Wednesday, July 20, 2011

Resital Piano Masataka Goto

Selasa, 12 Juli 2011

Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba, dimana setelah sehari sebelumnya mengadakan masterclass di sekolah musik kami, pianis Masataka Goto (pemenang The First Prize of the 9th International Franz Liszt Piano Competition) hari ini mengadakan resital tunggal di Erasmus Huis Jakarta. Auditorium penuh sesak, bahkan penonton yang datang terlambat pun dipersilakan untuk pulang, mengingat bahwa kebijakan Erasmus saat ini: Auditorium tidak boleh diisi melebihi kapasitas.

Malam itu Goto-san membawakan: Beethoven Sonata op 109, Chopin Ballade no 3, Liszt Hungarian Rhapsody no 13, Liszt “Tre sonetti del Petrarca”, dan Liszt/Bellini “RĂ©miniscences de Norma”. Secara keseluruhan, beberapa hal yang saya catat adalah:

Konsep yang jelas
Dari semua karya yang ia bawakan, konsep serta formatnya sangat jelas dan transparan, seakan-akan ia telah membedah semua karya ke potongan-potongan yang lebih kecil, dan menyatukannya dalam sebuah mahakonsep yang utuh. Jangan tanya mengenai format sonata klasik yang solid seperti Beethoven, bahkan dalam Liszt “Tre sonetti del Petrarca” yang bersifat deskriptif-imajinatif, dibangun dalam sebuah kesatuan. Adalah sulit untuk memahami bangunan Liszt “Petrarca” karena pianis harus memahami benar puisi karya Petrarca, pun karya tersebut diciptakan Liszt sebagai lieder (art songs). Usaha Goto-san untuk membawa suatu puisi yang menyanyi melalui dentingan piano – dan diselipkan figurasi-figurasi virtuoso Lisztian – tetap dapat menghadirkan sosok "penyanyi" yang paham benar akan derita cinta dan kegalauan Petrarca terhadap Laura.


Tanpa berlebihan, saat Goto-san membawakan karya Liszt/Bellini “RĂ©miniscences de Norma” yang sangat virtuoso dan dramatik, saya pribadi seolah-olah dapat membayangkan sosok Maria Callas di atas panggung, lengkap dengan regalia seorang Druid priestess, sejak awal Goto-san membunyikan panji-panji introduction yang megah dan mencengangkan. Pun keahlian Goto-san dalam membangun suatu arsitektur tema yang kokoh, terlihat saat bagian Finale, dimana tangan kanan dan kiri sama-sama memainkan figurasi cadenza Lisztian di seluruh range keyboard piano, namun melodi “Norma” yang lantang tetap berjalan gagah perkasa di bagian tengah. Semua dimainkan secara jelas, bersih, terukur, namun tetap spontan dan breathtaking. Istimewa!

Presisi yang nyaris sempurna
Kejutan selanjutnya yang dihadirkan oleh Goto-san adalah presisi dan artikulasi not yang nyaris tanpa cela. Pada Liszt “Hungarian Rhapsody no 13”, semua artikulasi figurasi cadenza yang rumit dapat dimainkan dengan jernih dan jelas, tanpa ada satu not pun yang terdengar keruh. Semua figurasi dimainkan dengan persiapan sangat matang, persis dengan gaya capriccioso dan rubato nyanyian ratapan (lament) kaum gypsy. Pada bagian dua Rhapsody yang bergaya tarian Verbunkos, semua ketepatan nada dan virtuositas menyatu dalam spontanitas alami. Jangan tanya akan kelincahan jemari Goto-san saat memainkan not repetisi dalam tempo ultra-cepat, yang membuat para penonton menggelengkan kepala seakan tak percaya. Apalagi mengingat tuts piano Erasmus yang lumayan berat dan sulit dikontrol, semua bukan tantangan bagi “Sang Samurai yang membela kehormatan musik” tersebut.

Tone color yang hangat namun perkasa
Kelebihan Goto-san yang lain adalah power-nya yang luar biasa. Ibarat Daud dan Goliath, perawakannya yang kecil ternyata mampu mengalahkan “sang raksasa” berupa piano Yamaha Grand S-6 Erasmus Huis yang terkenal sangat sulit untuk dikuasai. Sebagai catatan, pengalaman selama ini membuktikan bahwa range treble piano Erasmus sangat “kering”, sementara range bass kurang “subur” (ada istilah lain yang lebih tepat selain “subur”?).

Malam itu semua berubah. Di jemari baja Goto-san, piano seolah-olah bermetamorfosis menjadi sebuah orkestra besar yang memenuhi seluruh rongga auditorium Erasmus Huis. Meskipun demikian, tone yang dihasilkan Goto-san tetaplah bulat dan tidak kasar (banging): semua terukur dengan baik dan teliti. Kelebihan itulah yang mungkin membuat Goto-san berbeda dengan pianis pada umumnya. Tubuh yang kecil dan keterbatasan ukuran lengan cenderung membuat pianis mengeluarkan effort berlebih untuk menghasilkan tone yang besar, namun di tangan Goto-san semua tone projection dapat terproyeksikan dengan efektif.

Sebagai penutup dari rangkaian program malam itu, Goto-san memberikan encore yang luar biasa, berupa Liszt "La Campanella". Suatu pilihan encore yang agak berat, mengacu pada pernyataan – saya lupa, pokoknya antara Jorge Bolet atau Claudio Arrau – yang mengatakan bahwa setelah suatu program yang berat, sebaiknya pilihan encore hendaklah yang ringan, seperti Moszkowki “Etincelles” atau “La Jongleuse” karena diibaratkan: setelah jamuan makan malam yang berat, tentu para tamu akan senang disuguhi es bonbon, cokelat, atau mint cream, daripada disuguhi roast beef atau steak. Apapun itu, "La Campanella" yang dimainkan oleh Goto-san menurut saya adalah pilihan yang tepat, untuk menjaga tension keterpukauan penonton terhadap permainannya yang brilian.

Kesan yang begitu mendalam akan penampilan Masataka Goto pada malam itu tetap membekas dalam benak saya hingga tulisan ini dibuat – seminggu setelahnya. Tidaklah berlebihan apabila saya katakan bahwa resital piano tunggal Goto-san malam itu merupakan salah satu konser terbaik yang pernah saya saksikan selama ini.

1 comment:

Lilies Tan said...

Dear...Mr. Aditya...saya Lilies dr malah Campus Life di Jakarta. Majalah ini salah satu produk dr PT Globe Media Groub.
Saya bermaksud bertemu Anda untuk wawancara khusus, untuk mengisi rubrik Campus Geek di majalah kami.

Bisakah saya mendapatkan email address Anda? atau no kontak yg bisa saya hubungi, so, saya bisa make appointment..semoga Anda berkenan..thanks


regards
Lilies