Sunday, December 12, 2010

25 Tahun Aning Katamsi Berkarya

Berangkat dari sebuah tradisi adiluhung, kiprah soprano Aning Katamsi selama 25 tahun berkarya di bidang vokal klasik merupakan suatu pencapaian yang luar biasa. Dimulai sejak memenangkan Kompetisi Bintang Radio, karir Aning Katamsi sebagai salah satu soprano terbaik di Tanah Air mengalami berbagai proses yang semakin memperdalam penghayatan dan visinya terhadap makna berkesenian dan bagaimana seni dilestarikan.

Soprano Maria Callas dalam pidato penutupan seri masterclass-nya di Juilliard, mengatakan “Don’t think singing is an easy career. It’s a lifetime work: it doesn’t stop here. As future colleagues, you must carry on. Fight bad tradition: Remember, we are servants to those better than us – the composers. They believed, we must believe. Of course, by helping the composer we help ourselves. But this takes courage – the courage to say no to easy applause, to fireworks for their own sake. You must know what you want to do in life. You must decide, for we can’t do everything.”

Nampaknya semangat yang sama sudah dilakukan oleh Aning Katamsi selama 25 tahun ini. Tanpa meninggalkan identitasnya sebagai penyanyi yang berangkat dari suatu tradisi, Aning dengan konsisten membawa jatidirinya untuk berkesenian dengan berbagai musisi, mulai dari musisi klasik hingga rock. Pemahamannya akan etos kerja musisi, dedikasi, dan pendekatan artistik terhadap musik seni yang digelutinya selama ini berangkat dari ibundanya tercinta, almarhumah Pranawengrum Katamsi – yang merupakan legenda musik seriosa Indonesia, juga berkat didikan guru-guru musik terbaik: pianis Iravati Sudiarso dan penyanyi opera Catharina Leimena.

Aning yang bersahaja namun anggun dan elegan, selalu mendahulukan kepentingan teks atas interpretasi. Ia telah menafsirkan ratusan karya komposer-komposer kelas dunia dengan cermat dan pemahaman yang mendalam. Dalam interpretasinya, selalu ada alasan artistik: Mengapa not ini dinyanyikan demikian, mengapa kalimat itu harus disambung, mengapa komposer ini meminta penyanyinya untuk menyanyi dalam gaya tertentu – semua merupakan proses pembelajaran yang seperti dikatakan oleh Callas: A lifetime work. Kelebihan Aning dalam berekspresi dan merangkai kalimat dalam suatu legato yang luar biasa merupakan kelebihannya yang menonjol. Terima kasih kepada warna suaranya yang indah, yang oleh kritikus musik Ninok Leksono dipuji: mengingatkan kita akan suara emas Renata Tebaldi.





Dalam konser 25 tahun berkarya yang diadakan di Usmar Ismail Hall pada 27 Oktober yang lalu, Aning memang sedang tidak dalam kondisinya yang prima. Namun hal tersebut tidak menutupi interpretasi luar biasa terhadap lieder dan aria opera favoritnya yang dibawakan dengan iringan piano oleh pianis Levi Gunardi. Sesuai dengan tema konsernya, yaitu “Benang Merah Cinta”, Aning telah membuktikan kecintaannya terhadap seni yang selama ini dilakoninya, terhadap komitmen, juga terhadap orang-orang yang berada di sekitarnya. Seperti dalam encore-nya yang terakhir, sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Barbra Streisand, “People who need people, are the luckiest people in the world,” telah membuktikan bahwa seorang Aning merupakan diva bagi setiap insan. Energi cinta yang menjadi dasar Aning untuk berkarya, ia curahkan dengan penuh haru dalam suatu malam yang sarat akan kenangan, dimana setiap orang pulang dengan senyum dan sekuntum bunga.

Viva Aning Katamsi !

No comments: