Wednesday, November 03, 2010

Kuliah Musim Panas di Hungaria (Part Four)

Selama kunjungan dua hari di Budapest, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa monumen musik penting. Budapest sendiri merupakan kota yang sarat akan tradisi berkesenian, dimana tokoh-tokoh musik penting seperti komposer Franz Liszt, Bela Bartók, dan Zoltan Kodàly adalah berkebangsaan Hungaria. Institusi pertama yang saya kunjungi adalah Franz Liszt Academy of Music (Liszt Ferenc Zeneművészeti Egyetem) – merupakan konservatorium musik dan gedung konser yang didirikan tahun 1907 dengan gaya Art Nouveau, terletak diantara Kiràly Street dan Liszt Ferenc Square. Gedung yang merupakan salah satu landmark kota Budapest ini dapat dengan mudah dikenali dengan patung Liszt bergaya à la raja yang sedang duduk di singgasana (karya Alajos Stróbl), dimana interiornya dihiasi oleh lukisan fresco, keramik Zsolnay (keramik bergengsi yang biasa dipakai di istana-istana Eropa), patung-patung komposer seperti Bela Bartók, Frederic Chopin, juga kaca-kaca mozaik (stained glass) karya Miksa Róth.


Franz Liszt Music Academy, Budapest

Akademi ini merupakan salah satu institusi musik terkemuka di Eropa. Selain telah menghasilkan komposer terkenal seperti Bela Bartók, Zoltan Kodàly, György Kurtàg, dan György Ligeti, lulusannya adalah musisi-musisi kelas dunia, seperti pianis Georges Cziffra, Zoltan Kocsis, Géza Anda, György Sàndor, Andràs Schiff, Tamàs Vàsàry, Lili Kraus, Annie Fischer; penyanyi opera Éva Marton, Andrea Rost, Sylvia Sass; serta konduktor Fritz Reiner dan Georg Solti.

Pada suatu sudut di Franz Liszt Academy, terdapat plakat yang ditujukan sebagai memorial bagi Ernő Dohnànyi (1877-1966), yang merupakan salah satu komposer penting Hungaria dan pernah menjabat sebagai direktur akademi tersebut. Namanya kini diabadikan sebagai salah satu jalan yang menghubungkan konservatorium dan Teréz Street. Selain itu di taman Liszt Ferenc Square yang terletak beberapa langkah dari gedung, terdapat patung Liszt yang sangat menarik – seperti posisi sedang main piano.

Plakat bertuliskan: Ernő Dohnànyi


Patung Franz Liszt dalam posisi memainkan piano


Pada awalnya, akademi musik ini didirikan di bekas rumah Liszt, namun sempat dipindahkan ke gedung tiga tingkat bergaya Neo-Renaissance karya arsitek Adolf Làng di Andràssy Street (jalan utama dan bergengsi di Budapest, seperti Champs-Élysées Paris) antara tahun 1877-1979 – tepat berseberangan dengan gedung opera nasional. Kini gedung itu dikenal sebagai “the old Music Academy”, dimana pada tahun 1980 gedung tersebut diakuisisi oleh Franz Liszt Academy dan dimaksudkan untuk menjadi “The Ferenc Liszt Memorial and Research Center”. Saat kunjungan saya ke gedung lama tersebut, keadaannya masih dalam proses renovasi.

Di depan "The Old Music Academy", Andràssy Street

Masih di Andràssy Street, terdapat Hungarian State Opera House (Magyar Àllami Operahàz), sebuah gedung opera bergaya Neo-Renaissance berelemen Barok dengan akustik terbaik ketiga di Eropa (setelah La Scala Milan dan Palais Garnier Paris). Didesain oleh arsitek Miklós Ybl pada tahun 1875, gedung opera ini terkenal karena keindahan arsitekturnya, menjadikannya landmark utama kota Budapest.


Hungarian State Opera

Sayang sekali, ketika saya berkunjung kesana (bulan Agustus), tidak ada pertunjukan opera. Season opera dimulai setiap awal September dan berakhir pada akhir Juni, dimana selama musim panas ada tour keliling gedung dalam enam bahasa dengan tiket sedikit mahal – bahkan lebih mahal daripada tiket pertunjukan operanya sendiri. Daripada kesal, saya akhirnya ikut tour dan rupanya tidak menyesal, karena pemandu tour sangat cakap dalam menjelaskan seluk-beluk gedung opera yang sangat indah tersebut.

Foyer gedung opera


Suatu state of art tersendiri, gedung opera ini memang sudah menampakkan keindahannya sejak pertama kali saya memasuki bagian foyer. Sejak zaman dahulu, opera memang adalah hiburan yang ditujukan bagi kalangan bangsawan dan berada. Tidak heran apabila setiap sudut ruang terhias dengan sangat elegan dan mewah, seperti halnya interior foyer yang dilapisi oleh marmer berwarna-warni, lantai marmer mozaik, dan dinding yang tidak luput dari lukisan fresco indah.

Foyer menuju pintu masuk

Kemudian kami memasuki Main Hall, atau ruang auditorium utama. Ruang berkapasitas 1261 tempat duduk ini dibuat melingkar dengan bentuk tapal kuda dan memiliki lima tingkat, dimana bagian balkon terbagi dalam partéré box dan di tengahnya terdapat Royal Box yang hanya digunakan untuk kepala negara. Hal yang sangat unik adalah sistem ventilasi yang merupakan temuan mutakhir pada masanya, dimana di bawah setiap bangku terdapat lubang-lubang angin yang bertujuan untuk menghembuskan angin dingin agar suhu udara di dalam auditorium tetap terjaga dan tidak pengap (fungsinya seperti AC). Opera memang selalu diadakan pada musim gugur dan dingin, dimana suhu udara di luar gedung sangat dingin, sementara udara di dalam auditorium panas (karena tertutup). Sesuai prinsip udara dingin pasti mengalir ke suhu yang lebih panas, maka dibuatlah lubang-lubang ventilasi tersebut. Jadi saat pergelaran berlangsung, penonton tidak perlu khawatir karena udara tidak akan pengap. Udara segar dan sejuk akan masuk melalui ventilasi dengan sendirinya~


Auditorium Main Hall


The Royal Box: Hanya untuk kepala negara


Lubang ventilasi di setiap tempat duduk


Bagian eternit (ceiling) auditorium merupakan karya seni sangat indah, yaitu lukisan karya Kàroly Lotz yang merepresentasikan Olympus, Mount of the Muses, termasuk di dalamnya ada figur mitologi Yunani seperti Apollo, Bacchus, Zeus, dan Venus. Di tengahnya, terdapat chandelier yang berasal dari Mainz, menyinarkan cahaya yang berpendar keemasan. Setiap sudut auditorium tidak luput dari ukiran dan ornamen yang menyiratkan keagungan masa lalu.

Ceiling yang berhiaskan lukisan & chandelier

Sungguh kebetulan, ketika saya sedang berada dalam auditorium, ada seorang ibu-ibu penyanyi opera veteran yang melakukan tes terhadap akustik ruangan. Ia menyanyikan aria O mio babbino caro (dari opera Gianni Schicchi karya Puccini) secara utuh, dan kami semua terpukau karena meskipun ia nampak sudah sepuh namun suaranya masih penuh power dengan intensitas dramatik. Kebeningan warna suaranya tidak merefleksikan usianya, juga membuktikan bahwa akustik gedung opera ini sangat baik dan terawat. Saya pun ingat kisah penyanyi mezzosopran Catharina Leimena yang pernah menonton pergelaran opera Adriana Lecouvreur karya Francesco Cilea di gedung opera ini. Beliau menceritakan, “Saya duduk tiga baris tepat di belakang konduktornya. Gedung operanya bagus sekali, akustiknya sangat mendukung untuk membuat berbagai macam warna suara tanpa harus bersusah payah mengeluarkan energi berlebih,”


Kemudian kami dibawa ke Ruang Rehat yang biasanya digunakan sebagai area bagi penonton untuk menikmati minuman, beristirahat, dan bersosialisasi pada saat jeda antar babak. Ruangan ini pun tidak luput dihiasi oleh fresco – sebenarnya secco, karena pada gambarnya dilukis saat tembok sudah kering. Fresco mengacu pada gambar yang dilukis di atas dinding yang masih basah dan baru disemen. Di ruang ini terdapat bar, dimana di sebelahnya ada Cigar Room untuk mereka yang ingin menikmati cerutu.


Ruang Rehat, penuh dengan lukisan dan ornamen hingga atap


Ada bar kecil dan tempat duduk


Selanjutnya adalah Function Hall yang sangat mewah. Ruang ini biasa digunakan untuk pertemuan, mengadakan seminar, atau resital kecil yang hanya dihadiri oleh puluhan penonton. Di dindingnya tergantung lukisan-lukisan yang menggambarkan sosok peran perempuan-perempuan femme fatale dan heroine dunia opera, seperti Isolde, Tosca, Violetta, dan Elisabeth of Valois.


Function Hall, dilengkapi piano dan meja konferensi


Duduk-duduk di Function Hall


Lantas ada The Royal Staircase yang hanya boleh digunakan oleh kepala negara. Pada zaman dahulu kala, tangga ini digunakan khusus untuk raja dan ratu yang akan menonton opera. Mereka biasanya naik tangga diikuti oleh petinggi-petinggi negara dan bangsawan, oleh karena itu tepat di hadapan tangga ini terdapat cermin raksasa yang bertujuan bagi raja dan ratu untuk melihat siapa saja manusia yang ada di belakang mereka. Menurut tata etiket kebangsawanan, seorang raja/ratu tidak elok apabila ketika sedang berjalan menoleh ke belakang. Itulah fungsi cerminnya.


The Royal Staircase: Ditutup untuk umum

Terakhir adalah The Grand Staircase yang menghubungkan foyer dengan ruang auditorium utama. Tangga ini mengadopsi model Le Grand Escalier yang terdapat di gedung opera Bastille di Paris, meskipun dalam skala yang lebih kecil. Di tangga inilah para duchess dan countess zaman dahulu memamerkan gaun-gaun terindahnya ketika akan menonton pertunjukan opera.

The Grand Staircase


Salah satu sudut The Grand Staircase


Gedung opera yang didirikan atas inisiatif komponis besar Hungaria – Ferenc Erkel ini merupakan “rumah” bagi artis-artis opera internasional. Konduktor legendaris seperti Otto Klemperer dan Gustav Mahler pernah menjadi music director disini~

Patung Franz Liszt di depan pintu masuk gedung opera


No comments: