Thursday, May 13, 2010

Nafas Kenangan Adela Martín

Selasa 4 Mei yang lalu, Kedutaan Besar Kerajaan Spanyol untuk Indonesia mengadakan resital bertajuk “El soplo del recuerdo” di Usmar Ismail Hall, menampilkan pianis handal Adela Martín yang beberapa tahun silam sempat berkunjung juga ke Jakarta, dan menyuguhkan sebuah masterclass dan konser yang memukau penikmat musik klasik, khususnya untuk lagu-lagu karya komposer Spanyol.

Kali ini kehadiran Adela Martín ke Jakarta bukannya tanpa misi. Nampaknya ia tetap menyimpan hasrat untuk mempopulerkan musik-musik karya komposer tanah airnya, dikemas dalam penampilan yang sangat sederhana dan tidak penuh pretensi. Namun demikian, justru dalam kesederhanaannya itulah, mutiara-mutiara indah dapat terjalin melalui jemari tangannya yang memukau penonton malam itu.



Dengan posisi duduk di depan piano yang sangat tinggi, resital dimulai dengan lagu-lagu miniatura dari album “España op. 16” karya komposer Spanyol yang sudah tidak asing lagi: Isaac Albeniz. Nada-nada familiar seperti Tango, Malagueña, atau Capricho catalàn mengalir dengan simple namun terangkai indah. Semuanya dibawakan dalam satu nafas. Pemilihan karya-karya yang sederhana sebagai pembuka resital menunjukkan kelugasan bahasa musik Adela Martín: Meskipun terlihat sederhana, namun di jari-jarinya semuanya nampak unik dan ada pemaknaan di setiap detil not yang dimainkan. Justru dari kesederhanaan itulah, nampak virtuositas sang pianis. Sebagai contoh, lagu Tango Albeniz ini ada versi “sulit”-nya yang ditranskripsi oleh pianis/komponis Leopold Godowsky (1870-1938) dengan memperkaya harmoni dan menambah alur polifoni di dalamnya. Dibandingkan dengan versi aslinya yang dibuat Albeniz, Tango Albeniz-Godowsky nampak lebih “mewah” dan “grand”. Namun apabila ada seseorang yang dapat memainkan versi asli Tango tersebut tetap dengan citarasa elegan dan seducing, tanpa penuh pretensi, disitulah letak kehebatan Adela Martín.

Kemudian hadirlah karya cipta sang pianis sendiri, yang sekaligus menjadi tajuk konser malam itu: “El soplo del recuerdo (à Albeniz)” yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia, kira-kira “Nafas kenangan (kepada Albeniz)”. Rupanya disinilah letak kedalaman interpretasi dari Adela Martín. Apa mungkin ini karena karya ciptanya sendiri (lantas ia bermain dengan istimewa), saya kurang paham. Yang jelas, seorang komponis belum tentu bisa memainkan karya ciptanya sendiri dengan baik. Sebagai contoh, saya memiliki dua recording “Preludes & Fugues” karya Dmitri Shostakovich. CD pertama, Shostakovich sendiri yang main, sementara CD kedua dimainkan oleh Tatiana Nikolayeva (pianis hebat, yang mana “Preludes & Fugues” tersebut didedikasikan oleh Shostakovich padanya). Pada CD pertama (versi Shostakovich), secara umum permainannya baik, namun terasa kurang passionate dan kejernihan polifoni di dalamnya kurang jelas. Sementara itu ketika mendengar versi Tatiana Nikolayeva, saya kaget dan terpukau karena power dan passion yang sangat luar biasa, dimana seluruh nada-nada polifoni digalang dengan detil nyaris sempurna dengan memperhatikan struktur keseluruhan karya dari awal hingga akhir.

Pemikiran semacam ini memang agak kurang sesuai, karena kita toh harus melihat semua aspek secara kontekstual, apalagi dikaitkan dengan “El soplo del recuerdo” ciptaan Adela Martín, yang malam itu dimainkan olehnya dengan sangat luar biasa. Segala unsur kenangan, kerinduan, hadir dalam tone production yang spesial, pewarnaan (tone colour), dan ide-ide musikal yang indah. Isaac Albeniz (1860-1909) seperti hadir di tengah-tengah penonton, melalui daun-daun yang berguguran helai demi helai, dimana setiap helai membawa potongan memori dalam imajinasi akan warna.



Resital dilanjutkan dengan karya avant-garde Defin Colomé “Tiento para Rodrigo” (Kebijaksanaan untuk Rodrigo – yang dimaksud pasti komposer Joaquín Rodrigo), sebagai pendahuluan untuk tiga karya komposer Joaquín Rodrigo (Pastoral, Danza Rùstica, dan Aranjuez ma pensèe) yang lagi-lagi merupakan mutiara di jemari Adela Martín. Terutama untuk “Aranjuez, ma pensèe”, merupakan potongan melodi yang sangat terkenal dari Concierto de Aranjuez (untuk gitar dan orkestra). Joaquín Rodrigo sendiri menciptakan konserto ini untuk mengenang keindahan taman di Istana Real de Aranjuez, Spanyol. Kali ini, melodi yang menjadi manna dari awal hingga akhir lagu dibawakan dengan kejernihan dan artikulasi prima, sementara iringan tangan kiri hanya berupa not-not ostinato seperti layaknya metrum yang statis. Betapa nuansa melankolis kembali hadir dalam kenangan, penuh perenungan.

Terakhir, Adela Martín menutup perjalanan penuh kenangan dengan “Suite Iberia”, merupakan karya-karya akhir di masa hidup Albeniz yang lebih bernuansa Impresionistik Prancis, à la Debussy. Karya yang terdiri atas empat album ini diciptakan Albeniz dengan maksud untuk membangkitkan kenangan akan Spanyol. Disini, Adela Martín hanya membawakan tiga lagu saja dari album pertama, yaitu Evocaciòn, El puerto, dan El corpus Christi en Sevilla.

Evocaciòn merupakan pembuka dari keseluruhan “Suite Iberia” dan tujuannya (seperti layaknya judulnya: Evocation) adalah untuk mengembalikan semua kenangan akan Spanyol beserta seluruh idiom negerinya, disini digunakan ritme tarian fandango (dari Spanyol Selatan) dan jota (dari Spanyol Utara). Saya pribadi dulu pernah memainkan karya ini, dan ketika sudah setengah jalan, baru menyadari bahwa Albeniz “ngerjain” saya, karena struktur dan bahasa musiknya benar-benar berbeda dari karya-karya Albeniz sebelumnya saya kenal. Disini pemahaman akan nuansa impresionistik dan pewarnaan tone menjadi krusial, apalagi harmoni dan melodi yang sangat sulit untuk diserap. Dari pengalaman pribadi tersebut, malam itu saya menjadi lebih paham mengenai interpretasi alternatif dari Evocaciòn. Adela Martín telah membawa nafas baru bagi kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi dalam musiknya, termasuk idenya yang brilian untuk bermain dengan dinamik yang kontras. Memang jadinya seperti melihat lukisan Impresionis, dari jauh terlihat indah, namun dari dekat hanya titik-titik warna nan samar.

Kemudian pada El puerto yang meriah dan El corpus Christi en Sevilla yang virtuosik, Adela Martín menunjukkan kepiawaian teknik bermain pianonya yang superb. Corpus Christi yang dianggap sebagai karya tersulit dari empat album “Suite Iberia” Albeniz, berhasil ditaklukkan oleh sang pianis dengan selamat sampai di tujuan.

Tajuk konser “El soplo del recuerdo” (Nafas Kenangan) yang dihadirkan oleh Adela Martín malam itu benar-benar menjadi sebuah kenangan dalam arti sesungguhnya. Sayang sekali Kedutaan Spanyol tidak mempromosikan konser tersebut pada khalayak umum, padahal banyak sekali insan pecinta musik klasik yang pasti akan merasa bahagia apabila dapat menyaksikan permainan penuh khasanah seperti itu.

No comments: