Monday, November 08, 2010

Opera La Boheme di Wiener Staatsoper

Dalam lawatan tiga hari ke Austria, saya dijamu dengan sangat hangat oleh kawan saya yang sedang menyelesaikan studi harpanya di konservatorium musik Vienna: Rama Widi. Ketika saya tiba di Vienna, momentumnya bertepatan dengan pembukaan season opera 2010/2011 di Vienna Opera House (atau yang dikenal dengan Vienna State Opera -Wiener Staatsoper), dimulai dengan Tännhauser (Wagner), La Boheme (Puccini), dan Die Zauberflöte (Mozart) selama tiga hari berturut-turut secara bergantian. Sayang sekali, ketika saya hendak memesan tiket secara online, rupanya semua sudah sold-out. Hanya ada beberapa kursi yang tersisa untuk kelas VIP dan harganya dimulai dari EUR 500 (sekitar lima juta rupiah). Tentu saya tidak mungkin ambil yang itu sehingga satu-satu jalan adalah dengan membeli standing ticket yang biasanya dijual dua atau tiga jam sebelum pementasan opera dimulai.


Wiener Staatsoper setelah pertunjukan La Boheme usai, pukul 22.30


Pada akhirnya saya memutuskan untuk menonton opera La Boheme karya Giacomo Puccini yang dipergelarkan pada hari kedua. Sudah telat untuk menonton Tännhauser – lagipula di Indonesia saya pernah menonton opera La Boheme produksi maestra Catharina Leimena, jadi ingin sedikit mengembalikan memori. Pada hari pementasannya, saya yang baru saja berkeliling kota rupanya tidak sadar bahwa jam telah menunjukkan pukul enam sore dimana semestinya saya sudah harus berada di antrian loket depan gedung opera. Setelah bergegas ke lokasi, ternyata antriannya sudah sangat mengerikan – panjangnya sekitar 100 meter dan dibagi dalam beberapa barisan. Itu pun masih bertambah panjang dengan orang-orang yang mengantri di belakang saya. Sebenarnya saya masih beruntung, karena pada beberapa event tertentu yang dibintangi oleh penyanyi opera superstar, biasanya orang-orang sampai rela menginap dengan sleeping bag di ruang tiket semalam sebelumnya. Akhirnya setelah berdiri menunggu selama satu jam, antrian mulai bergerak masuk ke dalam. Mungkin karena pelayanannya yang sangat gesit, sekitar setengah jam saya sudah tiba di depan loket. Akhirnya saya baru mengerti mengapa banyak orang berburu standing ticket karena harganya yang sangat miring, yaitu EUR 3 sampai EUR 5 (sekitar tiga sampai lima puluh ribu rupiah). Meskipun saat menonton harus sambil berdiri, di lantai balkon paling atas~


Tangga di foyer utama

Penonton berjubel memasuki auditorium


Setibanya di foyer gedung opera, saya merasa salah kostum. Berhubung saya waktu itu bergegas langsung kesana, tidak sempat ganti baju sehingga hanya mengenakan kaos, cardigan, jeans, dan sepatu kets. Sementara itu tamu-tamu lain di foyer nampak terhormat dengan setelan jas dan perempuannya mengenakan gaun malam, beberapa diantaranya turun dari limousine dengan mantel bulu. Namun perasaan itu hanya sesaat saja karena penonton di balkon standing ticket yang terletak di lantai paling atas, rata-rata mengenakan pakaian seadanya à la mahasiswa kuliahan.


Kadang orang-orang hingga menginap di loket opera demi mendapatkan tiket



Foyer utama yang dipenuhi penonton


Opera La Boheme yang malam itu dipentaskan merupakan produksi sutradara kenamaan, Franco Zefirelli. Pria Itali yang lahir tahun 1923 ini juga berkiprah sebagai sutradara film (antara lain film Romeo & Juliet yang memenangkan penghargaan Oscar, serial terkenal Jesus of Nazareth, dan filmnya yang terakhir pada 2002 – Callas Forever) serta produser film, selain dari dedikasinya untuk menyutradari opera. Dalam kiprahnya di dunia opera, ia berteman baik dengan diva opera Maria Callas, dimana mereka bekerja sama dalam produksi opera La Traviata (Verdi) di Dallas, 1959. Salah satu produksinya yang sangat terkenal adalah tahun 1964 dengan Tosca (Puccini) di Royal Opera House London, menampilkan Maria Callas dan baritone Tito Gobbi. Di tahun yang sama, ia membuat produksi opera Norma (Bellini) di Opera Paris, yang merupakan Norma terakhir Callas. Selain kiprahnya bersama Maria Callas, ia membuat beberapa produksi untuk Metropolitan Opera New York, yaitu Tosca, Turandot, dan La Boheme – yang malam itu turut dipentaskan di Vienna.


Poster opera La Boheme


Adapun produksi La Boheme malam itu menampilkan konduktor sekaligus music director Vienna State Opera yang baru: Franz Welser-Möst. Menceritakan kisah tragis tentang kehidupan kaum bohemian para seniman di Paris, opera empat babak ini tetap merupakan pilihan favorit untuk ditonton sepanjang waktu. Penataan dan pencahayaan artistik di panggung merupakan ide jenius Zefirelli, memberi imajinasi nuansa kelam dan gloomy sebagai verité dari kesulitan hidup masa lalu, sesuai dengan aliran verismo yang mengedepankan realitas, merupakan ciri khas karya-karya komposer opera Italia di awal abad 20. Melihat dekor babak pertama dan terakhir yang berlatar belakang kamar Rodolfo di loteng tua, memori langsung teringat pada penataan yang serupa dengan La Boheme legendaris versi Luciano Pavarotti-Mirella Freni – pun sutradaranya sama. Babak dua yang menggambarkan kemeriahan Café Momus di malam Natal, dikerjakan dengan jenius dimana para solis berada di lantai pertama, sementara panggung sedikit dinaikkan (mezzanine) untuk memperlihatkan scene anak-anak yang berlarian, tukang jualan, dan parade serdadu. Babak tiga yang kelam, penuh dengan salju, dibuat samar melalui bantuan tirai putih lembut – menggambarkan kabut musim dingin dan serpihan salju yang turun halus perlahan secara konstan dari atas panggung.


Auditorium utama

Orkestra dan konduktor telah siap di orchestra pit


Rodolfo sang penyair diperankan dengan meyakinkan oleh tenor muda terkenal asal Amerika, Stephen Costello (lahir 1982). Kemampuan akting yang natural dan terkontrol baik terjalin dari awal hingga akhir, dilengkapi dengan instrumen vokal yang mampu menjangkau nada-nada tinggi dengan segenap power namun tetap tidak berlebihan. Mimi yang ringkih dan melankolis dilakonkan oleh soprano Bulgaria – Krassimira Stoyanova, yang kiprahnya di dunia opera sudah cukup matang (ia adalah pasangan menyanyi tenor José Cura dalam premiére opera "Le Villi" karya Puccini di Vienna State Opera). Meskipun demikian, suaranya yang liris dan memiliki tone indah belum begitu memadai untuk mengimbangi orkestra, terutama pada beberapa klimaks dalam dinamik yang nyaring. Begitupun dalam penggalangan frase, legato dan pengucapan vokal dalam satu warna masih dapat dikembangkan lagi. Misalnya pada babak pertama ketika Mimi yang telah pamit sadar bahwa kunci kamarnya tertinggal di loteng Rodolfo, ia berteriak dan bergegas masuk, “Ah! Sventata! Sventata! Chiave della stanza, dove l’ho lasciata?” (Aduh! Goblok! Goblok! Kuncinya...! Dimana gue tadi ninggalin itu kunci?). Semestinya frase ini dapat lebih menggambarkan seseorang yang panik – mungkin melalui attack yang baik pada seruan “Ah!” dan dilanjutkan dengan sedikit agitato pada “Sventata!” dengan aksen di “ta” pertama (SvenTAta) – jadi tidak sekadar dinyanyikan dengan datar tanpa emosi. Begitupun di babak tiga yang sarat akan gejolak emosi, soprano Stoyanova dapat lebih mengungkapkan kekecewaan dan perasaan shock dengan memaksimalkan intensitas vokal yang dimilikinya.


Setting babak pertama La Boheme: Terlarang untuk mengabadikan foto ini


Kemampuan akting dan vokal yang prima nampaknya dimiliki oleh soprano Alexandra Reinprecht. Dalam memerankan Musetta – gadis centil yang banyak maunya, ia nampak ekstrovert, percaya diri, dan tampil apa adanya. Beberapa adegan komikal sempat membuat penonton tertawa. Rupanya soprano Reinprecht telah membuat magnetisme bagi mereka yang menyaksikannya beraksi, terutama pada aria “Quando me’n vò soletta per la via” (Ketika gue lagi jalan sendirian). Sementara itu, Marcello sang pelukis yang diperankan oleh baritone Boaz Daniel dapat menampilkan beragam karakter dengan kemampuan vokalnya yang sangat baik. Ada perbedaan nuansa ketika ia sedang memainkan mood senang (babak pertama) dengan sedih dan kecewa (babak tiga). Baritone Boaz Daniel yang telah menelurkan album La Boheme (bersama Anna Netrebko, Nicole Cabell, Rolando Villazòn) di bawah label Deutsche Grammophon ini terlihat sangat menguasai panggung, membuat partner menyanyinya dapat berekspresi secara timbal-balik dengannya.

Colline sang filsuf yang diperankan penyanyi bass Sorin Colliban membawakan aria “Vecchia zimarra” (Jaket tuaku) dengan penuh kedalaman dan perenungan. Suara bass-nya yang empuk dan dipandu oleh legato yang baik dapat menciptakan suasana kesendirian, yang dilanjutkan dengan dialog penuh makna pada “Schaunard, ognuno per diversa via. Mettiamo insieme due atti di pietà,” (Schaunard, tiap orang punya cara beda-beda untuk ungkapin perasaan setiakawannya. Kita bisa lakuin dua hal yang berarti untuk Mimi yang sedang sekarat itu). Sementara itu Schaunard yang musisi, diperankan dengan baik oleh baritone asal Ceko – Adam Plachetka (lahir 1985). Karakter dan vokalnya diolah secara seimbang, terutama pada babak pertama, dimana Schaunard masuk ke loteng Rodolfo dengan membawa sejumlah bahan pangan dan kayu bakar.

Konduktor Franz Welser-Möst yang pernah menjabat sebagai konduktor Cleveland Orchestra di Amerika, memiliki kapasitas penuh sebagai nahkoda dari Orchester der Wiener Staatsoper. Ia dapat mengatasi beberapa problem, seperti pada babak dua yang menampilkan anak-anak kecil berlarian sambil menyanyi dalam format paduan suara – mereka sempat terlambat masuk menyanyi pada adegan “La Ritirata!” dan “Ecco il tambur maggior!” (maklum, namanya juga anak-anak). Namun dengan sigap sang konduktor dapat menahan tempo orkestra sepersekian detik sehingga semua berjalan kembali mulus, tanpa ada “kecelakaan”. Semua dilakukan tanpa merusak musiknya~


Curtain calls setelah opera selesai

Lobi auditorium lantai 5


Sebenarnya selama pergelaran berlangsung, penonton dilarang untuk mengambil foto atau merekam pertunjukan. Foto yang saya ambil pada set babak pertama dilakukan secara diam-diam, setelah melihat ada beberapa penonton lain yang melakukannya. Saya pikir, untuk keperluan dokumentasi di blog ini, tak apalah melanggar sedikit peraturan – meskipun ketika saya bersiap mengambil foto, ibu-ibu yang menonton di depan saya sudah melotot dengan ekspresi muka marah ke arah saya. Selain itu, beberapa etiket yang saya kagumi adalah kesadaran seluruh penonton untuk menon-aktifkan telepon selular selama pertunjukan berlangsung, juga kepada ekstrimnya mereka dalam menjaga ketenangan. Ketika sedang di tengah pertunjukan, ada seorang ibu-ibu batuk – dan semua mata langsung menatap padanya dengan tatapan tajam. Hal yang konyol adalah, ketika pada akhir babak pertama Rodolfo dan Mimi menyelesaikan nada terakhir duet cinta “O soave fanciulla” yang merdu dan syahdu, tiba-tiba dari luar auditorium terdengar suara orang jatuh dari tangga yang diikuti dengan teriakan kencang seperti kucing – nampak dengan segenap usaha, penonton di sekeliling saya mati-matian menahan tawa.

Sangat menarik, gedung opera ini hanya memiliki satu pintu keluar backstage (di samping gedung). Pada pertunjukan yang dibintangi oleh superstar seperti Placido Domingo, Montserrat Caballé, Anna Netrebko, atau Maria Guleghina, kita dapat melihat kerumunan fans menunggu bintang idolanya keluar dari pintu tersebut dengan setia – sekadar salaman, foto bersama, atau minta tanda tangan. Menurut penuturan harpist Rama Widi, biasanya Placido Domingo sangat ramah pada fans, sementara Anna Netrebko yang memiliki difficult personality biasanya langsung bergegas ke hotel diiringi para bodyguard-nya. Malam itu saya kebetulan lewat di area pintu backstage, terlihat beberapa orang berkerumun. Rupanya ada sang tenor Stephen Costello sedang mengobrol dengan para fans, diiringi baritone Boaz Daniel dan Adam Plachetka. Saya sempat memberi ucapan selamat pada mereka – pribadi yang hangat dengan suara emas.


Tenor Stephen Costello memberikan tanda tangan pada penggemar


No comments: