Monday, October 25, 2010

Beberapa Pertunjukan Sebelumnya

Akhirnya saya berkesempatan untuk memperbarui blog ini, meskipun ada beberapa pertunjukan musik bagus yang terlewat untuk diulas, diantaranya adalah:

Penampilan memukau dari karya orkestral “Nyi Ronggeng” karya komponis kenamaan Indonesia – Yazeed Djamin, yang pada 10 Juni lalu dibawakan oleh Nusantara Symphony Orchestra (NSO) dibawah baton konduktor Prancis, Michael Cousteau. Karya yang sebenarnya terdiri atas beberapa bagian tersebut turut menampilkan penari ronggeng yang melenggak-lenggok leluasa di tengah panggung pada saat bagian kendang dimainkan oleh penabuh kendang kawakan, Jalu Pratidina. Meskipun keutuhan rancang-bangun dari segi artistik masih dapat dikembangkan lagi oleh NSO, namun merupakan suatu keunikan untuk kembali mengangkat karya lama almarhum Pak Yazeed tersebut di panggung Balai Sarbini.

Penari Ronggeng diiringi tetabuhan kendang beraksi di tengah panggung


Salah satu konser memukau lainnya adalah pada awal Agustus di Aula Simfonia Jakarta, dimana pemain harpa Rama Widi menggandeng para musisi kenamaan untuk mempersembahkan musik bersama dalam satu panggung. Tidak kurang dari Twilite Orchestra, Paduan Suara Paragita UI, dan gamelan Bali Pak Kompyang Raka, didukung oleh konduktor Addie MS, duo-pianis Levi Gunardi dan Adelaide Simbolon, soprano Aning Katamsi, serta dua harpist muda Mesty Ariotedjo dan Erasputranto membawakan Babak I Gunung Agung karya komponis Trisutji Kamal. Karya megah tersebut dibawakan dengan nuansa mistis-magis, perkawinan antara orkestra bergaya Barat dengan gamelan Bali. Dinamis dan elok.

Di babak kedua yang merupakan jantung dari konser malam itu, Rama Widi sebagai solis membawakan Harp Concerto Op 25 karya Alberto Ginastera. Karya yang sarat akan ketegangan dan keberanian itu dibawakan dengan gagah berani, dan merupakan perpaduan yang sangat jantan antara jemari besi Rama Widi dengan kepemimpinan Addie MS terhadap Twilite Orchestra. Semua klimaks hadir di saat yang tepat.

Addie MS memimpin Twilite Orchestra & Paragita Choir


Rama Widi & Mesty Ariotedjo


Masih di minggu kedua Agustus, penikmat musik klasik dikejutkan dengan penampilan mahadahsyat dari Philippines Madrigal Singers (Madz) di Usmar Ismail Hall. Konser paduan suara kelas dunia ini merupakan salah satu penampilan terbaik yang saya saksikan sepanjang tahun 2010. Belum pernah saya menyaksikan konser paduan suara dengan penataan artistik sangat tinggi, hingga detail terkecil pun digarap nyaris sempurna, dengan teknik vokal tinggi pada setiap personilnya – tentunya dengan disiplin yang sangat tinggi.

Madz

Kemudian konser unik yang sangat berkesan diadakan di restoran Italia Pepenero di Graha Niaga Sudirman. Konser yang merupakan bagian dari Cum Laude Series garapan Yayasan Musik Sastra tersebut menampilkan soprano muda gemilang Bernadeta Astari (Deta) yang baru saja menyelesaikan studi vokalnya di Belanda dengan predikat Summa Cum Laude. Tampil bersama contralto Rosina Fabius, soprano Floor van der Sluis, baritone Michael Wilmering, serta tenor Ivan Yohan dan Farman Purnama, malam itu Deta membuat suasana mencengangkan dengan kemampuan vokalnya yang magnetik: volume yang besar dengan warna suara indah, dan pencapaian teknik resonansi tinggi yang membuatnya seolah-olah menyanyi dalam ruang berakustik baik, padahal restoran Pepenero bukanlah tempat yang ditujukan untuk menyanyi tanpa microphone.

Konsep konser yang unik, dimana para vokalis menyanyikan aria-aria opera terkenal disertai akting di tengah-tengah hadirin, membuat saya merasa turut serta dalam kisah yang sedang dinyanyikan. Pianis pengiring berkebangsaan Jepang – Kanako Inoue pun mengiringi dengan efisien dan akurat.

Bersama Deta & para artis pendukung



No comments: