Monday, October 25, 2010

Kuliah Musim Panas di Hungaria (Part One)

Tanggal 22 Agustus – 4 September 2010 yang lalu saya mendapat beasiswa dari pemerintah Hungaria untuk mengikuti Summer Course mengenai tradisi dan inovasi dalam pendidikan musik Hungaria. Kuliah musim panas yang diadakan di Universitas Debrecen (kota Debrecen, sekitar 2 jam perjalanan dengan kereta dari Budapest) tersebut diikuti oleh sekelompok mahasiswa dari Beijing Central Conservatory, dua orang Malaysia (satu lulusan piano dari University of Birmingham, satu lagi lulusan piano dari Conservatory of Taiwan), dan seorang pelukis-fotografer Italia, selain saya sendiri tentunya.

Kota Debrecen yang tenang, mendukung suasana belajar

Secara teknis, kuliah diadakan di gedung Conservatory of Debrecen, dimana kami tinggal di asrama berlantai sembilan yang menyatu dengan bangunan utama gedung konservatorium. Gedung tersebut terletak persis berhadapan dengan bangunan utama University of Debrecen. Di lantai basement, ada banyak studio yang dilengkapi dengan piano-piano grand Steinway, Bösendorfer, dan August-Förster. Pada masing-masing studio terdapat dua piano, dan kami boleh menggunakan ruangan tersebut untuk berlatih, meskipun dalam pelaksanaan kuliah, memang tidak dituntut untuk memainkan suatu karya tertentu. Namun ada kalanya, dosen meminta kami untuk memainkan suatu contoh lagu tertentu, misalnya ketika itu saya dan teman Malaysia saya diminta untuk main duet, karya seorang komposer Hungaria bernama J. Thomàn.

Bangunan utama (University Building)


Berlatih di salah satu studio konservatorium


Sosok yang bertanggungjawab atas pelaksanaan kuliah musim panas ini adalah dekan konservatorium, yaitu Prof Mihàly Duffek – seorang pendidik sejati yang berulang kali menyatakan kekecewaannya terhadap sistem pendidikan berbasiskan kapitalisme, suatu kecenderungan yang ada dimanapun, termasuk di Universitas Indonesia. Beliau mengungkapkan bahwa saat ini mutu lulusan universitas manapun sedang mengalami penurunan. Menurutnya semua itu disebabkan oleh komodifikasi pendidikan yang mengubah keseluruhan arti dari pendidikan itu sendiri. Zaman dulu, pendidikan merupakan sesuatu yang bersifat proses, berlangsung terus menerus, dan bertujuan untuk memanusiakan manusia – dalam arti, bagaimana caranya menjadikan manusia sebagai sosok yang berkebudayaan dan beradab (cultured). Namun Duffek dengan lantang menyebutkan bahwa globalisasi telah merusak semua tatanan nilai tersebut: menjadi diseragamkan dalam sistem kapitalisme, dimana mahasiswa membayar uang uang kuliah agar dosen dapat memberikan ilmunya, sehingga kelak dia bisa bekerja dan mendapatkan uang yang banyak.

Berpose bersama peserta Summer Course, setelah farewell dinner


Everything is about money now” sesal Duffek. “It’s because the globalization has changed our way of life. America is to blame for this matter. America with their evil culture have corrupted the younger generations. Now if you examine the students in our university, they don’t know what to do. They have been spoiled by such instant things, they don’t want to enrich themselves with things which can make them civilised. All they want is money! And if you ask them something about their own root, the greatness of the European traditions, the Hungarian culture, the music, the arts, they don’t know! The bad culture from America made them ignorant. Now if I ask you something, what is the so-called ‘American culture’?” ungkap Duffek dengan sangat berapi-api, dalam suatu percakapan di balkon konservatorium. “That’s why, it’s very important to preserve our culture, through the innovations in our music education, based on our own root, the great tradition of Hungarian music,


Bersama Prof Duffek, mendapat nilai tertinggi di kelas

Maka kuliah yang berlangsung selama dua minggu pun dirancang dalam susunan yang sangat sistematik. Dimulai dari pengenalan akan bentuk-bentuk musik rakyat (folk music) Hungaria, pengenalan akan tarian rakyat tradisional, musik rakyat sebagai basis dari identitas diri Hungaria, hingga pada kaitan antara musik rakyat Hungaria dengan tradisi musik Eropa Barat, seperti yang biasa kita dengar pada karya-karya Liszt (misalnya Hungarian Rhapsodies) atau Brahms (Hungarian Dance), dan bermuara pada konsep pendidikan musik berbasiskan musik rakyat yang dikembangkan Zoltan Kodàly, juga berbagai analisis pada repertoire karya Bela Bartók. Kuliah terakhir menampilkan Prof Mihàly Duffek, berbicara panjang lebar mengenai topik yang sama seperti yang saya bahas sebelumnya, diikuti dengan ujian akhir untuk menilai kemampuan kami dalam menyerap keseluruhan kuliah.

1 comment:

Ade maulana said...

Biaya apa saja yg dikeluarkan dari dana pribadi? Saya juga tertarik untuk daftar