Thursday, November 04, 2010

Un viaggio a Roma

Dalam kunjungan tiga hari ke Roma, saya menyempatkan diri untuk mampir ke Rome Opera House (Teatro dell’Opera di Roma). Sebagaimana seni opera berasal dari Italia, gedung opera ini memiliki andil yang sangat penting dalam perjalanan showbiz dunia opera sejak dulu hingga kini. Sayang sekali, saat saya datang rupanya belum ada jadwal pementasan opera – ketika itu masih awal musim gugur di bulan September dan season opera yang baru akan dimulai beberapa hari setelahnya.


Bagian muka (façade) Teatro dell'Opera di Roma


Gedung opera Roma ini arsitekturnya nampak sederhana dan tidak serumit gedung opera yang sayang kunjungi di Budapest. Sejarahnya cukup panjang, dimana pada awalnya gedung ini dibuka pada November 1880 (kapasitas 2212 tempat duduk) dengan nama Teatro Constanzi, sesuai dengan nama kontraktor yang membangun gedungnya: Domenico Constanzi (1810-1989). Ia membiayai pembangunan gedung opera ini secara pribadi, dengan mempekerjakan arsitek Achille Sfondrini yang berasal dari Milan, seorang arsitek yang memiliki spesialisasi dalam membangun dan merenovasi teater. Sfondrini sendiri meletakkan dasar akustik yang sangat kuat, dimana struktur interiornya dibuat seperti layaknya “resonance chamber”, sebagaimana bentuk auditoriumnya yang menyerupai tapal kuda.

Tahun 1926, Teatro Constanzi dibeli oleh pemerintah kota Roma dan namanya diganti menjadi Teatro Reale dell’Opera. Sebagian dari bangunan aslinya dibangun ulang oleh arsitek Marcello Piacentini. Akibat dari pembangunan ulang teater ini, pintu masuk utama yang pada awalnya terletak di Via del Teatro (tempat dimana taman Hotel Quirinale sekarang berada) dipindahkan ke sisi samping, dimana Piazza Beniamino Gigli dibangun. Auditorium utama di dalam teater dihancurkan dan diganti dengan empat tingkat, lengkap dengan balkon dan partéré box.

Setelah akhir dari sistem monarki di Italia, gedung opera ini kembali berganti nama menjadi Teatro dell’Opera, dimana pada tahun 1958 gedung ini lagi-lagi dibangun ulang oleh pemerintah kota Roma. Kembali dikerjakan oleh arsitek Marcello Piacentini, kini hasilnya dapat terlihat dari bagian muka (façade), pintu masuk, dan foyer yang bertahan hingga saat ini. Meskipun demikian, akustiknya yang legendaris tetap dapat dibandingkan dengan gedung-gedung opera ternama di seluruh dunia. Beberapa perubahan yang signifikan adalah kapasitas tempat duduk yang sedikit berkurang (menjadi 1600 kursi) dan penambahan pendingin udara.

Gedung opera ini menjadi saksi sejarah penting dalam dunia per-opera-an, antara lain menjadi tempat pementasan perdana (premiére) dari opera Cavalleria Rusticana (Pietro Mascagni) pada 1890 dan opera Tosca (Giacomo Puccini) pada 1900. Selain itu, gedung ini menjadi tempat terjadinya “Rome Scandal”, yaitu saat pementasan opera Norma (karya Bellini) yang dihadiri oleh Presiden Italia – Giovanni Gronchi (2 Januari 1958), diva opera Maria Callas memutuskan untuk tidak melanjutkan menyanyi pada akhir babak pertama dan pergi meninggalkan teater (walk out). Dianggap sebagai penghinaan, keesokan harinya Maria Callas – yang tidak melanjutkan pementasan karena kondisi suaranya sedang tidak fit – mendapat demonstrasi dengan poster-poster bertuliskan “We don’t want Callas in Rome!” di depan Hotel Quirinale, tempatnya menginap. Selain itu, kasus ini menjadi topik headline di surat kabar seluruh dunia, termasuk majalah Time.


Maria Callas (kedua dari kanan) meninggalkan gedung opera Roma, Januari 1958


Meskipun saat saya berkunjung kesana gedung opera sedang ditutup untuk umum, namun saya sempat mengambil gambar snapshot dari pintu backstage yang kebetulan sedang dibuka. Dari celah pintu tersebut terlihat interior teater (auditorium) yang mewah, lengkap dengan Royal Box yang biasanya digunakan khusus untuk kepala negara dan tamu-tamu kenegaraan.

Mengintip auditorium teater dari pintu backstage


Berbicara mengenai opera Tosca karya Giacomo Puccini, saya sempat mengunjungi beberapa tempat aktual yang menjadi latar belakang operanya. Dalam tiga babak opera tersebut, babak pertama adalah di gereja Sant’Andrea della Valle – yang sayangnya saya lewatkan, padahal letaknya hanya beberapa langkah dari Piazza Navona, dimana saya sebelumnya mondar-mandir keliling di area itu. Babak kedua adalah di Palazzo Farnese – yang saya lewatkan juga, padahal letaknya hanya beberapa meter di belakang gereja Sant’Andrea della Valle itu. Babak ketiga adalah di Castel Sant’Angelo, dimana Cavaradossi dipenjara dan dieksekusi mati. Setelah itu, Tosca – yang ternyata ditipu oleh janji palsu Scarpia, memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan lompat ke sungai Tiber dari jembatan Ponte Sant’Angelo. Jejak rekam di area Castel Sant’Angelo yang indah ini berhasil saya jelajahi, dan tepian sungai Tiber merupakan tempat yang sangat romantis untuk menghabiskan senja bersama kekasih tercinta~

Castel Sant'Angelo, foto dari jembatan Ponte Sant'Angelo


Sungai Tiber & Ponte Sant'Angelo, dimana Tosca mengakhiri hidupnya



No comments: