Friday, May 07, 2010

Hari Kartini: Kenangan akan Ibunda & Freddy Mercury

“Bunda, engkau bertahta di alam baka,
Rinduku menderu,
Oh menyeru... menyeru...
tanpa jemu...”


Demikian sepenggal syair yang mengawali tembang puitik “Kepadamu Bunda” karangan komponis Trisutji Kamal yang pada peringatan Hari Kartini (21 April 2010) yang lalu dibawakan dengan syahdu oleh soprano Aning Katamsi di auditorium RRI Jakarta.

Tembang puitik (Art song) yang versi aslinya diciptakan untuk vokal dan piano tersebut diadaptasi untuk orkestra dan piano. Kebetulan saat itu saya mendapat kehormatan untuk memainkan part pianonya, sementara bagian orkestranya dimainkan oleh Orkes Simfoni Jakarta dibawah konduktor Amir Katamsi (Sebenarnya Amir Katamsi sama sekali tidak ada hubungan famili dengan Aning Katamsi, kebetulan saja nama belakangnya sama).


Bersama Trisutji Kamal, Aning Katamsi, dan Rani Kamal


Lagu “Kepadamu Bunda” ini sangat spesial sekali, sarat akan makna dan doa yang direpresentasikan melalui harmoni-harmoni melankolis dan syair yang khidmat, hampir mirip dengan suasana muram lied “Suleika” karya Mendelssohn, namun dalam idiom Romantisme Chopin. Suasana renungan yang kental menjadi ciri khas musik-musik karya Trisutji Kamal.

Saya ingat, dalam sebuah kunjungan ke kediaman beliau di Cipete (bersama dengan pianis Linda Suharso), Tante Titi (panggilan akrab Trisutji Kamal) bercerita mengenai pengalaman spiritualnya ketika sedang dalam proses membuat komposisi piano “Sunda Seascapes” yang terdiri atas tujuh lagu.

Beliau bercerita mengenai suatu malam di pulau pribadinya di lepas pantai Anyer. Saat itu bulan menampakkan sinarnya yang cemerlang, Tante Titi bertapa kungkum merendam diri ke tengah laut, merasakan getaran-getaran kosmik yang terjadi dalam dirinya. Menurutnya pengalaman itu sangat sublim dan transendental. Ketika cahaya bulan dipantulkan oleh riak-riak air laut, menampilkan warna-warna keperakan dan bening, namun tetap misterius: Keindahan itulah yang diwujudkan dalam “Nuansa Selat Sunda”.
Kemudian pada lagu “Cumbuan Bulan dan Laut”, kembali menggambarkan mengenai cahaya bulan yang membelai mesra permukaan air laut. Ketika itu saya sangat antusias mendengarkan pengalaman spiritual beliau, menyadari bahwa karya-karya Tante Titi selalu mengandung makna yang lebih dalam daripada yang sekadar tersirat di permukaan. Kira-kira seperti itu.

Memang tidak berlebihan ketika pihak orkestra minta izin pada Tante Titi untuk mengadaptasi tembang puitik “Kepadamu Bunda”, beliau meminta agar bagian piano tetap ditonjolkan, sementara orkestra menjadi warna yang memperkaya harmoni.
Keintiman. Hal itulah yang ingin tetap digarisbawahi oleh Tante Titi, agar nuansa muram dan penuh renungan bagi “Bunda” tetap terjaga, sebagai bentuk komunikasi intens antar penyanyi dan instrumentalis yang mengiringinya.

Acara yang diusung oleh RRI dan TVRI ini juga menampilkan duet adik-kakak (yang masing-masing berkiprah di genre musik berbeda), yaitu: soprano Aning Katamsi dan rocker Doddy Katamsi. Lagu yang dibawakan adalah Barcelona”, yang dulu pernah populer dibawakan oleh rocker band Inggris “Queen” Freddy Mercury dan penyanyi opera Montserrat Caballé. Menyenangkan sekali bisa melihat program konser yang begitu beragam, mulai dari renungan dan doa pada Bunda yang telah meninggal, hingga kegemerlapan rockstar à la Queen.
Tidak apa-apa, hidup sesekali harus diselingi oleh dinamika.

Selamat Hari Kartini 2010!



Adik-Kakak: Soprano Aning Katamsi & Rocker Doddy Katamsi



Cover Album "Barcelona" (Freddy Mercury & Montserrat Caballe)

No comments: