Sunday, November 27, 2011

Peluncuran Buku Pedoman Pelafalan Seriosa Indonesia

Jumat, 25 November yang lalu di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki diadakan peluncuran buku “Pedoman Pelafalan Seriosa Indonesia” yang merupakan proyek Dewan Kesenian Jakarta, melibatkan ketua DKJ komisi musik Budi Utomo (Tommy) Prabowo, beserta para ahli fonetik dari bidang bahasa, teater, juga penyanyi seriosa Aning Katamsi, Binu Sukaman, dan Joseph (Akis) Kristanto.

Mengapa buku ini penting untuk ditulis? Dalam sambutannya, Tommy Prabowo menjelaskan bahwa dalam tradisi menyanyi seriosa di Eropa – khususnya di Jerman (dikenal sebagai lieder) – pendekatan yang digunakan (selain kemahiran teknik menyanyi) adalah acuan terhadap pedoman pelafalan yang akan berpengaruh kepada interpretasi lagu. Adapun pedoman pelafalannya terus berkembang sesuai zaman, sebagaimana penggunaan bahasa akan terus bermetamorfosis. Misalnya, interpretasi terhadap sebuah lagu yang sama di tahun 1980 dan 2000 ternyata sangat berbeda. Hal ini terjadi karena pedoman pelafalan dan fonetik yang digunakan pada era 1980 jauh berbeda dengan yang digunakan di tahun 2000. Hal tersebut wajar, karena selain bahasa yang terus bermetamorfosis, tradisi lieder berkembang dari perkawinan antara musik dan puisi, dimana syairnya biasanya diambil dari karya-karya pujangga terkenal. Maka pendekatan akan pelafalan yang benar adalah penting demi interpretasi lagu yang baik.

Lebih lanjut, Tommy menjelaskan bahwa hingga saat ini di Indonesia belum ada buku pedoman pelafalan menyanyi seriosa. Kendati di masa yang akan datang pedoman itu akan terus berubah, namun harus ada batu pijakan pertama yang akan menjadi acuan bagi revisi-revisi selanjutnya. Buku pedoman tersebut diterbitkan beserta CD yang berisi contoh-contoh penggalan lagu seriosa Indonesia yang dinyanyikan oleh Aning, Binu, dan Akis.

Remy Silado memberikan sambutan dengan hangat dan jenaka


Remy Silado yang turut memberikan sambutan, menjelaskan dengan menarik seputar permasalahan pentingnya pedoman pelafalan bahasa Indonesia dalam musik seriosa, karena banyaknya istilah Indonesia yang diserap dari bahasa asing atau bahasa daerah. Misalnya, untuk akhiran huruf “k” ada dua kemungkinan: menggunakan hamzah (gaya Arab) atau penekanan terhadap “g” dalam bahasa Jawa. Istilah seperti “Tidak” biasanya menggunakan pendekatan hamzah Arab, karena akan dibaca Tida’ sedangkan istilah “Pajak” atau “Goblok” biasanya menggunakan akhirnya “g” Jawa karena huruf “k” nya ikut dibaca. Lantas Remy Silado memberi gambaran bahwa bahasa akan terus bermetamorfosis dan masa depannya ada di tangan generasi muda yang cenderung terpengaruh budaya instan, sehingga muncul istilah-istilah baru. Sedangkan bahasa dalam sastra, tentu berbeda dengan bahasa percakapan sehari-hari. Misalnya, ketika sedang naik bus kota, tidak mungkin berbicara pada supirnya “Wahai buyung, hendaklah dikau menurunkan daku di perhentian yang kelak akan dilalui bus ini,”

Tommy Prabowo & Aning Katamsi melantunkan tembang puitik


Peluncuran buku tersebut ditandai dengan mini resital yang menampilkan baritone Akis Kristanto dan soprano Aning Katamsi (Tommy Prabowo pada piano) membawakan beberapa nomor seriosa seperti “Lagu Biasa” (Komponis: RAJ Soedjasmin, Syair: Chairil Anwar), “Kisah Mawar di Malam Hari” (Komponis: Iskandar, Syair: Zainuddin), “Elegie” (Komponis: FX Soetopo, Syair: Kirdjomoeljo), dan “Kasih dan Pelukis” (Komponis: Mochtar Embut). Kedua resitalis malam itu tampil dengan interpretasi terbaiknya, berada dalam kondisi vokal yang sangat prima. Iringan piano yang musikal dan efisien membawa melodi liris dalam kedinamisan, terutama pada “Lagu Biasa” dan “Elegie”.

Proviciat untuk Dewan Kesenian Jakarta dan seluruh tim pendukung penulisan buku “Pedoman Pelafalan Seriosa Indonesia”.

Bersama Aning Katamsi & Akis Kristanto

No comments: