Wednesday, July 20, 2011

Masterclass Piano Masataka Goto

Senin, 11 Juli 2011

Sekolah musik kami mendapat kehormatan untuk menjadi tuan rumah masterclass piano Masataka Goto, pemenang The First Prize of the 9th International Franz Liszt Piano Competition, yang diadakan di Utrecht pada April 2011. Siang itu sang pianis datang ke sekolah musik kami didampingi oleh Mr Quinten Peelen (Direktur Franz Liszt Competition) dan Mr Bob Wardhana (perwakilan dari Erasmus Huis Jakarta).

Pada kesempatan kali ini, ada lima pianis muda berbakat yang telah terpilih sebagai peserta aktif masterclass, antara lain mereka membawakan Chopin Etude op 25 no 12 “Ocean”, Rachmaninoff Etude Tableau op 39 no 1, Liszt Etude “Un Sospiro”, Liszt Etude “Gnomenreigen”, dan Liszt “Les jeux d’eau a la Villa d’Este”.

Bersama Masataka Goto dan Quinten Peelen

Hal yang menarik pada kunjungan Masataka Goto ini terletak pada kesederhanaan dan antusiasmenya, yang terlihat sejak pertama kali datang dan turun dari mobil. Saya dan Ibu Dyah Nurul Maliki (salah satu guru sekolah musik kami yang ditugaskan untuk jadi MC merangkap translator bahasa Jepang-Indonesia) menyambut kedatangan sang pianis di ruang tunggu artis, yang ternyata langsung meminta kami untuk menyediakan partitur lagu-lagu yang akan dibawakan saat masterclass. Dengan seksama, Goto-san mempelajari partitur tersebut sambil sesekali memberikan tanda. Sedikit gugup, Goto-san (yang ternyata cukup fasih berbahasa Inggris) mengaku pada kami bahwa hari itu adalah pertama kalinya ia memberikan masterclass, dimana beberapa lagu yang akan dibawakan belum pernah dimainkannya. Seperti Liszt “Gnomenreigen” dan “Villa d’Este”, ia pernah memainkannya tapi sudah lama sekali tidak dilatih. Kami sempat menawarkannya untuk mencoba lagu-lagu tersebut pada piano upright yang kebetulan ada di ruangan, namun ia menolak.


Masataka Goto sedikit melatih lagu yang di-masterclass-kan

Saat masterclass dimulai, terlihat bahwa Goto-san menekankan permainan pada phrasing dan bagaimana membuat shape kalimat yang baik. Misalnya pada Chopin “Ocean”, ia mengingatkan bahwa ketukan not 1/16 haruslah tetap dijaga (kendati di dalam hati) karena ada kecenderungan bahwa para pianis memainkannya dengan aksen-aksen yang berlebihan sehingga mengganggu alur kalimat. Selain itu, permainan dinamik harus benar-benar direncanakan sejak awal. Konsep permainan harus jelas, dimana pianis harus bisa membedakan tone color dari tema yang sama (namun berulang, seperti dalam Liszt “Un Sospiro”) sehingga dapat menghasilkan impresi yang berbeda. Ia juga sempat meminta peserta untuk memainkan bagian tangan kiri dan kanan sendiri, terutama di bagian dimana melodi berada di tangan kiri, seperti pada Rachmaninoff Etude Tableau op 39 no 1. Pun pada Liszt “Gnomenreigen”, Goto-san meminta agar pada bagian dimana tangan kiri-kanan-saling-bergantian dalam tempo cepat, untuk dimainkan semulus mungkin: Flowing. Pada Liszt “Villa d’Este”, penggarapan dinamik sangatlah penting hingga pianis bisa mencapai klimaks. Penekanan pada melodi di tangan kiri sangatlah penting, juga pada penggarapan tone color yang sangat subtle sehingga pada bagian akhir dapat terdengar seperti doa.


Sedikit grogi, hari itu adalah untuk pertama kalinya ia memberi masterclass

Antusiasme Goto-san terhadap karya-karya dibawakan sangatlah tinggi. Saat jeda berlangsung, Goto-san buru-buru lari ke ruang artis untuk berlatih dengan piano upright yang ada disana. Pertama, ia memainkan Liszt “Gnomenreigen” dengan tempo cepat, tapi salah-salah dan tersendat. Kemudian ia mencobanya dengan tempo yang lebih lambat, tapi tetap canggung, hingga akhirnya ia gemas sendiri dan tertawa-tawa. Karena ia gugup sekali, kami mencoba untuk membuatnya rileks “Just take your time. Don’t worry,”. Kemudian ia ganti mencoba bagian introduction Liszt “Villa d’Este" hingga beberapa kali.

Ibu Iravati Sudiarso yang saat itu berada disana, mengatakan “Dedikasinya (Goto) terhadap musik besar sekali. Ia tidak mau melewatkan sedikit momen pun. Ia benar-benar ingin memberikan yang terbaik bagi para peserta masterclass”. Pribadi Goto-san yang ramah dan hangat juga membuat suasana yang tegang menjadi menyenangkan. Mr Quinten menjelaskan pada kami bahwa jadwal Goto-san di Indonesia sangat padat. Selain resital tunggal di Erasmus Huis pada keesokan hari (Selasa), ia juga akan tampil di Semarang, Surabaya, dan Yogyakarta berturut-turut. “Indonesia selalu menjadi prioritas utama dalam jadwal tur keliling dunia artis kami,” katanya. “Indonesia adalah negara pertama Goto melakukan tur, setelah ini ia akan tampil selama berturut-turut di Jepang, Belanda, New York, dan Polandia,” lanjutnya.


Masataka Goto dan Stephen Setiawan, salah satu peserta masterclass


Selama memberikan masterclass pun, Goto-san memperagakan contoh di piano. Perawakannya kecil, namun tangannya kuat dan tebal. Tone color yang dihasilkannya besar, namun tidak kasar. Pada sesi tanya-jawab, ada peserta yang bertanya “Mr Goto, you have tiny hands, but your playing was so powerful with those big chords, without any mistakes,”. Goto-san menjawab “The secret is: Always practice slowly, without pedal”. Saya melihat ekspresi wajah Ibu Iravati yang mengangguk-angguk senang – mengingat saat saya masih belajar piano bersama beliau, hal yang selalu ditekankan oleh Ibu Ira adalah “Latihan lambat, jangan pakai pedal!”. Wow!

No comments: