Sunday, October 09, 2011

Tante Hermès vs Ibu Jilbab Suroboyoan

Hari Minggu (25 September) yang lalu saya berkesempatan untuk menghadiri pementasan konser Malaysia Philharmonic Orchestra bertajuk “Wagner meets Liszt” di Petronas Philharmonic Hall, Kuala Lumpur. Seperti kebiasaan umum ketika menonton suatu pergelaran musik klasik, para penonton diharuskan untuk mengenakan pakaian yang pantas, apalagi apabila pementasan konser tersebut diadakan dalam rangka Gala, dimana para tamu pria diharuskan mengenakan dress code black-tie, dan tamu wanita mengenakan evening gown.

Dewan Filharmonik Petronas

Kebiasaan menghadiri konser dengan pakaian resmi sebenarnya sudah tidak menjadi kewajiban mutlak. Penonton dapat saja mengenakan setelan smart-casual, asalkan rapi dan sopan. Saya ketika menonton opera di gedung prestisius Staatsoper Vienna, hanya mengenakan kaus, cardigan, dan jeans – meskipun nontonnya di balkon lantai lima dengan harga tiket mahasiswa. Lain ladang lain belalang, sepertinya Petronas Philharmonic Hall ingin meneruskan tradisi berpakaian aristokratik seperti yang diterapkan gedung-gedung pertunjukan elit satu abad yang lalu. Ini ditunjukkan dengan peringatan keras yang ditulis di situs pemesanan tiket dan juga tercetak di tiket, berlaku bagi seluruh penonton:

Gala Concert: Long sleeved batik or lounge suit. All other performances: Smart Casual. Jeans, denim, shorts, collarless T-shirts/singlets, sneakers, slippers are NOT ALLOWED at anytime. If inappropriately dressed, ticket holders shall be denied admission and no refunds will be given.

Maka ketika saya memasuki lobi Petronas, seluruh tamu rata-rata berpakaian setelan jas lengkap dengan dasi, dan bagi yang perempuan mengenakan gaun panjang terbaik mereka, dengan rambut tertata rapi, perhiasan, serta tas dan sepatu berlabel desainer internasional. They dress to kill. Saya sendiri di Indonesia beberapa kali menonton konser (yang menyertakan dress code), dimana yang datang juga kurang-lebih mengenakan atribut yang sama, namun ketika sedang jeda konser dan mengobrol dengan the ladies atau the gentlemen, banyak diantara mereka yang tidak paham musik klasik, atau berusaha mencoba membuat orang terkesan, misalnya dengan pernyataan “Saya suka permainan pianonya (pianis yang sedang tampil, kebetulan pianis kelas dunia yang sudah konser di berbagai gedung konser terkemuka di seluruh dunia). Dia penuh perasaan sekali ya mainnya, seperti Richard Clayderman”. Oh well...


Putri Kerajaan Monaco, Grace Kelly pada malam gala opera

Kemudian di auditorium Petronas Philharmonic Hall itu saya duduk di sebelah seorang ibu sepuh, mungkin usianya sekitar 60 tahun, dengan pakaian rapi namun sangat sederhana – sangat kontras dengan pakaian penonton ibu-ibu lain yang glamor. Beliau hanya mengenakan setelan batik dengan motif cetak – sudah kusam, nyaris tanpa make-up, dan kepalanya berbalut kerudung dengan warna yang agak pudar – kebetulan dari seluruh penonton yang ada dalam auditorium, hanya beliau yang mengenakan kerudung. Beberapa menit setelah saya duduk, ibu tersebut menyapa saya ramah dengan logat Jawa yang sangat kental, “Mas iki wong Indonesia ya?”. Saya jawab iya sambil tersenyum. Rupanya ibu tersebut berasal dari Surabaya yang sedang menengok anaknya yang bekerja di Petronas. Setelah sedikit mengobrol basa-basi, saya yang penasaran bertanya.

Saya: Ibu suka nonton konser musik klasik?

Ibu: Oh iya, aku suka banget. Tapi kan kita nggak boleh nonton sembarangan ya. Aku cuma nonton yang bagus-bagus saja. Di rumahku banyak piringan hitam, kaset, sampai CD musik klasik. Aku suka sekali.

Saya: Maksudnya Ibu tidak boleh sembarang itu bagaimana ya?

Ibu: Iya, misalnya seperti kita dengerken Verdi “Aida”, itu harus yang nyanyinya Leontyne Price atau Maria Callas. Saya dengerken Wagner sing siklus “Der Ring” kuwi, iku biasanya saya dengerken Birgit Nilsson atau yang konduktornya Pierre Boulez. Sing konduktornya James Levine produksi Metropolitan juga apik.

Saya: Hah?! (Kaget)

Ibu: Lha iya mas, sing jenenge musik klasik, teksnya yo sami mawon, tapi sing bikin beda iku penghayatan artisnya. Makanya aku penasaran karo konser iki. Aku ingin dengar Wagner secara live. Aku iki pecinta Wagner loh.

Saya: Oh! (Berusaha terlihat tidak kaget)

Ibu: Aku iki juga suka karo Richard Strauss. Lagu-lagu orkestra dia hebat-hebat, seperti “Also Spracht Zarathustra”. Sing opera-ne “Elektra” juga aku suka. Musiknya mirip karo Wagner. Sing Strauss kuwi, dhe'e falsafahnya apik, ono Nietzsche, Schopenhauer. Aku baca juga buku-bukune.

Saya: (Dalam rasa takjub) Oh, Richard Strauss itu memang pengikut alirannya Wagner, Bu.

Ibu: Lha iya. Mirip toh musiknya.

Kemudian lampu auditorium diredupkan, mengakhiri percakapan saya dengan si Ibu. Beliau menutup pembicaraan dengan “Eh iki lampune wis peteng. Yo wes, ta’ nonton sik konserne,”. Dan saya pun menonton konser tersebut dengan perasaan takjub seakan tak percaya. Pelajaran yang saya ambil dari kejadian tersebut: Bagaimanapun, jangan menilai buku dari covernya. Bukunya harus dibaca dulu dengan seksama, baru kita bisa memahami isinya.


Maria Callas dan Elizabeth Taylor pada malam gala opera



No comments: