Monday, April 19, 2010

Malam Musikal di Kediaman Duta Besar Austria

Pada tanggal 5 April 2010 yang lalu, saya beserta soprano Christine Lubis, Sri Muji Rakhmawati, dan tenor Imanuel Bimo mendapat kehormatan untuk tampil di Kediaman Duta Besar Austria – His Excellency Dr Klaus Wolfer – di bilangan Imam Bonjol, Menteng. Acara yang dipergelarkan malam itu bertepatan dengan hari ulang tahun Mr Wolfer, dimana beliau turut mengundang duta besar negara-negara sahabat dan para relasi, untuk beramah tamah bersama. Acara tersebut diawali dengan resital vokal mini, dimana kami membawakan lima pilihan karya (berupa lieder dan aria opera) yang telah kami susun dalam satu rangkaian sederhana dan padat, dimana semuanya terdiri atas bahasa Jerman, Italia, dan Prancis, mengingat bahwa penonton yang hadir malam itu berasal dari latar belakang kebudayaan Eropa yang beragam.

Program singkat malam itu: Musical Night

Resital dibuka dengan Bimo yang menyanyikan salah satu lieder terkenal gubahan Franz Schubert, “An die Musik” (To Music). Tembang puitik ini merupakan sebuah “himne” yang ditujukan untuk menghormati musik. Harmoni piano iringannya sederhana, namun lugas. Melodi pada nada-nada bass di piano menjadi semacam arahan filosofis yang mendasari kekuatan musik sebagai salah satu seni yang agung. Karya ini dirasakan cocok sebagai pembuka karena kelugasannya: Untuk Musik. Maka kami ingin menyampaikan bahwa resital mini di Kediaman Duta Besar malam itu didedikasikan kepada musik, sebagaimana Austria telah menjadi ibu pertiwi bagi para musisi dan komposer kelas dunia yang kita kenal hingga saat ini.

Mencoba piano sebelum acara dimulai

Menyambung kepada dedikasi itulah, pada lagu kedua yang diambil dari siklus tembang puitik “Myrthen” karya Robert Schumann, hadirlah “Widmung” (Dedication) yang dibawakan oleh Christine dengan segenap perasaan, sebagaimana Schumann menghadiahkan karya tersebut sebagai mas kawin bagi calon istrinya, Clara Wieck. Bedanya, Christine malam itu mungkin menghadiahkan “Widmung” sebagai mas kawin bagi musik yang selama ini telah digelutinya dan menjadikannya sebagai salah satu soprano menjanjikan negeri ini.


HE Dr Klaus Wolfer bersama performers

Kemudian pada pada lagu ketiga, hadirlah drama queen kita malam itu, yaitu soprano Wati yang tampil mengenakan gaun panjang elegan warna ungu tua dan tatanan rambut à la Maria Callas. Dengan sangat ekspresif, Wati membawakan aria opera “O mio babbino caro” (Oh ayahku tercinta) dari opera Gianni Schicchi karya Giacomo Puccini, yang merupakan “lagu wajib” bagi setiap soprano.

Drama berlanjut pada lagu keempat, yaitu “Flowers Duet” dari opera Lakmé karya komponis Prancis, Leo Delibes. Duet yang sangat merdu dan menawan ini dibawakan oleh soprano Wati dan Christine dengan delicate dan keintiman à la Prancis yang prima. Ceritanya adalah mengenai Lakmé, yang jatuh cinta pada seorang perwira Inggris nan tampan yang sedang ditugaskan di India kala itu, dimana hubungan mereka ditentang oleh Nilakantha, seorang pendeta Brahma fanatik yang adalah ayah Lakmé. Pada Duet Bunga ini, Lakmé dan inangnya (Mallika) sedang bersiap-siap untuk mandi di sungai, bertaburan oleh bunga melati mewangi.

Bersama HE Dr Klaus Wolfer & Istri Dubes Indonesia untuk USA

Setelah duet cantik dari opera Lakmé, kami menghadirkan klimaks berupa pertengkaran dari era sebelum Masehi, yaitu antara Norma (seorang pendeta Druid) dengan kekasihnya, Pollione (utusan Kekaisaran Roma) dimana Pollione berselingkuh dengan Adalgisa, seorang perawan Druid (pengikut Norma) karena sudah bosan dengan Norma yang sudah tua dan tidak menarik lagi. Cat fight yang dibawakan dalam format Trio dari opera Norma karya Vincenzo Bellini ini merupakan salah satu bagian yang paling sulit dalam repertoire opera karena nada-nadanya yang penuh dengan figurasi coloratura dan agility menyanyi à la bel canto, dimana hanya para penyanyi yang sudah berpengalaman saja yang bisa membawakannya. Iringan pianonya pun cukup sulit karena penuh dengan figurasi-figurasi not dalam tempo cepat dan harus terdengar megah seperti orkestra.

Mendapat ucapan selamat dari Mas Addie MS

Syukurlah program malam itu berakhir dengan sambutan meriah sehingga sebagai encore (padahal kami sama sekali tidak menyiapkan encore) akhirnya mengalirlah lagu Nyiur Hijau karya Maladi yang terkenal itu. Mr Wolfer sendiri menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam dan memberikan kado berupa CD Wiener Philharmoniker kepada kami.
Semoga sekelumit resital yang kami tampilkan malam itu dapat menyatukan perbedaan kebudayaan dan bangsa dalam bahasa musik yang universal. Untuk itu kami berterima kasih kepada Kedutaan Besar Austria untuk Indonesia: His Excellency Dr Klaus Wolfer dan istri tercintanya, Madame Dian Wolfer. Juga kepada Mr Dedi Panigoro dan Madame Catharina Leimena atas saran-saran dan rekomendasi yang telah diberikan. God bless you all.

3 comments:

Nien said...

pengen liat perform mbak wati dan mas adit XD
pidio dong mas, ato ga ntar pas UAS di kelas kaya gitu juga *dandan2 syalalala

Aditya P Setiadi said...

Ada sih bbrp dokumentasi dari konser sebelumnya. Nanti tgl 10 Mei ada Gelar Seni MPK Seni di Auditorium FIB UI, Wati akan nyanyi 1-2 lagu untuk pembukaan. Datang saja ya. Thanks :)

Nien said...

ok mas. insya Allah saya sama nyanya mau liat. sore ya?