Saturday, June 12, 2010

Berkah dari kunjungan Lech Walesa

Disengaja ataupun tidak, pianis/budayawan/pengusaha/kelirumolog Jayasuprana nampaknya sedang bertindak seperti layaknya impresario yang kiprahnya mungkin bisa disandingkan dengan P.T. Barnum atau Eddy Bagarozy. Yang jelas, 9 Mei yang lalu saya berkesempatan untuk menghadiri pergelaran konser yang diadakan oleh Jayasuprana dalam rangka menyambut kunjungan pemenang Nobel/mantan presiden Polandia, Lech Walesa ke Indonesia.

Fragmen Keputren Madukoro

Acara yang diadakan atas kerjasama Erasmus Huis, Kedutaan Polandia, dan Sekolah Musik Jayasuprana ini merupakan “campursari” dari beragam pementasan seni yang sangat memukau. Ibaratnya, segala macam hal yang bagus-bagus ditampilkan secara bersamaan dalam satu malam. Begitu pula konser yang dimulai dengan Tari Saman Aceh ini, dibawakan dengan sangat kompak oleh para siswi SMA Al-Izhar. Kemudian penonton langsung dibawa ke dunia pewayangan melalui alunan merdu musik gamelan dan tari Jawa bertemakan “Fragmen Keputren Madukoro” (dibawakan oleh Pantha, Apsara, dan Aylawati) yang menceritakan mengenai pernikahan Gatotkaca. Pergelaran pembuka berupa tarian Aceh dan Jawa nampaknya memiliki suatu misi (saya yakin, ini berkat kecintaan Jayasuprana pada bumi Indonesia) yaitu membawa keragaman budaya sendiri untuk diperkenalkan pada khalayak. Rupanya sudah di-plot, seusai penampilan “tiga Srikandi Madukoro” tersebut, Jayasuprana sendiri yang menggiring Yang Mulia Lech Walesa ke atas panggung, untuk dikalungkan bunga sebagai ucapan selamat datang di Indonesia. Suatu prosesi penyambutan tamu agung yang rapi dan regal.


Lech Walesa & Performers

Kemudian acara berlanjut ke sesi kedua, yaitu penampilan menakjubkan atas Etudes karya Frederic Chopin yang dimainkan oleh anak-anak “ajaib”, dimana usia mereka rata-rata masih dibawah 18 tahun. Dimulai oleh Jennifer Chrysantha Salim yang masih berusia 9 tahun, membawakan Trois Etudes de Fetis no 1 in f minor. Melihat usia dan perawakannya yang masih kanak-kanak, sangatlah sulit untuk mempercayai bahwa malam itu ia dapat menyalurkan emosi dan pendalaman yang matang terhadap apa yang dibawakannya. Sense untuk memainkan tempo rubato yang alamiah, serta penggalangan format frase menuju klimaks sangat patut untuk diacungkan jempol.

Lalu Randy Ryan tampil mengejutkan penonton dengan Etude op 10 no 1 yang merupakan salah satu etude Chopin tersulit secara teknik karena dari awal hingga akhir dibentuk oleh chords besar berjarak 12 nada dan lebih, serta harus dimainkan dalam tempo cepat. Power yang dimiliki oleh Randy nampaknya dapat berimbang untuk memainkan dinamik pianissimo sekalipun, sehingga Etude ini nampak seperti kembang api dengan percikan-percikannya yang terus menerus muncul dengan berbagai warna.


Pianis Randy Ryan

Seperti terus untuk menjaga elektrisitas dari program Chopin Etudes malam itu, hadirlah William Cartie Halim dengan Etude op 10 no 5 (Black Keys). Permainannya yang lincah pada bilah-bilah not hitam di piano dilakukan dengan cermat, mengingat bahwa agilitas bermain di tuts hitam sangatlah sulit untuk menjaga presisi, apalagi dalam tempo yang cepat. Begitu pula dengan Jennifer Ongkowijoyo yang memainkan Etude op 10 no 8. Penggalangan tempo yang sangat berani dan spontan, memperlihatkan hasil kerja keras dari latihan harian pianis-pianis tersebut.

Kemudian hadir seorang pianis muda misterius (karena nama dan karya yang dimainkannya tidak/lupa dicantumkan dalam buku program), namun yang pasti ia membawakan Etude Chopin op 25 no 6 dengan sangat baik! Pianis Ratna Arumasari Katamsi yang hadir malam itu sempat mengatakan pada saya, justru si pianis misterius inilah yang konsep musikal dan tekniknya dapat dibilang matang malam itu. Tidak dapat lebih setuju lagi, saya pun sependapat dengan beliau, mengingat bahwa Etude ini merupakan salah satu yang tersulit dalam kumpulan Etude Chopin op 25. Dalam suatu diskusi dengan pianis Aryo Wicaksono yang berkarir di USA, beliau pun mengamini tingkat kesulitan Etude ini. Tidak hanya dari segi teknik dan agilitas jari yang harus tergalang dengan baik (mengingat bahwa dari awal sampai akhir, Etude ini dibentuk dari pola not terts/thirds yang harus dimainkan seperti trill dalam tempo super cepat), namun ada kalimat-kalimat melankolis di tangan kiri yang dibentuk dari chords, namun harus terdengar seperti desahan seseorang yang sedang putus asa. Memang indah dan (tentu saja) sulit, namun malam itu kami beruntung dapat mendengar sang pianis muda misterius tersebut memainkan Etude op 25 no 6 dengan segala kelengkapan kemanusiaannya.

Kemudian, hadirlah Ceryl Adinda Primadara membawa badai musim salju dengan Etude op 25 no 11 (Winter Wind). Pianis muda nan jelita tersebut tampil tanpa penuh pretensi, langsung menusuk hati sanubari dengan serpihan-serpihan es tajam yang dibawa oleh keberanian dan spontanitas tone color seorang penakluk. Saya ingat, dulu dalam resital tunggalnya, Ceryl yang belum genap 18 tahun ini membawakan program yang luar biasa berat, dimana ia memainkan Sonata Prokofiev no 3 op 28 dengan segenap power – seperti jika kita melihat Emil Gilels membawakan karya yang sama – namun dengan perawakan kecil mungil. Sungguh mengejutkan!

Pianis Ceryl Adinda Primadara

Sesi all-Chopin Etudes ini ditutup oleh penampilan Aloysius Albert Oenaryo dengan Etude op 25 no 12 (Ocean). Sungguh suatu rangkaian penampilan yang membuat saya tidak ingin lagi menyaksikan apa-apa lagi setelahnya. Namun memang bukan Jayasuprana jika tidak membuat kejutan, acara rupanya dilanjutkan dengan variasi atas lagu “Indonesia Pusaka” yang menampilkan Tiga Dewi Muri (tiga orang remaja yang menguasai berbagai intrumen dan mereka memainkannya secara bergantian di atas panggung), Ade Wonder Irawan (pianis jazz tunanetra), dan PENTABOYZ (grup musik acapella yang terdiri atas 5 vokalis), ditutup oleh montage lagu “Indonesia Pusaka” yang dinyanyikan oleh berbagai tokoh politik, budayawan, dan rakyat jelata dalam rangkuman 5 menit video dokumenter.


Pianis jazz Ade "Wonder" Irawan

Tiga Dewi Muri, Ade Wonder Irawan, PENTABOYZ yang malam sebelumnya saya saksikan di acara talk-show Kick Andy, kini tampil secara live di atas panggung Erasmus. Yang mengagumkan adalah Ade Irawan, dimana ia membawakan variasi jazz luar biasa, dengan klimaks yang terus berulang-ulang. Keterbatasan yang ia miliki nampaknya bukan penghalang untuk mengeksplorasi segala talenta yang telah diberikan Tuhan padanya. Seharusnya para pemimpin negeri ini malu. Di tengah orang-orang yang sibuk memikirkan diri sendiri, masih ada Jayasuprana yang memberikan oase bagi bakat-bakat bangsa ini yang tidak (dan mungkin tidak akan pernah) diperhatikan oleh para pembuat kebijakan tersebut. Paling tidak, semoga Lech Walesa dapat terhibur oleh penampilan memukau para tunas muda bangsa ini, sebagaimana kami yang menonton merasa bersyukur dapat hadir malam itu. Amin.


Violist Jap Tji Kien, Pianist Kuei Pin Yeo, Pianist Iravati M. Sudiarso, Conductor Addie MS & little pianist Jennifer Chrysantha Salim


Madame Shinta Nuriyah Wahid & Addie MS.

2 comments:

Anonymous said...

jap tji kien tu violinist , bukan violist

Aditya P Setiadi said...

Iya, salah tulis. Semestinya violinist. Terima kasih atas masukannya.