Tuesday, January 03, 2012

Senandung Kalbu Trisutji Kamal

Anugerah ini akan hidup di dalam dirimu. Pada saat itu, pada saat itu akan kau fahami: Kebenarannya

“Hidup saya penuh dengan penderitaan” demikian komponis Trisutji Kamal menjawab, ketika ditanya mengapa dalam karya-karyanya yang mengisahkan tentang cinta, selalu mengandung harmoni gelap dan syair-syair yang secara halus menyembunyikan kesedihan. Paling tidak, tembang puitik yang lahir dari keluwesan beliau dalam menggarap sebuah komposisi dapat dibandingkan dengan tonggak musik era Romantik Akhir Italia, seperti kidung-kidung karya Giuseppe Martucci, Franco Alfano, Ottorino Respighi, Riccardo Zandonai, atau Gian-Francesco Malipiero. Tidak meninggalkan identitasnya sebagai seorang Jawa, Trisutji Kamal kerap kali menyelipkan nada-nada pentatonik dalam karyanya, melebur dengan harmonisasi yang pekat. “Saya menulis musik tanpa dicoba-coba di piano. Kalau pakai piano justru jadi bingung,” lanjutnya.

Komposer yang menimba ilmu di konservatorium Santa Cecilia Roma ini seringkali menulis sendiri syair-syair tembang puitik ciptaannya. Berbeda dengan tradisi art song/lieder di Eropa (dimana komposer mengambil syair lagu dari puisi-puisi karya sastrawan terkenal), Trisutji menulis puisi yang menyiratkan fase-fase perjalanan hidupnya, terutama dalam pengembaraannya mencari kesejatian hidup dan makna ketuhanan.



Saat konser “Tembang Puitik Trisutji Kamal” tanggal 12 Desember yang lalu, saya mendapat kesempatan untuk berkolaborasi dengan soprano Aning Katamsi, Christine Lubis, dan Clarentia Prameta, membawakan tiga siklus (song-cycle) berjudul “Cinta dan Pengorbanan”, “Kepada Kawan”, serta “Harapan dan Kekecewaan”. Secara teknis (terutama dalam membaca not tulisan tangan yang kurang jelas) yang tersulit adalah “Cinta dan Pengorbanan”, dimana sejak jauh-jauh hari Ibu Tri sudah memperingatkan saya, “Hati-hati ya, siklus yang kamu mainkan itu pianonya sulit sekali. Saya sengaja bikinnya dengan style Rachmaninoff,”. Nah loh!

Secara pribadi, saya beropini bahwa karya-karya Ibu Tri agak kurang ramah dengan sistem penjarian di tuts piano. Namun seperti halnya musik bergaya Romantik Akhir, keindahannya baru terasa setelah menginterpretasikan struktur lagu secara utuh, dalam hal ini: Setelah latihan pertama dengan para penyanyinya. Pada dasarnya, kekuatan dari musik Ibu Tri adalah melodi-melodinya yang powerful dan sarat akan kekuatan emosi. Secara harmoni, seorang vokalis pernah berkata pada saya, “Dari sana sudah ketahuan, kedalaman hati Ibu Tri itu seperti menyelami dasar samudera”.



Berbicara mengenai pengalaman cinta yang pahit, nampaknya hal tersebut menjadi sebuah pemicu bagi Ibu Tri untuk mengeksplorasi kedalaman hati (inner feeling) melalui sapuan warna nada dan harmoni yang “menembus batas” (transcendental).
Dalam esai pelukis Wassily Kandinsky berjudul “Pendalaman Spiritual Melalui Seni” (ditafsirkan oleh Sulebar Soekarman), ditekankan bahwa dalam setiap manifestasi terkandung benih dari sesuatu yang akan bekerja keras menuju hal abstrak dan non-material. Sabda Sokrates akan “Kenali dirimu sendiri” – mengatur keseimbangan nilai spiritual dari semua unsur, yang sadar atau tidak sadar membentuk pendekatan psikologis seorang seniman terhadap seni yang mereka hasilkan. Lebih lanjut, Kandinsky mengemukakan bahwa seorang seniman yang tidak menemukan kepuasan apapun di dalam upaya seninya – bagaimanapun artistiknya di dalam kerinduan yang cukup lama untuk mengekspresikan kehidupan rohaninya (inner life) – secara alamiah akan mencari metode-metode dekonstruktif terhadap apa yang menjadi batasan bagi pengungkapan alam bawah sadarnya. Dalam hal ini, musik yang pada hakikatnya tak terkekang secara alami, tidak membutuhkan bentuk-bentuk yang terbatas untuk ekspresinya.



Dalam proses pengenalan hakikat dirinya, Ibu Tri bereksplorasi dalam proses pencarian Tuhan, dimana pada usia yang masih sangat muda (21 tahun), pertanyaan-pertanyaan selama pengembaraan spiritual dirinya mulai muncul. Fase ini tergambarkan melalui sebuah puisi:

Panggilan Suci
(Roma, 30 Oktober 1958)

Sunyi duniaku biru, sejak mengenal Tuhan
Dalam cintaku suci, hingga terpisah dari umat manusia
Kini kulupa bersenyum, bibir pun beku menjadi bisu
Telinga pun tuli, tiada mendengar nyanyian bersama
Hanya hati ini mendengar irama,
Mengandung harapan penuh kepercayaan

Indah duniaku sunyi biru, sejuk
Sejak mengenal Tuhan, dalam kesederhanaan
Tenang semedi, khusuk,
Menyerahkan diri,
Sampai mencapai keabadian


Belakangan Ibu Tri menjelaskan bahwa puisi tersebut diciptakan untuk mengekspresikan penyatuan diri antara manusia dengan Tuhannya (dalam istilah kebatinan: Manunggaling kawula-Gusti). Ketika seseorang sudah mengenal Tuhannya melalui Rasa, maka ia akan masuk dalam suatu ekstase yang membuatnya terpisah dari manusia lainnya. Pengalaman sufistik yang menggambarkan cinta mistik manusia dan Tuhan ini ditafsirkan melalui komposisi yang padat akan warna, dalam gaya harmoni Rachmaninoff, pada 21 Januari 2000.

NB. Perhatikan pula, dalam puisi “Panggilan Suci”, Ibu Tri menggunakan ungkapan “Sunyi duniaku biru”. Dalam filosofi warna Kandinsky, kekuatan dari suatu kedalaman ditemukan pada warna biru (heavenly color/warna surgawi). Biru melambangkan introspeksi diri: Semakin gelap, daya tarik dari dalam (inner appeal) menjadi lebih kuat. Kandinsky menyebutnya “Ketika biru tenggelam hampir ke dalam hitam, akan muncul gema dari suatu duka cita yang sangat manusiawi”. Di dalam musik, warna biru terang (light blue) seperti sebuah flute, biru yang lebih gelap (darker blue) adalah cello, lebih gelap lagi adalah sebuah contrabass yang bergemuruh, sementara biru paling gelap (deep blue) adalah sebuah organ. Maka “Biru” adalah analogi yang sangat manusiawi untuk menggambarkan pengalaman batin terdalam pada upaya persatuan diri dengan Tuhan.




Kemudian ada “Anugerah” (puisi ditulis di Roma, Mei 1967), menggambarkan kepedihan cinta manusia yang tak dapat dijangkau, namun akan tetap ada sebagai sebuah anugerah. Dengan tempo Allegretto poco agitato (sedikit gelisah), Ibu Tri tetap memberikan sentuhan dramatis kepada melodi yang liris. Penggarapan harmoni terasa mendekati Piano Concerto no 2 Rachmaninoff, terutama figurasi tangan kiri di bagian interlude – juga dengan melodi-melodi rhapsodic yang berbaur dengan pentatonik Jawa, menghasilkan suatu komposisi yang gelap, minor, namun berangsur menjadi mayor dan berakhir dalam trinada Mayor 11th yang melambangkan secercah harapan.

Anugerah

Gema denyut kalbuku sangat pedih
Demi cinta yang akan jadi milikku,
seribu hari lagi.
Anugerah ini akan hidup di dalam dirimu
Pada saat itu, akan kau fahami:
Kebenarannya.


Sementara itu dalam “Kegelisahan” (puisi ditulis di Roma, Mei 1967), mendeskripsikan akan cinta yang kembali hadir hanya melalui kenangan. Karya yang digubah dalam nuansa dramatis ini menggabungkan harmoni pentatonik Jawa dengan kerumitan ritme poliritmik. Dari segi vokal, tessitura-nya membutuhkan keahlian soprano dramatik yang mampu untuk terus-menerus menyanyi di wilayah nada tinggi dengan animando (penuh hasrat) dan con portamento (seperti diseret, dengan bobot). Kendati tempo yang ditulis adalah Andantino, namun Ibu Aning meminta agar tempo dinaikkan dua kali lipat supaya passion dan heroisme yang terkandung di dalamnya dapat ditampilkan dengan maksimal.

Kegelisahan

Jiwaku yang sekarat,
Mengikutimu penuh gelora
Dalam makam perasaanmu,
Hanya tertinggal kegelisahan. Manis.
Yang membawamu, kembali padaku.


Pada suatu kesempatan, pianis Iravati Sudiarso pernah berkata, “Music is always suffering” karena para komposer pada umumnya menciptakan sebuah karya yang merupakan hasil dari pengalaman batin (inner feeling) hidupnya – atau cri-de-coeur terhadap kondisi yang berada di sekitar mereka. Penderitaan psikologis Beethoven atau kemiskinan yang melanda Mozart telah menghasilkan musik yang agung, begitu pula akan melankolia Rachmaninoff terhadap tanah Rusia yang ditinggalkannya, memicu karya-karya rhapsodic yang selalu membangkitkan kenangan akan pengalaman terdalam jiwanya.

Begitu pula Ibu Tri, pencarian spiritualnya semasa pengembaraan hidup di benua Eropa telah mematangkan identitasnya sebagai komponis, yang oleh Kandinsky digambarkan sebagai puncak tertinggi dalam segitiga spiritual: “Di bagian puncak segitiga ini, berdiri seringkali hanya seorang manusia, dan hanya seorang. Visinya yang penuh kegembiraan menyelubungi penderitaannya yang mendalam. Bahkan mereka yang paling dekat dan memberikan simpati penuh dengannya, tidak mengerti dia.” – Dari sinilah bahasa musik Ibu Tri bermula, dalam siklus tembang puitik “Cinta dan Pengorbanan”.



Konser "Tembang Puitik Trisutji Kamal" (Erasmus Huis, 12 Desember 2011), menampilkan vokalis Aning Katamsi, Binu Sukaman, Charles Nasution, Christine Lubis, Clarentia Prameta, Daniel Christianto, diiringi oleh pianis Adelaide Simbolon dan Aditya Setiadi.

1 comment:

aljufri mansyur said...

Sdr Aditya yth,
Mohon alamat Tri Suci Juliati Kamal, karena saya akan mengirimkan rangkaiab zikir Ya Lathief untuk dapat di nikmati melalui piano. tksi /
Djufri - Medan - Indonesia - hp 085275810000