Sunday, February 14, 2010

Schumannabend

Schumann memang selalu misterius! Sebagai salah satu tonggak gerakan romantisme dalam musik, Schumann memang memiliki kedalaman tersendiri yang terkadang ambigu dan sarat akan teka-teki. Ambiguitas tersebut tercermin dari filosofinya akan karakter Florestan dan Eusebius (yang diambilnya dari format komedia improvisasi arkaik Italia, yakni commedia dell’arte). Florestan yang ekstrovert dan Eusebius yang introvert menggambarkan bahwa dalam setiap aspek kehidupan ada dikotomi: sebagaimana filosofi Goethe akan Faust dan Mephistopheles, atau mitologi Yunani akan karakter Apollo dan Dionysus.

Sebagaimana pemikirannya, Schumann adalah pribadi yang berkepribadian ganda. Terkadang pemikirannya laksana malaikat dan setan, sebagaimana ia menderita penyakit jiwa pada saat-saat terakhir hidupnya. Kendati demikian, musiknya memiliki nuansa intim yang dikemas dalam virtuositas individual, terkadang melankolis dan penuh enigma, namun bisa juga meluap-luap dan penuh emosi. Yang pasti, passion selalu ada disana. Coba saja dengarkan Drei Fantasiestücke Op 73 untuk piano dan cello, atau Fantasy Op 17 untuk piano solo.

Dalam resital piano dan vokal bertajuk "Schumannabend" (Malam Schumann) di Goethe Haus tanggal 9 Februari yang lalu, pianis Iswargia Sudarno dan mezzosoprano Yosefin Emilia menampilkan serangkaian program yang sangat menarik, yaitu percampuran antara resital vokal dan piano solo. Pilihan karya yang ditampilkan adalah siklus lieder (Tembang Puitik) Myrthen Op 25 dan Frauenliebe und Leben (Kisah Cinta dan Kehidupan Wanita) Op 42, serta penampilan piano solo Iswargia yang kerap disebut Mas Lendi, dengan Carnaval Op 9 dan Kinderszenen (Memori Masa Kecil) Op 15.

Secara keseluruhan, resital berlangsung dengan apik. Mezzosoprano Lia yang sangat ekspresif nampak menunjukkan kematangannya dalam mengolah siklus lieder Frauenliebe und Leben sebagai suatu kesatuan. Soprano Aning Katamsi yang hadir malam itu, berkomentar akan legato Lia yang sangat prima dan pengolahan warna suara antara register dada dan kepala (passaggio) yang biasanya sulit untuk disamakan warnanya, dapat dilakukan Lia dengan mulus. Mezzosoprano Lia memang adalah salah satu dari jajaran penyanyi seriosa menjanjikan negeri ini, dengan warna suara yang indah dan power yang terukur, semoga ia dapat terus melanjutkan jenjang studi vokalnya di Jerman, sebagaimana yang dicita-citakannya.

Pianis Iswargia Sudarno & Mezzosoprano Yosefin Emilia

Siklus lieder Myrthen dan Frauenliebe yang dibawakan Lia sebagai pembuka resital dapat dianalogikan sebagai kisah cinta Schumann pada Clara Wieck, istrinya. Apabila Myrthen adalah hadiah pernikahan dari Schumann untuk Clara Wieck, maka Frauenliebe mengisahkan kisah cinta seorang wanita, sejak ia bertemu dengan kekasihnya, menikah, hingga kekasihnya meninggal. Pada Frauenliebe ini, Schumann mungkin terinspirasi dari kehidupan pribadinya, antara lain dari sulitnya mendapat izin Profesor Wieck ketika ia akan meminang Clara.


Pianis Iswargia Sudarno membawakan Schumann Carnaval Op 9

Sementara itu, Mas Lendi kembali pada kenangan akan masa kecilnya dalam Kinderszenen. Siklus karya solo piano yang menceritakan akan kenangan masa kecil ini terdiri atas 13 lagu, dimana yang paling terkenal adalah Träumerei (Mimpi). Sepertinya Schumann adalah komposer favorit Mas Lendi. Saya ingat pada resital solo di Erasmus Huis (1 Februari 2001), Mas Lendi memainkan seluruh bagian Carnaval Op 9 juga dan memberikan encore (kalau tidak salah) Kind im Einschlummern (Anak yang tertidur) yang merupakan lagu ke-12 dari siklus Kinderszenen. Oleh karena itu, melalui interpretasi pianistik Mas Lendi yang mumpuni, nostalgia itu kembali hadir dalam benak saya. Hal ini mungkin pertanda bahwa Schumann “turut hadir” pada resital malam itu, sebagaimana tahun 2010 ini merupakan peringatan lahirnya Schumann 200 tahun yang lalu.

No comments: