Monday, November 01, 2010

Kuliah Musim Panas di Hungaria (Part Two)

Hari pertama kuliah dibuka oleh kuliah dari Prof Erika Juhàsz dengan tema Hungarian folk music as the part of Hungarian culture: Regional traditions and specialities. Pada kuliah ini, Prof Juhàsz yang juga adalah seorang penyanyi folklore, membuka horizon pengetahuan kami akan seluruh elemen musik rakyat Hungaria, dimana dulu kawasan kekaisaran Austro-Hungary juga meliputi sebagian Jerman, Rumania, Kroasia, Moldavia, dan Ceko-Slovakia. Setiap daerah lokal, memiliki ciri khas elemen musik rakyatnya sendiri.

Elemen yang pertama kali menjadi dasar bagi musik rakyat Hungaria adalah tangganada pentatonik (terdiri atas lima nada) dan nyanyiannya dibawakan dalam gaya menyanyi strophic parlando-rubato. Bentuk primitif seperti ini, kerap kali disebut sebagai Laments (nyanyian ratapan) yang memiliki melodi sama dan diulang-ulang, namun syairnya berbeda (strophic). Pada umumnya, gaya seperti ini dibawakan dengan bebas (rubato), tanpa terikat pada suatu hitungan birama tertentu. Setelah gaya Laments, muncul gaya nyanyian giusto style yang memiliki tempo ajeg, antara lain digunakan sebagai irama tarian. Kemudian sekitar abad 18-19 muncul suatu genre Verbunkos yang dipengaruhi oleh irama musik Jerman, dibawa oleh para serdadu Jerman yang saat itu menguasai Hungaria. Perlu digarisbawahi bahwa musik kaum Gypsy tidaklah sama dengan musik rakyat Hungaria.

Kemudian dalam kuliah dari Prof Andràs Jànosi yang bertema The performing characteristics of Hungarian folk music, dijelaskan bahwa penotasian musik rakyat dengan menggunakan metrum birama (seperti yang dilakukan oleh Bela Bartók dan Zoltan Kodàly) pada kenyataannya berbeda dengan interpretasi aslinya. Prof Jànosi yang adalah seorang pemain biola fiddle dari tradisi ensemble gesek musik rakyat, memberikan banyak contoh mengenai ritme asimetris, dimana logika memainkan musik rakyat berbeda dengan konsepsi musisi klasik pada karya klasik Barat pada umumnya. Dalam musik rakyat, ritme sangat fleksibel dan cenderung rubato dan tidak sama, kendati dalam musik yang memiliki gaya giusto sekalipun. Selain itu beliau juga mengemukakan mengenai pentingnya improvisasi dalam memainkan atau menyanyikan musik rakyat. Kami dijelaskan beberapa pola improvisasi dan dicontohkan oleh beliau pada biola.

Salah satu materi kuliah mengenai ritme asimetris


Prof Andràs Jànosi menerangkan proporsi ritme asimetris


Kemudian dalam kuliah selanjutnya yang bertema The connections of the Hungarian folk and classical music in the 20th century, Prof Jànosi menjelaskan mengenai tradisi musik rakyat yang menjadi akar bagi komposisi musik Bela Bartók. Saat itu beliau mengundang dua musisi temannya untuk mementaskan beberapa contoh musik rakyat. Yang menarik, Prof Jànosi sebelumnya meminta salah satu dari peserta kuliah untuk memainkan karya Bartók berjudul Six Rumanian Folk Dances di piano, dengan idiom dan persepsi seperti layaknya pianis klasik pada umumnya. Setelah itu, ensemble gesek beliau membawakan karya yang sama, namun dengan fleksibilitas ritme dan harmoni yang sangat berbeda. Hasilnya memang berbeda sekali. Six Rumanian Folk Dances tersebut merupakan kumpulan tarian rakyat dari daerah yang berbeda-beda, kemudian dikumpulkan, dinotasikan untuk piano oleh Bartók, dan ditambahkan harmoni yang unik. Sementara itu, versi asli yang dimainkan oleh ensemble gesek terdengar sangat “mentah” seperti indigenous folksong pada umumnya, dengan harmoni sederhana dan mengandalkan kemampuan improvisasi pada pola-pola tertentu. Meskipun demikian, kedua versi tetap menarik pada perspektifnya masing-masing.


Prof Andràs Jànosi & Ensemble geseknya


Hari berikutnya ada Prof Làszló Felföldi dari Hungarian Academy of Science, sebuah institusi paling terhormat di Hungaria dan berkedudukan di Budapest. Seorang profesor jangkung yang nampak tenang, kalem, dan karismatik, beliau merupakan salah satu anggota kehormatan UNESCO, dan antara lain yang mem-voting batik Indonesia sebagai salah satu warisan dunia yang ditetapkan oleh UNESCO. Kali ini tema kuliah adalah The connections of instrumental folk music and folk dance: The importance of folk customs, menjelaskan mengenai dinamika dan proses komunikasi timbal-balik antara musisi dan penari dalam suatu pertunjukan tarian rakyat. Setelah sesi kuliah yang cukup rumit, kami diminta untuk membuat suatu formasi dan mempraktikkan tarian rakyat dalam bentuk yang paling sederhana. Bagi orang Hungaria mungkin sederhana, namun bagi saya (dan juga peserta kuliah yang lain), lompat-lompat dan berputar-putar dalam ritme yang sangat cepat sudah cukup membuat kewalahan~


Prof Làszló Felföldi mengajarkan tarian rakyat


Kuliah yang cukup menarik adalah oleh Prof Joób Àrpàd dengan tema Hungarian folk music as the part of the Hungarian identity. Disini kami diperkenalkan dengan berbagai macam alat musik tradisional, antara lain Zyther, Bagpipe, dan Hurdy-Gurdy. Hal yang sangat menarik, Bagpipe dan Hurdy-Gurdy adalah alat musik yang sangat populer di era Renaissance, dimana para ahli menelusuri sejarah keberadaannya yang disinyalir memiliki pengaruh dari alat musik Timur Tengah. Memang tidak heran, musik rakyat Hungaria pun dipengaruhi oleh elemen musik tradisional Turki, terutama pada saat penaklukkan Hungaria oleh kerajaan Turki-Ottoman di era Renaissance.

Prof Joób Àrpàd & Bagpipe

Prof Joób Àrpàd memainkan Hurdy-Gurdy


Kemudian pada minggu kedua, kuliah diawali oleh Prof Àgnes Török yang merupakan profesor piano di konservatorium Debrecen. Dengan tema National music and European music culture, Prof Török mengemukakan beberapa contoh musik komposer Eropa Barat yang menggunakan elemen musik rakyat Hungaria, misalnya Joseph Haydn, Ludwig von Beethoven, Johannes Brahms, hingga komposer dan pianis kebanggaan Hungaria: Franz Liszt. Bahkan dalam musik Johann Sebastian Bach pun terdapat beberapa elemen musik rakyat Hungaria.
Selain itu, pada sesi ini dibahas secara mendalam mengenai genre Verbunkos, yang memiliki kesamaan dengan jenis Csàrdàs. Gaya Verbunkos ini merupakan melting pot dari musik rakyat Hungaria, Slavik-Balkan, Gypsy, dengan gaya Western. Tipikal Verbunkos, menggunakan ensemble gesek dengan iringan alat musik cembalom. Biasanya musik ini untuk mengiri tarian bertempo cepat yang penuh dengan spontanitas dan enerjik, mengandalkan keleluasaan gerak kaki dalam gaya still-standing.


Prof Àgnes Török menerangkan gaya musik Verbunkos


Dua sesi kuliah yang sangat menyenangkan adalah saat Prof Màrta Sarosine Szabó (profesor bidang teori musik di konservatorium) membawakan tema The Hungarian musical native language as the base of Hungarian music education dan Folk music in the classical, 20th century vocal music. Seorang profesor yang sangat antusias dan bersemangat, memberikan kami segudang karya musik untuk dianalisis. Analisis pertama adalah mengenai sistem pendidikan musik yang dikembangkan oleh Zoltan Kodàly, yang menekankan pentingnya mendidik musik sejak dini melalui bahasa musik lokal: dalam hal ini adalah musik rakyat Hungaria yang menggunakan tangganada pentatonik. Untuk memahami sistem ini, dibutuhkan kemampuan untuk melakukan sight-reading dengan movable do, juga melalui gerak-isyarat tangan yang masing-masing melambangkan not do, re, mi, fa, sol, la, ti.

Prof Màrta Sarosine Szabó pada piano


Analisis musik pertama adalah pada struktur musik vokal karya Bartók “New Hungarian Folk Song” (Erdő, erdő de magos a teteje) yang melodinya diambil dari melodi asli rakyat Hungaria, menggunakan tangganada pentatonik. Meskipun melodi yang digunakan sangat sederhana, namun Bartók memberikan sentuhan modern pada lagu ini. Ada yang disebut dengan tipikal chord Bartók (Bartókian chords), yaitu yang dibentuk oleh overtone scales. Tangganada tersebut terbentuk dari getaran simpatetik yang muncul dari resonansi bunyi pada frekuensi nada tertentu. Jenis tangganada ini biasanya digunakan untuk menggambarkan nuansa alam, karena memang berasal secara natural dari frekuensi alam. Kemudian komposer Prancis Claude Debussy mengembangkan jenis tangganada ini, misalnya bisa ditemukan pada karya La Mér (Laut).
Analisis musik berikutnya adalah mengenai struktur musik polifoni Johann Sebastian Bach “Ein feste burg ist unsser Gott” BWV 80 yang melodinya diambil dari tradisi choral musik gereja Lutheran. Disini kami digembleng dengan form binary A-B (Stollen-Abgesang) yang merupakan tradisi dari musik-musik para penyanyi Troubadour/Minnesänger di abad pertengahan. Selain itu ada analisis mengenai lagu rakyat dengan tangganada modus gereja (Church-mode) Aeolian dalam format counterpoint, juga analisis terhadap beberapa lagu rakyat Inggris yang dikumpulkan oleh Cecil Sharp & Maud Karpeles, dan beberapa aransemen serupa yang diberi tambahan harmoni modern oleh Benjamin Britten.

Hal yang sangat menarik adalah ketika Prof Szabó memberikan pengenalan kepada historiografi tangganada pentatonik, dimana tangganada tersebut telah ada sejak era sebelum Masehi. Di seluruh dunia, termasuk Eropa, Afrika, Asia, Amerika, tangganada pentatonik dapat ditemukan sebagai basis dari suatu musik rakyat. Pada awalnya, Prof Szabó memperdengarkan sebuah rekaman berupa suara (seperti suara pria dewasa) yang menyanyikan nada pentatonik: la mi sol mi, la mi sol mi~ mi LA re do, mi LA re do~ Setelah itu, beliau memperdengarkan suara burung berkicau indah. Kemudian, Prof Szabó menjelaskan bahwa rekaman yang pertama kali diperdengarkan (yang mirip suara pria dewasa menyanyikan melodi pentatonik) merupakan suara BURUNG (yang diperdengarkan setelahnya) yang diperlambat puluhan kali. Jadi, burung tersebut sebenarnya berkicau menyanyikan nada pentatonik! Tentu seluruh kelas terkejut. Saya bertanya, “Apakah berarti musik-musik rakyat yang menggunakan tangganada pentatonik, menandakan bahwa mereka mengadaptasi tangganada tersebut dari alam sekitarnya? Mengingat pada zaman dahulu manusia sangatlah dekat dengan alam,”. Prof Szabó menjawab, “Itu juga yang ada di pikiran saya,”. Kemudian struktur pentatonik à la kicauan burung itu, dianalisis oleh para ahli menjadi sistem “tonal answer”, dimana kita bisa menemukannya dalam bentuk tanya-jawab dalam interval dominan (5th shift), misalnya di musik JS Bach pada pembukaan tema Fuga WTK I No 2.

Kemudian kami mulai menganalisis tangganada pentatonik dengan berbagai variannya. Ada pentatonic anhemitonic dan hemitonic, hingga pada pentatonic seventh. Prof Szabó yang berwawasan luas, juga menjelaskan mengenai variasi pentatonik yang ada di musik rakyat China, juga aplikasinya pada tangganada gamelan Jawa yang dibagi dalam dua jenis, yaitu pelog dan salendro. Sang profesor yang kagum sendiri dengan sistem tangganada gamelan, menjelaskan “Bisa kalian bayangkan, pada tangganada gamelan ‘Salendro’, mereka membagi semua not dalam jarak sama rata! Itu berbeda sekali dengan tradisi musik yang ada di Barat. Jarak antar-nadanya pun tidak setengah, melainkan mikrotonal,”. Saya pun senang~


Prof Màrta Sarosine Szabó menerangkan Gamelan


Selain itu, Prof Szabó memperkenalkan komposer-komposer Hungaria yang mungkin jarang terdengar, padahal di negaranya menjadi legenda. Selain Franz Liszt, ada Franz (Ferenc) Erkel (1810-1893) yang membuat opera bertema heroik berjudul Bànk Bàn. Erkel ini pula yang mengarang lagu kebangsaan Hungaria “Himnusz – Isten àlld meg a magyart” (God, bless the Hungarian) dimana lagunya lebih bersifat doa dan perenungan, dalam tempo lambat dan agung. “Berbeda dari lagu-lagu kebangsaan negara lain yang umumnya bersifat gagah berani atau bangga, lagu kebangsaan Hungaria lebih merupakan doa. Melodinya diambil dari melodi rakyat.”~ Franz (Ferenc) Liszt dan Franz (Ferenc) Erkel adalah "dynamic-duo" yang turut mendirikan Akademi Musik di Budapest.

Kami juga diperdengarkan melodi rakyat popular Hungaria yang sebenarnya merupakan jenis Laments, dalam tipe Peacock. Tipe melodi seperti ini selalu bergerak turun (descending) dalam 5th shift dan diadaptasi oleh Zoltan Kodàly dalam karya orkestralnya yang terkenal: Peacock Variations. Musiknya sangat indah, dengan harmoni yang advance, namun tetap memunculkan karakter asli dari musik aslinya. Terkadang ada beberapa variasi yang terdengar seperti musik rakyat China, tidak heran karena Laments Peacock tersebut menggunakan tangganada pentatonik.

Lantas kami berkesempatan mendapat kuliah dari Prof Mihàly Ittzés yang berasal dari Kodàly Institute. Institut yang terletak di kota Kecskemét tersebut merupakan kota kelahiran Kodàly, sekaligus pusat pengembangan dan konservasi metode pembelajaran musik à la Zoltan Kodàly. Kehadiran Prof Ittzés di Debrecen merupakan suatu momen penting, dimana beliau menjelaskan mengenai dasar-dasar pengajaran musik dengan metode Kodàly. Saya sempat membeli beberapa buku referensi yang kebetulan dikarang oleh beliau. Dekan konservatorium Prof Mihàly Duffek yang sempat hadir pada sesi tersebut, menampilkan sebuah karya Kodàly untuk piano, yaitu “Székely Keserves” dari Seven Pieces for Piano op 11. Melodi aslinya sangat sederhana, diambil dari Laments daerah pegunungan Transilvania, namun diberikan sentuhan harmoni luar biasa dan impresionistik (Kodàly banyak mendapatkan pengaruh dari Debussy). Prof Duffek yang merupakan pianis lulusan Franz Liszt Academy of Budapest (dibawah bimbingan Pàl Kadosa) nampaknya masih memiliki touch yang prima, dengan segenap power memadai untuk menampilkan karya tersebut secara puitis. Beliau juga menampilkan karya Bartók dari kumpulan lagu “Easy Pieces” berjudul “An Evening in The Village”. Melodi yang indah, terus hinggap di benak saya hingga setiap kali saya berjalan di lorong konservatorium, pasti sambil menyiulkan melodi tersebut~

Prof Mihàly Duffek menampilkan beberapa karya


Lantas kuliah terakhir ditutup oleh ceramah dari Prof Duffek sendiri, masih berkoar-koar mengenai topik yang sama, yaitu pentingnya menyelamatkan identitas musik dengan bantuan pedagogi musik Hungaria. Intinya, beliau tetap mengeluhkan turunnya kualitas pendidikan generasi muda yang dirusak oleh kebudayaan pop dan globalisasi, sehingga kami sebagai calon pendidik bangsa memiliki kewajiban untuk merawat kebudayaan asli yang menjadi identitas diri kita.
Beliau mengungkapkan, “Facing the Globalisation: The reason Bartók collected so many folk music, not only Hungarian, but also Serbian, Croatian, Arabic, and so on – is to build the national character of the nation, and also to be open to the world’s culture,” Kemudian ceramah ditutup dengan Ujian Akhir yang bertujuan untuk melihat sejauh mana para peserta kuliah dapat menyerap materi yang diberikan, dari awal hingga akhir. Puji Tuhan, saya mendapatkan nilai tertinggi di kelas, with High Honours~ ☺


Latihan tarian rakyat yang sangat melelahkan

Ibu-ibu petani lokal dari kampung sebelah menyanyi & menari

No comments: