Sunday, October 16, 2011

Liszt berjumpa dengan Wagner di Kuala Lumpur

25 September 2011 yang lalu, Malaysia Philharmonic Orchestra mengadakan konser bertajuk “Liszt meets Wagner” di Petronas Philharmonic Hall. Sebuah rangkaian program yang menarik, menampilkan overture dan scenes dari beberapa opera karya Richard Wagner, ditambah sebuah symphonic poem karya Franz Liszt berjudul “Les Preludes”.

Saat itu adalah pertama kalinya saya menyaksikan sebuah Philharmonic Orchestra di Philharmonic Hall. Kesan pertama, orkestra kebanggaan Malaysia itu sebagian besar pemainnya (mungkin sekitar 90%) adalah orang asing. Hampir tidak ada nama Melayu di daftar pemain yang tercantum di buku program – rata-rata pemainnya bernama Eropa, Amerika, Jepang, dan Korea. Konduktornya sendiri adalah Claus Peter Flor, yang sebelumnya pernah memegang berbagai orkestra kelas dunia (baik sebagai konduktor tetap atau tamu), seperti London Symphony, Vienna Symphony, Royal Concertgebouw, hingga Rotterdam, Los Angeles, New York, dan Berlin Philhamonic Orchestra.

Dewan Filharmonik Petronas

Sedikit janggal, apabila orkestra yang menyandang nama negara (apalagi sekelas philharmonic) tetapi isinya sebagian besar adalah orang asing. Mungkin hal ini menandakan Malaysia yang sudah aktif di pasar bebas, sehingga siapapun (dan warga negara apapun) bisa turut berkarir di negara tersebut dan dianggap setara dengan penghidupan warga lokal (juga sebaliknya), atau memang itu adalah sebuah usaha dari pihak terkait untuk menjaga mutu permainan orkestra agar sesuai dengan standar yang “sudah diakui” (baca: standar negara Barat). Pada kenyataannya, secara garis besar permainan Malaysia Philharmonic Orchestra memang tidak mengecewakan.


Dibuka dengan overture dari opera “Rienzi” favorit Hitler, orkestra langsung membawa tema heroik dalam kewibawaan melodi yang lugas. Tempo yang dipilih sangat tepat dan akurat, dimana kalimat tetap dibentuk dengan kokoh. Begitu pula pada “Les Preludes” karya Liszt (dimana Liszt adalah menantu Wagner – oleh karena itu program konsernya dinamakan “Liszt meets Wagner”) disajikan dengan warna dan dinamik yang terukur dengan baik. Penggarapan tema pastoral di awal hingga bagian klimaks yang megah tampak sangat solid, terutama pada bagian harpa yang gemilang, terjalin baik bersama woodwinds section.

Pada scenes dari opera Götterdämmerung “Dawn & Siegfried’s Rhine Journey” semakin memperlihatkan roh dari orkestra. Wagner yang sangat progresif dalam komposisi orkestral, menggunakan tiga harpa untuk scenes ini, yang dimainkan dengan sangat elok oleh tiga harpist orkestra (pada pertunjukan asli operanya, dibutuhkan enam harpa). Scenes yang sangat terkenal dari opera Die Walküre “Ride of the Valkyries” menjadi pilihan yang tepat untuk menutup program konser. Sejak trill pada pembuka, nuansa misterius sudah hadir, mengantar pada leitmotif tema The Valkyries yang dipandu oleh brass section.

Dari pengalaman yang sangat mengesankan ketika menonton Malaysia Philharmonic Orchestra, terlihat betul kesungguhan pemerintah Malaysia dalam menumbuhkan iklim berkesenian yang baik di negaranya. Mungkin ada yang berkilah bahwa Malaysia Phiharmonic Orchestra adalah proyek mercusuar negara, sebagai façade Malaysia di mata Dunia Barat (dimana hal yang sama terjadi di China, Korea, dan Jepang), namun apapun itu – seandainya hal tersebut benar pun, Malaysia telah memperlihatkan sesuatu yang memang layak untuk dibanggakan.

Tak terlepas dari peran sponsor yang mendanai aktivitas rutin orkestra (juga akomodasi bintang lima bagi para pemain orkestranya – termasuk tinggal di Hotel Traders/Shangri-La Kuala Lumpur), supporting system dari pemerintah adalah nomor satu. Sehebat apapun musisi, apabila akses dari pemerintahnya dipersulit, rakyat tidak akan mendapat kesempatan untuk mendengarkan artistry musisi yang bagus itu. Sosok pemimpin peduli seni seperti Bang Ali Sadikin (yang menjadi kompor didirikannya Taman Ismail Marzuki Jakarta) kini telah tiada. Yang ada adalah sosok pemimpin yang tidak bisa memimpin dan lebih senang bermimpi dalam lagu-lagu ciptaannya.

No comments: