Sunday, February 07, 2010

Malam Musikal ala Aleksander Kudajczyk & Asep Hidayat

Pada tanggal 19 Januari 2010 yang lalu, saya berkesempatan untuk menghadiri persembahan musikal karya-karya Chopin dan Bach yang disajikan oleh pianis berkebangsaan Polandia, Aleksander Kudajczyk dan pemain cello kawakan Indonesia, Asep Hidayat. Bertempat di Griya Jenggala, acara tersebut menarik perhatian penonton karena sang pianis rupanya memiliki riwayat perjalanan karir yang sangat unik. Berangkat dari keluarga musikal, Aleksander yang menekuni studi pianonya sejak kecil memutuskan untuk pindah dari Polandia ke Glasgow, Inggris, dimana disana ia terpaksa bekerja sebagai cleaning service di sebuah universitas. Bakat terpendamnya terkuak setelah secara tidak sengaja ia memainkan piano di auditorium universitas tersebut, dan terekam di CCTV. Untuk info lebih lanjut, silahkan lihat di:


Aleksander Kudajczyk memainkan Ballade in F minor karya Chopin

Malam itu, resital dibagi dalam dua babak. Babak pertama adalah Aleksander Kudajczyk secara solo memainkan karya-karya Frederic Chopin (antara lain Ballade in F minor, Scherzo in B minor, dan beberapa Valse), sementara itu babak kedua diisi oleh permainan cello Asep Hidayat yang menyuguhkan Cello Suite no 1 karya Johann Sebastian Bach. Pada akhirnya, mereka berdua duet menyajikan The Swan (dari Le carnaval des animaux) karya Camille Saint-Saƫns sebagai lagu penutup.

Rangkaian resital dibuka dengan karya liris Chopin, Ballade in F minor. Pada karya pertama ini, Aleksander menunjukkan kebolehannya dalam memproduksi tone-touch yang sangat sensitif dan penuh warna. Ia bisa membawakan Ballade terakhir Chopin tersebut dalam satu kesatuan nafas yang terukur dari awal hingga akhir.
Ballade Chopin yang satu ini memang sangat spesial. Bahkan kritikus musik James Huneker yang menulis buku “Chopin: The Man and His Music” menyatakan bahwa khusus untuk membahas Ballade in F minor yang didedikasikan oleh Chopin untuk Baronne C. de Rothschild ini, ia bisa membuat satu buku sendiri! Di dalam Ballade ini terkandung unsur reflektif dalam penceritaan yang liris, sebagaimana pengertian dari Ballade itu sendiri, yang berarti “Kisah mengenai suatu perjalanan”, dimana “Perjalanan” dapat diartikan sebagai perjalanan hidup, perjalanan batiniah, baik ragawi maupun sukma. Yang jelas, pianis senior Iravati Sudiarso dulu pernah berkisah pada saya: Suatu saat ketika beliau sedang berlatih di basement Steinway House New York, tiba-tiba ruangannya dihampiri oleh seorang sepuh yang dengan penuh kerendahan hati memperkenalkan diri sebagai Artur Rubinstein. Ketika itu Iravati sedang berlatih Chopin Ballade in F minor, membuat Artur Rubinstein terlihat sangat antusias dan mengatakan, “For me, I need a lifetime to understand the meaning of this masterpiece,”.

James Huneker sendiri menulis bahwa Ballade ini merupakan refleksi batiniah seorang manusia yang sedang gundah dalam rasa penasaran akan desakan penyakit yang sedang mendera jiwa. Mungkin memang itulah “perjalanan” batiniah Chopin yang semasa hidupnya berada dalam masa perang dan kerapkali harus berpindah tempat tinggal, juga atas penyakit TBC yang dideritanya. Di dalam musiknya ada passion, terkadang halus dan meluap-luap, semuanya disatukan dalam konstruksi komposisi yang elok. James Huneker menutup tulisan tentang Ballade ini dengan pernyataan bahwa komposisi tersebut merupakan "Chopin di puncak tertinggi pencapaian artistiknya, sangat personal dan menusuk langsung pada hati sanubari manusia." Seperti halnya Bach Chromatic Fantasy; Beethoven pada bagian pertama Sonata Cis minor dan arioso pada Sonata op 110-nya; atau bagian pertama Schumann Fantasy op 17; semuanya memiliki keintiman yang sublim seperti yang terkandung dalam Ballade in F minor, dan dapat disandingkan dengan ambiguitas senyum ala Monalisa karya Leonardo da Vinci.

Keintiman yang dibuat oleh Aleksander Kudajczyk malam itu memang diperoleh dari tone-touch yang prima, sebagaimana ia mengakhiri rangkaian resital dengan duet cantik bersama cellist Asep Hidayat. Pada piano, ia memainkan riak gelombang air nan tenang dalam dinamik yang subtle, sangat syahdu, sementara itu angsanya (diwujudkan melalui permainan cello Asep Hidayat) berenang anggun sambil bernyanyi dalam legato yang tidak berkesudahan. Betapa indahnya The Swan, membuat penonton terbius dan terlena sehingga pasangan pianis-cellist itu diminta untuk mengulangi lagi "Swan Song" yang mungkin sedang berenang mengarungi perjalanan hidupnya dalam kedamaian danau musim semi.

Duet cantik lagu "The Swan" oleh Aleksander Kudajczyk & Asep Hidayat

No comments: