah baru yang akan berada di bawah naungan MPK Seni, “Pokoknya seni musik yang berlatar belakang sejarah musik Barat. Nama mata kuliahnya terserah kamu, kurikulumnya juga kamu atur saja,” kata Pak Dibyo.
Alasan Pak Dibyo memilih saya dilatarbelakangi oleh kegiatan bermusik saya (dalam bidang keilmuan) yang cukup aktif selama menjadi mahasiswa, sementara Wati memang penyanyi seriosa andalan UI jika sedang ada acara-acara kenegaraan.

Kemudian saya teringat Mira Wardhani, teman baik saya yang juga seorang ahli musik dan kebetulan memegang kelas di Pascasarjana Komunikasi UI. Setelah Pak Dibyo setuju akan keterlibatan Mbak Mira di kuliah baru tersebut, kami segera membuat kurikulum yang berbasiskan pada konsep kuliah Apresiasi Musik, dimana tujuannya adalah agar mahasiswa saat mendengarkan musik (musik apapun, bisa musik klasik, pop, rock, blues, dll) tidak menelannya bulat-bulat, tapi juga tahu latar belakang perkembangan, proses, dan hal-hal yang berkaitan dengan musik itu sendiri. Pada akhirnya diharapkan bahwa musik sebagai produk budaya dapat membuka wawasan mahasiswa terhadap keragaman kultur yang ada di dunia, dan bagaimana antar kultur tersebut sifatnya cair dan saling mempengaruhi.

Orang yang bilang bahwa musik A hanya miliknya kaum anu, musik B miliknya orang anu; adalah orang-orang egois! Seni itu sifatnya cair dan fleksibel. Tidak ada pemisahan antara dunia Timur dan Barat, semuanya saling sintesis menghasilkan sesuatu yang baru. Kontribusi dunia Timur terhadap peradaban Barat sangat signifikan, misalnya cendekiawan Al-Farabi di zaman pertengahan turut memberikan fondasi bagi pengembangan sistem solmisasi tangganada musik Barat. Atau alat musik dawai Middle-East zaman Byzantium, menjadi nenek moyang biola. Belum lagi dalam arsitektur, sangat besar pengaruh arsitektur dunia Timur ketika zaman Gothic berlangsung.” demikian penjelasan Mbak Mira saat kami merancang kurikulum.

Setelah Pak Dibyo mengecek kurikulum yang kami buat, beliau menambahkan bahwa dalam kuliah tersebut harus diusahakan mengandung muatan praktis, yang berarti bahwa mahasiswa dapat turut serta mempersembahkan musik, apapun bentuknya. Beliau juga menyarankan nama mata kuliahnya dinamakan “Musik dan Vokal” agar beliau bisa turut mengajar vokal, beserta dengan soprano Wati. Pada awalnya saya (atas diskusi dengan Ibu Linda Primana, pianis dan pengajar psikologi UI) mengajukan nama kuliah “Apresiasi Musik”, namun karena harus bermuatan unsur praktis tersebut, maka nama “Musik dan Vokal” yang dipilih. Apalah artinya sebuah nama, meskipun pada kenyataannya salah satu mata kuliah MPK Seni ada yang bernama “Apresiasi Film”.

Kemudian mengenai pelaksanaan kuliah, ternyata MPK Seni berada di bawah naungan Departemen Ilmu Filsafat (Fakultas Ilmu Budaya) UI, dan diasuh oleh Prof. Irmayanti Meliono Budianto, sebagai koordinator. Kuliahnya sendiri dilakukan di Gedung IX FIB UI yang nyaman dan dikelilingi oleh pepohonan rindang sejuk. Kuliah pertama sedikit bombastis, karena Jakarta-Depok sedang “dikunjungi” gempa bumi sehingga kelas terpaksa dilakukan di beranda gedung.

Materi Perkuliahan
Titik berat perkuliahan adalah konsentrasi studi pada perkembangan musik melalui kacamata sejarah musik Barat, yaitu sejak zaman Medieval, Renaissance, Barok, Klasik, Romantik, dan Modern. Sebagaimana musik merupakan produk kebudayaan, tentunya saling mempengaruhi dengan produk kebudayaan lain seperti arsitektur, seni lukis, fashion, hingga kondisi sosial-budaya masyarakat. Yang menarik adalah respon mahasiswa ketika mereka melihat tampilan gambar-gambar menarik dan contoh-contoh video musik yang disampaikan via media infocus. Misalnya, ketika membahas zaman Barok, saya menampilkan berbagai contoh arsitektur Barok yang agung dan penuh ornamen, begitu pula dengan contoh-contoh lukisannya, hingga pada pemutaran beberapa video pertunjukan musik Barok, seperti concerto Vivaldi atau opera Handel. Semuanya terpukau dan berdecak kagum melihat visualisasi tersebut, seakan-akan mereka belum pernah melihat gambar-gambar seperti itu. Dan memang benar, ketika saya tanyakan apakah mereka sebelumnya pernah melihat gambar-gambar istana zaman Barok, mereka jawab: Belum.

Terus terang, mendengar jawaban mereka hati ini rasanya menjadi miris. Saya sendiri sengaja menampilkan banyak visualisasi agar mahasiswa dapat berpikir secara holistik mengenai zaman yang sedang dibahas - supaya ada gambarannya, sehingga mereka dapat memahami secara kontekstual. Seperti misalnya gambar-gambar istana zaman Barok adalah materi yang sangat mudah diperoleh di internet, begitupun dengan video pertunjukan musik klasik, tersebar jutaan channel di Youtube. Saya sendiri kurang begitu tahu, mengapa dari 90 mahasiswa yang saya pegang, hanya satu-dua orang yang pernah melihat. Asumsi saya: (1) Mereka malas melihat hal-hal seperti itu, jadi entah situs apa yang dibuka ketika mereka browsing di internet, (2) Mereka sebenarnya tertarik tetapi kekurangan informasi dan wawasan, sehingga tidak tahu situs apa yang harus dibuka atau tidak tahu ingin mendengarkan musik apa, atau (3) Bagaimana dengan pengajaran sejarah di SMA? Apakah hanya membaca teks belaka, tanpa ada visualisasi? Yang jelas, ketika ditampilkan visualisasi gambar-gambar, mereka sangat tertarik. Semua mendengarkan kuliah yang diberikan dengan konsentrasi penuh dan tidak ada satu pun yang mengobrol. Apalagi ketika diputar video-video musik klasik, ternyata semua mata terpaku dan tidak jarang ada yang memuji. Terkadang diselingi tawa, biasanya ketika melihat penyanyi-penyanyi opera beraksi. Tidak apa, itu wajar.

Yang tidak wajar adalah ketika mereka memahami budaya Barat hanya sebatas melalui simbol-simbol kekiniannya saja (misalnya MTV) dan bentuk-bentuk simulacra (misalnya reality show) yang langsung mereka telan bulat-bulat tanpa menyadari bahwa mereka sedang menjadi korban dari proses pencitraan tersebut. Mereka harus tahu semua akar dari proses kebudayaan dan bagaimana kebudayaan itu bersintesis sehingga dapat melihatnya secara kritis dan bijaksana. Seperti ketika saya menjelaskan perbedaan antara musik seni (art music) yang oleh orang awam biasa disebut dengan istilah “Musik Klasik” (padahal secara historis, “Klasik” adalah nama suatu zaman di antara Barok dan Romantik) dengan “musik industri”, sangat sulit sekali untuk diserap oleh logika mereka, karena nampaknya mereka tidak dibekali dengan pemikiran tersebut semasa SMA dulu. Mereka cenderung memahami sejarah dalam logika pemikiran kekinian, bukan secara kontekstual ketika peristiwa sejarah tersebut terjadi. Apakah semasa SMA dulu pelajaran sejarah hanya dipahami sebagai pelajaran “menghafal”?
Saya kaget ketika ada beberapa mahasiswa yang mengeluh ketika tahu bahwa mereka sedang mempelajari sejarah musik dan berpikiran bahwa isi kuliahnya hanya menghafal tahun-tahun kelahiran komposer, tahun-tahun terjadinya peristiwa, dan siapa saja tokoh yang terlibat dalam peristiwa tersebut.

Suasana perkuliahan

Kemudian secara praktik, jatah mengajar Wati dan Pak Dibyo adalah setelah UTS, dimana mereka memberikan pengenalan teknik dasar bernyanyi pada mahasiswa. Sudah pasti mahasiswa tidak bisa mempraktikkan teknik menyanyi tersebut sesuai dengan yang diajarkan (hanya tiga kali pertemuan, what can you expect?) tetapi paling tidak, mereka tahu bahwa sebelum menyanyi hal yang dilakukan adalah vocalizing dan bagaimana mengambil nada agar intervalnya tepat. Selain itu, menyanyi merupakan modal dasar apabila ada mahasiswa yang sama sekali tidak bisa memainkan alat musik. Meskipun demikian, ternyata banyak sekali mahasiswa yang memiliki musikalitas dan bakat terpendam, dan itu terlihat ketika UAS yang berupa pertunjukan musik. Tidak jarang diantara mereka yang dapat memainkan alat musik dan memiliki kualitas vokal yang baik. Varian lagunya pun beragam, dari musik seni (musik klasik), pop, jazz, hingga rock. Tidak apa-apa, apapun lagu yang mereka pilih untuk ditampilkan, paling tidak mereka mengerti kajiannya secara ilmiah.

Saya dan Wati melakukan penilaian akhir untuk UAS

Ketika saya menulis tulisan ini, keesokan hari saya harus mempublikasikan nilai akhir mahasiswa di Sistem Akademik Online. Saya hanya berdoa, semoga apa yang telah kami lakukan sudah benar adanya. Pengalaman pertama saya sebagai dosen sungguh menyenangkan (saya kurang tahu bagaimana kesan Mbak Mira dan Wati, tapi semestinya mereka senang juga) dan terima kasih atas kerjasama yang solid dari kelas MPK Seni Musik! Juga terima kasih banyak kepada Pak Dibyo atas kesempatan dan kepercayaan yang telah diberikan, juga kepada Prof. Irma yang selalu mendukung dan mengayomi kami.

Kelas Musik 02 bersama Mira Wardhani, saya, dan Wati

6 comments:

Nien said...

wah menarik sekali mas, saya baru tahu ada MPKS baru tentang musik (agak menyesal kenapa ga dari dulu aja MPKS ini uda ada, biar saya bisa ikutan :D , saya FISIP 2007)
apakah di semester ini masih ada mata kuliah ini? atau hanya di semester ganjil?

Aditya P Setiadi said...

Halo Nien. Dulu MPKS-nya blm ada soalnya saya blm lulus haha.. *kidding :p
MPKS Musik ini ada di semester ganjil & genap, tapi berdasarkan rapat dgn rektorat baru2 ini, sepertinya MPKS akan dibuat di semester ganjil saja, tapi itu masih sebatas wacana.
Skrg mata kuliahnya sedang berjalan, jika mau, Nien bisa sit-in, di gedung IX FIB, ruang 9306, tiap hari Rabu dan Jumat pk 15-18. Hari jumat bukan saya yg mengajar, tapi Mbak Mira.
Thanks ya atas komentarnya :)

I am a Naval Architec said...

menarik sekali mas. syng saja saya adalah angkatan 2007. dan sudah ambil mpks kerawitan bali dan jawa.hehehe
mudah2 ini jdi langkah awal untuk dpat membuat pusat studi musik di UI, atw bahkan nnti jdi program studi bahkan fakultas seni aja sdkalian.heheh

Aditya P Setiadi said...

Halo. Sebenarnya sama saja, mau karawitan Jawa, Bali, ataupun seni musik yg saya asuh, karena inti dari materi yg diajarkan adalah bahwa kita dapat mempelajari suatu kebudayaan melalui seni, dimana seni itu sifatnya cair & fleksibel. Dari sana kita bisa belajar menghargai orang dan bertoleransi. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini ya :)

just another incredibla said...

waaaah...menarik...
saya dulu cuma sempet ikut karawitan jawa...
ternyata sekarang ada seni musik toh...
wiiiii...keren...
sayang, angkatan jebot dulu ngga ada..
saya angkatan pertama yang kena wajib PDPT termasuk MPK seni/ olahraga..
masih 1 sks kah bobotnya??

riskaaaaa said...

ePak saya mau bertanya kalau yang tidak bisa sama sekali memainkan alat musik bisa bergabung tidak ?