Sunday, April 18, 2010

Polandia Mengenang 200 Tahun Lahirnya Chopin

Di tengah berita duka lara rakyat Polandia akan wafatnya para pemimpin mereka dalam suatu kecelakaan pesawat terbang tragis, izinkanlah saya untuk menyampaikan sebuah kenangan yang juga berasal dari Polandia. Pada tanggal 10 Maret 2010 lalu Kedutaan Polandia untuk Indonesia sempat menyelenggarakan konser musik di Gedung Kesenian Jakarta, untuk mengenang 200 tahun lahirnya Frederic Chopin, komponis era Romantik yang memang berkebangsaan Polandia (namun lama menetap dan berkarya di Paris).


Artis yang tampil malam itu melibatkan tiga kewarganegaraan, yaitu Dana Ciocarlie (pianis Rumania yang besar di Paris), Adam Wakowicz (pianis Polandia), serta dari Indonesia sendiri adalah pianis Ary Sutedja dan cellist Asep Hidayat. Semuanya menampilkan program all-Chopin works yang sangat padat, hebat, dan cermat. Tidak kurang dari 5 Valses, Polonaise-Fantaisie op 61, 3 Mazurkas op 59, dan Rondeau à la Mazur op 5 langsung dibawakan oleh Dana Ciocarlie sebagai pianis pertama yang membuka konser.

Pianis Dana Ciocarlie

Permainan Dana Ciocarlie yang tegas, enerjik, dan ekstrovert menjadi jiwa dari keseluruhan program yang dibawakannya, meskipun ia tidak kehilangan sisi spiritualitasnya pada bagian pembukaan Polonaise-Fantaisie. Kelincahan jari (agility) dan kekuatan proyeksi tone yang megah dapat tersampaikan dengan sangat baik, mengingat malam itu seluruh karcis terjual habis dan auditorium terisi penuh kapasitasnya. Terkadang ada perbedaan antara akustik auditorium yang penuh dan yang kosong, dimana auditorium yang penuh sesak dengan orang tentu akan lebih menyerap suara piano sehingga dibutuhkan usaha ekstra kuat untuk menyampaikan interpretasi musik yang diinginkan oleh pianis kepada para penonton. Dalam hal ini, Dana Ciocarlie nampak telah berhasil menampilkan kualitas bunyi yang ia inginkan, meskipun harus melalui usaha ekstra keras, seperti menggunakan teknik free-fall pada nada-nada bass yang memiliki dinamik forte (keras). Pendalaman karakter musik Chopin (terutama pada Valses dan Mazurkas) terlihat telah dikuasai dengan sepenuh hati, seperti pada pemunculan aksen-aksen yang tepat dan tegas, membuat pendengarnya menggoyangkan badan mengikuti irama tarian tersebut secara tidak sadar.


Pianis Ary Sutedja & Cellist Asep Hidayat

Kemudian penampilan dilanjutkan dengan pianis Ary Sutedja dan cellist Asep Hidayat membawakan Sonata for Cello and Piano op 65. Permainan dua musisi selalu terlihat menarik karena di dalamnya ada komunikasi interpersonal yang intim, terjalin melalui bahasa-bahasa musik yang disampaikan secara intens. Sonata for Cello and Piano ini merupakan salah satu dari sembilan karya Chopin yang dikarang untuk instrumen selain piano (meskipun unsur piano selalu tetap hadir di dalamnya). Sebagaimana format chamber music, permainan Ary Sutedja terlihat apik dan menggiring Asep Hidayat dalam dialog musikal yang tak berkesudahan.

Pianis Adam Makowicz

Penampilan ketiga yang mengejutkan adalah pianis Adam Makowicz yang lahir tahun 1940. Melihat programnya yang cukup panjang (Preludes op 28 no 2,3,4, 7, 24; Nocturne op 15 no 1; Fantaisie-Impromptu op 56; Ballade no 2 op 38; dan Mazurka no 4 op 17) agak sedikit mengkhawatirkan, takut telinga sudah tidak bisa mencerna lagi karena saat itu menurut saya programnya terlalu panjang dan maraton. Ternyata, setelah Opa Adam memulai not pertamanya, baru semua orang sadar bahwa ternyata ia adalah pianis jazz dan dengan sangat menakjubkan, mengadaptasi semua program Chopin tersebut dalam dentingan nada-nada jazz! Trés magnifique!

Rupanya konser malam itu ingin menghadirkan musik Chopin dalam idiom sebenarnya (klasik) dan dalam bentuk cross-over berupa jazz. Seperti ingin membuktikan bahwa karya-karya Chopin juga bisa dimainkan dalam bentuk jazz, Opa Adam dengan gayanya yang santai dan khas, membiarkan jari-jarinya menari dan berimprovisasi di atas bilah-bilah hitam, membuat para penonton tercengang dan bertepuk tangan setiap kali ada figurasi-figurasi à la jazz yang memukau. Dari permainannya, dapat disimpulkan bahwa Opa Adam telah memahami struktur musik Chopin dengan baik sebelum mengemasnya dalam nada jazz, dan itu semua terukir dalam perjalanan hidupnya yang menarik.

Setelah masa kecilnya dihabiskan untuk mempelajari musik klasik, pada usia 15 tahun ia mulai tertarik dengan musik jazz. Pada zaman komunis Polandia, jazz merupakan sesuatu yang tabu dan terlarang karena merupakan produk dari Barat. Jenis musik tersebutlah yang oleh Makowicz muda dianggap sebagai pintu menuju “dunia kebebasan dan improvisasi”, dimana ia rela meninggalkan sekolah dan keluarganya pada usia 18 tahun demi mengejar cita-citanya untuk bisa memainkan jenis musik yang dicintainya itu. Karirnya di Amerika Serikat berkembang sejak produser legendaris John Hammond mengundangnya untuk tur keliling Amerika selama 10 minggu. Setelah itu Adam Makowicz pun kerap kali terlibat dengan musisi-musisi terkenal, seperti Benny Goodman, Herbie Hancock, Earl Hines, Freddie Hubard, Sarah Vaughan, Teddy Wilson, dan George Shearing. Meskipun demikian, Opa Makowicz menganggap bahwa karya-karya Chopin yang semasa kecil diserapnya, telah memberi interpretasi personal dalam setiap musik jazz-nya.

Sebuah konser yang sangat mengesankan, seolah-olah Chopin kembali hadir di tengah-tengah kita melalui karya-karya klasik dan cross-over yang disajikan oleh para artis kawakan tersebut. Dari permainan dan kisah hidup mereka, dapat disimpulkan bahwa musik adalah sesuatu yang cair dan akan terus hidup dalam hati umat manusia, sebagaimana kebudayaan terus berkembang bagi masyarakat yang hidup di dalamnya.

No comments: