Saturday, October 22, 2011

Beberapa penafsiran atas Seriosa Indonesia

Dalam resital “Sastra, Musik, dan Yang Klasik” di Salihara yang lalu, ada beberapa karya yang saya bahas secara khusus pada penonton, terutama mengenai proses pemaknaan para komposer atas puisi yang mereka ambil sebagai syair lagu. Secara personal, ada momen historis yang menjadi latar belakang pembahasan karya-karya tersebut.

Puisi Rumah Bambu – FX Soetopo (1937-2006)
Karya ini diangkat dari puisi sastrawan Kirdjomoeljo (1930-2000), sesosok figur yang sangat pemalu, namun semasa hidupnya tetap teguh menjalankan filosofi hidup “Kridha Lumahing Asta” yaitu menjalankan hidup secara kebersamaan, dengan menengadahkan tangan. Semangat ini ditunjukkannya pada "Puisi Rumah Bambu" – sebuah deklamasi yang selalu dibacakan oleh para seniman yang secara rutin berkumpul dalam suatu komunitas berkesenian di Yogyakarta kala itu: Sanggar Bambu.

Saya sendiri tidak akan pernah melupakan pengantar singkat yang dibawakan oleh aktor kawakan Amoroso Katamsi pada saat resital vokal mezzosoprano legendaris Catharina Leimena dan pianis Aisha Ariadna Pletscher di Goethe Haus sepuluh tahun yang lalu. Saat itu Pak Katamsi mengungkapkan bahwa sebuah komunitas musik yang dibangun dengan semangat humanisme tidak akan pernah mati karena “hati” ada di dalamnya. Beliau mengakhiri salam pengantarnya dengan menyanyikan sebait puisi Kirdjomoeljo – yang digubah dengan penuh intensitas oleh FX Soetopo. Suasana hening menyergap seketika.

“disini aku temukan kau..."
"disini aku temukan daku..."
"disini aku temukan hati..."
"terasa tiada sendiri...”

Elegie – FX Soetopo
Elegie... ketika kita mengenang seseorang yang telah tiada.
Kejeniusan FX Soetopo dalam memusikalisasi puisi karya Kirdjomoeljo ini nampak pada penggarapan tema sederhana namun penuh makna simbolis. Lagu yang digubah dalam format A-B-A ini menggambarkan seseorang yang baru saja kehilangan kekasih tercintanya, “Kemana engkau pergi, sunyilah malamku” (Bagian A) dengan iringan yang nyaris seperti march, menyatakan sebuah statement penuh kepedihan.
Kemudian pada Bagian B, “malam kutidur dalam diri, senja kumenari dalam hati... indahnya tiada arti...” gejolak jiwa menjadi semakin kalut ketika ia sedang berada dalam kesendirian (dengan iringan piano yang melambangkan kegundahan dan cemas), semua kenangan akan kebahagiaan di masa lampau hadir kembali, namun tanpa keberadaan ia yang terkasih, semuanya lenyap tanpa arti.
Lalu pada rekapitulasi bagian A yang membawa kembali statement kehilangan tersebut diulang (reminiscing), kali ini dengan iringan yang tidak seperti march, melainkan seperti buaian (lullaby) yang berakhir pada trinada mayor, melambangkan bahwa proses kehilangan tersebut mau tidak mau harus diterima dengan ikhlas.



Mengapa Elegie ini menyimpan sebuah nostalgia? Saya teringat pada resital vokal soprano Aning Katamsi dan pianis Ratna Katamsi di Bentara Budaya Jakarta, dimana ketika itu Ibu Aning tercekat dan menitikkan air mata saat menyanyikan lagu ini – terkenang akan ibunda almarhumah Pranawengrum Katamsi yang meninggal beberapa minggu sebelumnya.

Trima Salamku – Binsar Sitompul (1923-1991)
Lagu ini memiliki kisah yang unik. Pada awalnya, lagu ini tidak termasuk dalam program konser kami. Seminggu sebelum pentas, siang hari saya dan tenor Pharel Silaban latihan di kediaman Aning Katamsi, dimana setelah latihan, saya dan Ibu Aning iseng-iseng membawakan lagu “Trima Salamku”. Saya bilang pada Bu Aning bahwa lagu tersebut memiliki cerita yang berkesan: Beberapa waktu lalu, psikolog Unpad Amir Husni Siregar (yang juga adalah peserta kompetisi Bintang Radio zaman dahulu kala) berkunjung dan menginap di rumah saya. Bang Amir setahun lalu baru saja kehilangan istrinya (Psikolog dan pianis Purnamawati Nasution) yang memberikan kesedihan luar biasa dalam dirinya – dimana suami-istri tersebut biasa berkolaborasi vokal-piano selama perjalanan hidup mereka. Untuk menghibur Bang Amir, saya mengeluarkan beberapa koleksi lagu seriosa dan mengiringinya menyanyi. Rupanya momen itu memberikan kesan yang mendalam dalam hati Bang Amir. Beliau langsung membuka halaman lagu seriosa favoritnya, “Trima Salamku” yang menurutnya memiliki syair indah dan optimis, karena menyimbolkan: Harapan.


“Kepada Tuan yang mengeluh...”
“Tidak ada badai yang tidak akhirnya teduh...”
“Tidak ada malam yang tidak diganti hari,”



Bagai disentil oleh Tuhan, tiba-tiba sepulang dari rumah Ibu Aning, komponis Tony Prabowo menghubungi saya, katanya pihak Salihara meminta satu lagu lagi untuk ditampilkan: "Trima Salamku" karya Binsar Sitompul! Saya kaget sekali, dan tentu langsung mengiyakan. Sampai saat ini, hal ini masih menjadi misteri...

Saya sendiri berpikir, mengapa lagu “Trima Salamku” diminta untuk dibawakan pada konser? Lagu-lagu yang kami pilih untuk konser adalah karya komposer Indonesia yang menafsirkan puisi-puisi sastrawan klasik. Setahu saya – dan juga penuturan dari Ibu Aning – lagu “Trima Salamku” syairnya dibuat sendiri oleh komposernya, bukan diambil dari suatu puisi tertentu. Seusai konser, sastrawan Goenawan Mohamad menerangkan pada saya bahwa syair “Trima Salamku” diambil dari puisi Sanusi Pane, kemungkinan dari kumpulan “Madah Kelana”.

Pada partitur asli lagunya, Binsar Sitompul memang tidak menuliskan siapa pembuat syair “Trima Salamku”, oleh karena itu kami menyimpulkan bahwa pembuat syairnya adalah Binsar Sitompul sendiri. Hal ini membutuhkan sebuah studi tersendiri – semoga Dewan Kesenian Jakarta dapat segera merampungkan proyek Antologi Musik Sastra Indonesia, jadi kita bisa memperoleh tinjauan repertoire yang lebih lengkap lagi.

Lagu Biasa – RAJ Soedjasmin (1913-1977)
Judulnya "Lagu Biasa". Tentunya tidak biasa, karena pengarang puisinya – Chairil Anwar (1922-1949) – merupakan seseorang yang sangat individualistis dan mendobrak pakem pada zamannya. Sebagai pelopor Angkatan ’45 ia mendeskripsikan seksualitas dalam bahasa yang sangat lugas dan apa adanya, sebuah pembaharuan dalam konformitas budaya saat itu yang masih menjunjung tinggi norma susila priyayi. Pada intinya, "Lagu Biasa" menggambarkan suatu adegan yang sederhana: Di teras rumah makan sepasang muda-mudi secara tidak sengaja bertemu. Mereka berkenalan, saling menggoda, akhirnya berakhir di ranjang.

RAJ Soedjasmin menggubah Lagu Biasa dalam beberapa cuplikan (montage) musik yang dipadu-padankan. Dimulai dengan introduksi yang melodius seperti aria opera Puccini, tiba-tiba musik berkembang ke “March of Toreador” opera Carmen karya Bizet, lalu berubah ke figurasi lincah alberti bass ala Mozart, dan langsung menusuk sasaran pada kesyahduan “Ave Maria” Bach-Gounod. Suasana komikal yang ada pada Lagu Biasa mengingatkan gaya komposisi Francis Poulenc yang senang sekali tambal-sulam potongan-potongan lagu dengan mood berbeda, untuk mengaduk-aduk emosi penonton. Unik!



Penafsiran atas “Aku” Chairil Anwar
RAJ Soedjasmin menggubahnya dalam semangat militeristik. Diberi judul “Semangat”, menunjukkan pengaruh pendidikan kepolisian yang dijalani oleh komposernya. Beda komposer, beda persepsi, beda pengalaman spiritual. Ketika puisi yang sama digubah oleh seorang Trisutji Kamal, beliau menggambarkan “Aku” sebagai sosok yang menggelora dalam jiwa: sebuah jeritan hati, dramatis, individualistis – namun puitis, disanalah sosok “Aku” menemukan seorang Aku.


Jumat, 14 Oktober (sehari sebelum resital), saya jatuh sakit, seluruh badan terasa limbung sehingga saya terpaksa berbaring di tempat tidur seharian... hingga sekitar pukul tiga sore, soprano Binu Sukaman telepon, “Adit, barusan Tante Titi (Trisutji Kamal) telepon saya. Beliau ingin dengar kamu dan Devi membawakan “Aku” sebelum kamu pentas besok. Beliau menunggu malam ini di rumahnya. Maaf ya ini mendadak sekali...”

Yah, nasib... Tapi tidak apa-apa, diantara seluruh komposer yang kami bawakan karyanya, hanya Trisutji Kamal-lah yang masih ada. Memang sudah sepantasnya apabila kami “sowan” dulu ke beliau sebelum mementaskan karyanya. Akhirnya malam itu juga, saya dan Devi menembus kemacetan Jalan Fatmawati yang luar biasa, hingga tiba di kediaman Tante Titi. Momen ketika memainkan karya seorang komposer di hadapan komposernya sendiri merupakan sebuah proses yang luar biasa, dimana Tante Titi banyak memberikan masukan pada interpretasi “Aku” – yang saya ingat betul, ketika Tante Titi berseloroh “Kamu main pianonya terlalu HOT!” Saya tertawa saja dalam hati: Seandainya beliau tahu bahwa kondisi fisik saya sedang kurang baik, saya memang bermain sedikit tanpa tedeng aling-aling, berusaha konsentrasi pada not ketika kepala saya pusing berputar-putar. Ah, tapi biarlah itu menjadi rahasia saya saja ;)

No comments: