Thursday, November 11, 2010

Vienna: Haus der Musik

Selama berkunjung ke Vienna, saya sempat mampir ke Haus der Musik (House of Music), sebuah museum musik interaktif yang dilengkapi dengan peralatan multimedia hi-tech dan bertujuan untuk memperkenalkan dunia musik – sejak manusia mengenal alat musik hingga penggunaannya hingga saat ini. Museum ini merupakan kerjasama dari banyak pihak, antara lain empat universitas di Austria, dua institut asing, satu tim musisi dan ahli teori musik terpilih, seniman, teknisi suara, arsitek, serta orang-orang yang memang berkiprah di bidang musik. Pada tahun 2002, museum ini sempat dianugerahi “Austrian Museum Prize” atas konsepnya yang inovatif.

House of Music ini berlokasi di “Palais of Archduke Charles”, dimana Otto Nicolai (pendiri Vienna Philharmonic Orchestra) menempatinya 150 tahun yang lalu. Saat ini, jabatan Honorary President museum dipegang oleh konduktor Zubin Mehta. Adapun beberapa wahana yang menarik antara lain adalah simulasi konduktor, dimana kita bisa seolah-olah menjadi konduktor dan mengaba Vienna Philharmonic Orchestra dengan beberapa pilihan lagu, seperti Waltz Blue Danube karya Johann Strauss atau Hungarian Dance karya Johannes Brahms. Pada tongkat baton-nya terdapat sensor, sehingga musik dan videonya mengikuti aba-aba dari gerakan tangan kita. Kemudian ada ruangan “rahim” yang jika kita masuk ke dalamnya, maka akan terdengar suara-suara yang persis seperti yang didengarkan oleh janin bayi ketika masih berada dalam kandungan ibunya. Sangat unik, di dalam ruang tersebut suara-suara terdengar seperti gelombang-gelombang sonar dalam frekuensi yang asing – suasana yang saya tangkap, seperti bernuansa suara alien.

Selain simulasi dan wahana yang menarik, museum ini juga memamerkan memorabilia dari komposer-komposer penting, seperti kacamata Schubert, dompet Brahms, partitur-partitur tulisan tangan Mozart, Haydn, Beethoven, hingga barang-barang penting peninggalan The Second Viennese School, seperti Arnold Schoenberg, Alban Berg, dan Anton Webern. Turut dipamerkan pula alat-alat musik bersejarah yang dulu pernah digunakan oleh Beethoven dan Mozart.

Salah satu memorabilia: Tongkat dirigen (baton) komposer dan konduktor penting abad ini ketika mereka menjadi konduktor Vienna Philharmonic Orchestra; seperti Richard Strauss, Arturo Toscanini, Hans Pfitzner, Wilhelm Furtwängler, Hans Knappertsbusch, Karl Böhm, Herbert von Karajan, dan Willi Boskovsky.




Ruang pribadi Otto Nicolai, pendiri Vienna Philharmonic Orchestra, dilengkapi dengan patung lilin dirinya dan beberapa memorabilia seperti tulisan tangan, benda-benda pribadi, surat-surat, dan kursi yang masih terawat baik hingga kini.






Salah satu ruang dengan perlengkapan futuristik. Pada lubang-lubang yang terdapat di dinding, kita dapat memasukkan kepala untuk mendengarkan suara-suara khas dari seluruh dunia, seperti: suara pasar di Turki ketika siang hari, suara gurun pasir di Maroko, suara pinggir pantai di Hawaii, suara keramaian kota New York, dan sejenisnya.





Beberapa memorabilia peninggalan komposer Johannes Brahms, termasuk diantaranya: kacamata, program konser, foto hitam-putih, kartu dengan tulisan tangannya, dompet, serta pena bulu angsa.




Beberapa program konser semasa Herbert von Karajan menjadi konduktor Vienna Philharmonic Orchestra, termasuk konser terakhirnya sebelum ia meninggal.





Papan deret nada dodecaphony (sistem komposisi 12 nada) yang digunakan oleh Arnold Schoenberg dalam operanya, "Moses und Aron". Benda ini merupakan pinjaman dari Arnold Schoenberg Center Privatstiftung.





Partitur opera Mozart "Le nozze di Figaro" yang dipenuhi oleh coretan tangan komposer/konduktor Gustav Mahler, ketika ia memimpin orkestra Vienna State Opera.






Gustav Mahler yang juga seorang matematikus handal, membuat banyak coretan mengenai rumus-rumus matematik.






Salah satu lembaran sketsa tulisan tangan komponis Franz Schubert ketika mengarang karya Deutsche Messe D 872.






Salah satu piano Ludwig van Beethoven yang diproduksi oleh Broadwood London. Piano ini merupakan salah satu perintis dari berkembangnya produksi piano berkualitas di era Klasik-Romantik.




Sisi Lain Kunjungan ke Vienna

Selama berada di Vienna, saya dikenalkan dengan komposer muda berprestasi asal China yang bermukim di Vienna: Wen Liu. Di usia yang masih muda, ia telah meraih banyak penghargaan atas karyanya yang bercirikan avant-garde, antara lain Award of Theodor-Körner Fonds for Composition yang diberikan oleh Presiden Austria, Dr Heinz Fischer.

Hal yang sempat terbersit dalam benak saya adalah: Jauh-jauh sekolah ke Eropa, malah bertemu orang Asia terus, bukannya bule – mengacu pada pengalaman Summer Course saya di Hungaria yang 80% pesertanya berasal dari China. Nampaknya China sedang menginvasi ranah seni klasik Barat dengan mengirimkan mahasiswa mereka yang berprestasi ke luar negeri. Mungkin ada yang memang pergi dengan biaya sendiri, namun pada Summer Course saya di Hungaria itu, keseluruhan mahasiswa yang berasal dari Beijing Central Conservatory dibiayai penuh biaya perjalanannya oleh pemerintah mereka.

Saya pun terkejut ketika di Hungaria mengobrol dengan seorang kawan saya – Chen Zhaojun (nama Inggrisnya: Barney), ia memaparkan bahwa ia tidak berkeinginan untuk sekolah di Beijing Central Conservatory. Ia ingin menjadi desainer, dan orangtuanya lah yang menyuruh dia untuk berkiprah sebagai musisi. Menurutnya, musisi klasik kini dipandang sebagai sebuah profesi yang cukup bersinar di China. Lantas kekagetan ini saya ceritakan pada Melissa Goh, seorang kawan yang berkebangsaan Malaysia. Menurut Melissa, cukup aneh jika di China (dimana kebijakan pemerintahnya yang mengharuskan satu keluarga hanya boleh punya satu anak) ada orangtua yang menyuruh anak laki-lakinya berprofesi sebagai musisi. Pada umumnya (Melissa membandingkannya dengan kultur Chinese-Malaysia) orangtua akan memasukkan anak laki-laki mereka ke sekolah bisnis atau sekolah teknik, yang tidak ada hubungannya dengan seni.

Kesimpulan saya, China nampaknya sedang giat mempromosikan kesenian klasik Barat pada masyarakatnya. Konsistensi pemerintah China dalam hal tersebut sedikit demi sedikit telah mengubah cara pandang dan nilai-nilai masyarakat akan seni. Pendidikan musik klasik yang dimulai sejak dini telah menghasilkan musisi kelas dunia, misalnya Beijing Central Conservatory adalah sekolah pianis Lang Lang, Yuja Wang, serta komposer Tan Dun dan Chen Yi. Pun pemerintah mereka gencar membangun pusat-pusat kesenian Barat, seperti opera house di Beijing dan Shanghai, juga berbagai concert hall. Bisa jadi hal ini merupakan bagian dari ambisi China untuk menjadi negara adidaya setelah Amerika, mungkin dengan menyejajarkan aspek ekonomi (seperti Amerika) dan kultural (seperti Eropa Barat). Mungkinkah pada akhirnya musik klasik Barat akan dilestarikan oleh orang Asia dan dilupakan oleh sang empunya sendiri?

Memori pun kembali pada celetukan Prof Marta Szabo ketika saya sedang mengikuti Summer Course di Hungaria, dimana rombongan mahasiswa dari Beijing Central Conservatory tersebut diminta untuk membawakan lagu folksong China. Ketika mereka sedang pentas, sang profesor mendekat ke saya seraya berbisik, “Dear, I think we are minority here”~


Bersama harpist Rama Widi, di depan Bank Austria Kunstforum


Bersama Wen Liu di Stadtpark


Patung Johann Strauss di Stadtpark


No comments: