Friday, November 18, 2011

Iskandar Widjaja: Passion & Kerja Keras

Mungkin agak berlebihan jika saya mengatakan bahwa nasib saya seperti Nina Sayers (diperankan oleh Natalie Portman) di film Black Swan. Semua berawal ketika saya mendapat kesempatan untuk menjadi pianis bagi pemain biola Iskandar Widjaja pada konsernya Jumat 18 November yang lalu di Titan Theater Bintaro. Iskandar sendiri sedang melakukan tour keliling South East Asia, dimana Indonesia adalah salah satu tujuannya untuk tampil. Sebelumnya, ia tampil di Kamboja, dan seminggu setelah tampil bersama saya, ia akan pentas di Singapura.

Merupakan sebuah kehormatan bagi saya untuk dapat pentas bersama Iskandar, yang memang membangun karir musiknya di Eropa (ia lahir dan tinggal di Berlin hingga saat ini) – dan betapa ia mengeluh akan macetnya Jakarta yang luar biasa, sehingga ia jadi kehilangan banyak waktu untuk latihan. Saat itu saya diminta untuk mengiringi Beethoven Violin Concerto op 61 dan Massenet Meditation (dari opera Tha├»s). Setelah kontak via e-mail, Iskandar mengajak saya untuk membawakan Paganini/Kreisler La Campanella sebagai encore. Yang sempat membuat saya khawatir adalah perencanaan waktu latihan, dimana ketika saya tanya ke pihak manajemen Titan (sebagai penyelenggara acara), katanya “Latihan sama Iskandarnya nanti saja, saat hari H, beberapa jam sebelum pentas. Dia tidak punya waktu banyak di Indonesia”. Agak kaget memang, karena biasanya saya sebelum pentas (dengan vokalis atau instrumentalis), minimal latihan bersama sebulan sebelumnya. Namun di tengah padatnya jadwal Iskandar (ia tiba di Indonesia tanggal 14 November), saya janjian saja dengan Iskandar untuk latihan hari Rabu dan Kamis (dua hari sebelum pentas).

Latihan pertama di rumah Issi


Hari Rabu saya ke rumah Iskandar. Sejak saya parkir mobil di depan rumahnya, memang sudah terdengar suara biola dari balkon. Iskandar yang saat itu mengenakan pakaian rumah santai, menyapa saya dengan ramah dan kami langsung memulai latihan. Rupanya saat itu saya baru memahami betapa tinggi musicianship Iskandar, serta kekuatan fokusnya pada musik. Bisa dikatakan bahwa Iskandar is musically very demanding. Seorang perfeksionis dengan perhatian terhadap detail yang nyaris tanpa cela. Dia tidak pernah terlihat lelah untuk mengulang satu birama beberapa kali sampai kita mendapatkan nafas dan artikulasi not yang sesuai dengan apa yang diminta oleh partitur. Semua dilakukannya dengan full voice – dalam arti, setiap kali mengulang suatu frase dalam musik, ia akan mengeluarkan energi dan passion yang sama melalui biolanya. Permainannya fiery, penuh temperamen, dan berani – seperti keberanian pelukis Affandi dalam memuncratkan tube cat lukisnya pada kanvas.

Jika di partitur tertulis forte, saya harus memainkan forte. Jika ditulis fortississimo, saya harus memainkan persis seperti itu, dengan segenap tenaga – dan dalam setiap pengulangan yang bisa berkali-kali dilakukan. Hingga akhirnya, selesai latihan saya baru sadar bahwa kedua kuku jempol saya berdarah karena kukunya hampir terpisah dari daging – akibat berulang kali menekan not-not dalam oktaf dan chords dengan fortississimo dan sforzando. Thanks to Beethoven dengan Sturm und Drang-nya. Terima kasih juga pada diri saya yang sudah memotong kuku sedemikian pendeknya.

Kuku saya memang sakit, tapi saya merasa puas sekali dengan sesi latihan pertama hari Rabu itu. Dalam arti, temperamen dan passion Iskandar menular dalam jiwa saya. Saya merasa termotivasi dan tertantang untuk mengolah hasil dari latihan hari itu. Setibanya di rumah, saya langsung pasang plester di kedua jempol saya, dan lanjut latihan dengan suatu perasaan antusias – terutama melatih Paganini/Kreisler La Campanella yang masih kacau. Kreisler memang spesial karena karya-karyanya selain menunjukkan unsur virtuositas, juga membutuhkan nuansa elegan dan rubato ekspresif khas Vienna era romantik. Ini yang masih harus saya kejar karena pada saat latihan dengan Iskandar, frase dan nafas-nafasnya belum begitu klop dengan saya. Pun saya masih sedikit kewalahan dengan big chords yang harus dimainkan dalam tempo begitu cepat dan forte – dan dengan kuku berdarah-darah. Jadi teringat Nina Sayers.

Setelah hari Rabu itu, tadinya saya janjian dengan Iskandar untuk langsung bertemu di Titan Theater hari Jumat. Namun hari Kamisnya, saya merasa perlu untuk latihan La Campanella sekali lagi – agar hati merasa tenang. Rupanya setelah latihan hari Kamis itu, saya lumayan bisa mendapatkan nafas-nafas dari Iskandar, namun kedua kuku jempol saya keadaannya semakin memprihatinkan dengan rasa sakit yang tak terkatakan. Akhirnya Kamis malam, saya hanya bisa berdoa saja semoga Jumat pagi keadaan kuku sudah membaik.

Suasana saat gladiresik


Hari Jumat siang ketika gladiresik di Titan Theater, saya kaget setengah mati karena kuku saya sakitnya bukan main. Saya hampir tidak bisa menekan tuts piano dengan jempol kanan saya! Saya mau paksakan, tapi sepertinya ada mekanisme tubuh yang secara natural akan langsung bereaksi ketika rasa sakit muncul. Pun pianonya suaranya melempem (mungkin karena piano baru), jadi mau dibanting sekeras apapun suaranya ya segitu-segitu saja. Tapi ini bukan alasan, karena saya ingat nasehat Bapak Rudy Laban almarhum, “Pianis tidak boleh menyalahkan piano. Tidak ada piano yang jelek. Adanya pianis yang jelek. Pianis memainkan piano dalam kondisi apapun, suaranya harus terdengar bagus,”. Baiklah Pak Rudy, saya coba usahakan. Akhirnya saya berdoa.

Satu jam menjelang konser, saya uji coba piano sekali lagi. Anehnya, jempol kanan saya sudah tidak sesakit ketika saat gladiresik. Miracle always happens when we are onstage. Ketika konser dimulai pun, saya dan Iskandar membukanya dengan Meditation (Massenet), dimana saya merasa sangat damai dan tenang. There was a bliss. Berlanjut hingga karya penutup konser (Beethoven Concerto) yang menurut saya diciptakan ketika Beethoven sedang tersenyum, hingga encore La Campanella. Secara keseluruhan, saya sangat menikmati atmosfir konser saat itu. Iskandar pun membawa suasana tegang menjadi rileks dengan beberapa gesture-nya yang jenaka. Thank you for the opportunity, Issi. It was really an enjoyment to work with you :)

Terima kasih juga kepada Titan Center, khususnya Mbak Anggie Sagita selaku manajer, Mbak Feli yang sudah mendukung kami dari balik panggung dengan tulus, Ibu Happy Sianturi yang sudah meluangkan waktu untuk menjadi page turner, dan Ibu Ivonne Atmodjo atas kebaikan hati yang tak berkesudahan – juga atas bouquet cantik yang kini terpajang di atas piano saya di rumah :)

Bersama Issi & Happy Sianturi

Bersama Ibu Ivonne Atmodjo

4 comments:

CM said...

Kak, pas aku nntn konser itu, sama sekali ga ketara klo jari kakak sakit loh. Kakak mainnya bagus sekali.
I could see that the audiences really enjoyed your performance.
You both made a gr8 play! :D

Aditya P Setiadi said...

Wah thank you! Ya, syukurlah kalau tidak terlihat. Pelajaran yang saya ambil: Kalau mau konser, jangan potong kuku sehari sebelumnya hehe... Thanks for coming :D

Anonymous said...

iskandar widjaja , keturunan indonesia? dari bapaknya atau ibunya? diakan tinggal di jerman , bisa bahasa indonesia??

terimakasih

LINDA WINATA said...

kak berapa lama kakak belajar bermain piano??