Tuesday, November 02, 2010

Kuliah Musim Panas di Hungaria (Part Three)

Selama masa perkuliahan di Debrecen, official kampus sempat menjadwalkan kami untuk kunjungan singkat ke kota Eger, sebuah kota Barok cantik yang terletak persis di antara Budapest dan Debrecen. Perjalanan dengan bus yang nyaman memakan waktu sekitar 1,5 jam dari Debrecen, menuju area perbukitan asri dan sejuk. Kota Eger yang indah, nampak terawat dengan baik – terlihat dari taman-taman dengan bunga warna-warni tertata apik, jalanan yang tersusun atas setts & cobblestone dengan pola-pola indah, juga toko-toko dan restoran yang menarik di sepanjang jalan. Di kota ini terdapat banyak bangunan historis, antara lain berupa benteng peninggalan masa perang Turki-Hungaria pada abad 15 (Dobó Castle) dan Basilica of Eger, sebuah gereja besar bergaya Neo-Klasik yang memiliki organ pipa terbesar kedua di Hungaria.

Kota Eger yang indah, dengan taman bunga dan jalanan yang rapi


Basilica of Eger

Jadwal utama kami adalah menyaksikan konser organ pipa di Basilica of Eger. Pada saat itu, kami diizinkan untuk menonton pertunjukan organ di balkon tempat pipa-pipa organ berada, ketika organisnya mengetahui bahwa kami adalah rombongan musisi dari konservatorium Debrecen. Konsol organ pipanya sendiri berlabelkan Vàradi, terdiri atas lima tingkat keyboard dengan banyak tombol nomenclature untuk mengatur suara-suara yang diinginkan, keyboard kaki, dan dua layar monitor. Nampaknya konsol organ pipanya sudah diperbarui beberapa kali, meskipun susunan pipanya sendiri mungkin sudah berusia lebih dari satu abad.


Organ pipa di dalam Basilica of Eger

Tanpa basa-basi, sang organis segera memainkan karya pertama, yaitu Organ Prelude, Fugue, and Variation Op 18 karya komponis Prancis, César Franck. Sebuah karya yang sangat sublim, penuh dengan nuansa puitis dan liris – langsung membawa suasana khidmat dan khusuk, membuat kami sangat berkonsentrasi pada setiap not yang dibunyikan. Kemudian lagu-lagu berikutnya mempertunjukan virtuositas sang organis, yang dari belakang nampak riweuh sekali karena dua tangannya memencet tuts-tuts keyboard dengan cepat, sementara kedua kaki saling beradu cepat untuk menginjak keyboard bass. Pada lagu terakhir Ave Maria karya Schubert, dibawakan dengan syahdu hingga beberapa kawan saya menitikkan air mata. Rupanya kehebatan organ pipa ini, ia bisa mengeluarkan suara-suara yang tak terduga, seperti suara bel (benar-benar suara bel) dan suara kerincingan. Entah bagaimana mekanismenya, yang pasti organ antik ini pasti merupakan sebuah temuan yang sangat mutakhir di eranya diciptakan, ratusan tahun lalu.


Organis memainkan karya César Franck


Mencoba memainkan organ

Setelah konser organ, kami mengunjungi Dobó Castle yang historis dan diberikan waktu luang selama dua jam untuk berkeliling dan berpencar di tengah kota. Kota Eger yang terkenal sebagai salah satu penghasil wine terbaik di Hungaria, memiliki banyak toko wine yang menjual red, rose, dan white wine dengan harga sangat murah (Hungaria belum menggunakan Euro, tapi mata uang Hungarian Forint). Setelah cukup berkeliling, kami kembali ke Debrecen dan mampir dulu di Artist Village (di luar kota Debrecen) dan makan malam di Kitsi Café, dimana sesi makan diiringi oleh grup musik Gypsy yang memainkan musik-musik Csàrdàs (lengkap dengan alat musik cembalom), dan ditutup dengan tarian rakyat oleh penari setempat.


Di depan Dobó Castle


Pemandangan kota Eger


Musisi Gypsy dengan cembalom, mekaniknya mirip piano namun dipukul


Penampilan tarian oleh penari setempat


Minggu kedua kuliah musim panas, kawan kami Péter Szűcs membawa kami ke Debrecen Museum of Modern Art (MODEM) yang saat itu sedang menampilkan pameran lukisan karya pelukis terkenal Hungaria, Judit Reigl (lahir 1923). Sang pelukis yang melarikan diri dari rezim komunis Hungaria pada tahun 1950 ke Paris, dimana disana ia mendapat arahan artistik dari pelukis surealisme Prancis, André Breton. Gaya lukisan Judit Reigl yang berproses pada akhirnya meninggalkan gaya surealisme, dimana ia menekankan pada spontanitas mental yang dilengkapi dengan gerak tubuh bebas. Ada sebuah video yang menggambarkan Reigl ketika sedang melukis di studionya, dimana ia menyapukan kuas pada bidang kanvas yang polos dengan gerak tubuh bagaikan sedang berada dalam ekstase dan trance.


Di depan karya surealisme, bersama kamerad Péter Szűcs


Salah satu karya yang menampilkan spontanitas mental & gerak tubuh


Sebagai salah satu pelukis penting pasca Perang Dunia II, Judit Reigl sendiri dikenal sebagai sosok yang menyampingkan batasan-batasan dan aturan yang dianggapnya baku, mengabaikan perbedaan antara bagian depan dan belakang kanvas – dimana ia melukis pada dua sisinya, juga pada penonjolan karakter antagonis antara bentuk-bentuk figuratif dan non-obyektif, seperti halnya menyatukan prinsip surealisme dan abstraksi ekspresionisme. Kini karya-karyanya menjadi koleksi di berbagai museum kelas dunia, seperti London Tate Gallery, Paris Centre Pompidou, dan Metropolitan Museum of Art, New York.




Bersama Chen Zhaojun


Salah satu karya/idenya yang menarik perhatian saya adalah pada “lukisan” yang berjudul “Everything Can Happen”, dimana di bidang display yang digunakan untuk menggantung lukisan hanya tercantum label judulnya saja – tidak ada lukisannya! Saya membandingkannya dengan ide komponis John Cage dalam karya 4’33’’ (4 menit, 33 detik), dimana pianis hanya duduk di depan piano selama 4 menit 33 detik tanpa memainkan satu not pun. Apabila John Cage terpengaruh oleh filsafat Zen Buddhisme, dimana “silence” merupakan “musik” juga – dengan filosofi bahwa “silence” sama pentingnya dengan keindahan warna, bentuk, dan aroma sekuntum bunga, maka “lukisan” Judit Reigl ini nampaknya membuat setiap orang berimajinasi: Anything Can Happen. Saya membayangkan, mungkin saja dari balik dindingnya akan muncul Suzzanna~


"Anything Can Happen"


"Apapun dapat terjadi"


Suatu kebetulan, beberapa hari menjelang berakhirnya kuliah musim panas, ada suatu event penting di Debrecen yang sudah berjalan selama 50 tahun, yaitu Festival Jazz Debrecen (Debreceni Jazznapok) 2010 yang berlangsung tanggal 2-5 September. Kebetulan lagi, pembukaan festival tersebut salah satunya diadakan di Galéria Café yang terletak di gedung perpustakaan universitas – yang berarsitektur modern dan merupakan perpustakaan terbesar di Hungaria. Di tengah malam dingin dan hujan, khalayak ramai berkumpul di cafe perpustakaan yang nyaman dan cozy, menyaksikan Debrecen Jazz Group dan Artézis Jazz Trio membawakan nomor-nomor jazz terkenal, tentu diselingi dengan jamz session yang mendapat sambutan hangat penonton. Saya bukan ahli jazz, namun malam itu saya benar-benar menikmati sajian musik yang spontan dan hangat. Jika terlalu banyak berpikir, kadang kita jadi tidak bisa menikmati sesuatu~


Penampilan Artézis Jazz Trio di Galéria Café


Galéria Café, bersama Gao Yunan dan Péter Szűcs

Kemudian pada malam Sabtu selepas farewell dinner, Péter Szűcs mengajak saya dan beberapa kawan untuk menyaksikan konser jazz yang lebih besar, yaitu di Baltazar Square, di depan Debrecen Museum of Modern Art (MODEM). Saat itu sedang ada penampilan memukau latin jazz oleh Elsa Valle y sus Hermanos. Saya menikmati sekali malam yang indah itu, terutama karena suasana yang membuat mood senang – menyaksikan pertunjukan jazz di lapangan terbuka bersama dengan penikmat jazz lain, saat udara dingin beku namun bintang-bintang nampak bertaburan di langit yang cerah. Sungguh suatu momentum yang belum tentu terjadi dua kali. Setelah Zus Elsa selesai tampil, Péter membawa kami ke sebuah club jazz underground (terletak di bawah tanah) yang terletak tidak jauh dari Baltazar Square, yaitu Perenyi Music Club. Disana Debrecen Jazz Group kembali tampil memukau, dengan jamz session yang tak henti-hentinya, meskipun usia para musisinya sudah sepuh. Kira-kira kami baru kembali ke asrama konservatorium sekitar pukul satu dinihari, berjalan kaki di tengah udara dingin beku!

Elsa Valle y sus Hermanos


Penampilan Debrecen Jazz Group di Perenyi Club

Malam jazz indah dan romantis, dibawah langit bertaburkan bintang-bintang, merupakan suatu kesan tersendiri sebelum keesokan hari kami meninggalkan Debrecen menuju Budapest



Farewell dinner di Leveles Csárda Restaurant

No comments: