Saturday, November 13, 2010

Sekelumit Tentang Seriosa Indonesia

MENINJAU PERJALANAN SERIOSA DI INDONESIA

Oleh: Aditya Setiadi (Pengajar Apresiasi Musik, Universitas Indonesia)


Meninjau ulang keberadaan musik seriosa di Indonesia merupakan suatu hal yang unik, dimana pengistilahan jenis musik tersebut nampaknya hanya ada di bumi pertiwi tercinta ini. Sebagai suatu jenis musik yang dianggap serius dan memiliki prestise tersendiri, genre “seriosa” mulai dikumandangkan oleh Amir Pasaribu pada saat blantika musik Indonesia sedang menggandrungi kompetisi Bintang Radio dan Televisi, dimulai sejak enam puluh tahun yang lalu.

Kritikus musik Suka Hardjana sempat mengemukakan bahwa Musik Seriosa dalam Bintang Radio sesungguhnya merupakan bagian dari suatu seni olah suara (menyanyi) dengan teknik tertentu – diiringi piano atau orkes – dalam membawakan lagu-lagu pendek berbentuk format Art Songs (Jerman: Lieder) yang memiliki 3 frase sederhana: awal, sisipan, dan ulangan. Pemilihan istilah “seriosa” antara lain berasal dari pemilahan khazanah musik musik di Amerika dan Eropa setelah Perang Dunia II berakhir. Orang Amerika – berdasarkan peraturan hukum yang berlaku, melakukan dikotomi antara Serious Music dan Entertainment Music. Orang Jerman mengistilahkannya, Unterhaltungmusik (musik hiburan) dan Ernstmusik (musik serius).

Dalam buku “Esai dan Kritik Musik” Suka Hardjana menjelaskan bahwa pada tahun 1950, beberapa kaum pejuang yang terpelajar dan mendapat pendidikan apresiasi musik di sekolah-sekolah Belanda sering terlibat dalam pergaulan musik di RRI. Mereka antara lain Amir Pasaribu, Cornell Simandjoentak, Binsar Sitompoel, Sjaiful Bachri, Ismail Marzuki, RAJ Soedjasmin, Koesbini, kemudian dilanjutkan generasi yang lebih muda seperti Iskandar, Isbandi, Mochtar dan Syafi’i Embut, Soedharnoto, Soebronto K Atmodjo, Harry Mulyono, FX Soetopo, dan Trisutji Kamal. Mereka adalah kontributor utama kompetisi Bintang Radio. Lagu-lagu ciptaan mereka menjadi standar pertama seleksi Bintang Radio baik tingkat daerah maupun nasional. Karya cipta mereka terinspirasi dari romantisme keindonesiaan dan adaptasi bentuk Art Songs musik klasik Barat, yang telah menghasilkan sederetan nama besar di dunia tarik suara klasik Indonesia, seperti Norma Sanger, Rose Pandanwangi, Ade Ticoalu, Surti Suwandi, juga maestro Pranajaya dan Ibu Seriosa Indonesia: Pranawengrum Katamsi.

Tidak dapat dipungkiri bahwa sejarah seriosa juga berkaitan erat dengan kiprah maestra Catharina Wiriadinata-Leimena, penyanyi opera lulusan konservatorium musik Milan yang menjadi salah satu legenda dari terpeliharanya tradisi berkesenian vokal klasik di Indonesia. Kendati kariernya tidak melalui Bintang Radio dan memiliki pakem yang berbeda, namun para penyanyi didikannya turut membangun fondasi yang kuat dari tradisi adiluhung tersebut, termasuk dalam melestarikan karya vokal seriosa yang kini makin langka peminatnya.

Soprano Aning Katamsi besar dalam dua tradisi tersebut. Ibunda tercintanya – almarhumah Pranawengrum Katamsi, merupakan legenda seriosa Indonesia. Sementara itu, ia tumbuh besar dalam didikan vokal seorang Catharina Leimena. Sebagai bagian dari sejarah, Aning memiliki tugas dan tanggung jawab yang berat untuk terus melestarikan tradisi vokal klasik yang telah dirawat selama ini. Paling tidak, ia selalu berusaha untuk menyisipkan karya Tembang Puitik Indonesia dalam program konsernya, selain telah menerbitkan buku “Klasik Indonesia” yang memuat karya-karya vokal berestetika tinggi karangan Binsar Sitompoel, FX Soetopo, dan Mochtar Embut.

Berangkat dari sebuah wacana, ada baiknya jika saat ini istilah “seriosa” ditinjau ulang, baik dari segi fungsi maupun estetika. Pengategorian genre musik “serius” nampaknya terlalu banal untuk dipahami sebagai sebuah pemaknaan terhadap proses berkesenian yang berlangsung terus-menerus. Filsuf Theodor Adorno menyatakan bahwa musik yang ingin mendapatkan haknya untuk tetap ada (eksis), harus memiliki ciri pengetahuan (character knowledge). Musik secara murni terus mengungkapkan permasalahan yang ada dalam materinya, dimana materi tersebut tidak bersifat alami, namun merupakan hasil dari perjalanan sosio-historis. Demi kelangsungan musik-seni vokal tersebut, nampaknya kini istilah “Tembang Puitik” terasa lebih estetik untuk menggantikan istilah “seriosa”. Di dalamnya ada identitas musik seni yang lekat dengan ciri khas keindonesiaan dan fungsi edukasi yang berkesinambungan.


* * *

Catatan:
Tulisan yang merupakan gabungan dari berbagai artikel ini diterbitkan dalam Buku Program Konser "Benang Merah Cinta" (25 Tahun Aning Katamsi Berkarya), 27 Oktober 2010 di Usmar Ismail Hall.



Bersama soprano Aning Katamsi, setelah konser 25 tahun berkarya

1 comment:

alfzay said...

Saya penggemar lagu2 seriosa Indonesia sejak 50 tahun yang silam. Istilah 'seriosa" cukup indah terdengar di telinga, sedangkan 'tembang puitik' terasa sangat kaku. Mengapa kita harus mengubah istilah yang sudah diterima masyarakat, dan menggantikan itu dengan istilah yang kurang enak didengar?