Monday, June 14, 2010

Kreativitas Musikal Mahasiswa UI

Pada tanggal 11 Mei yang lalu, program pendidikan dasar UI mengadakan perhelatan “Gelar Karya” yang secara rutin diadakan setahun sekali, bertujuan untuk menampilkan hasil karya para mahasiswa yang mengikuti perkuliahan Pengembangan Kepribadian Seni (MPKS) di auditorium Fakultas Ilmu Budaya UI.


Rektor Universitas Indonesia membuka "Gelar Karya"


Saat itu mata kuliah Apresiasi Musik yang kami asuh menghadirkan sejumlah mahasiswa berbakat yang membawakan berbagai lagu dari berbagai era dan zaman, sesuai dengan mata kuliah yang dipelajari, yaitu kajian mengenai sejarah musik dan perkembangannya, serta praktikum mereka pada alat musik yang dikuasai. Sebagaimana sejarah perkembangan musik yang dipelajari mencakup musik dari era Medieval (Abad Pertengahan) hingga Modern (termasuk musik pop, rock, dan alternatif), maka dapat kita lihat antusiasme mahasiswa untuk berekspresi di atas panggung, antara lain adalah:

Dosen & Mahasiswa

  • Violis Astari Anjani dan pianis Irwina Annisa berduet membawakan lagu Humoresque (Antonin Dvorak) dengan manis.
  • Pianis Anne Ivana Samanhudi membawakan Etude Causerie yang indah karya komponis Rusia, Cesar Cui. Dengan segala keterbatasan akustik, Anne berusaha untuk menampilkan kerja kerasnya selama ini.
  • Flutist Yogi Tri Prasetyo dan pianis Leonard Reza Saputra dengan duet Concerto for Flute and Harpsichord (Johann Christian Bach) yang dibawakan dengan sangat dinamis, lincah, dan mengikuti kaidah permainan musik era Barok.
  • Clarinetist Hendro Wijaya (diiringi saya pada piano) yang membawakan lagu Edelweiss dengan selamat (karena selama latihan kerap kali ia kehabisan nafas, mungkin disebabkan reed clarinetnya yang belum begitu lunak).
  • Violis Putri Adisti Hasanah (diiringi saya pada piano), membawakan lagu “Over the Rainbow”. Adisti yang merupakan salah satu pemain violin pada grup musik sufi “Debu” ini bahkan sampai membuat aransemen sendiri khusus untuk tampil pada Gelar Karya saat itu.
  • Duet cantik dari Fajar Cahyanto dan vokalis/pianis (ala Joss Stone) Finishia Desela, membawakan lagu Hero.

Membawakan "Kompor Meleduk"

  • Trio gitaris blues Ian Martin, Andrian Surya Wirawan, dan M. Tanziel, membawakan lagu Benyamin S. “Kompor Meleduk” yang sangat menarik untuk didengar. Saya sendiri ingat ketika dulu mengikuti Jazz Clinic dalam rangka Jazz Goes to Campus FEUI, musisi jazz Idang Rasjidi mengatakan bahwa tanpa kita sadari, nada-nada blues, soul, dan rock & roll telah ada dalam perkembangan musik Indonesia, antara lain ia mencontohkan lagu “Kompor Meleduk” Benyamin S tersebut.
  • Masih diiringi Trio gitaris blues, ada vocal group Miranti, Wahyu, dan Enrico membawakan sebuah lagu jazz dari MaliQ & d’Essentials. Tidak saya sangka bahwa mahasiswa kami memiliki sejumlah talenta vokal yang nampaknya sangat natural dan tidak berlebihan.

Kemudian rangkaian penampilan mahasiswa ditutup oleh penampilan dosen, yaitu saya pada piano dan soprano Sri Muji Rakhmawati dengan aria opera penuh penderitaan dari opera Manon Lescaut karya Giacomo Puccini, “Sola, perduta, abbandonata,” (Sendiri, hilang, ditelantarkan). Suara soprano Wati yang (sepertinya) sedang diolah menjadi lebih gelap dan powerful, dapat mengatasi akustik payah auditorium, sehingga proyeksi suara dapat terdengar membahana meskipun tanpa menggunakan microphone.

Andira, mahasiswi luar biasa bersuara emas


Adapun saya sangat bersyukur karena ada Andira, seorang mahasiswi “luar biasa” yang memang tidak bisa melihat sejak kecil, namun memiliki suara emas yang menggetarkan hati. Saya sendiri mengiringinya menyanyikan lagu “Reflection” dan sama sekali tidak bisa konsentrasi karena sangat terharu mendengar suara dan semangatnya untuk dapat tampil pada hari itu. Selain itu, salah satu mahasiswa kami (yang sudah disebutkan di atas) ada yang sedang mengidap kanker kelenjar getah bening (dan sedang dalam tahap penyembuhan), namun masih bisa membawakan duet vokal dengan suara tenor yang mengagumkan. Rasa haru bercampur bangga, melihat perjuangan para mahasiswa yang dengan segala keterbatasannya tapi masih memiliki semangat untuk tampil pentas sebaik mungkin. Juga ketika malam sebelumnya, saya menyaksikan pianis jazz tunanetra Ade Wonder Irawan pada konser menyambut Lech Walesa di Erasmus Huis, nampaknya Tuhan memang selalu memberikan kurnia-Nya, asalkan seseorang mau berusaha. Semoga perjuangan mereka dapat kita tiru, amin.

No comments: