Monday, February 22, 2010

Ferdy Tumakaka Sang Pengelana

Ferdy Tumakaka, seorang jejaka yang saya kenal sembilan tahun lalu sebagai pemenang pertama Jakarta Piano Competition, kini telah bermetamorfosis menjadi seorang artis besar dengan sejumlah pencapaian artistik yang signifikan di dunia internasional. Merupakan salah satu bibit unggul bangsa ini, kiprahnya sebagai music director di New York Ballet Theater tentu bukan hal sembarangan, apalagi jabatan itu diperolehnya saat ia masih berusia 21 tahun! Sangat disayangkan, mungkin negara ini masih sibuk mengurus sandiwara-drama intrik-politik, sehingga aktivitas Ferdy di Amerika sana kurang terdengar disini, kecuali oleh para kawan-kawannya yang tetap update melalui sarana jejaring sosial di internet.

Ferdy Sang Pengelana yang kini telah mendapatkan Green Card di USA tersebut merupakan salah satu contoh sosok manusia yang berhasil (atau mungkin: sedang) meraih impiannya. Tentunya itu tidak akan terjadi apabila ia tidak memiliki kualitas yang memadai untuk berangkat meninggalkan comfort zone negeri sendiri dan mendayagunakan seluruh energinya untuk bermusik di Negeri Paman Sam sana. Spirit itu pula yang menjadi jantung penggerak konser “Wanderer” yang diadakannya di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail pada tanggal 18 Februari lalu.

Sejak pertama memasuki foyer auditorium, suasana artistik dan penuh taste memang dapat terbersit. Buku program resital piano yang biasanya dibuat dalam format konvensional, kali ini mendapatkan touch yang sangat artistik, dengan desain grafis dan digital imaging yang superb, fetch, dan edgy. Tamu yang datang terdiri atas berbagai kalangan, mulai dari pecinta musik klasik, duta besar, hingga kalangan selebritis papan atas dan sosialita (yang mana kehadiran mereka jarang kita temui pada saat menghadiri resital piano klasik pada umumnya); diantaranya adalah sahabat-sahabat Ferdy sendiri: Paquita Widjaja dan Nicholas Saputra yang menjadi among tamu, juga Teges Prita Soraya sebagai MC. Kehadiran para tamu dari berbagai kalangan tersebut memperlihatkan bahwa Ferdy memilik persona magnetik yang belum tentu diperoleh oleh setiap musisi.

Maka dengan busana kemeja putih sederhana, celana kain hitam, dan sandal, Ferdy tampil di atas panggung membawakan lagu pertama karya Johann Sebastian Bach, French Suite No. 5 in G Major, BWV 816. Suite yang merupakan kumpulan lagu berirama tarian dari era Barok tersebut terdiri atas enam bagian, dimulai dengan Allemande (tarian Jerman berirama dua) yang dinamis. Pada buku program ditulis: Awalnya French Suite ini ditulis tahun 1722 untuk harpsichord atau clavichord. Sengaja diberi nama “French” agar tidak tertukar dengan dengan “English Suite”. Johann Nikolaus Forkel yang menyusun biografi Bach, pada tahun 1802 mempopulerkan nama ini dengan bertutur, “Orang-orang biasanya menyebut karya ini French Suite karena ditulis dengan langgam Prancis,” Sebenarnya pernyataan tersebut kurang tepat, karena seperti suite Bach lainnya, semua ditulis dengan mengikuti pakem Italia. Selain itu, sebagaimana semua karya Bach, kiblat dari French Suite ini berada di bagian Sarabande dengan ciri khas tempo lambat dan ditulis dalam birama ¾.


Ferdy Tumakaka, Sang Pengelana

Ferdy sendiri membuka acara dengan French Suite ini sebagai prelude untuk lagu selanjutnya, yaitu “Wanderer Fantasy” karya komponis era Romantik, Franz Schubert. Fantasy in C Major “Wanderer” yang digubah oleh Franz Schubert ini memiliki sejarah yang sangat menarik: Saking sulitnya karya ini, bahkan Schubert sendiri frustrasi ketika sedang memainkan bagian terakhirnya. Ia tiba-tiba bangkit dengan gusar dan berkata, “Suruh saja setan yang memainkannya! Saya tidak mampu!” Bisa dikatakan bahwa Fantasy Wanderer ini merupakan magnum opus diantara karya-karya Schubert yang lain karena untuk memainkannya dibutuhkan kemampuan virtuositas yang sangat tinggi, baik outside, maupun inside. Nampaknya Ferdy Sang Pengelana bisa menaklukkan keduanya: Selain kemampuan untuk mengolah energi ekstrovertnya dengan tone besar dan gagah berani, pada bagian kedua yang bertempo lambat (Adagio), terlihat betul kemampuannya dalam menciptakan "cri de coeur" yang sangat jujur, dengan pewarnaan tone sedemikian rupa sehingga dibalik kemuraman, dapat muncul titik-titik cahaya pengharapan yang bening. Pianis kawakan Iravati Sudiarso yang hadir malam itu, mengaku sangat terkesan dan terharu. Beliau berkata, “Dulu guru saya, Walter Hautzig, selalu memainkan Fantasy Wanderer ini setiap kali resital. Rasanya sampai bosan mendengarnya. Namun ketika saya mendengar interpretasi Ferdy malam ini, ia seperti memberikan vision baru bagi kita. Fantasy Wanderer yang ia mainkan jauh lebih bagus daripada yang dimainkan guru saya. Saya benar-benar kagum dan sangat tersentuh akan pencapaian artistiknya. Menurut saya, Ferdy adalah pianis terbaik yang pernah kita miliki,”

Setelah intermission, program dilanjutkan dengan karya Claude DebussyImages, Book 1”. Terdapat tiga lagu di dalamnya, yaitu Reflets dans l’eau (Bayangan dalam air), Hommage à Rameau (Penghormatan untuk Rameau), dan Mouvement (Gerak). Ferdy yang mengidentifikasikan dirinya sebagai “never a purist” ini memilih untuk menyajikan Reflets dans l’eau dengan pendekatan yang sedikit romantik, dibandingkan dengan impresionistik sebagaimana karya-karya Debussy pada umumnya. Alur melodi yang menggambarkan bayang-bayang cahaya dalam air, mengalir tenang dalam rubato yang terkontrol. Tone yang digunakan jauh berbeda dengan Fantasy Wanderer yang ia mainkan sebelumnya. Kali ini ada bunyi bisikan dan tetesan air yang jernih, diciptakan dengan pewarnaan ultra subtile. Indah!
Lantas pada Hommage à Rameau yang diciptakan Debussy untuk menghormati pendahulunya ini (komposer era Barok Prancis, Jean-Phillipe Rameau), ada nuansa nostalgia dan kerinduan mendalam yang tak lekang oleh waktu. Mendengarkan Ferdy memainkan karya ini, momen seakan terhenti dan hanya terisi oleh denting-denting piano dalam gerak prosesional nan harmonis, syahdu, dan khidmat. Sementara itu, bagian Mouvement ditampilkan dengan efisiensi gerak konstan yang menutup “Images” dengan menawan.

Nicholas Saputra membacakan puisi sebelum "In the Kraton"

Rupanya pengembaraan artistik Ferdy ke tiga benua sebagai solis, membawanya kembali ke ranah Indonesia tercinta. Pilihannya jatuh pada karya Leopold GodowskyIn the Kraton” yang diambil dari kumpulan “Java Suite”. Sebelumnya, Nicholas Saputra yang malam itu mengingatkan kita pada perannya sebagai Rangga dalam film “Ada Apa Dengan Cinta?”, membawakan puisi pembuka. Komposer sekaligus pianis legendaris Leopold Godowsky yang pada tahun 1923 melakukan serangkaian perjalanan ke tempat-tempat eksotik di seluruh dunia, sempat singgah di Jawa dimana ia memberikan kesannya yang mendalam, “Masuk ke Tanah Jawa membuat kita seolah-olah berada di dunia lain, atau sekelibat melihat dunia yang immortal. Musiknya sangat mengagumkan. Sulit menjelaskan kekaguman ini, sama sulitnya seperti berusaha menjelaskan warna pada seorang tunanetra,”. Begitu pula ketika Ferdy mendentingkan nada pertama “In the Kraton”, suasana immortal tersebut memang demikian adanya. Tiada satu tempat pun yang tidak diberi sentuhan artistik olehnya, semuanya mengalir dalam ruang dan waktu yang terhenti, membawa imajinasi pada keindahan Jawa di era kolonial. Layaknya kesan Godowsky ketika mengunjungi keeksotikan pulau Jawa kala itu, saya pun tidak kuasa menggambarkan bagaimana Ferdy dapat menciptakan keindahan itu. Seseorang harus hadir disana, menyaksikan sendiri momen itu. Terlalu sublim untuk dijelaskan dengan akal sehat: yang ada adalah imajinasi!


Ferdy: Never a purist

Kemudian Ferdy menutup konser malam itu dengan Bolero karya Frederic Chopin. Mungkin ia juga ingin membawa peringatan lahirnya Chopin (tahun 2010 ini, merupakan 200 tahun lahirnya Chopin dan Schumann), namun berhubung “In the Kraton” masih terngiang-ngiang dalam imajinasi, Bolero tersebut nampak hadir sebagai encore pemanis. Apapun, konser bertajuk “Wanderer” yang berarti “Sang Pengelana” itu telah menjadi bukti konkrit akan pengembaraan Ferdy Tumakaka dalam hal pencarian jatidiri dan proses berkesenian yang semakin terasah. Nampaknya ia telah belajar banyak dari Kehidupan dan itu membuatnya semakin kaya. Kaya dalam arti batiniah dan itu terlihat dari musiknya, karena musik selalu berbicara tentang Kebenaran.

Selamat dan sukses untuk Ferdy Tumakaka!

1 comment:

irham febrieka ph (0906 514 960) said...

mas, saya irham (0906 514 960), murid mpks seni. sory email mas yg @musicians hilang, truz saya bingung kirim essay tugas yg mas suruh kirim kmana,, jd saya kirim ke email yg @hotmail. Tapi nanti hari rabu saya bawakan print-an nya.

Maaf saya pakai blog untuk menghubungi mas, habisnya saya bingung